Sinai, Gunung Batu Yang Sangat Eksotis

Khoirul Anwar *
http://www.kompasiana.com/khoirul-anwar

Nama Sinai sebenarnya sangat tak asing dalam pengetahuanku. Apalagi di dalam al qur’an surat at tin nama ini di sebut dengan jelas dan bahkan banyak sejarah yang kuketahui juga terjadi di gunung ini. Dalam pandangan kasat mata Sinai adalah gunung batu yang gersang, hanya sesekali saja terlihat tumbuhan yang berdaun kecil-kecil dan rerumputan yang kelihatan pucat akan mengering. Melihat bongkahan batu-batu yang ada di sana dan sedikit pasir akibat lapukan batu yang terkikis sebab panasnya matahari di siang hari dan dinginnya suhu ketika malam hari – perubahan hawa yang sangat ekstrim – dalam bayangan, sulit sekali hidup di sana. Apalagi air, yang merupakan sumber kehidupan, sangat sulit di temukan disana. Tak ada tanda-tanda ada pancuran mata air yang mampu keluar dari sana. Air yang ada saat ini merupakan kiriman dari daerah lain yang jauh. Daerahnya gersang dan sepi. Tak banyak orang mampu bertahan lama di daerah itu kecuali penduduk asli saja.

Terlepas dari kegersangan dan suasananya yang lengang, Sinai merupakan daerah yang menawan. Batu-batu penyusun gunung Nuh atau secara luas di kenal dengan nama Sinai, adalah batu-batu alam yang indah, bermacam-macam warna dan bentuknya dan bermacam-macam pula jenisnya. Ada yang berwarna merah, kuning, coklat, hitam, agak kehijau-hijauan. Dan sedikit pengamatan saya kebanyakan batu yang ada disana banyak yang tersusun dari bahan yang persis seperti mutiara. Terlihat bersinar ketika terkena sinar matahari. Sungguh bebatuan yang indah yang pernah kujumpai.

Kalaupun banyak kita jumpai dibanyak pegunungan dan gunung-gunung di Indonesia banyak bebatuan. Namun pada umumnya batu-batu itu halus dan jika kebanyakan dilewati semakin halus dan mudah memelesetkan orang. Bebatuan di Sinai berbeda, meski jalan batu yang tiap harinya di lalui ribuan pendaki naik turun, batu-batu itu tak licin. Mungkin di beberapa titik ada yang licin itu bukan karena batunya melainkan di atas batu itu ada sedikit pasir yang berceceran. Jadi proses naik dan turunnya pendakian tak terlalu berbahaya. Apalagi jalan yang di lalui bukan jalan liar. Jalannya sudah tertata baik dan di beberapa titik berbahaya telah di susun batu pembatas dan terpasang juga seruan agar tak melalui tempat yang di anggap berbahaya “Attention, This pleace danger !!”. Resiko-resiko pendakian menjadi sangat kecil jika kita benar memperhatikan seruan yang ada dan mau memperhatikan guide yang mendampingi selama pendakian.

Karena menjadi objek wisata internasional, Sinai merupakan salah satu objek wisata yang sangat banyak dan sering dikunjungi turis dari berbagai negara. Bukan hanya sekedar objek wisata yang digunakan menikmati keindahan alamnya,puncak Sinai juga diyakini sebagai tempat yang harus dikunjungi oleh agama tertentu – kalau tak salah informasi yang kuterima mungkin agama Kristen ortodok – sebagai penyempurna agama yang dianut. Seperti halnya haji bagi umat muslim. Maka dari itu tujuan pendakian mereka di gunung yang berketinggian kurang lebih 2000 m tak hanya menikmati keindahan gunung, batu-batu penyusannya dan keindahan moment sun rise ketika pagi hari sebelum kembali turun ke kaki gunung melainkan ada tujuan tertentu yaitu ibadah dan berdoa setra menyanyikan lagu-lagu pujian kepada tuhan yang mereka percayai. Maka ketika orang-orang yang memiliki keyakinan seperti itu sampai di puncak suara nyanyian yang berisi pujian-pujian kepada tuhan mereka bersahut-sahutan sampai momen indah berupa sinar kuning keemas-emasan muncul di daerah timur sebelum moment yang paling indah yang di tunggu-tunngu semua pendaki, sun rise.

Nah ketika sinar kuning mulai nampak di ufuk sebelah timur, mereka sejenak berhenti menikmati keindahan alam saat matahari mulai menampakkan diri dari persembunyiannya semalam. Di detik-detik itu, puncak tertinggi yang dipenuhi kurang lebih seribu orang pendaki itu diam, memfokuskan pandangannya ke arah matahari terbit sambil mengabadikan momen indah itu. Ada yang mengabadikan dalam bentuk gambar. Mereka ini menjepret kejadian yang indah ini berkali-kali sampai-sampai terlihat seakan-akan bannyak sinar halilintar yang menyambar sebelum guntur benar-benar menggelegar memekakkan telinga. Selain itu banyak juga yang merekam moment itu dalam bentuk video. Saat momen-momen indah matahari terbit hampir semua pendaki sibuk memegang kamera meski hawa dingin menusuk sampai ke sum-sum tulang. Banyak sekali yang merasa sangat kedinginan bahkan sampai benar-benar menggigil, apalagi kita yang berasal dari negara tropis. Saya sendiri memakai dua jaket tebal dan dua kaos serta berselimut sarung tapi rasa dingin masih sangat leluasa menembus kulit bahkan sampai ke dalam sum-sum tulang. Benar-benar dingin. Hanya beberapa orang barat yang merasa enjoy dengan hawa yang ada. Ya mungkin mereka dari negara yang lebih sering bersalju dan jarang kena sinar matahari. Temperatur udaranya selalu rendah. Tapi hawa dingin yang menyiksa itu seketika hilang saat sinar kuning keemas-emasan tadi mulai muncul. Semua mata terfokus ke timur. Jarang yang bermalas-malasan hanya sekedar duduk tak mau menikmati keindahan sun rise.

Sun rise adalah moment puncak yang di tunggu-tunggu semua pendaki. Setelah moment itu berlalu dan matahari telah naik ke atas memancarkan sinarnya dan menghangatkan suhu dingin yang sangat menyiksa itu kita mulai turun sambil menyaksikan gunung-gunung yang lain di sekeliling yang masih samar-samar ketika mendaki semalam. Oh, ternyata indahnya bukan main. Meski di pegunungan Indonesia juga banyak batu dan bermacam-macam pula namun batu yang ada di Sinai sungguh memikat hati. Bentuknya sangat indah. Dalam penafsiran saya, batu-batu itu ada yang seperti fosil-fosil dinosaurus, taring hewan yang mengerikan tapi sekarang terlihat indah, ada yang serupa mulut binatang yang sedang menganga, masih banyak lagi yang tak mampu kugambarkan di tulisan ini.

Turun dari puncak adalah hal yang berat. Sebenarnya mendaki adalah pekerjaan yang berat dan memerlukan banyak energy, tapi proses turun kembali kekaki gunung tempat bus parkir adalah perjuangan yang tak kalah beratnya. Turun di jalan yang sangat curam dan terjal butuh lutut yang kuat kalau kuarng kuat membahayakan bagi lutut. Perjalanan kembali turun ini kaki saya bergetar hebat bahkan sampai seperti orang bergoyang. Kaki terasa sakit. Tak hanya saya, teman-teman yang lain ketika saya Tanya juga mengalami hal yang sama tapi saya lebih parah mungkin fisik saya kurang baik. Untuk memulihkan getaran kaki yang luar bisa itu, saya lebih sering istirahat agar tubuh terasa lebih baik.

***

Sepanjang jalan kembali turun banyak sekali anak-anak kecil – kalau dilihat-lihat kayaknya masih di bangku sekolah dasar – menjajakan dangan mereka berupa bermacam-macam bebatuan yang indah. Ada porselin, permata dan banyak lagi yang tak ku ketahui namanya. Mereka merayu setiap yang lewat agar bersedia membeli batu-batu dagangan mereka. Kasihan sekali mereka, seharusnya masa emas usia mereka digunakan untuk menikmati lezatnya ilmu malah digunakan untuk berdagang demi beberapa pound mesir saja. Tapi itu lah yang bisa mereka lakukan saat ini. Merasa kasihan dan tertarik batu porselin yang ditawarkan saya membeli segelondong batu indah yang berharga lima pound. Untuk kenang-kenangan dan satu harapan, semoga dia bisa menikmati sedikit kesenangan karena dagangannya laku.

Tak lama melangkah setelah membeli batu porselin, dataran luas jauh di bawah nampak di mata. Terlihat orang-orang sebesar semut yang lagi berjalan menuju tempat parkir bus. Meski kaki bergetar semakin hebat dan kaki semakin sakit, terus ku langkahkan kaki dan akhirnya nyampai kebawah. Perasaan senang luar biasa karena berhasil menaklukkan gunung hanya berbatu dan bisa kembali dengan selamat meski masih menysakan rasa capai yang luar bisa dan mungki baru hilang setelah seminggu. Tapi itu tak masalah, karena pengalaman indah telah kudapat dan tak semua orang bisa mendapatkan pengalaman yang sama dengan yang kudapat selama ini.

Cairo,18 September 2011
*) Salah seorang mahasiswa yang kini tengah menimba ilmu di Universitas Al Azhar,Cairo,Mesir.
Dijumput dari: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/09/19/sinaigunung-batu-yang-sangat-eksotis/