Topeng Bangsa Meksiko

Octavio Paz
diterjemahkan ke bahasa Inggris: Lysander Kemp
dialihbahasakan ke bahasa Indonesia: Ferdiansyah Thajib
http://www.facebook.com/ca.fes1

Dan bagi saya semua sikap ini, meskipun datang dari sumber yang berbeda, membuktikan hakikat “tertutupnya” reaksi kami terhadap dunia di sekeliling kami atau sesama kami. Namun mekanisme pertahanan dan pelestarian diri kami tidaklah cukup. Dan oleh karena itu kami memakai disimulasi (penyamaran, penyaruan), yang hampir menjadi kebiasaan kami. Ia tidak meningkatkan kepasifan kami; sebaliknya, ia menuntut kreativitas yang aktif, dan ia harus membentuk dirinya dari waktu ke waktu. Kami memang berbohong untuk kesenangan, seperti juga orang-orang lain yang suka berimajinasi, tapi kami juga berbohong untuk menyembunyikan diri sendiri dan melindungi diri dari penyusup. Berbohong memainkan peran penting dalam hidup keseharian kami, politik kami, hubungan cinta kami, dan persahabatan kami, dan karena yang kami hendak tipu adalah diri kami sendiri dan orang lain, kebohongan kami cemerlang dan subur, bukan seperti rekaan kasar orang lain. Berbohong adalah permainan tragis di mana kami mengorbankan sebagian dari diri kami sendiri. Maka kami tidak perlu menghujatnya.

Si penyaru berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirinya. Perannya menuntut improvisasi konstan, sebuah langkah ke depan yang stabil menyeberangi medan pasir yang selalu berubah. Setiap saat, ia harus membuat-ulang, menciptakan-ulang, memodifikasi pribadi yang ia mainkan, sampai datang saatnya ketika realitas dan tampilan, kebohongan dan kebenaran, menjadi satu. Awalnya kepura-puraan hanya khayalan buatan yang diniatkan untuk membuat para tetangga kita kagum, namun lama kelamaan ia akan menjadi realitas yang lebih unggul—karena lebih artistik. Kebohongan kami mencerminkan apa kekurangan kami maupun apa yang kami hasratkan, baik sosok yang bukan kami maupun sosok yang kami ingin jadi. Melalui penyaruan kami menjadi semakin mirip dengan suri tauladan kami, dan kadang si pengial, seperti yang dicermati Usigli, menjadi satu dengan kialnya dan dengan demikian menjadikannya otentik. Kematian Profesor Rubio mengubahnya menjadi orang yang dia ingin menjadi: Jendral Rubio, seorang revolusioner tulus dan seseorang yang mampu membawa dorongan segar dan kemurnian baru pada Revolusi yang tengah mengalami stagnasi. Dalam naskah Usigli Profesor Rubio menciptakan diri yang baru dan menjadi jendral, dan kebohongannya begitu mirip dengan kebenaran bahkan Navarri yang korup pun tidak punya pilihan lain selain membunuhnya, seakan membunuh mantan komandannya, Jendral Rubio, sekali lagi. Dengan membunuhnya, ia membunuh kebenaran Revolusi.

Jika kita dapat mencapai keotentikan melalui jalan kebohongan, ketulusan yang berlebihan dapat membawa kita pada bentuk-bentuk kebohongan yang lebih murni. Ketika kami jatuh cinta kami membuka diri dan mengungkapkan perasaan-perasaan intim, karena sebuah tradisi kuno menuntut si lelaki menderita demi cinta menunjukkan luka-lukanya pada yang dicintainya. Tapi dalam mempertunjukannya, sang pencinta mengubah dirinya menjadi suatu citra, sebuah objek yang ia haturkan kepada yang dicintainya dan pada kontemplasinya sendiri. Sang pencinta meminta yang dicinta untuk memandangnya dengan mata memuja sebagaimana sang pecinta memandang dirinya sendiri. Dan kini pandangan yang lain tidak menelanjanginya; melainkan membungkusnya dengan rasa iba. Ia telah mengajukan dirinya sebagai tontonan, meminta para penonton untuk memandangnya sebagaimana ia memandang dirinya sendiri, dan dengan demikian ia berhasil selamat dari permainan cinta, ia berhasil menyelamatkan diri sejatinya dengan menggantinya dengan sebuah citra.

Hubungan manusia beresiko untuk menjadi taksa, di manapun dan kapanpun. Terutama hubungan cinta sejati. Narsisisme dan masokisme memang bukan ciri khas orang Meksiko saja, namun sudah diketahui umum bagaimana seringnya lagu-lagu populer dan peribahasa dan perilaku sehari-hari kami memperlakukan cinta sebagai kepalsuan dan pengkhianatan. Kami hampir selalu menghindar dari bahaya dari hubungan telanjang dengan melebih-lebihkan perasaan kami. Pada saat yang bersamaan, naluri bertarung dalam erotisisme kami ditekankan dan diperburuk. Cinta adalah upaya untuk mempenetrasi mahluk lain, namun ia hanya bisa diwujudkan ketika sama-sama menyerah. Selalu suit untuk menyerahkan diri sendiri; hanya sedikit orang di manapun yang berhasil melakukannya; dan bahkan lebih sedikit lagi yang melampaui tahap posesif dalam memahami cinta sebagaimana adanya: sebuah pencarian abadi, menyelam ke dalam lautan realitas; sebuah penciptaan kembali tanpa akhir. Orang Meksiko memahami cinta sebagai pertarungan dan penaklukkan. Ia lebih dekat dengan upaya melanggar kenyataan melalui tubuh ketimbang upaya untuk menembusnya. Dengan demikian citra pecinta yang beruntung, yang mungkin diturunkan dari Don Juan Spanyol—seringkali dikaburkan dengan laki-laki yang sengaja memanfaatkan perasaannya, yang sebenarnya maupun dibuat-buat, untuk dapat memikat seorang perempuan.

Berpura-pura adalah aktivitas yang mirip dengan yang dilakukan aktor di teater, namun aktor sejati menyerahkan diri sepenuhnya ke peran yang ia mainkan dan menubuhkannya sepenuhnya, meskipun ia menanggalkannya lagi, seperti ular yang berganti kulit, ketika tirai panggung diturunkan. Si penipu tidak pernah menyerahkan atau melupakan dirinya sendiri, karena ia tidak akan bisa berpura-pura lagi jika ia menjadi satu dengan citranya. Namun fiksi ini menjadi bagian dari dirinya yang tidak terpisahkan—dan palsu. Ia dikutuk untuk memainkan perannya sepanjang hidup, karena perjanjian antara dirinya dan tiruannya tidak dapat dibatalkan kecuali dengan kematian atau pengorbanan. Dusta mengendalikannya dan menjadi landasan bagi kepribadiannya.

Mensimulasikan adalah menciptakan—atau lebih tepatnya, memalsukan—dan dengan demikian menghindar dari kondisi kami. Disimulasi membutuhkan kesubtilan yang lebih hebat: orang yang menyaru tidak sedang memalsukan; ia justru mencoba menjadi tidak tampak, untuk lolos dari perhatian tanpa menyatakan keindividualannya. Orang Meksiko ahli dalam menyamarkan hasrat-hasratnya dan dirinya. Ia takut dengan tatapan orang lain dan oleh karenanya ia menarik diri, berkontraksi, menjadi bayangan, hantu, gema. Ketimbang berjalan, ia meluncur; ketimbang menyatakan, ia memberi tanda-tanda; ketimbang menjawab, ia bergumam; ketimbang mengeluh, ia tersenyum. Bahkan ketika ia bernyanyi pun—kecuali kalau ia meledak dan membuka dadanya lebar-lebar—ia melakukannya dengan gigi terkancing dan suara yang direndahkan, menyamarkan nyanyiannya:

Dan begitu hebatnya tirani penyamaran ini
sehingga meskipun hatiku bungah
dengan kerinduan yang paling dalam,
mataku senantiasa menantang
dan suaraku senantiasa menyurut.

Mungkin kebiasaan menyamarkan kami ini berasal dari jaman kolonial. Orang Indian dan mestizo harus bernyanyi dengan suara rendah, seperti dalam puisi Alfonso Reyes, karena “kata-kata pemberontakan tidak terdengar jelas dari gigi yang terkancing.” Dunia kolonial telah menghilang, tapi tidak demikian halnya dengan ketakutan, ketidakpercayaan, kecurigaan. Dan kini kami tidak hanya menyamarkan kemarahan kami, namun juga kelembutan kami. Ketika orang sebangsa kami meminta maaf, mereka mengatakan: “Berpura-puralah ini tidak pernah terjadi, senor”. Dan kami berpura-pura. Kami begitu antusiasnya menyaru sampai-sampai kami berhenti mengada.

Dalam bentuknya yang paling radikal, penyaruan menjadi mimikri. Orang Indian menyatu dengan pemandangan alam sehingga ia menjadi bagian yang tak dapat dibedakan dengan tembok putih yang disandarinya di tengah malam, dengan tanah gelap yang ditidurinya di hari bolong, dari kesunyian yang mengepungnya. Ia menyamarkan kemanusiaannya yang tunggal dengan sedemikian rupa hingga pada gilirannya ia memusnahkannya dan berubah menjadi sebongkah batu, sebatang pohon, tembok, kesunyian, dan ruang. Saya tidak sedang mengatakan bahwa ia sedang menyatu dengan Sang Maha seperti seorang penganut panteis, atau ia melihat satu pohon sebagai purwarupa semua pohon, yang saya maksud di sini adalah bahwa ia benar-benar menyatu dengan benda tertentu dengan cara yang kongkrit dan khusus.

Roger Caillois telah menunjukkan bahwa mimikri bukan selalu berupa upaya untuk mengecoh musuh yang memadati dunia luar. Serangga kadang “berlagak mati” atau meniru beragam jenis benda-benda yang membusuk, karena terpikat pada kematian, demi kelembaman ruang. Keterpikatan ini—saya menyebutnya kekuatan gravitasi kehidupan—adalah hal yang lumrah bagi semua mahluk hidup, dan fakta bahwa ia menyatakan dirinya lewat mimikri menunjukkan bahwa kita mesti memahaminya sebagai lebih dari sekadar perangkat instingtif untuk menghindar dari bahaya atau kematian.

Mimikri lebih merupakan perubahan penampakkan ketimbang sifat, dan penting untuk memilih repreesentasi yang bukan kematian ataupun ruang diam. Tindakan meluaskan diri, menyatu dengan ruang, menjadi ruang, adalah satu cara untuk menolak penampakkan, namun pada saat yang sama ia juga merupakan cara untuk menjadi bukan apapun kecuali Penampakkan. Bangsa Meksiko takut dengan penampakkan, meskipun para pemimpinya menyatakan cintanya pada penampakkan, dan oleh karena itu ia menyamarkan dirinya sendiri sampai pada kondisi menyatu dengan benda-benda di sekitarnya. Dengan begitu, ia menjadi Penampakkan murni karena ketakutannya akan penampakkan. Ia tampak sebagai sesuatu yang lain dari dirinya sendiri, dan bahkan ia memilih untuk tampak mati atau tidak ada ketimbang mengubah, membuka privasinya. Maka penyaruan sebagai mimikri adalah salah satu pengejawantahan dari hermetisme kami. Si pengial memilih menggunakan topeng, dan sisanya dari kami ingin berlalu tanpa diperhatikan. Di kedua kasus, kami menyembunyikan diri kami yang sejati, dan kadang mengingkarinya. Saya ingat siang ketika saya mendengar keributan di kamar sebelah, dan saya bertanya keras-keras: “Siapa di sana?” Jawaban yang saya terima datang dari suara pelayan yang belum lama ini datang kepada kami dari desa: “Bukan siapa-siapa, senor. Cuma saya”.

Kami menyaru demi menipu diri kami sendiri, dan menjadi tembus padang dan seperti hantu. Tapi ini belum berakhir: kami juga berpura-pura bahwa sesama kami tidak eksis. Ini bukan berarti bahwa kami dengan sengaja tidak menghiraukan atau merendahkan orang lain. Penyaruan kami di sini jauh lebih radikal: kami mengubahnya dari seseorang menjadi bukan siapa-siapa; menjadi ketiadaan. Dan ketiadaan ini mempunyai keindividualannya sendiri, dengan wajah dan bentuk yang dapat dikenali, dan tiba-tiba menjadi Bukan Siapa-siapa.

Don Bukan Siapapun, yang adalah ayah Spanyol si Bukan Siapa-siapa. Ia sehat, cukup makan, cukup dihormati; ia punya rekening bank, dan bicara dengan suara keras dan nada percaya diri. Don Bukan Siapapun mengisi dunia dengan kehadirannya yang kosong dan cerewet. Ia ada di mana-mana dan kawannya di mana-mana. Ia seorang bankir, duta besar, usahawan. Ia bisa dijumpai di setiap bar, dan dihormati di Jamaika, Stockholm, dan London. Di satu waktu ia berkedudukan, di saat lain ia berpengaruh, dan perilakunya ketika tidak menjadi apapun, adalah agresif dan sombong. Sebaliknya, Bukan Siapa-siapa pendiam, pemalu dan rendah hati. Ia juga cerdas dan peka. Ia selalu tersenyum. Ia selalu menunggu. Ketika ia ingin mengatakan sesuatu, ia terbentur pada tembok kesenyapan; ketika ia menyapa seseorang, ia diabaikan; ketika ia memohon atau menangis atau berteriak, gerak dan teriakannya hilang dalam kekosongan yang diciptakan oleh kebawelan tanpa henti. Don Bukan Siapapun. Bukan Siapa-siapa takut tidak eksis: ia berulang-alik, berkali-kali mencoba menjadi Seseorang. Akhirnya, di tengah geraknya yang tidak berguna, ia menghilang ke alam limbo tempat ia dulu muncul.

Adalah salah untuk mengira bahwa orang lain melarangnya untuk eksis. Mereka hanya menyarukan keberadaannya dan berlaku seakan ia tidak eksis. Mereka menganulirnya; membatalkannya, mengubahnya menjadi ketiadaan. Percuma bagi Bukan Siapa-siapa untuk bicara, menerbitkan buku, melukis, berdiri di atas kepalanya. Bukan Siapa-siapa adalah kekosongan di raut wajah kami, jeda dalam percakapan, ketenangan dalam kesenyapan kita. Ia nama yang selalu dan pasti kami lupakan, si tukang absen abadi, tamu yang tak pernah diundang, kekosongan yang takkan pernah bisa terisi. Ia adalah penghilangan, namun ia selalu hadir. Ia adalah rahasia kami, kejahatan kami, penyesalan kami. Maka orang yang menciptakan Bukan Siapa-siapa, dengan mengingkari keberadaan Seseorang, juga diubah menjadi Bukan Siapa-siapa. Dan jika kami semua adalah Bukan Siapa-siapa, maka tak satu pun dari kami eksis. Lingkarannya telah terbentuk sempurna dan bayangan Bukan Siapa-siapa menyebar ke seluruh permukaan bumi kami, mencekik si Pengial, dan menutupi segalanya. Kesunyian-kesunyian yang purba, lebih kokoh dari semua piramida dan pengorbanan, dari semua gereja dan pemberontakan dan lagu rakyat—kembali untuk menguasai Meksiko.

Catatan: Octavio Paz, 1985, kutipan dari “Mexican Masks” dalam The Labyrinth of Solitude, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Lysander Kemp, Grove Press, Inc., NY, USA, hal. 40-46 dialihbahasakan ke bahasa Indonesia oleh Ferdiansyah Thajib
Dijumput dari: http://www.facebook.com/notes/catatan-fesbuk/octavio-paz-topeng-bangsa-meksiko/379219282106943