Totalitas Amien Kamil

Anton Sudibyo, Garna Raditya
http://suaramerdeka.com/

”Lima orang atau lima ribu orang, bagi saya tak ada bedanya”

SEBARIS kalimat itu menjadi ucapan pembuka Amien Kamil di atas panggung. Tentunya hal itu dikatakannya karena melihat pembacaan puisi yang sebentar lagi dilakukannya, hanya dihadiri beberapa gelintir manusia.

Ya, Gedung Serbaguna, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kamis (27/5) malam, layaknya Stadion Jatidiri dengan beberapa anak kecil bermain bola. Tak lebih dari 20 penonton di sana. Untuk penyair sekelas Amien Kamil yang buku puisinya meraih Khatulistiwa Literary Award 2007-2008, tentunya fenomena ini sangat menyedihkan.

Namun meski tak berarti secara kuantitas, secara kualitas tak dapat dipandang remeh. Lihat saja sosok-sosok seperti penyair Beno Siang Pamungkas dan Sukamto, teaterwan Widyo ”Babahe” Leksono, Alfianto, dan Zoex Zabidy, atau perupa Maman Suparman.

”Sebagai apresiator, nama-nama ini jelas dapat dipertaggungjawabkan,” kata Beno yang mewakili Komite Teater Dewan Kesenian Semarang (Dekase) ketika membuka acara.

Tapi Amien sejatinyalah tak memerlukan kata-kata penghibur itu. Kalimat yang diucapkannya di awal naik panggung itu, juga bukanlah basa-basi. Penyair kelahiran Jakarta 1963 ini adalah seorang profesional.

Dengan rambut gimbal yang ditutup topi rasta dari rajutan rotan, Amien menunjukkan bahwa tampil tanpa euforia penonton, tanpa lampu panggung standar, dan tanpa setting memadai bukan masalah baginya. Jebolan sinematografi IKJ itu tetap menunjukkan kelasnya sebagai penyair plus performer andal.

Sekitar 10 puisi dari buku pertamanya Tamsil Tubuh Terbelah, dibacakannya malam itu. Dan semuanya bukan sekadar pembacaan puisi biasa. Amien, memenuhinya dengan intonasi, diksi, irama, serta artikulasi vokal sekaligus ekspresi tubuh. Sebuah pertunjukan puisi khas penyair yang juga memiliki latar belakang teater, seperti Apito Lahire atau Sosiawan Leak.

Mengajak Terlibat

Jebolan Bengkel Teater Rendra dan aktif menjadi sutradara di Republic of Performing Arts ini juga skenografer, dan perupa. Dengan penggabungan itu, puisi yang dibacakannya terasa komunikatif.

Ia seperti mengajak penontonnya terlibat dalam dialog interaktif yang asyik. Bercakap tentang dunia imajiner ketika ”Membaca Tanda-Tanda”, berdiskusi tentang Bertold Brecht dalam ”Pernah Sekali Waktu”, atau mengajak jalan-jalan ke ”New York Postcard Lusuh Berdebu.”

Totalitasnya juga ditandai dengan penciptaan suasana melalui bunyi dari benda-benda sekitarnya.

Di hadapannya seolah semua benda adalah alat musik. Entakan kaki pada papan, jentikan jari, desahan nafas, dan sobekan kertas, menjadi orkestra minimalis yang cukup mampu mengantarkan pendengar pada dunia yang diinginkannya.

Pertunjukan Amien Kamil itu adalah pembuka untuk Forum Sabtu Pahing dari Dekase.

29 Mei 2010