Tulisan Acep pada Tembok

Judul : Tulisan pada Tembok
Penulis : Acep Zamzam Noor
Penerbit: Komodo Books
Tahun : Oktober 2011
Peresensi : Mugya Syahreza Santosa *
http://www.lampungpost.com/

SEIRING bergulirnya waktu, bagi penyair bukan tidak mungkin, ia mengalami perubahan selera dalam menciptakan puisi. Ia seakan-akan melihat puisi—ciptaannya itu, sesuatu yang menggemaskan untuk diperlakukan kembali sebagai “anak hilang” yang telah pulang. Tulisan pada Tembok misalnya, buku kumpulan puisi yang ditulis oleh Acep Zamzam Noor di rentang tahun 1979-1989. Sebagai penyair, Acep telah mengalami situasi di mana ia kedatangan kembali “anak hilang” yang sudah lama dilepaskannya.

Ada hal yang menarik bila kita mau mangamati apa yang menghampar di buku Tulisan pada Tembok. Hal itu menjadi terasa menonjol karena penyair sendiri seakan telah mengisyaratkan, di halaman pengantar, bahwa puisi yang akan dihadapi di antara lembar-lembar bukunya telah mengalami perubahan-perubahan. Mari sedikit kita cermati, perubahan-perubahan apa saja yang ada.

Perubahan judul, misalnya pada puisi Tamparlah Mukaku halaman 26, yang oleh penulis bandingkan dengan puisi yang terdapat pada buku Tamparlah Mukaku! (1982). Puisi itu awalnya berjudul Aku MencintaiMu, Kekasih Tamparlah Mukaku! halaman 14. Bagi Acep, frasa pada judul sebelumnya adalah bentuk konfrontasi, yang dengan sengaja membawa pembaca untuk menelan puisi pada dua sikap yang satu sama lain berbeda, yakni hubungan subjek pemberi dan objek yang diberi. Subjek pemberi meletakkan diri sebagai hamba yang senantiasa lemah, mahluk ciptaan dan hakikatnya wajib mencintai, objek kedua merupakan makhluk agung, perkasa dengan segala kekuasaanya. Namun akhirnya, Acep memutuskan lebih percaya efisiensi kata, cukup hanya Tamparlah Mukaku saja, bahkan tanda seru dihilangkan. Ini merupakan pertimbangan terhadap pengolahan kata yang mulai diimami penyair.

Bahkan dalam perlakuannya, di bait-bait puisi tersebut penyair sudah tidak dibebani lagi dengan penggunaan huruf kapital dalam menunjukkan identitas Tuhan. Larik dalam bait kedua puisi tersebut penulis dapati yang asalnya jangan pergi, jangan perjelas sepi/berubah menjadi jangan pergi, jangan pertegas sepi/. Kemudian hilangnya frasa aku bego dan hadirnya kata kekasih, perubahan dari lariktunjukan padaku sebuah tempat/di mana seharusnya aku mesti Kaududukan/menjadi Tunjukan padaku sebuat rambu/ Ke mana seharusnya aku mesti menuju/. kemudian perubahan, lemparkan aku ke sebuah tempat/ di mana seharusnya aku mesti berbaring/ menjadi Ingatkan aku bahwa ada sebuah ruang/ Di mana kelak mesti berkubang/.

Penulis sendiri merasakan adanya keinginan mempertahankan pengolahan bahasa sebagai bagian dari keketatkan penyair untuk menjadikan puisinya lebih memiliki irama dan kejernihan ungkapan. Frasa perjelas sepi memerlukan daya rasa dalam memahami, tetapi frasa pertegas sepi tidak hanya memiliki daya rasa tapi juga mengena dalam logika bahasa. Juga sama halnya terjadi pada frasa aku bego dan kata kekasih yang asalnya menghuni ujung larik terlalu banyak jalan bersimpangan di sini//aku bego. Tamparlah mukaku/menjadi Terlalu banyak jalan bersimpangan di sini//Tamparlah mukaku, kekasih/. Kehadiran penambahan kata merupakan bagian bentuk dari keniscayaan penyair untuk menjaga konsistensi suasana dalam sajak tersebut, karena kata kekasih merupakan bagian penting untuk menunjukan siapa objek dan penghilang frasa aku bego adalah hasil pertimbangan yang cermat akan efisiensi seperti yang sudah disinggung tadi. Juga kata kekasih ini kerap sekali ditambahkan Acep pada puisi-puisi lainnya, sebagai dorongan pentingnya memperjelas objek rupanya.

Pada puisi Malam Ini Ingin Kutulis Sajak juga penulis dapatkan perubahan, awalnya penyair memberi judul Malam Ini Ingin Kubangun Sajak. Kata kubangun cukup mendesak kita bila harus disandingkan dengan kata sajak, sehingga Acep kembali mempertimbangkan. Lariknya mengalami perombakan yang bila dicermati, pada dasarnya, Acep menggunakan kemampuan menyusun kembali ke suasana teratur dan rapi dalam meletakan kata-kata. Adanya penggantian padanan, perubahan citraan bahkan penambahan yang terkesan “menambal” atas lubang di masa awal penciptaannya.

Tetapi tidak semua puisi mengalami perubahan, pada puisi-puisi dari buku Jalan Menuju Rumahmu, misalkan puisi Manila Bay, Senja ; In Memoriam Kriapur dan Romantic Agony juga lainnya lagi sama sekali tidak “disentuh”. Acep sepertinya sudah memercayainya sebagai kodrat kelahirannya, satu sisi tidak mau ia ganggu-gugat, hingga puisi-puisi tersebut tidak mengalami perubahan.

Sebenarnya masih ada perubahan-perubahan yang bisa didapati dalam puisi di buku Tulisan pada Tembok yang bisa jadi merupakan bagian dari hasil jurus-jurus berpuisi sang penyair. Bahkan akan menjadi menarik bila kita bisa langsung mengecek dan mengamati buku ini baik dengan cara membandingkan dengan puisi-puisi Acep yang terdahulu atau menikmatinya utuh sebagai buku antologi tunggal—seperti umumnya. Sedangkan jika penulis harus berbicara dalam hal tema, puisi-puisi yang terhampar dalam lembar-lembar buku tersebut, dalam klaim kata pengantarnya, bahwa puisi tersebut mengusung tema religius, meskipun Acep sendiri percaya pada dasarnya semua puisi itu religius. Penulis juga mengamini hal tersebut, di samping itu kemudian mengetahui, lagi-lagi ketika Acep berpuisi–baik dalam bentuk teks maupun di luar teks, penulis rasa, Acep seorang yang gemar mempertanyakan persoalan kekekalan kenangan.

Kenangan yang banyak orang percayai bisa menjadi kekal, bila saja kenangan tersebut tidak dirusak dengan ingatan lain sebagai negasinya. Sebaliknya Acep mempertanyakan kembali, bagaimana kenangan bisa kekal bila harus ada ingatan lain yang dilupakan, hanya karena pertistiwa itu berlawanan. Sungguh Tulisan pada Tembok milik Acep, ketika dinikmati akan menjadi tulisan yang lain dalam hati dan pikiran pembaca. Tidak percaya? Buktikan saja! Selamat mencoba dan membaca.

Mugya Syahreza Santosa, penyair /12 February 2012