Batu Hitam itu…

Isbedy Stiawan Z.S.
http://lampungpost.com/

“Kau hanya batu hitam
tak ada manfaat ataupun mudarat
jika tidak kulihat Rasululllah menciummu
tidak kucium kau…”
*

LELAKI itu akhirnya jadi juga ke Tanah Suci, setelah beberapa kali tertunda—persisnya terganjal—oleh berbagai persoalan. Pertama ia batal menunaikan ibadah haji disebabkan dua bulan jadwal keberangkatan kuota cukup. Ia pun masuk waitinglist alias menunggu jadwal tahun depan. Dan, begitu tahun keberangkatannya, istrinya meninggal. Ia pun minta ditunda tahun berikutnya.

Pada tahun ketiga, alhamudillah ia mendapat restu dari Allah. Lelaki itu berangkat tanpa istri tercinta. Tak apa, pikirnya, di Baitullah kelak jika diberi kesehatan dan kekuatan akan dia hajikan pula istrinya. Dia bedoa semoga diberi kesehatan. Lelaki itu ingin sekali sepulang dari Tanah Suci mendapat gelar haji bersama istrinya.

Ia sudah siapkan uang untuk membayar jasa yang akan menghajikan istrinya. Itu bukan upah, tapi untuk uang lelah. Bukankah untuk memperoleh surga tak ada jual-beli? Melaksanakan ibadah mesti ikhlas, gumamnya. Itu sebabnya, ia ikhlas untuk membayar lelah kepada orang yang nantinya diminta untuk menghajikan istrinya.

Dengan sejuta keimanan, seribu sisa kekuatan yang dimiliki lelaki paruh baya itu, melangkahlah ia memenuhi panggilan-Nya. Hendak menyusuri tapak Nabi Ibrahim, mengembalikan kenangan bagaimana Siti Hajar berlari-lari dari Bukit Safa ke Bukit Marwah untuk memperoleh air bagi si anak yang masih kecil, Ismail. Juga mengelilingi Kakbah—Baitullah—sebagaimana para malaikat pernah melakukannya untuk berzikir dan bertasbih, juga berdoa saat di depan batu hitam bernama Hajar Aswad itu: sebuah doa yang telah terpatri oleh seluruh muslim ataupun yang terundang ke Tanah Suci.

Lelaki itu tak hendak menginap di hotel setiba di Tanah Mekah. Baginya, kamar beserta kasur dan kesejukan hotel akan membuatnya kerap lelap. Kalau itu menyergap dirinya, kenapa tidak di rumah saja? Di rumah pun ia selalu bangun tengah malam: tahajud dan berzikir hingga subuh mengembang. Sebagaimana ia pernah membaca salah satu puisi Khalil Gibran: “Hanya pejalan malam yang akan menemukan fajar.”

Ya! Ia mahfum paham makna dari untaian Gibran itu. Hanya orang-orang yang bangun tengah malam, lalu beribadah, mengingat-Nya, dan berdoa, mereka menemukan kemenangan. Meskipun kemenangan, menurut lelaki paruh baya itu, masih misteri, penuh rahasia. Apakah ia menang begitu ia bisa memenuhi undangan ke Tanah Suci ini? Apakah kegagalan dua kali menunaikan ibadah haji, adalah kemenangan tertunda?

**

LELAKI itu akhirnya benar-benar menjejakkan kaki di Tanah Suci. Kali pertama tiba di Bandar Udara King Abdul Azis Jeddah, segera ia bersujud persis di depan tangga pesawat. Tak peduli orang-orang melihatnya. Tak ia hiraukan segenap karyawan bandara memperhatikannya. Mungkin takjub, entah pula terheran-heran. Setelah itu sebuah bis milik bandara menjemput, ia pun naik. Berhenti di dekat kantor imigrasi. Ia pun antre untuk dicatat sebagai pendatang—tamu Allah—di Kerajaan Arab Saudi.

Ia hanya sekali meneteskan air mata. Berikutnya dia bergembira, saat matanya beradu pandang pada sejumlah orang berkulit hitam. Mereka adalah keturunan Nigeria, tetapi lahir, besar, dan berketurunan di Tanah Suci ini. Sayangnya, kerajaan tak mengakui mereka sebagai warga Arab Saudi. Bahkan, konon, mereka pernah ingin dipulang ke negeri asal, sayang ditolak sebab mereka dianggap bukan lagi bagian Nigeria. Akhirnya mereka terkatung-katung tanpa kartu penduduk, juga tempat tinggal. Mereka menyerbu ke keramaian sebagai pedagang ataupun peminta-minta. Sungguh malang nian.

Entah bagaimana caranya, ia bisa mengerti dikatakan orang Nigeria yang diajaknya mengobrol. Padahal mereka tak menggunakan bahasa, melainkan gerak tubuh. Bahkan, tatkala lelaki itu menyebut namanya: Muhammad Yusuf, orang Nigeria yang diajak mengobrol itu mengangguk-angguk.

“Muhammad Yusuf, ya ya…Dari Indonesia? Bagus bagus…”

“Ana Abdul Azis.. ya…”

Sejak itu, lelaki bernama Muhammad Yusuf dari Indonesia, kerap mengobrol dengan lelaki Nigeria bernama Abdul Azis selepas salat di Masjidil Haram. Karena kekerabatan itu, ia membeli barang dengan harga murah dibanding jika dijual kepada orang lain.

Ia banyak tahu betapa orang Nigeria bagaikan warga tanpa perlindungan di negeri yang melahirkannya. Kerajaan Arab Saudi, kata Abdul Azis, masih mengakui orang-orang Nigeria sebagai pendatang. Padahal, mereka sudah turun-temurun menetap di negeri ini. Kerajaan tak memberi fasilitas yang sama seperti diberikan kepada orang Arab. Sehingga mereka mencari nafkah lewat berjualan, itu pun harus kucing-kucingan dengan asykari (polisi) kerajaan.

“Rumah kami adalah alam ini. Atap rumah kami ialah langit negeri ini,” kata Abdul Azis menggerakkan tangannya.

Lelaki itu mengangguk. Hatinya teriris. Kemarin, selepas salat subuh, ia melihat anak-anak menjadi pengemis. Tangan kirinya terlihat buntung. Sementara anak yang lain, terlapis tangan palsu.

“Mereka dipaksa oleh orang tuanya menjadi peminta-minta. Mereka tak cacat. Tangannya itu ia masukkan ke dalam pakaiannya. Sedangkan yang itu, tangan palsu yang terlihat itu cuma ditempelkan. Jadi….”

“Jadi, mereka berbohong?”

“Karena keadaan,” jawab Abdul Azis. “Di sini, tak semua orang suci, tak semua benar-benar hendak beribadah. Bahkan….”

“Ya, benar. Di depan Kakbah pun orang bisa berbuat curang,” kata lelaki itu seperti membenarkan cerita Abdul Azis.

Masih ingat dan tak akan mungkin terlupakan selama nyawa di kandung badan. Saat dia tawaf, sejumlah anak muda bertubuh kekar tak henti menawarkan diri untuk membantu para jemaah agar bisa mencium Hajar Aswat (batu hitam) itu. Sejatinya, jika para jemaah tertib saat tawaf, niscayalah batu hitam itu bisa dicium satu per satu atau bergantian. Hanya saja, sistem sengaja dibuat agar terkesan bahwa jemaah sangat ingin mencium dan batu hitam itu adalah “jalan menuju surga” atau setidaknya merupakan tuntunan dari kanjeng Nabi Muhammad Sang Rasul Allah. Sehingga orang berlomba, bahkan sebagian menganggap sudah kewajiban batu hitam itu dicium saat tawaf.

Padahal, dari sirah Nabi, Umar bin Khattab pernah berujar: “Kau hanya batu hitam, tak ada manfaat ataupun mudarat. Jika tidak kulihat Rasululllah menciummu, tidak kucium kau….”

“Tetapi, orang punya cara lain saat berdekatan dengan Kakbah yang selama ini mungkin hanya mimpi,” kata ustaz yang pernah memberi wejangan pada lelaki itu suatu ketika di masjid dekat rumahnya. “Sehingga mencium Hajar Aswat seperti kewajiban, karenanya sampai bersusah payah untuk menyentuhkan bibirnya di batu itu. Sampai-sampai tak menghiraukan keselamatan sendiri. Jemaah dari Indonesia jauh lebih kecil dalam segala hal dibanding jemaah dari luar, seperti Nigeria, Turki, Eropa, dan seterusnya. Akibatnya, bisa terinjak-injak. Padahal cukup melambai dan mengucapkan “Bismillah Allah akbar”, persis di depan batu hitam itu…”

Lalu pada pengajian lainnya, ia juga sempat mendengar dari ustaz itu, bahwa di Jabal Rahma juga banyak orang berbuat syirik. Bukit Cinta, demikian istilah lain bagi bukit di Padang Arafah itu, adalah tempat pertemuan Adam dengan Siti Hawa setelah beratus-ratus tahun tak jumpa pasca-keduanya diturunkan dari surga.

“Jadi Bukit Rahma itu hanya untuk kita mengenang perjalanan panjang Adam dan Hawa hingga bertemu di situ, lalu menciptakan keturunan hingga ke kita ini. Tetapi, kenyataannya di sekitar itu banyak tulisan yang menginginkan harmonis percintaan mereka…,” kata sang ustaz.

Dua pelajaran itu ia rekam hingga mendalam. Lelaki itu tak ingin melakukan kesyirikan justru di Tanah Suci. Sebab itu, ia menolak tatkala ada yang menawarkan bantuan untuk mencium batu hitam. Penolakannya itu berbuah keuntungan. Kalau tidak, seperti banyak jemaah lainnya, diperas hingga 100 real.

Lelaki itu sempat naik pitam. Seorang tua dari Jawa diperas 100 rial, padahal dia tak mempunyai uang sebesar itu. Teman lelaki bertubuh kekar itu segera menariknya, dan berujar: “Kami di sini mau makan. Apa Bapak mau kasih kami uang!”

Des! Lelaki itu pun menciut. Wajahnya menunduk. Ia tak mungkin bisa memberi 100 real, sedangkan untuk melawan ia tak punya keberanian meskipun mereka juga dari Indonesia. Barangkali para tenaga kerja Indonesia yang gagal lalu mencari uang dari kecurangan dan memanfaatkan orang Indonesia yang kerap menganggap “masuk surga begitu mudah, cukup hanya mencium batu hitam….”

Lelaki itu makin bergetar jantungnya, saat melihat seorang lelaki tua tergeletak persis di dekat batu hitam. Lelaki asal Pulau Kalimantan baru sekejap lalu terinjak-injak oleh, entah jemaah dari mana kecuali yang dia lihat bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam, yang bergerombol sambil berlomba mendekati batu hitam itu. Mereka satu sama lain berpedangan tangan, sangat kuat sampai sulit tercerai-berai, dan merangsek ke batu hitam yang ada di sudut di Kakbah. Setelah itu, Muhammad Yusuf hanya mendengar teriakan minta tolong berkali-kali, hingga lenyap. Dan, tergeletak.

“Innalillahi wainna ilaihi rajiuun…,” hampir bersamaan orang-orang berujar. Segera lelaki paruh baya itu bantu menggotong lelaki yang telah meninggal itu. Jenazah itu pun disalatkan selepas zuhur…

“Semoga menjadi syuhada. Ia syahid…,” komentar teman barunya lelaki Nigeria, saat ia menceritakan ihwal kejadian subuh tadi saat ia tawaf untuk menggantikan tahiyatul masjid.

*

BETAPA Allah hendak menguji umatnya dengan kesulitan dan cobaan-cobaan lainnya. Tetapi, tak ada ujian yang diberikan Allah melebihi kemampuan hambanya.

Begitu ia pernah mendapat wejangan dari ustaz pada suatu pengajian. Artinya, Allah tak akan menyusahkan umatnya dengan cobaan sangat berat. “Jika kita tak mampu mencium batu hitam itu, cukuplah melambai dari jauh. Jangan dipaksa untuk mendekat lalu menciumnya, karena Rasulullah pernah melakukannya. Sama artinya kalau kita tak punya kemampuan datang ke Tanah Suci, ya tak perlu dipaksa-paksa harus datang. Bukankah menunaikan ibadah haji adalah rukun Islam kelima. Itu pun ada syaratnya: jika mampu,” kata ustaz itu lagi.

“Lalu apa ukuran mampu, ya Ustaz?”

“Mampu fisik dan mampu keuangan…,”jawab ustaz. “Karena perjalanan ke Mekah itu sangat berat….”

Dan, lelaki paruh baya itu mendapatkan cobaan amat berat. Menyaksikan langsung bagaimana jemaah terinjak-injak, bagaimana masih banyak umat Islam yang berbuat syirik justru di depan Kakbah. Juga nasib umat Islam asal Nigeria yang bagaikan pendatang haram di negeri kelahirannya ini. Betapa Kerajaan Arab Saudi yang juga masih jauh dari ajaran Muhammad saw.

“Mereka biarkan kami terlunta sebagai pengais rezeki di pasar dan sebagian kami jadi pengemis. Tidak seperti orang Madinah yang menerima Muhajirin sebagai bagian tak terpisah dari mereka. Hingga para sahabat dan Rasulullah wafat pun dikubur sebagai keluarga mereka. Sedangkan kami, sedang kami…tak pernah diakui sebagai keluarga dari orang-orang Arab,” keluh Abdul Azis.

Setelah berucap itu, ia segera mengemas barang-barangnya dan lari. Beberapa asykari turun dari mobil dan mengejar para pedagang dan pengemis….

Mekah Mei 2011, Lampung Juli 2011