Bila Sastrawan Pemula Menentukan Kelamin?

Hasan Al Banna
http://www.analisadaily.com/

Bahagia mendapatkan kenyataan atas kemunculan penulis-penulis (fiksi) muda di Medan (Sumut). Kemeriahan karya kreator fiksi muda di beberapa media cetak lokal bahkan nasional bisa ditodongkan sebagai salah satu indikator. Iklim kemeriahan sedemikian ini patut ditukar dengan rasa syukur.

Oleh karena itu, dapat dimaklumi pula mengapa YS. Rat boleh dibilang turut bahagia, terlebih dalam tulisannya (Menjadikan Jelas “Kelamin” Sastrawan Pemula) yang dimuat rubrik ini beberapa waktu lalu. Dalam tulisannya, YS. Rat juga tidak lalai bernasihat agar para sastrawan pemula (katakanlah sastrawan muda, meski bukan dalam konteks usia). YS. Rat menghimbau sastrawan muda – di masa awal kepenulisan, untuk bersegera memilih “kelamin” yang jelas: penyair atau cerpenis!

Agaknya, YS. Rat khawatir kalau tunas-tunas sastrawan di Medan (Sumut) akan menerima sejumlah dampak apabila di masa awal kepenulisan rangkap pekerjaan, yaitu mencipta puisi sekaligus mencipta cerpen. Boleh jadi YS. Rat tidak sudi menyaksikan sastrawan muda rabun fokus tatkala menelurkan karya fiksi, sehingga kuantitas karya tidak sebaya dengan kualitasnya. Lebih ironis lagi, sastrawan muda bisa-bisa terjerumus pada lembah keserakahan. Serakah demi pengakuan label diri, juga serakah demi keuntungan materi. Kesarakahan yang diam-diam menodai taji karya.

Kegelisahan YS. Rat muncul -mungkin- setelah secara tekun mengamati karya-karya para sastrawan muda yang semarak secara kuantitas, tetapi dinilai sunyi secara kualitas. Tentu YS. Rat, meskipun tidak membeberkan dalam tulisannya, memendam alasan yang kuat, sehingga harus perlu memberi nasihat kepada sastrawan muda agar lebih dulu fokus pada satu genre saja. Sebuah nasihat yang arif, tentunya. YS. Rat tentu berkehendak para sastrawan muda telaten menapaki proses kreatif.

Ada celah pertanyaan dari anjuran YS. Rat di atas; apakah sastrawan muda baru boleh menunaikan kreativitas menulis puisi dan cerpen sekaligus kalau masa awal kepenulisan sudah berlalu? Ah, bagaimana menentukan ukuran waktu yang dibutuhkan sastrawan muda untuk dikatakan sudah melampaui batas masa awal kepenulisan? Apakah ‘segerombolan’ sastrawan muda tersebut memiliki kemampuan yang sama masif dalam menentukan kecenderungan diri sedini mungkin: penyair atau cerpenis?

Sesungguhnya, masing-masing genre dalam sastra, khususnya puisi dan cerpen menyimpan perangainya sendiri-sendiri. Keduanya berada dalam posisi ‘berdiri sama rendah berdiri sama tinggi’! Lantas, sangat terbuka kemungkinan bagi seorang kreator fiksi untuk menunaikan salah satu atau keduanya sekaligus. Tidak mudah menyodorkan bukti bahwa seorang kreator fiksi yang di masa awal kepenulisannya memilih “berkelamin tunggal” akan lebih baik ketimbang kreator fiksi yang membiarkan dirinya “berkelamin ganda”. Pun sebaliknya. Intinya, proses kreatif pengarang mustahi serupa.

Memang, merujuk pada berbagai proses kreatif sejumlah sastrawan, banyak yang melalui peristiwa berkarya secara berjenjang, satu demi satu. Bukan tidak ada sastrawan yang sukses menjalani status “kelamin ganda” sejak masa awal kepenulisannya. Paling tidak, pilihan “berkelamin ganda” sejak masa awal kepenulisan malah memberinya jalan untuk pada akhirnya menentukan “kelamin” mana yang paling dibanggakan dan seterusnya dipelihara setekun-tekunnya.

Selain itu, sebuah hasil karya turun dari ide. Hamparan ide terbentang di haribaan alam. Tidak setiap ide dapat ‘diselesaikan’ dengan puisi, misalnya. Adakalanya sebuah ide baru cocok jika dikenakan ke tubuh cerpen. Atau tidak untuk keduanya. Seno Gumira Ajidarma pernah menulis esai tentang sebuah ide yang menurutnya akan diwujudkan menjadi cerpen.

Dalam esai itu Seno mengeluhkan betapa sulit dia menyelesaikan cerpen dari ide tersebut. Pada akhirnya, ide yang gagal dikonversi menjadi cerpen malah menjadi ‘jatung pisang’ esai Seno. Seno kemudian menulisan bahwa ide cerpennya cuma punya takdir untuk ‘dikisahkan’ dalam esai, tidak (atau belum) dalam cerpen. Setidaknya, esai Seno tentang kesulitannya menggarap ide cerpen lebih dulu rampung ketimbang cerpennya sendiri.

Hal ini mengindikasikan bahwa tidak semua ide serta-merta dapat divonis untuk menyandang puisi atau cerpen. Tidak tertutup kemungkinan seorang kreator yang semula hendak ‘menyulap’ ide menjadi cerpen, eh, malah perjalanan penggarapan menggiringya menyelesaikan sebuah puisi. Oleh karena itu, saran agar sastrawan muda fokus pada satu genre saja di masa awal kepenulisannya tidak bersifat mutlak. Semodel itulah memang tabiat nasihat; tawaran yang boleh diterima, boleh juga tidak.

Di sisi lain, bisa jadi kalau anjuran di atas dibikin terbalik. Maksudnya, sastrawan muda di masa awal kepenulisannya boleh melakukan keduanya sekaligus, lantas seterusnya khalayak penikmat dengan segala ragam apresiasi kelak turlibat memilih “kelamin” yang jelas bagi kreator muda. Para pengapresiasi, baik itu pembaca awam, kritikus dan redaktur media akan secara alami bertindak sebagai filter. Dengan kata lain, seorang kreator berkesempatan menyediakan dua pilihan bagi khalayak. Tentu khalayak mempunyai hak untuk menjatuhkan pilihan atau bahkan memilih keduanya.

Ya, cara ini bukan berarti nihil konsekuensi. Konsekuensi yang bahkan boleh jadi merupakan rentetan alasan YS. Rat mengajurkan sastrawan muda untuk selektif memilih. Memang, sangat bagus kiranya kalau seorang penulis muda sudah mampu terlebih dulu menentukan kecenderungannya.

Kalau tidak, jangan khawatir, karena perjalanan proses kreatif selalu membuka diri dalam memberikan pertolongan. Yang penting, pertarungan untuk mengilapkan kualitas karya harus dicamkan. Soal hasilnya bagaimana, toh itu sudah ada yang mengurus.

Akhirnya, tulisan ini tidak sedang menyanggah anjuran YS. Rat, tetapi lebih kepada menyodorkan kemungkinan-kemungkinan lain dalam kerja kreatif di dunia fiksi yang bersifat serba mungkin ini. Bukankah pada akhirnya, tetap terbuka pintu bagi siapa saja yang hendak diseru penyair, cerpenis atau ‘rangkap jabatan’, di mana pun posisi usia kepenulisannya?

Penulis; pandai fiksi/nonfiksi./26 Feb 2012