Buku Sastra dari Sastrawan Sumut, kepada Hidayat Banjar

Budi P Hatees
http://www.analisadaily.com/

Banyak tradisi membuat manusia bersemangat membangun kebudayaannya. Menulis merupakan salah satu tradisi itu. Tentu, menulis di sini berarti kerja keras untuk membangun sebuah teks atau berwacana (discourse).

Soal wacana ini, lebih baik menikmati kajian-kajian Paul Ricoeur, lalu kaitkan dengan teori tentang bahasa. Misalnya, pakai teori yang diperkenalkan Alessandro Duranti, yang mengaitkan kemampuan berbahasa (berwacana) dengan kekuasaan.

Menulis dengan sendirinya berbahasa, berarti juga berwacana, akan membuat siapa saja jadi berkuasa. Makin jelas pula, mereka yang berhasil membangun wacana berarti juga berhasil membangun kebudayaannya. Dengan berwacana, siapa pun bisa menunjukkan citra dirinya. Orang lain akan mencoba memahami, misalnya, lewat ilmu linguistik.

Kini ilmu linguistik dipakai sebagai dasar pengembangan penelitian etnosains dalam antropologi. Etnosains, juga disebut sebagai cognitive anthropology, merupakan etnografi baru yang dikembangkan James P Spradley. Etnografi ini lebih memfokuskan pada upaya menemukan bagaimana masyarakat mengorganisasikan kebudayaan mereka dalam pikiran (mind). Melalui bahasa, pikiran manusia dapat dimasuki.

Jadi, bahasa adalah alat yang dipergunakan manusia untuk bernalar. Dengan nalar, segala misteri yang ada di dunia bisa diterangjelaskan. Pengungkapan misteri dunia sama artinya dengan membangun kebudayaan. Kau tentu paham bahwa bahasa memiliki keterbatasan-keterbatasan. “Batas-batas bahasa saya,” tulis Ludwig Wittgenstein dalam Tractatus Logico Philosophicus, “adalah batas-batas dunia saya.”

Dalam keterbatasannya, segala hal yang mengandalkan bahasa sebagai unsur utamanya, berpretensi mengubah dunia (peradaban). Ini sejalan dengan tesis Alessandro Duranti, yang mengatakan: “Bahasa tidak saja memantulkan dunia, tetapi juga membentuknya dan , menciptakannya.”

Memang, Duranti berbicara tentang bahasa yang digunakan para politisi. Setidaknya, menjadi lebih jelas bagimu, bahasa membuat manusia paham bahwa realitas-realitas yang ada di alam semesta, baik yang riil maupun yang mistis, terjadi bukan tanpa alasan-alasan logis. Tidak satu rahasia pun di alam semesta ini yang tidak dapat dinalar sekalipun Donald B. Calne dalam Within Reason, Rasionalty and Human Behavior (1999) menegaskan betapa sangat terbatasnya kemampuan nalar manusia.

Dalam keterbatasan tersebut, Galileo Galilei dapat mematahkan pandangan picik kaum agama yang membuat hati manusia ciut ketika dia mengungkapkan fakta bahwa Bumi bukanlah pusat alam semesta dan Bumi berputar mengelilingi Matahari, bukan sebaliknya. Keterbatasan nalar juga mampu mengungkap pengalaman mistis yang dialami manusia, sekalipun tidak ada universalitas di dalam pengalaman mistis itu dan sukar mengolahnya karena tidak ada material yang bisa diukur mengingat sifat spritual, tetapi kekuatan bahasa mampu menerangjelaskannya.

II

Aku buat pebukaan seperti ini untuk menanggapi keluhan Hidayat Banjar tentang minimnya (untuk mengatakan tak ada) dunia penerbitan buku sastra di Provinsi Sumatra Utara. Pada bagian akhir dari esai “Amang Parsinuan: Pertarungan David Melawan Goliath” (Analisa edisi 13 November 2011), dia membayangkan suatu saat dunia kreatif penciptaan karya sastra di provinsi ini memiliki institusi penerbitan buku yang bonafit. Sayangnya, dia meragukan hal itu bisa terwujud, seakan-akan membangun institusi penerbitan buku merupakan pekerjaan yang sukar untuk dihadirkan.

Aku justru berpikir sebaliknya -juga dalam banyak hal- apa pun bisa dihadirkan sebagaimana logika bahasa untuk bernalar. Sebelumnya, aku akan mengembalikan ingatannya tentang dunia perbukuan (sastra) di provinsi ini, jauh sebelum novel Amang Parsinuan diterbitkan KSI Medan Pubhlising – penerbit buku yang dimotori Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Medan.

Provinsi ini, bahkan sebelum Sumatra Utara terbentuk, sudah memiliki penerbitan buku. Diawali pada dekade 1920-an, ketika sejarah sastra Indonesia belum diletakkan, buku sastra dari daerah ini sudah banyak diterbitkan, baik yang berbaha Melayu maupun Batak. Dia bisa buka lagi biografi William Iskandar, sastrawan dari bangsa Mandailing itu, sambil mengingat-ingat buku-buku puisinya. Dia bisa cari data tentang Sutan Hasundutan Pane, atau kau bisa membuka lagi riwayat penerbitan buku yang kontroversial, Tuanku Rao.

Tak akan kurinci perkara masa lalu itu sampai muncul istilah novel pop dalam sastra Indonesia di era tahun 1950-an ketika novel-novel Matu Mona menggebrak dari Medan. Aku hanya ingin mengembalikan ingatan (re-remembering), pernah Sumatra Utara fenomenal dalam penerbitan buku sastra. Salah satu jejak yang masih tinggal adalah Penerbit Sastra Leo, warisan sangat berharga dari penyair Aldian Arifin, yang tak dihargai oleh para sastrawan di Sumatra Utara.

Aku teringat percakapan terakhir dengan Aldian Arifin dalam sebuah acara pertemuan sastrawan di Medan ketika dia (meski tidak sedang mengeluh) menyikapi kecenderungan para sastrawan Sumatra Utara yang aneh (kata “aneh” dari aku). “Aneh” karena mereka bangga betul karyanya hanya dimuat di media cetak, tetapi tidak punya buku sastra. Katanya penulis, kok gak punya buku, kira-kira begitu keluhan itu.

Aku teringat juga pada seorang penulis buku, seorang kawan lama, yang kujumpai di arena Jakarta Book Fair beberapa tahun lalu. Setelah bertahun-tahun tak bertemu, begitu melihatku, dia langsung bertanya: “Sudah berapa buku yang kau terbitkan?” Aku tergeragap, karena aku berharap dia mengajukan pertanyaan tentang “sudah berapa media cetak yang telah mempublikasikan karyamu.”

Dulu, pada dekade 1980-an sampai awal 1990-an, setiap sastrawan yang berjumpa sastrawan lain pasti mengajukan pertanyaan: “Bagaimana, apa karyamu sudah menembus Horison?” Pertanyaan tentang Horison ini pernah diajukan Bokor Hutasuhut, sastrawan kenamaan dari Sumatra Utara, yang buku sastranya berkali-kali diterbitkan penerbit asal Medan, kepadaku saat bertamu ke rumahnya beberapa tahun lalu. Aku bisa berkelit mengatakan Horison bukan indikator sastra, tapi buku sastra adalah indikator paling valid.

III

Sampai tataran ini, dia pasti bertanya, apa kaitan bagian I tulisan ini dengan bagian II?

Menulis adalah pekerjaan bernalar. Dengan bernalar, manusia berusaha mengungkap segala misteri dunia. Bernalar mesti diawali dengan pengenalan diri. Bagaimana orang bisa menalar jika diri sendiri pun tak dia kenali.

Pengenalan diri sangat penting. Pekerjaan ini bisa dipahami sebagai proses introspeksi. Instrospeksi adalah kegiatan psikologis yang bertujuan untuk penyadaran diri. Aristoteles (dalam Metaphysica, Buku A-1-980; terjemahan Inggris oleh W.D. Ross, The Works of Aristoteles Oxford, Clarendon Press, 1924, vol VIII.) menyatakan semua pengetahuan manusia berasal dari suatu kecenderungan dasar dalam kondrat manusia yang menampakkan diri dan reaksi manusia paling elementer.

Sebab itu, mengenali diri bertujuan agar bisa merealisasikan diri. Keberhasilan dalam pengenalan diri akan membuat siapa saja menjadi lebih mudah dalam merealisasikan diri. Dalam merealisasikan diri sudah diandaikan, segala persoalan yang pernah dihadapi sudah ditemukan solusi-solusinya, sekaligus menunjukkan persoalan-persoalan lain yang dihadapi sudah dibayangkan akan dihadapi, sehingga sudah dicarikan seperti apa solusinya apabila persoalan itu benar-benar muncul dan mendera.

Artinya, siapa pun sudah tahu, Sumatra Utara pernah sukses memiliki penerbitan buku. Penerbitan-penerbitan itu (bila mengikuti pula sejarah pers di negeri ini), bukan saja menghasilkan karya-karya yang luar biasa, tetapi juga sastrawan-sastrawan yang fenomenal. Kehadiran penerbit dengan kemunculan sastrawan sangat berkaitan, keduanya memiliki hubungan simbiosis. Jika sastrawan melimpah, sangat mungkin penerbit juga melimpah. Jika penerbit melimpah, sangat mungkin pengarang juga melimpah. Jangan bertanya mana yang lebih dahulu, seperti seseorang mempersoalkan apakah ayam lebih dahulu daripada telur ayam.

Jika sastrawan melimpah seperti sekarang terjadi di Sumatra Utara, sementara penerbitan buku sangat minim, siapa pun bisa menduga ada yang keliru. Aku berpikir sastrawan yang keliru, karena kemampuan berwacana mereka hanya diperuntukkan agar dipublikasikan di media cetak, bukan di media buku. Tahukan, banyak sastrawan (juga penulis), tidak cukup energi untuk menulis buku. Kalau pun mereka punya buku, pastilah kumpulan tulisan yang pernah dipublikasikan di media cetak.

Inilah sikap intelektual yang tak menghargai publik pembacanya. Karena tulisan-tulisan yang dipublikasikan di media cetak pada dasarnya semacam iklan dari pengarang tentang kualitas kepengarangannya. Seorang pengarang (sastrawan) mengiklankan kemampuannya dalam menulis dengan mengirimkan karya sastra ke media cetak, lalu menulis karya baru yang lebih bagus (setidaknya sejajar) dengan karyanya itu untuk diterbitkan sebagai buku sastra. Sayang, sastrawan kita hanya sastrawan koran (media cetak). Sastrawan macam begini lebih mengutamakan image diri, citra diri, material diri.

Mereka, kalau pun menulis buku, pada dasarnya akan memperlakukan sastra sebagai komoditas, sebagaimana barang-barang hasil produksi. Nilai-guna karya seni bagi mereka merosot menjadi sekedar nilai-tukar ekonomi. Parameter keberhasilan sebuah karya sastra hanya ditakar dengan jumlah eksemplar buku yang terjual di pasaran. Padahal, seseorang membeli sebuah novel belum tentu akan memahami dan menyelami kedalamannya.

Fenomena pergeseran paradigma seni semacam inilah yang ditandai Walter Benjamin (1892-1940) sebagai akibat dari reproduksi mekanistik hingga seni kehilangan aura, subtilitas dan otentisitasnya. Jangan heran jika dunia penerbitan buku sastra di negeri ini banyak melahirkan novel dengan embel-embel “pembangunan jiwa”, “kisah inspiratif”, “sejarah”, “fantasi” dan lain sebagainya yang mengabaikan estetika. Konon lagi di Sumatra Utara.

Penulis; Sastrawan, direktur program Sahata Institute, lembaga pengelola Sahata Book Publishing. /11 Des 2011