Eddy Lyrisacra: Puisi Tak Sekadar Hobi

Tri Wahyu Utami
http://www.solopos.com/

Sastrawan tak kenal menyerah, begitulah Eddy Lyrisacra dikenal pada era 1970-an. Sikap ngotot terhadap zaman tak jarang menyebabkan pentasnya dibubarkan aparat. Meski demikian hingga kini ia tetap konsisten merenda kata dalam bentuk barisan puisi, sajak dan cerita pendek.

Eddy sedang sibuk memperbaiki instalasi listrik ketika Harian Jogja bertandang ke rumahnya di Mulo, Wonosari, Gunungkidul pekan lalu. Ada ekspresi kaget, sebab tak ada janji bertemu sebelumnya. Maklum pria yang kami temui tidak memiliki ponsel sehingga sulit dihubungi.

Tapi bukan berarti lelaki bertubuh besar tinggi dengan kulit sawo matang ini gagap teknologi (gaptek). Di ruang tamunya terdapat seperangkat komputer, tempat artikel hingga puisi hasil tarian jarinya lahir.

Komputer yang tersambung internet itu juga dimanfaatkan membayar pajak listrik masyarakat sekitar secara online. “Saya memang tidak punya hp (ponsel), biar tenang, bahkan saya tidak nonton televisi karena terkadang manusia juga butuh ketenangan,” tuturnya lembut membuka perbincangan.

Eddy di kampungnya biasa terjun bersama warga bergotong royong dan membantu hajatan tetangga. Sosoknya sangat ramah. Tapi siapa yang menyangka di pedalaman jiwanya bergemuruh, masih seperti era 1970-an.

Lelaki berkacamata yang kini berusia 52 tahun ini setiap hari merasakan gemuruh. Semua kegundahan itu disalurkan dengan menulis puisi. Panggilan menulis puisi sudah dirasakan sejak duduk di bangku SMA era 1970-an.

Berawal dari Resah
Ditanya soal pilihan puisi sebagai media ekspresi, Eddy mengambil tamsil, dalam lomba desa, masyarakat berbondong-bondong mengisi lumbung walau biasanya lumbung itu kosong. Terparah, masyarakat miskin memuja dewan juri dengan masakan paling lezat meski keluarganya tengah sekarat kurang gizi.

Kondisi penuh rekayasa itu mengusiknya dan puisi dinilai jalan ngudo roso. Kondisi itu melahirkan puisi Kromo Pawiro Balelo dan Lomba Desa. Lacur, saat membacakannya dalam sebuah penutupan pameran, pentas itu dibubarkan aparat.

“Puisi kebanyakan soal cerita yang saya kuasai, kehidupan sosial yang mendorong saya untuk berkarya, tapi itu dianggap oposisi pemerintah,” jelas pria yang pernah diciduk aparat bersamaan dengan pembersihan preman.

Eddy tak pernah jera meski puisinya ditentang. Baginya, menulis puisi adalah perjuangan mengungkapkan aspirasi, tak sekadar melayani hobi. “Seorang idealis harus bisa berjalan sendiri,” tutur lelaki berkacamata ini, lantang.
Soal keberanian berjalan sendiri, Eddy punya kutipan dari seorang kawan. “Nggak usah ke mana-mana. Orang itu ndak perlu ke mana-mana yang penting bisa bermanfaat nyata,” katanya meniru ucapan kawannya.

Pesan itu pula yang menuntunnya singgah di SMA Pembangunan Wonosari. Ia diterima sebagai guru kesenian sejak 25 tahun silam. Selama itulah, ia berbagi ilmu yang dimiliki ke ratusan anak didiknya.

Menepi untuk Berbagi
Tinggal di Wonosari bagi Eddy juga bagian dari menepi. Waktu senggang yang dimilikinya diisi dengan mendalang wayang kulit, melukis, menulis naskah drama, menulis naskah ketoprak.

“Terus terang saya minggir, kalau teman lain melarikan diri jadi pengusaha saya mendalami ilmu tradisional, saya tidak bisa menyerah,” ucapnya lugu.

Soal kehidupan kebangsaan kekinian, ia menilai, orang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Hukum di negara ini juga masih timpang, hukum tajam berlaku bagi kaum miskin, tapi tumpul bagi orang kaya.

Semua keresahan itu menurut Eddy tak harus dituangkan dalam puisi. “Tidak mutlak itu [puisi] satu-satunya. Biar masyarakat yang menilai, karena ada sesuatu yang lain untuk mengabdi. Salah satunya ya silaturahmi, membuat naskah drama. Saya ikut festival drama di Gunungkidul dengan judul Nyai Selang.”

“Saya juga menulis naskah ketoprak Nyai Ageng Selang dan Senopati, Sunan Pandanaran. Saya senang membaca,” ungkap lulusan Fakultas Seni Sastra IKIP Yogyakarta 1985 ini. Selain kondisi sekitar, semua karya itu terinspirasi sastrawan Jawa kawakan. “Saya pengagum Ronggowarsito dan Ki Ageng Pengging.”

Ditanya salah karya yang paling berkesan, Eddy menyebut cerita pendek berjudul Tarmin. Cerita itu berkisah soal tokoh Tarmin, sebagai potret kehidupan sesungguhnya. Seorang gelandangan yang menyampaikan aspirasinya dengan menyamar sebagai orang gila.

Kata masyarakat luas, lanjut Eddy, orang gila kebal hukum. Tarmin mendatangi kantor pemerintahan. Penyamarannya itu membuahkan hasil, selain tidak diusir, lelaki itu diberi uang para pejabat. Uang itu akhirnya dibuat foya-foya bersama gelandangan lain. Kisah menarik soal pemerintah dan rakyatnya.

Cerpen hanya selingan bagi suami Tini ini, karena ia lebih fokus menulis puisi. Bahkan, ia mengaku sedang menyiapkan puisi yang masih dirahasiakan.

Bagi kakak kandung penyair Endang Susanti Rustamaji ini, hidup adalah kesaksian, sehingga pengembaraannya belum berakhir. Ia masih menyimpan sejuta ide dan rencana. Hanya waktu yang bisa menjawab, kapan gunung api dalam diri seorang Eddy akan meletus atau bahkan padam.

BIODATA
Nama : Eddy Lyrisacra
Lahir : Jogja, 28 Oktober 1960
Istri : Tini
Anak : Arini Nirmala Dewi
Alamat : Dusun Mulo, Desa Mulo, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul

Pendidikan:
• SD-SMA di Wonosari
• Fakultas Seni Sastra IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) lulus tahun 1985

Pengalaman:
• Pengarang puisi, cerpen, sajak, esai.

Sajaknya terkumpul dalam berbagai antologi; Maskumambang dari Ladang Perburuan (1980), Silhuet (1981), Penyair Yogya Sebuah Episode (1982), Empat Penyair bersama Fauzi Absal, Majudin Suaeb dan Budi Nugroho (1983), Gunungan (1984), Fasisme (1988), dan Zamrud (1987)

• Redaktur Budaya di Harian Masa Kini 1981-1986
• Ketua Komunitas Seni Palagan 1986-sekarang
• Guru Kesenian di SMA Pembangunan Wonosari 1987-sekarang.

/25/3/2012 / http://www.solopos.com/2012/harian-jogja/gunung-kidul/eddy-lyrisacra-puisi-tak-sekadar-hobi-173211