Fiksi “Sampah” Versus Sastra Koran

Astree Hawa
http://www.kompasiana.com/hawa

Ada paradok, bahwa menulis puisi itu mudah. Anggapan itu menghinggapi tidak saja pelajar mulai tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Bahkan sebagian masyarakat pun memiliki anggapan sama. Apalagi orang-orang yang pernah mengungkapkan buah pikirannya ke dalam media tulisan.

Anggapan itu mendorong siapa pun untuk menulis bentuk sastra yang bentuknya sederhana dan memiliki efektifitas kata. Sehingga tidak sedikit, orang menulis puisi. Namun tidak sedikit pula yang hanya memahami dan memaknai puisi sebagai ujud kesusastraan tertinggi dalam pencapaian makna kata.

***

Ketika sebuah puisi dipublikasikan dan pembaca menerima kenyataan bahwa puisi begitu sederhana. Orang pun lantas beramai-ramai menulis puisi. Seolah-olah mendapatkan gagasan baru. Mungkin saja, puisi yang dibuatnya hasil adopsi dari karya yang dibacanya atau terilhami kata-kata memesona.

Rangsangan untuk membuat puisi secara tiba-tiba saya menyebutnya apresiasi. Apresiasi, memang tidak bisa dipukul rata. Sebab mengalami proses waktu dan fase yang cukup panjang. Dengan demikian apresiasi ada tingkatannya, mulai dari tingkat nol, satu, dua, tiga, dan selanjutnya.

Sebagai ilustrasi, seorang anak kecil ketika menonton film silat. Maka setelah usai menonton dia akan memeragakan gerakan-gerakan yang ada di film. Model seperti ini bisa disebut tingkat apresiasi nol. Sebab ekspresi yang disampaikan hasil habituil dari ekspresi pihak lain dalam bentuk media apa pun.

***

Saya kutipkan puisi berjudul “O … Gaunku” karya Devina Juventia Kelas VI SDK Samaria Jakarta yang dimuat di SKU Kompas (3/10). Aku pakai setiap bepergian/Tampak cantik aku karenanya/Orang-orang memujiku/Beritanya di mana membelinya/ibuku bilang di dekat rumah/satu minggu kemudian ….

Puisi ini menggunakan diksi naratif. Kekuatan makna kata, belum ditunjukan. Hal itu sangat wajar, karena ia masih duduk di tingkat sekolah dasar. Kendati demikian, karya seusianya menunjukan pilihan kata atau diksi naratifnya secara teliti. Selain itu menunjukan pula keorisinalitasan kata.

Maksudnya, kata yang digunakan bukan hasil adopsi dari kata-kata puisi karya orang lain. Berbeda, misalnya dengan karya salah seorang “kompasianer” Mira Kusuma yang berjudul Belenggu Dusta yang dipublish di Kompasiana.

Angin berbisik/Waktu terdiam bisu/Terbersit makna …..

Sepintas, puisinya Mira, menunjukan pemilihan kata atau diksi sangat kuat. Angin berbisik, namun kata itu siapa pun sebelumnya sudah dikenal dengan diksi pasir berbisik judul sebuah film Garin Nugoroho. Pilihan diksi ini merusak puisi naratif yang ingin disampaikan. Sehingga kesan adopsi gagasan sangat terasa.

Hal ini dalam puisi meski tidak tertulis secara “saklek” bahwa setiap penyair akan menghindari penulisan kata yang sama atau habituil dari karya penyair lainnya. Para penyair selalu mengskplorasi kata, tema, maupun pola penulisannya. Sehingga melahirkan gagasan-gagasan baru dan bernas.

***

Di “Kompasiana” jumlah puisi cukup banyak jumlahnya. Pola yang digunakan dalam penulisannya secara umum berupa diksi naratif. Bahkan bentuknya pun sudah menjadi kelajiman dalam perpuisian. Mungkin saya terlalu berharap banyak lahir gagasan baru, tapi apa daya.

Gaya diksi naratif begitu mendominan, sehingga pilihan pun teramat sulit. Hal ini bisa dimaklumi. Tapi jika rata-rata penulisnya, usianya di atas 20-an, barang tentu menjadi bahan renungan juga. Sebagai contoh, puisi karya G berjudul, Pasung!!. rusakkan wajahmu, anak gadis, kau terlalu cantik/kerling matamu terlalu menggoda/bibirmu terlampau merah delima/potong payudaramu!!/itu pembangkit birahi Bapakmu! ……

Begitu pun dengan puisi karya Cinta, berjudul, Maaf… Aku Selingkuh… ku pikir aku begitu tegar/ku pikir aku cukup kuat/menjejak hari hanya dengan bayangmu…/meniti sepi hanya dengan imaji tentangmu/ku pikir aku akan cukup puas, bercinta dengan ilusi tentangmu/menikmati setiap inci aroma tubuhmu hanya dalam dunia imajiner/menikmati rasa karena sentuhmu dalam bayangku/kupikir jiwaku tak akan pernah menuntut ragamu nyata kupeluk/mencapai puncak rasa hanya dengan mimpi tentangmu…/maaf…

Contoh lainnya, karya Aziz Abdul Ngasim …Kasur/empuk,/nyaman penuh kehangatan/kadang panas/aku suka,/enak terasa …. Begitu pun dengan puisi Om Ragil, dari sebuah fiksinya yang berjudul Puisi Celingak Celinguk. Nengok kan’an serem/Nengok ki’rik item/Klieng klieng pala teller/Nabok nyamuks muncrat encér/Dih sepi maning sepi maning…/”HOY temen temen pada kemana sÈh?/Anjing luh!!!”

Begitu pun dengan puisinya Kine Risty berjudul Dermaga Cinta Duduk berdua ditepi dermaga/
Memandang ombak dan perahu yang lalu lalang/Ku terdiam tanpa suara dan ingin rasakan sensasi rasa/….. Puisi dengan dengan menyandarkan pada diksi naratif, hampir sama dengan puisinya Devina Juvantia.

***

Adopsi gagasan pun tidak saja terjadi di “Kompasiana” dalam menulis sebsuah puisi, misalnya. Bahkan tidak jarang melakukan pencakokan kata. Seperti puisi yang ditulis O-Pink, Hujan yang Memanggil Namamu/Petir, kau berteriak padaku tidak begitu menggelegar../Bumi, kau mengirim hujan di waktu yang tak sebentar../Awalnya hanya..TIk..TIk..TIk..kemudian Derassss…/

Dalam puisi itu terjadi pemilihan diksi yang serampangan. Sesperti dalam baris pertama menyebutkan, hujan yang memanggil namamu. Jika simbul yang digunakan bahwa hujan memanggil, hal itu di luar kelajiman dan tidak masuk nalar manusia. Sebab hujan tidak bisa menyeru atau berkata-kata.

Kendati puisi kerap menggunakan kata-kata hiperbola, eufisme, satire namun tidak melepaskan logika bahasanya. Penulisan simbul dalam kata, kendati sah-sah saja tapi harus dapat mewakili ruang imaginasi. Begitu pun dimensi ruang tidak bisa diabaikan begitu saja. Kurun waktu yang terlampau dalam sebuah puisi memberikan makna kata berlebih.

Mungkin yang tidak harus dilupkan ialah, bagaimana ruang-ruang puisi dalam kalimat berikutnya mampu menciptakan ruangan baru. Sehingga membangun image sebuah puisi lebih konsisten dan mencari muara yang paling hakiki dalam pengembaraan sebuah gagasan yang ingin disampaikan pada pembaca.

Sebagai contoh, saya kutipkan puisi Gus TF berjudul Susi: Sengal Perahu yang dipublish di SKU Kompas (3/10). genting tampukmu, gelantung rawan kami meragu./Gugurmu, Susi, “Pucat gemerincing dalam seratku.”/anyir usiamu, geronggang musim yang tak kautahu./Benihmu, Susi, “Liar mendengking dalam sarafku.”/puting jantanmu, timpangan laku kami menggancu./Sengalmu, Susi, “Kerongkong gatal tersedak debu.”/ranum dagingmu, muara dan hulu di bandul waktu./Kekalmu, Susi, “Dayunglah dayung perahumu laju.”

Puisi Gus TF, sangat sederhana. Diksi yang digunakan pun begitu sederhana. Namun pilihannya sangat tepat dalam membangun image. Diksi yang digunakan pun memberondong ruang-ruang tak terjamah, sehingga melahirkan image baru. Selain itu, membuka ruang dari setiap katanya untuk melahirkan tafsir-tafsir baru atas kata.***

15 October 2010