Jaro X Yus, Seniman Teater Ciamis yang Bertahan

Kikin Kuswandi
http://www.kabar-priangan.com/

Dalam geliat berkesenian di Ciamis, Teater masih
mendapat hati di masyarakatnya. Karena kesenian ini merangkul semua bidang seni, mulai dari musik, drama, sastra, fashion, dan lainnya.

Banyak karya telah dipentaskan di berbagai tempat, kampus, dan sekolah, yang mengundang kekaguman para apresiatornya. Namun demikian sedikit kiranya seniman teater Ciamis yang masih bertahan dalam berkarya. Sebut saja nama-nama ini: Godi Suwarna, Nur J.M, Didon Nurdani, dan Jaro X. Yus.

Nama yang saya sebut terakhir, memang belum sepopuler Godi Suwarna, W.S Rendra (alm), Arifin C Noor, Saini K.M, atau Chairul Umam. Namun bagi saya yang menjadi tolak ukur menilai kreatifitas seseorang adalah dari produktifitas dan totalitas orang itu juga ketulusannya dalam berkesenian. Terlebih karya-karyanya yang segar terlepas dari siapapun dia. Jaro X Yus yang saya kenal memiliki itu semua.

Berbagai karya yang ia ciptakan dan karya sastrawan lain ia angkat menjadi sebuah pementasan. Misalnya “Insan-insan Malang” karya B. Sularto dan sebuah karya berjudul “Arina episode 15” karyanya sendiri. Bukan hal yang mudah bagi Jaro untuk menggarap pementasan itu. Dia harus mengerahkan daya cipta, imaji, dan ketajaman nurani. Seperti mengarahkan aktor dan aktrisnya memainkan peran. Mengontrol vokalisasi juga gerak mimik mereka. Tidak jarang pula teguran sempat keluar dari bibirnya.

Dalam hal konsep penataan panggung dia berprinsip “Badingkut” (barang nu aya diangkut). Bagi Jaro apa yang ada bisa jadi bahan proferti untuk pementasan sekalipun hanya kain hitam, kursi reyot, atau daun-daun pohon bungur yang tumbuh di kampus. Tentu saja dia tidak bekerja sendirian, tapi dibantu oleh mahasiswanya yang juga sebagai aktor dan aktris atau tim produksi. Sengaja itu dilakukan agar mereka juga memahami bagaimana merencanakan sebuah pementasan teater.

Dalam hal memilih pemeran, Jaro cenderung melatih teman-teman binaannya siswa maupun mahasiswa. Dia jarang mengambil pemeran dari luar kecuali memang keahlian peran tertentu yang tidak ia dapatkan dari teman-temannya itu. Mereka dilatih dengan disiplin tinggi, mulai dari berlatih mengolah vokal, berlatih peran, dan lainnya. Untuk melengkapi performa dan sumber daya manusia dia juga dibantu temannya di Teater Pijar dengan menggiatkan diskusi sastra dalam wadah “Pangaosan Sastra” yang belakangan namanya menjadi “Jumaahan Sastra” karena kegiatan itu diselenggarakan setiap ba’da salat jumat di kampus Unigal.

Aktifitas pria kelahiran Ciamis 18 Maret 1972 yang pernah menjuarai lomba baca puisi se-Jawa-Bali ini lebih banyak dihabiskan untuk membimbing siswa dan mahasiswa dalam seni teater, disamping itu juga dia sebagai dosen sanggar sastra Prodi Diksatrasia Unigal. Melalui aktifitasnya ini dia bisa mencetak calon aktor dan aktris masa depan yang memiliki kreatifitas dan produktifitas melebihi dirinya. Semua itu Jaro lakukan dengan tulus ikhlas.

Suatu ketika saya pernah bertanya “Mengapa tidak seperti seniman lain berkarya di panggung nasional?” dia menjawab begini: “Bukannya kesempatan itu tidak ada tapi jika semua seniman berkiprah di sana siapa yang akan melahirkan seniman teater yang lebih hebat lagi dari mereka.” Saya terdiam saat itu. Pikiran saya menerawang bagaimana seorang Jaro X Yus seminggu sekali pulang-pergi ke Banjar dan Padaherang hanya untuk melatih siswa-siswa SD, SMP, dan SMA berteater. Belum lagi ia harus membina pelajar SMA-SMA di Ciamis. Semua itu ia jalani tanpa mengeluh. Karib sejatinya adalah rambutnya yang panjang diikat mirip pendekar samurai legendaries “Miyamoto Musasi.” Ketika waktunya yang rileks ikat rambutnya ia buka sehingga terurailah rambutnya bak bintang iklan sampo.

Kreatifitas dia tidak sampai di situ, seminggu sekali ia bersama mahasiswanya di Unigal berlatih teater dalam bendera “Teater Pijar” Prodi Diksatrasi. Berteriak, tertawa, bersedih, mendengus, menangis, memaki, mengigau, berbicara sendiri seperti orang gila, begitulah. Setiap ada kegiatan Program Studi teaternya selalu diundang untuk membuka acara entah itu dengan musikalisasi puisi, pementasan monolog, atau teatrikal ala mahasiswa di depan gedung dewan. Saat ini ada sebuah garapan pementasan yang sedang dipersiapkannya untuk bulan April dalam rangkaian kegiatan Teater Pijar bersamaan dengan sebuah agenda bedah buku seorang penyair.

Sisi lain dari kehidupan Jaro yang bisa saya ambil manfaatnya adalah ketulusan dan totalitas dia dalam berkarya.”Seni itu memanusiakan manusia, karenanya ia sangat penting dalam kehidupan kita,” katanya.***

Kikin Kuswandi, Penikmat seni tinggal di Kota Banjar /29 Feb 2012