Kekonvensionalan Membaca Puisi Pada Pelajar; Sebuah Kondisi yang Mewaris

Rahmat Sularso Nh*
Radar Mojokerto, 12 Feb 2012

Pembelajaran Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah khususnya pada jenjang pendidikan menengah atas sudah lebih menyentuh kepada kekontekstualan perkembangan Pendidikan Bahasa dan Sastra itu sendiri. Artinya materi-materi ajar yang di suguhkan sudah tidak lagi terbatasi oleh referensi atau kumpulan data milik guru secara pribadi. Memulai membuka lembar-lembar perkembangan kesusastraan Indonesia akan menimbulkan keterbukaan informasi yang sangat luar biasa. Pada bagian ini peranan penting itu terdapat pada guru. Peranan guru sebagai pemimpin saat proses pembelajaran berlangsung menyebabkan alur literasi yang apik haruslah terbangun. Upaya tersebut bisa dilakukan kapan saja dalam waktu persiapan misalnya berbentuk materi ajar atau menjembataninya melalui media pembelajaran. Tujuannya jelas, bukan sekadar memberikan rasa baru pada pembelajaran Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sehingga pelajar pun akan mengenal, mengerti, serta memahami bagaimana sebenarnya bentuk-bentuk kesusastraan Indonesia kini. Sudah keluar dari belenggu sosok pendahulunya semacam Amir Hamzah, Sutardji Colzum Bachri, Taufik Ismail, Chairil Anwar dan lain sebagainya. Penyair-penyair besar itu tetaplah patut menjadi teladan namun tidak untuk mendominasi. Banyak sekali penulis dan penyair daerah mulai merangkak menunjukkan kekaryaan mereka dalam banyak bentuk karya sastra. Kembali pada persoalan lokalitas produk masyarakat daerah itu sendiri. Misalnya di Kabupaten Jombang, tidak kurang banyak penulis yang sudah mulai merambah ke pelbagai media lokal maupun nasional. Sebut saja Fahrudin Nasrulloh, Sabrank Suparno, Siti Sa’adah, Fathoni Mahsun atau siapa saja yang bergerak pada kantong-kantong kesusastraan dalam kelembagaan pendidikan baik masih tataran sekolahan, perguruan tinggi, dan komunitas yang di gerakkan secara kelompok mereka sendiri. Kekaryaan mereka bisa menjadi sumber belajar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia selain mempunyai referensi baru akhirnya mereka mengenal jika di Kabupaten Jombang ada geliat kesusastraannya.

Sampai saat ini puisi dipandang bentuk karya sastra yang paling mudah dituliskan dan dibaca. Belum menuju pada apresiasi menentukan kadar struktural bangunan puisi mulai secara fisik sekaligus batinnya. Tetapi upaya menyambung keterampilan menulis itu di lanjutkan pada tahapan selanjutnya membaca. Jika pelajar membacakan puisi tulisannya sendiri maka nilai rasa memiliki kelebihan ketimbang harus membacakan puisi orang lain. Bisa jadi dalam interpretasi sebuah puisi terjadi kesalahpahaman sehingga berimbas pada visualisasinya ketika membacakannya. Proses memaknai puisi menemukan titika kepenulisan adalah salah satu aspek penting yang bisa mendorong proses membaca puisi yang menarik dan tidak lagi konvensional. Bahkan dalam sebuah dialog Cucuk Espe dan Anjrah Lelono Broto sering kali menyebutkan idiom “Alay” saat melihat ekspresi berlebihan pembacaan puisi pelajar. Segala kemungkinan-kemungkinan tersebut sangatlah mungkin terjadi apabila keterbatasan referensi beserta langka-langkah yang perlu di persiapkan agar matang menampilkannya.

Pematangan persiapan tersebut terkadang disalah-artikan sebagai latihan saja. Mempelajari puisinya pun termasuk tahapan persiapan yang semestinya dilakukan oleh pembaca puisi. Analisis struktural dan batin akhirnya terlibat agar pembaca mempunyai alasan kuat dalam menampilkan pembacaan puisinya. Keterlibatan peran serta guru sebagai pendamping terkadang malah menjadi boomerang bagi peserta didik. Boomerang itu bersifat “dekte-dekte” yang diperlihatkan oleh peserta didik jika sebenarnya itu merupakan sosok gurunya. Kondisi itu disebut Lurah Lembah Pring Jombang, Jabbar Abdullah, dalam obrolan di warung kopi merupakan penjelmaan gurunya. Latar belakang Jabbar Abdullah mengatakan seperti itu setelah menjuri lomba pembacaan puisi dalam rangka Bulan Bahasa tahun 2011 Madrasah Aliyah Negeri Se Kabupaten Jombang puluhan pembaca puisi dari peserta didik secara keseluruhan cara membacakannya hampir sama. Terdapat kesalahan menafsirkan puisi sehingga antara gerakan, vokal, intonasi, dan unsur pembangun ketika membaca puisi tidak koherensi. Bahkan diakuinya secara pribadi dari sekian banyak pembaca yang terlibat tidak banyak yang mampu menyita perhatiannya. Artinya kesenjangan informasi dan pengalaman menyaksikan pembacaan puisi dengan pelbagai jenis puisi dan bentuk pembacaannya pun sangat terbatas. Padahal beragam akses sekarang sudah tersedia dalam menemukan literatur baru model dan ragam pembacaan puisi dengan memanfaatkan jaringan internet dan media pendukung lainnya.

Dominasi guru yang mendampingi pun tidak luput dari kondisi seperti ini. Dari tahun ke tahun masih menggunakan model-model konvensional tanpa di berikan sentuhan perubahan dalam bermacam aspek pembacaan puisi yang baru membuat kondisi ini bak rumput yang tidak dicabut akan terus tumbuh meski sudah ditebas parang. Keberanian mendekonstruksi ulang adalah solusi yang saat ini saya pandang masih sangat efektif. Geliat kesusastraan di Kabupaten Jombang secara individu, komunitas, atau keterbukaan Pemerintah Kabupaten Jombang sudah sangat mendukung untuk memberikan pengenalan terbaru kepada peserta didiknya. Merefleksikan pemaham dan membaca puisi di Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bermuara kendali pada guru terlepas keberadaan peserta didik di luar lingkungan sekolah. Bentuknya yang paling mudah dimulai mengenalkan penulis atau penyair-penyair baru atau bisa jadi berasal dari daerahnya. Mengakal dolen (Jawa: Bermain) ke pelbagai acara kesusastraan apalagi jika di sana terdapat mimbar apresiasi membaca sastra. Pilihan pendekatan yang digunakan akan mempunyai pengaruh besar terhadap peserta didik. Maka dengan begitu yakinilah jika ingin tidak menjadi sebuah kondisi yang mewaris harus berani bergerak dan mencoba hal-hal baru meski terasa aneh dan asing bagi kita serta lingkungan sosial sekitar.

*) Rahmat Sularso Nh, Penggiat Sanggar Belajar Bareng Gubug Liat Jombang dan Penyiar Radio Suara Pendidikan Jombang.