Ketika Kembang Mencintai Ngarai

Tarpin A. Nasri
http://lampungpost.com/

TERNYATA tidak mudah untuk memetik cinta Gunung Geulis. Jatuh bangun aku memburunya, bahkan hatiku sampai berdarah-darah dibuatnya, tapi cinta yang ingin kudapat dari Gunung belum juga bisa kupetik. Sikap Gunung merampok seluruh kepenasaranku, karena cintaku diterima juga tidak, ditolak pun tak jelas. Ngambang. Tak pasti. Anehnya, kalau Gunung kuajak nonton pertunjukkan teater di TIM atau di Salihara, menikmati konser jazz di Balai Sarbini atau di Jakarta Convention Centre, nonton ketoprak humor di Gedung Kesenian Jakarta, dan berburu buku baru di Gunung Agung, sampai belanja pakaian di Sogo, Gunung tak pernah menolak, bahkan ketika kuajak berkenalan dengan keluargaku di Yogyakarta, Gunung juga menyambutnya dengan senang hati. Hanya ketika kutembak guna minta kepastian cinta Gunung untuk siapa, Gunung tak juga mau menjawab. Mulut Gunung rapat terkunci, di layar mata dan di lintasan wajahnya tak juga kutemukan cinta mengombak dan menampakkan jati dirinya.

Mendapati kenyataan yang seperti itu, jujur saja, aku jadi ragu antara terus maju atau step by step mundur. Akhirnya setelah kupertimbangkan lebih dari dua bulan, aku memutuskan untuk menjaga jarak saja dengan Gunung. Antara mengejar atau menyerang dengan menunggu atau mempelajari perkembangan yang terjadi, porsinya imbang. Terus terang saja hal itu kulakukan karena aku masih menaruh harapan dengan cinta Gunung.

“Gimana progress percintaanmu dengan Gunung, Ngarai Elok?” tanya sahabatku Laut Biru saat kami makan siang di jam istirahat kerja.

Aku menunda menyuapkan nasi ke mulutku. Aku angkat bahu dengan wajah berkabut.

“Maksudmu gimana, Ngarai?” tanya Laut Biru. “Kok angkat bahu?”

“Tak ada kemajuan yang signifikan, Laut Biru,” jawabku. “Cintaku diterima juga tidak dan ditolak pun tidak oleh Gunung,” lanjutku. “Hanya bila kuajak ke mana pun, Gunung tak pernah menolak, dan Gunung juga selalu punya waktu untukku.”

“Terus gimana dong langkah selanjutnya?” kejar Laut Biru.

“Wait and see sajalah dulu,” jawabku. “Mungkin dengan demikian akan ada yang berubah ke arah yang lebih jelas dan lebih pasti. Kebetulan juga kini banyak yang harus aku kerjakan, sehingga ingatanku dari sejak bangun tidur sampai tidur lagi tak terus-terusan kepada Gunung seorang.”

“Okey jika itu yang terbaik buatmu, Ngarai,” jawab Laut Biru. “Aku selalu siap membantu jika kau butuhkan, Sob. Okey?”

Aku mengangguk. “Thanks, Bro,” jawabku, lalu kami melanjutkan makan sampai selesai.

***

AKHIRNYA aku benar-benar menanti dan melihat apa yang terjadi dengan Gunung. Ketika Gunung jalan dengan Bukit Topan, meski aku kecewa dan sedih, aku harus legowo. Gunung berhak memilih pria terbaik untuk hidupnya. Apalagi kutahu, bagi Gunung menikah itu hanya terjadi sekali untuk seumur hidup. Bahkan ketika Awan Langit melakukan pedekate dan kemudian menembak Gunung, aku juga menyikapinya dengan menghibur diri, “Kalau Gunung jodohnya Ngarai, Gunung tak akan jatuh ke dalam pelukan siapa pun.”

Ketika seminggu kemudian kami janjian untuk makan siang, santai saja aku menunjukkan sikapku. “Akhir-akhir ini, maaf, aku melihat kau banyak didekati, bahkan ditembak oleh mereka, yang ingin menjadikanmu pacar, bahkan mungkin istri,” kataku. “Kuharap Gunung bisa memilih salah satu yang terbaik untuk hidupmu….”

Gunung mengangguk. “Sejauh ini belum ada satu pun yang aku pilih, aku masih mengejar karierku, dan aku juga masih belum ingin berumah tangga. Semua laki-laki yang pedekate kepadaku masih kuanggap sebagai teman biasa. Jadi, belum ada salah satu yang kuistimewakan.”

“Tak ditakut disebut wanita yang suka gonta-ganti pria?” pancingku.

“Kukira aku enggak gonta-ganti laki-laki. Dengan siapa pun aku berteman.”

“Tak takut dengan usia yang terus berjalan?” tantangku.

“Aku wanita normal, dan aku juga ingin menikah, punya anak, lalu jadi ibu rumah tangga,” jawab Gunung. “Tapi sampai detik ini belum ada laki-laki yang mencuri hatiku dan belum ada pria yang berhasil menggetarkan cintaku. Terus kalau faktanya begini mau diapakan, Ngarai? Apa aku salah bersikap jujur seperti ini?”

Aku menggeleng. “Jika itu yang terbaik untukmu saat ini, lakukanlah dengan enjoy,” kataku. “Siapa Arjuna yang terbaik untukmu, hanya kamu yang tahu. Dan kapan kau harus mengakhiri masa lajangmu, kamu juga yang mutusin, bukan orang lain dan bukan pula orang tuamu kukira.”

“Kamu sendiri gimana, Ngarai?” tanya Gunung balik bertanya. Aku gugup, karena aku tak menduga akan dapat serangan pertanyaan seperti itu. “Sudah ada Juliet yang kau pilih?”

Sejenak aku diam dan dalam hati kemudian aku bicara, “Kamulah Juliet yang kupilih, Gunung. Apakah kau tidak tahu? Apa kamu pura-pura tidak mengerti?”

“Lho ditanya kok diam?” desak Gunung. “Kenapa? Salahkah pertanyaanku?”

Aku menggeleng, lalu tersenyum untuk menyamarkan kecewa. “Tak ada yang salah dengan pertanyaanmu, Gunung.”

“Jadi jawab dong kalau begitu?”

“Aku sudah berusaha semaksimal mungkin mencari jodoh yang terbaik untukku, tapi sampai detik ini aku belum menemukan jodohku. Kalau dengan wanita yang kukehendaki, Tuhan sudah mempertemukannya….”

“Siapa wanita itu, Ngarai?” potong Gunung. “Akukah wanita itu?”

Aku tersenyum. Lalu aku ngeles. Takut cintaku pada Gunung bertepuk sebelah tangan. “Mari kita lanjutkan makannya, Gunung?”

***

KARENA kulihat cinta Gunung belum jelas entah untuk siapa, aku jadi punya ide menggandeng Kembang Wangi yang kuskenariokan seolah-olah jadi pacarku untuk memancing reaksi Gunung: Apa Gunung memberi perhatian atas kebersamaanku dengan Kembang Wangi?

Sial! Sampai sejauh ini Gunung enjoy saja, bahkan Gunung sempat mengucapkan selamat via es-em-es tanpa meraba desir sedih dan robekkan kecewa di hatiku: “Selamat dan sukses atas keputusan Ngarai yang telah memilih Kembang Wangi sebagai kekasih”. Dan di lain waktu ketika kami tepergok makan siang di sebuah kafe di selatan Jakarta, tak lama kemudian Gunung kirim e-mail yang membuatku nyaris putus asa: “Aduh…semakin asyik dan lengket saja nih sejoli cinta Ngarai Elok Sakti-Kembang Wangi. Kapan nih tunangannya? Jangan lupa Gunung diundang ya?”

Atas dasar itu, aku kemudian memutuskan untuk tidak menunggu-nunggu Gunung, apalagi Gunung kini kulihat sering dikawal makan siang dan diantar pulang kantor oleh Bintang Kejora. Mendapati kenyataan pahit di luar skenarioku, aku frustrasi bukan main, sehingga semangat kerjaku drop, pikiranku kacau, dan kerjaku banyak yang berantakkan. Akhirnya dari pada merusak semuanya, aku putuskan untuk ambil cuti dulu. Otak, pikiran, dan perasaanku heng….

Di saat aku menghilang itulah, Gunung deras kirim es-em-es ke handphone-ku dan e-mail Gunung juga menyerbu laptop-ku. Gunung bertanya: kenapa aku menghilang, di mana aku berada, dan sampai kapan sembunyi. Di lain pihak Kembang Wangi juga menguberku dan minta aku bertanggung jawab. Ternyata Kembang Wangi mencintaiku. Witing tresno jalaran soko kulino. Kebersamaannya bersamaku telah menumbuhkan cinta suci. Sementara cinta matiku justru kepada Gunung!

Ketika keduanya kemudian meminta aku memilih dan menentukan sikap. Aku dihadapkan pada posisi sulit. Kalau aku memilih Kembang Wangi, Gunung pasti terluka. Jika aku memilih Gunung, Kembang Wangi jelas sakit hati. Maka biar adil aku tidak memilih keduanya.

“Maaf bukan aku tidak mencintaimu, Gunung,” kataku kepada Gunung. “Cintaku kepadamu memang cinta mati, tapi aku juga tak mau melukai Kembang Wangi,” lanjutku. “Lagi pula kamu sudah mempunyai Arjuna, yang ke mana pun kamu pergi dengan setia mengawalmu!”

Sedangkan untuk Kembang Wangi aku bilang, “Cinta sucimu kuterima dan kuhargai lahir-batin, tapi aku juga tak ingin menyakiti Gunung.”

***

KETIKA Gunung dan Kembang Wangi mengantarkan kepindahan tugasku ke Yogyakarta, di Stasiun Gambir, aku bilang kepada keduanya. “Ini keputusan yang berat dan sulit, tapi aku sudah memilih dan memutuskan untuk tidak mencintai siapa pun, biarlah aku pilih jalan sendiri: aku rela membujang sampai Tuhan mempertemukanku dengan jodohku. Adil bukan?”

Menjelang detik-detik terakhir keretaku berangkat ke Yogyakarta, Bintang Kejora menjemput Gunung yang berlinang air mata. Dan ketika aku naik gerbong kereta dan duduk di kursi yang nomornya tertera dalam tiket, kulirik kursi di sebelahku ternyata masih kosong. Hanya dua menit menjelang kereta berangkat, seseorang mengusik lamunanku yang kukerjakan sambil bersandar di sandaran tempat duduk dan memejamkan mata. “Maaf, numpang lewat, kursi saya di sebelah Anda,” katanya.

Kubuka mataku pelan-pelan. “Kembang Wangi…,” kataku seperti dalam mimpi.

“Aku juga mau ke Yogyakarta untuk mencari pelabuhan cinta, serta buat menemukan dermaga untuk kasih dan sayangku. Entah siapa dia, biarlah Tuhan yang memilihkan jodoh untukku.”

Ketika kereta bergerak dan meninggalkan Stasiun Gambir, aku masih diam dan berpikir. “Tuhan, apakah ini jodoh pilihan-Mu untukku?” tanyaku kepada-Nya, dan aku sama sekali tak mengusik ketika dua jam kemudian Kembang Wangi tertidur pulas menyandar di bahu, dan kemudian jatuh ke pangkuanku sepanjang perjalanan.

Ketika sampai Stasiun Tugu, barulah kami bingung. “Mau ke mana kita, Mas Ngarai?”

“Lho kamu memang mau ke mana?” aku balik bertanya kepada Kembang Wangi yang dengan manis dan mesra menambah panggilan “mas” di depan namaku.

“Tolong bawa dan antarkan aku sekarang ke rumah orang tuaku di Sleman, dan sekalian lamar aku, karena aku tak mungkin lagi bisa lepas darimu, karena cintaku kepadamu bukan cuma cinta suci, tapi cinta mati, Mas Ngarai!”

“Kembang Wangi…,” ujarku kaget dan bungah. “Kamu….”

“Jangan biarkan hidupku, cinta suciku, cinta matiku, dan kecantikan-keayuan-kemanisan-keseksianku dimakan waktu tanpa Mas Ngarai nikmati. Berikan cinta suci Mas Ngarai kepadaku dan berikan pula cinta mati Mas Ngarai kepada Gunung untuk Kembang Wangi. Apakah Mas Ngarai tak yakin bahwa aku adalah jodoh pati Mas Ngarai? Aku yakin, aku diciptakan Tuhan khusus untukmu, Mas Ngarai….”

Karena semuanya sudah jelas aku langsung menggandeng tangan Kembang Wangi keluar dari Stasiun Tugu, dan dengan menyewa taksi aku membawa Kembang Wangi ke rumahnya. Begitu sampai di rumah joglo yang indah, bersih, anggun, cantik dan asri, bapak dan ibu, serta adik-adik Kembang Wangi, dan ditambah dengan beberapa saudara dekat, menyambut kedatangan kami dengan riang gembira.

“Inikah Arjunamu yang akan memberi kami beberapa orang cucu yang cantik dan ganteng, Nnuk Wangi?” tanya bapak Kembang Wangi, yang diamini oleh anggukan orang-orang berwajah sumringah yang turut menyambut kami.

Kembang Wangi tak segera menjawab. Kembang Wangi melirikku untuk segara menjawab. Melihat gunung harapan menjulang tinggi di kelopak matanya dan lautan keinginan terhampar begitu luas di wajahnya, tak ada kata yang lebih indah yang keluar dari mulutku untuk anak ningrat yang masih kerabat Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu kecuali: “Inggih, Kanjeng Romo….”

Selanjutnya aku sibuk membopong Kembang Wangi yang langsung pingsan mendengar jawabanku, yang kupastikan sangat berkenan dan begitu menggembirakan hatinya.

/26 February 2012