Membaca Pemikiran Terbaik Cak Nur

Hotnida Novita Sary*
http://www.sinarharapan.co.id/

Penampilannya sederhana. Ia senang berkemeja lengan pendek. Cita-cita masa kecilnya menjadi seorang masinis kereta api. Keyakinan bahwa kebenaran memiliki kekuatannya sendiri untuk membela begitu kuat terpancar dalam setiap pemikiran dan sikapnya.

Rangkaian kalimat itu menjadi awal pengenalan penulis tentang tokoh ini kepada pembaca buku. Nurcholish Madjid—yang diinterpretasikan dalam buku ini sebagai Sang Begawan terkesan bersahaja. Begitu singkat, tetapi mendalam sekaligus menggugah rasa penasaran untuk menggali lebih dalam “wasiat” yang diwariskannya untuk generasi muda.

Kesan mendalam juga dirasakan Solichin (penyusun) dengan Nurcholish Madjid saat perjumpaan pertamanya. Ini terlihat dalam sepenggal kalimat berikut.

Saya bertemu dan berjabat tangan erat-erat dengan Nurcholish Madjid. Penampilannya bersahaja tetapi sorot matanya tajam, santun tutur bahasanya. Saya simpati pada pandangan pertama…(Hlm 4). Mungkin saja perkenalan sederhana itu yang menggelitiknya untuk menulis dan menyusun buku yang memiliki rentang waktu sangat lama ini.

Hubungan yang dekat antara penyusun dengan Sang Begawan bukanlah terbatas karena kedekatan di internal organisasi HMI yang mereka lakukan bersama, tetapi dekat dalam hubungan personal. Dicatat dalam buku ini, bagaimana penyusun dan Nurcholish Madjid atau Cak Nur bersahabat tanpa cacat.

Persahabatan yang erat itu berlanjut dengan diskusi-diskusi mengenai masalah kehidupan berbangsa dan bernegara hingga urusan falsafah hidup. Keduanya aktif dalam HMI di mana Cak Nur menjabat sebagai Ketua PBHMI pada periode 1966–1969, sedangkan penyusun menjabat sebagai wakil ketua.

Kosmopolitan, Terbuka, dan Toleran

Banyak hal yang “dijajakan” dalam buku ini, mulai dari peradaban manusia yang mencakup peradaban Yunani, Islam, Barat, sampai Nusantara; landasan membangun peradaban; hingga pesan-pesan Sang Begawan untuk HMI, umat Islam, bangsa Indonesia; hingga wawasan untuk maju ke depan. Namun setidaknya, penulis melihat tiga hal pokok yang menjadi inti pemikiran Cak Nur: kosmopolitan, terbuka, dan toleransi.

Bagi Sang Begawan, kini umat Islam telah jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain. Ia berkeyakinan untuk mengejar ketertinggalan itu, umat Islam dapat mengubah sikap dan berperilaku kosmopolitan, terbuka, dan toleran. Baginya, sikap-sikap ini akan membangkitkan kembali etos keilmuan guna menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di segala bidang (hlm 154–155).

Namun, bukannya berperilaku kosmopolitan (berwawasan dan pengetahuan luas [KBBI, 537]), umat Islam kini justru bersikap parokialistik (berwawasan sempit) dan jauh dari semangat kosmopolitan.

Sikap ini terlihat dari sikap-sikap menolak yang tidak berasal dari kalangan mereka sendiri karena anggapan paling benar, dan yang lain luar adalah salah (hlm 156). Sikap parokialisme dan fanatisme tersebut akan menghalangi kaum muslim mengejar ketertinggalannya dari bangsa-bangsa lain di bidang iptek.

Padahal, semangat kosmopolitanisme dan universalisme diajarkan Nabi Muhammad SAW yang kemudian dipraktikkan oleh umat Islam klasik. Pada zaman Islam klasik, memang terdapat percekcokan intelektual, namun tidak pernah menyeret sikap-sikap parokialistik bahkan sikap anti-ilmu seperti yang menggejala pada kelompok tertentu muslim masa kini.

Nurcholish Madjid menyadari pula bahwa ciri khas zaman ini adalah teknikalisme dan sikap modern dalam kehidupan sosial-politik. Rupanya bagi Nurcholish Madjid, menjadi “Islam” berarti menempatkan posisi umat Islam menjadi penengah dan saksi di antara sesama manusia di dunia, karena posisi orang Islam ditempatkan sebagai golongan moderator atau mediator, serta penengah.

Seorang muslim tidak boleh bersikap ekstrem atau memihak terlalu jauh, namun harus berorientasi pada kebenaran. Sikap inklusivisme ini pada akhirnya tidak hanya baik pada umat Islam, tetapi juga semua golongan dalam masyarakat (hlm 162).

Menurut catatan Cak Nur, lahirnya toleransi dalam sejarah Islam bersamaan dengan lahirnya agama Islam itu sendiri. Ia menyatakan, sikap tidak toleranlah yang pada akhirnya menjadi penyebab kemunduran peradaban umat Islam.

Menurutnya, sikap-sikap fanatik pada mahzab atau golongan sendirilah yang menyebabkan mundurnya sebuah peradaban. Ia menilai dalam tradisi ilmiah, perbedaan pendapat adalah hal biasa yang bisa menjadi sarana kemajuan iptek.

Membaca Wasiat Sang Begawan berarti membaca sebuah masterpiece pemikiran Cak Nur. Intisari pemikiran Cak Nuh disajikan begitu apik dan runtut, tidak berat serta sistematis.

Tak hanya soal pemikiran dan gagasannya mengenai umat Islam, Indonesia, dan sosial masyarakat, latar belakang sejarah perkembangan peradaban di berbagai pusat kebudayaan dunia pun disajikan di bagian awal buku ini.

Walapun agak membosankan karena penjelasan yang terlalu panjang dan bertele-tele, setidaknya penulis mendapat nilai dan pengetahuan mengenai pusat kebudayaan tersebut dari perspektif baru dan berbeda.

Namun sayang, buku yang bermuatan kebaikan ini tidak didukung dengan penyuntingan yang baik. Beberapa kali, misalnya, penulis menemukan kata-kata yang ditulis tidak cermat sesuai bahasa yang baik dan benar. Ini bisa penulis jumpai di antaranya paska-kolonial (hlm xxv), memperkerjakan (hlm 15), mensyiratkan (hlm 19), ditaklukan (hlm 28), serta merubah (hlm 154).

Wasiat Sang Begawan adalah buku yang baik dibaca, bukan hanya oleh umat Islam sebagai pokok gagasan buku ini, tetapi juga bagi non-Islam. Umat Islam tidak hanya dapat bernostalgia mengenai kejayaan zaman Islam klasik, namun juga mengambil nilai-nilai yang tepat dilakukan di masa kini.

Di lain sudut, umat non-Islam dapat memahami nilai-nilai Islam sesungguhnya yang sering tertutup selubung berita-berita kekerasan, fanatisme, bahkan terorisme. Sungguh kosmopolitan yang indah.

Judul Buku : Wasiat Sang Begawan: Pesan-pesan Nurcholish Madjid
Penyusun : Solichin dan Arief Khumaidi
Penerbit : Sinergi Persadatama Foundation
Cetakan I : Desember 2011
Jumlah Halaman : xlii, 381

/28.01.2012