Menela’ah Sastra Lisan, yang Merupakan Bagian dari Sastra Daerah

Eduard Tambunan
http://www.kompasiana.com/eduard_tambunan

Sastra lisan pada hakekatnya adalah tradisi yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat tertentu. Keberadaan sastra lisan diakui, bahkan sangat dekat dengan kelompok masyarakat yang memilikinya. Dalam sastra lisan, isi ceritanya seringkali mengungkapkan keadaan sosial budaya masyarakat tertentu. Biasanya sastra lisan berisi gambaran latar sosial, budaya, serta sistem kepercayaan. Sastra lisan adalah produk budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, seperti ungkapan tradisional, puisi rakyat, cerita rakyat, dan nyanyian rakyat. Usaha menggali nilai sastra lisan bukan berarti menampilkan sifat kedaerahan, melainkan penelusuran terhadap unsur kebudayaan daerah yang perlu dilaksanakan karena sastra daerah merupakan sumber yang tidak pernah kering bagi keutuhan budaya nasional kita.

Saya ingin berbagi kisah masa kecil. Saat itu, di bawah terang bulan purnama, saya, paman, dan teman-teman SD di salah satu daerah Sumatera Utara duduk melingkari api unggun dan membakar jagung. Sambil menunggu hingga jagung matang, kami mendongeng untuk mengisi waktu. Kami yang memperoleh kehangatan dari api unggun itu wajib mengisahkan sebuah dongeng secara bergantian, searah perputaran jarum jam. Ide mendongeng sembari menunggu jangung matang ini berasal dari paman. Anak-anak yang tidak bisa berdongeng bertugas membakar jagung untuk para pendongeng. Dongeng-dongeng yang diceritakan itu tentu bukan karangan kami sendiri, tetapi kami dapatkan dengan gratis dari orang lain, entah dari orangtua kami atau orang-orang dewasa yang gemar mendongeng. Jadi, telah terbentuk satu rantai dongeng yang tidak putus. Setelah berdongeng, kami lanjutkan dengan berteka-teki (dalam bahasa Batak Toba disebut Huling-huling ansa). Semuanya ini kami lakukan dalam bahasa Batak Toba.

Kisah puluhan tahun itu telah berlalu. Saya rindu kisah itu terulang lagi pada zaman semodern ini. Ah, di zaman modern ini orang-orang seakan-akan berlomba-lomba mencari label ‘internasional’ di hampir segala aspek (mulai dari tema acara, buku bacaan, hingga ucapan salam). Mengutak-atik hal-hal yang berbau ‘daerah’, seperti sastra lisan barangkali dianggap seperti mudik ke kampung terpencil karena urusan mendesak setelah bertahun-tahun di kota besar. Karena dianggap hal yang mendesak dan tidak penting, maka terkadang sering dilupakan. Enggan melawan lupa yang ditebar label ‘iternasional’.

Perubahan telah terjadi dengan berjalannya waktu. Sastra lisan (yang merupakan bagian dari sastra daerah) seakan telah kehilangan daya magis, pengagum, dan kehabisan kisah indah yang sanggup menarik minat pendengar mereka, yang lebih betah berlama-lama membaca komik asing yang laris bagai jagung bakar. Lebih parah lagi kalau isi cerita lisan sampai dianggap sejajar dengan bualan tukang jual obat yang hanya mampu menawarkan kisah-kisah yang telah usang dimakan zaman sehingga kita kehilangan selera untuk memelihara kisah lama dan mengemasnya dengan sampul baru agar tetap laris sebagai fungsi rekreatif, didaktis, estetis, moralitas, dan religius, seperti jagung bakar dari ladang sebelah desa yang setelah dikeringkan, dikemas dengan label ‘Jagung Super Gurih’ dari negeri sebelah.

Dalam pergaulan sehari-hari, kita mungkin sudah jarang menghiasi pembicaraan kita dengan cerita lisan, yang struktur dan maknanya makin sulit dimengerti jika tidak dibiasakan. Daripada malu karena disindir dengan ungkapan ‘hie boy, sok pujangga lu’ lebih baik kita berbicara apa adanya saja, biar dangkal asal mudah dimengerti. Kemampuan bercerita lisan bila tidak diasah akan hilang dengan sendirinya dan tidak akan sampai kepada generasi berikut bila tidak ada minat dan usaha nyata untuk mewariskannya.

Untuk melestarikan sastra lisan, kiranya langkah-langkah berikut ini dapat ditempuh:

1. Menceritakan cerita lisan kepada anak-anak sejak dini serta memperkenalkan cerita lisan kepada generasi muda dan kalangan umum.

2. Mengadakan pelatihan-pelatihan dan perlombaan kepada berbagai pihak.

3. Memasukkan sastra lisan ke dalam kurikulum pendidikan dasar.

Nilai-Nilai budaya adalah perekat yang sangat kuat untuk mempersatukan suatu bangsa. Hal ini telah disadari betul oleh para founding fathers bangsa kita, maka mereka membangun negara di atas landasan kebudayaan.

Sayangnya, hingga hari ini pun banyak pemuda-pemudi yang tidak memahami hal ini. Adat Batak barangkali beda dengan adat Sunda, pun demikian dengan adat-adat lain, namun unggulan-unggulan dari setiap adat atau kebiasaan itu satu dan sama.

Dan, para founding fathers kita mengumpulkan unggulan-unggulan itu – maka terkumpulah lima unggulan yang bersifat universal dan ada dalam setiap adat di setiap daerah dan setiap pulau. Lima unggulan ini yang kemudian dikenal sebagai lima butir Pancasila. Dalam lima butir Pancasila tersebut, kita semua bertemu. Maka, sebagaimana diungkapkan oleh Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, sesungguhnya Pancasila adalah Intisari atau Saripati Budaya. Inilah Budaya Nasional kita, Budaya Nusantara, Budaya Indonesia.

Sastra lisan merupakan kekayaan budaya yang turut membentuk jati diri kita sebagai bangsa beradab. Begitu banyak nilai luhur yang terkandung dalam sastra lisan. Kita dapat menggali kembali nilai-nilai itu dari dongeng, kisah perjalanan suku, pantun, peribahasa, ungkapan, teka-teki, syair-syair lagu daerah, dll. Pada zaman modern ini, ketika kita berhadapan dengan arus globalisasi yang makin deras dan terus menawarkan nilai-nilai baru yang belum tentu cocok dengan kepribadian bangsa kita, sastra lisan sebagai suatu alternatif pencerahan dapat menjadi solusi yang tepat, yaitu obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit zaman, mencegah atau mengatasi persoalan dalam masyarakat.

Sastra lisan sebagai bagian dari sastra daerah tetap relevan untuk masa kini dan masa depan karena mengandung nilai-nilai yang tak lekang oleh waktu. Apabila makna kearifan lokal sungguh-sungguh dijiwai oleh penuturnya, maka kita dapat berharap agar mentalitas ‘instan’ cepat atau lambat boleh pupus dari masyarakat kita. Nilai-nilai luhur yang masih relevan untuk zaman ini bertaburan di mana-mana laksana emas.

Sudah saatnya generasi muda bangkit kembali menegakkan tradisi lama yaitu sastra lisan yang akhir-akhir ini hampir punah. Siapa lagi yang akan meneruskan tongkat estafet sastra kebudayaan ini kalau bukan generasi sekarang. Hanya insan yang tidak memahami nilai emaslah yang akan membiarkan barang berharga ini berceceran dan jatuh ke tangan orang lain, bahkan hilang dari ingatan.

Oleh karena itu, mari kita selalu bergandengan tangan merevitalisasi sastra lisan untuk pelestarian dan pengembangan.

21 October 2011
Dijumput dari: http://bahasa.kompasiana.com/2011/10/21/menelaah-sastra-lisan-yang-merupakan-bagian-dari-sastra-daerah/