Meneladani Literasi Bung Hatta

Muh Kholid A.S.
http://www.lampungpost.com/

PERTENGAHAN Maret 32 tahun silam Indonesia berkabung atas kepergian sosok teladan Mohammad Hatta. Tepat pada Jumat, 14 Maret 1980, proklamator yang akrab disapa Bung Hatta itu meninggal dunia dalam usia 78 tahun.

Indonesia pantas kehilangan karena Bung Hatta salah satu tokoh paling cemerlang pada sezamannya. Kepribadian, keteladanan, kesederhanaan, dan pemikirannya tetap aktual diimplementasikan hingga kini. Di antara sekian keistimewaan yang menonjol pada diri Bung Hatta adalah kecintaannya kepada buku. Sepanjang hidupnya, ia telah mewariskan banyak buku bermutu bagi generasi sesudahnya.

Di antaranya Alam Pikiran Yunani, Ekonomi Masa Depan, Indonesia Vrij, Krisis Ekonomi dan Kapitalisme, Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun, Mendayung antara Dua Karang, Mohammad Hatta Memoir, Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan, Perhubungan Bank dan Masyarakat di Indonesia, serta Bung Hatta Berpidato Bung Hatta Menulis.

Koleksi Buku

Bung Hatta dilahirkan di Bukittinggi, pada 12 Agustus 1902. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, adalah seorang mursyid sebuah tarekat di Sumatera Barat yang meninggal dunia ketika Bung Hatta berusia delapan bulan. Nama Mohammad Hatta sendiri adalah Mohammad Ata, yang diambil dari nama tokoh muslim Muhammad Ata illah al-Sakandari, pengarang kitab Al-Hikam (Nurcholis Madjid: 2002). Ucapan Minangkabau akhirnya mengubah ejaan Atha menjadi Hatta, dan nama inilah yang menempel pada dirinya.

Sejak prakemerdekaan, Bung Hatta dikenal sebagai pencinta buku yang luar biasa. Bahkan, saat dia menjalani hukuman penjara maupun pembuangan, buku adalah teman sejati yang mendampinginya. Ketika dalam penjara di Den Haag (1927—19 8), menjalani pembuangan di Boven Digoel, Papua (1934), dan Banda Naira, Maluku (1935), dia mengabiskan waktunya dengan belajar, membaca, menulis, dan selalu dikelilingi buku. Dia mencerna buku yang dibacanya untuk diadopsi, diadaptasi, atau bahkan disangkalnya secara frontal.

Kesuksesan Bung Hatta melahirkan karya tulis tentu tidak datang tiba-tiba. Dia telah belajar menulis (secara serius) sejak berumur 21 tahun, atau 2 tahun sejak kedatangannya di Belanda pada 5 September 1921. Dua tulisan pertamanya dimuat majalah Hindia Poetra edisi Januari 1923 tentang kedudukan ekonomi orang Indonesia yang menyewakan tanah, dan Maret 1924 tentang beberapa catatan tentang ordonansi penyewaan tanah di Indonesia.

Dalam Memoir-nya (1979), Bung Hatta mengatakan “Itulah permulaan aku membuat tulisan ilmiah, aku berusaha sedapat-dapatnya buah tanganku berdasarkan ilmiah.” Untuk menyelesaikan keduanya, Bung Hatta membutuhkan waktu sekitar enam bulan. “Lama juga waktu yang kupergunakan untuk mengarang dua karangan. Kalau aku tak salah, kira-kira enam bulan. Sambil belajar aku mengarang dan sedapat-dapatnya membaca pula buku yang dapat aku pergunakan sebagai bahan atau dasar.”

Dua kebiasaan inilah yang pada tahun-tahun berikutnya menjadikan Bung Hatta sebagai sosok “gila” membaca dan menulis. Anugerah kecerdasan dan ketekunan inilah yang mengantarkannya sebagai tokoh kemerdekaan yang paling produktif menghasilkan karya tulis.

Terkait hal ini, putrinya sendiri, Meutia Farida Hatta Swasono, berkelakar menyebut bapaknya itu sebagai “pengarang neokapitalis.” Sebab, jika karya bukunya ditumpuk, ketinggiannya melebihi tinggi tubuh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan tersebut.

Di luar kebiasaannya melakukan kegiatan tulis-menulis, Bung Hatta juga mempunyai hobi “langka” lain yang juga sama-sama sulit dicarikan tandingannya. Tokoh ini mempunyai koleksi buku yang jumlahnya lebih dari 10 ribu judul, baik yang klasik maupun modern. Hebatnya, semua buku itu masih terpelihara secara rapi, termasuk berbagai buku yang dipergunakannya pada tahun-tahun pertama kuliah di Belanda (Meutia Hatta: 2002).

Kerapian kondisi fisik buku-buku itu merupakan bukti riil dari penghargaan Bung Hatta terhadap buku dan ilmu pengetahuan. Kecintaan Bung Hatta terhadap buku adalah teladan yang harus dicontoh di tengah rendahnya human development report (HDR) Indonesia. Sebagaimana yang dirilis United Nations Development Programme (UNDP), pada 2011 ini HDI Indonesia berada pada urutan ke-124 dari 187 negara.

HDI adalah pemeringkatan indikator pembangunan yang didasarkan pada indeks gabungan dari tiga ukuran yang saling memengaruhi: indeks kesehatan, indeks pendidikan, dan indeks ekonomi (daya beli). Terkait dengan faktor pendidikan, dua pertiga penilaiannya didasarkan pada jumlah penduduk di atas 15 tahun yang buta aksara.

Cinta Buku

Membaca adalah kegiatan yang paling produktif bagi seseorang yang mampu membawanya menjelajahi berbagai ilmu pengetahuan. Sebab, buku adalah perantara bagi seseorang untuk menjelajahi berbagai ilmu pengetahuan yang datang dari berbagai penjuru dunia. Sesuatu yang telah terkodifikasikan dalam tulisan adalah sebuah harta karun pengetahuan dan akumulasi pengalaman umat manusia sepanjang sejarah, yang seharusnya dijadikan pelajaran oleh generasi ke generasi selanjutnya.

Buku adalah gizi terbesar bagi masyarakat untuk memungkinkan munculnya sebuah perubahan masyarakat. Hanya melalui proses membaca, manusia mendapat banyak informasi yang kemudian dapat diolah dan diproses menjadi sebuah pengetahuan.

Sementara pengetahuan adalah dasar mengarungi kehidupan, bahkan mengembangkannya sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Lebih dari itu, “tulisan” adalah landasan bagi masyarakat dalam membangun masa depan, tanpa menafikan masa kini dan kesejarahan masa lampau.

Bung Hatta memang telah tiada. Tetapi kecintaannya terhadap buku dan ilmu pengetahuan sungguh layak diteladani seluruh anak bangsa. Membaca harus dimakna bukan lagi sebuah hobi yang hanya didasarkan pada mood semata, melainkan juga sebagai kebutuhan layaknya manusia membutuhkan makan dan minum. Pembiasaan membaca secara otomatis akan meningkatkan pengetahuan; sebuah modal yang penting dalam mengejar ketertinggalan multisektor bangsa ini dalam percaturan mondial. Allahualam bisawab.

*) Peneliti di Institute for Religion and Society Studies
/17 March 2012