Menyadari Fungsi Komunikasi Karya Sastra

(Apresiasi Atas Buku Kopi Hujan Pagi Karya Penulis Sekolah Menulis Paragraf)
Junaidi
Riau Pos, 11 Maret 2012

KEHADIRAN buku Kopi Hujan Pagi (KHP) memberi napas baru bagi perkembangan kesusastraan di Riau. Sastrawan Riau itu eksis. Mereka terus berkarya baik di media massa maupun buku sastra yang sengaja diterbitkan. Yang paling utama dari buku ini adalah terlihatnya proses pewarisan kreativitas kepengarangan di Riau dari generasi senior ke generasi yang lebih muda. Buku KHP membuktikan sastrawan muda Riau itu aktif, kreatif dan produktif. Mereka mampu menghasilkan karya dan tampaknya mereka percaya bahwa ‘’hidup bila berkarya’’. Apa artinya hidup bagi seorang sastrawan bila tak menghasilkan karya.

KHP merupakan kumpulan puisi dan cerpen yang ditulis penulis muda yang tergabung dalam komunitas Sekolah Menulis Paragraf (SMP). Terdapat sepuluh penulis puisi: Afriyanti, Agus Yoni PW, Azizah Masdar, Cahaya Buah Hati, Chamex, Guri Ridola, Jeni Fitriasha, Refila Yusra, Srikartini Widya Ningsih dan Zurnila Emhar ch. Sedang penulis cerpen terdapat tujuh orang: Cikie Wahab, Febby Fortinella Rusmoyo, Guri Ridola, Jeni Fitriasha, Nurhusni Kamil, Srikartini Widya Ningsih dan Wari Rahmawati. Buku ini diterbitkan Seligi Press, Januari 2012 dan yang jadi editornya Marhalim Zaini. Buku ini dilahirkan oleh sastrawan muda Riau berkat bimbingan para guru di SMP: Marhalim Zaini, Olyrinson, Budy Utamy dan Hary B Kori’un. Mereka adalah para guru sastra di Riau yang secara ikhlas membagikan ilmu dan pengalaman mereka pada sastrawan lainnya.

Judul buku KHP menarik untuk diinterpretasikan. Ada satu frasa ‘’Kopi Hujan Pagi.’’ Frasa ini terdiri tiga kata: kopi, hujan, dan pagi. Bila dilihat hubungan antara satu kata dengan kata lainnya tampak kurang berkaitan. Ada tiga kata tersusun dalam satu frasa tapi maknanya tidak dengan mudah kita tafsirkan. Kopi dapat ditafsirkan sebagai ketekunan dalam menjalankan kreatifitas penulisan sebab ada kebiasan para penulis untuk mendukung kegiatan penulisan didukung oleh kopi sebagai suplemen agar tak mengantuk sehingga bisa terus menulis. Hujan dapat dimaknai dengan banyaknya gagasan yang dimiliki oleh para penulis yang tergabung dalam buku KHP. Sedang pagi bisa dimaknai spirit untuk melakukan kegiatan penulisan yang dilakukan oleh penulis untuk menghasilkan karya sastra. Spirit ‘’pagi’’ sering diartikan sebagai semangat yang lebih kuat daripada siang atau malam. Dengan demikian, judul buku ini mewakili ketekunan, banyaknya ide dan kuatnya spirit berkreativitas yang dimiliki para penulis yang tergabung dalam KHP.

KHP pantas diberi apresiasi didasarkan beberapa alasan: Pertama, semua penulis yang terdapat dalam buku ini termasuk penulis muda Riau. Mereka lahir sekitar tahun 80-an. Mereka anak-anak muda kreatif, inspiratif dan dedikatif dalam memajukan kreatifitas sastra di Riau. Realitas menunjukkan, tak banyak anak-anak muda Riau yang memiliki kepedulian terhadap sastra. Tapi mereka dengan energi sastra terus bangkit dan berkarya. Tampaknya tak ada keluh kesah yang mengiba-iba dalam komunitas ini. Mereka terus berkarya. Bagi mereka ‘’ada karena karya’’.

Kedua, ditengah anggapan bahwa penerbitan buku sastra menjadi kurang hidup di Riau, KHP bisa muncul dengan kekuatan mereka sendiri. Buku ini mereka terbitkan sendiri dan dengan modal mereka sendiri. Pasar buku sastra di Riau belum begitu marak sehingga tak banyak penerbit komersial yang tertarik menerbitkan buku sastra. Kalau mau menerbitkan buku sastra pengarang harus punya modal sendiri. Kalau ditunggu penyandang dana, apalagi dari pemerintah entah kapan. Bila ada buku sastra yang terbit di Riau, itu adalah proyek idealis atau proyek ‘’thank you’’ untuk memberi kontribusi pada perkembangan sastra Riau. Padahal penerbitan buku sastra di Riau sangat penting sebab ia merekam kreatifitas sastra Riau dan dari rekaman sastra Riau itu dapat dilihat pula semangat zaman yang berkembang di Riau pada suatu masa.

Ketiga, KHP menjadi media yang sangat efektif untuk menguatkan diri para penulis bahwa karya mereka memang layak dibukukan. Ada peningkatan kepercayaan diri bagi penulis muda untuk terus menulis setelah karya mereka diterbitkan dalam bentuk buku. Dalam pengantar KHP disampaikan bahwa buku ini ‘’sebagai ijazah, sebuah tanda bahwa mereka telah berhasil menamatkan belajar di Sekolah Menulis Paragraf.’’ Saya pikir tak ada kata tamat dalam menulis. Eloknya, menulis merupakan proses yang terus berlangsung dan tak ada kata tamat. Tamat dalam menulis berarti meninggalkan dunia penulisan dan masuk ke alam kematian. Saya yakin para penulis yang tergabung dalam KHP takkan berhenti menulis setelah terbitnya buku ini, tapi justru mereka akan makin membuktikan kepada dunia bahwa bisa berkarya.

Keempat, adanya anggapan bahwa para penulis yang tergabung dalam SMP dapat perlakukan khusus dalam satu media, jangan terlalu dipedulikan. Lupakanlah pandangan-pandangan sinis yang merusak semangat kreativitas. Teruslah berkarya tanpa harus merendahkan karya orang lain. Jangan buangkan energi untuk berdebat tentang aliran dan urusan suka tak suka terhadap kelompok lain. Lebih baik mencurahkan energi untuk menghasilkan karya sastra yang bermutu daripada menggerutu tak menentu. Bersaing untuk menghasilkan karya jauh lebih penting daripada menaruh pikiran negatif terhadap orang atau kelompok lain. Karya sastra berkaitan erat dengan perasaan, daya kreasi dan pandangan yang bersifat subjektif. Dunia sastra adalah dunia subjektif yang menghasilkan keragaman pandangan, pendapat, respon dan interprestasi. Dengan demikian, ketika memasuki dunia sastra kita harus siap menerima perbedaan tanpa harus menyalahkan orang lain.

Komunikasi dalam Sastra
Saya tak mampu berkomentar atau menanggapi setiap karya dalam buku ini. Saya tak terbiasa mengulas satu karya sastra secara dangkal. Keragaman tema dan karya dalam KHP ini juga menyulitkan saya memberi fokus analisis. Dalam tulisan ini saya hanya ingin mengingatkan para penulis sastra untuk merenungkan pentingnya perspektif komunikasi dalam dunia kepengarangan. Setelah membaca KHP, saya melihat ada beberapa karya yang terlalu bersifat personal dan terlihat penulisnya terlalu asyik dengan dunia imajinasinya sendiri sehingga mereka agak melupakan pesan komunikasi yang ingin disampaikan melalui karya sastra. Larut dengan imajinasi sendiri adalah hal yang sangat wajar dalam kreativitas kepengarangan. Namun alangkah eloknya imajinasi dan perasaan yang diekspresikan dapat dinikmati secara lebih mudah bagi orang lain. Bukankah Anda menerbitkan karya untuk dinikmati orang lain?

Ada banyak alasan mengapa sastrawan menulis karya sastra. Mulai dari alasan yang sangat personal (seperti iseng, mengisi waktu luang, hobi, curhat dan ekspresi jiwa,) sampai alasan yang lebih bersifat fungsional untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu pada orang lain. Dalam perspektif personal, karya sastra cenderung dijadikan alat untuk pemenuhan kepuasan pribadi pengarang. Yang paling penting pengarang menuangkan ekspresi, gagasan, ide, perasaan atau jiwa mereka ke dalam karya sastra. Bagi pengarang yang menganut paham seperti ini tak peduli ada orang membaca atau tidak karyanya. Mereka juga tak peduli orang mengerti atau tidak karya mereka. Karya sastra yang bersifat personal cenderung menggunakan pilihan kata, tanda dan metafora yang sangat individual dan bahkan liar sehingga orang lain kesulitan memahaminya. Tentunya pengarangnya sendiri yang paling memahaminya. Tema-tema yang diangkat biasanya seputar kehidupan pengarang atau respon pengarang terhadap fenomena alam dan sosial.

Sedang karya sastra yang bersifat fungsional memiliki peran komunikatif dalam masyarakat. Artinya, karya sastra menjadi media komunikasi untuk menyampaikan pesan (message) dari pengarang sebagai penyampai pesan (addresser) dan pembaca sebagai penerima pesan (addressee). Sebenarnya model pendekatan sastra yang dicetuskan Abrams (1976) merupakan model dasar dalam memandang sastra dari perspektif komunikasi, yakni expressive (pengarang), pragmatic (pembaca), mimetic (masyarakat) dan objective (karya sastra). Model komunikasi sastra dapat dijelaskan dengan meminjam enam faktor bahasa yang disampaikan Jakobson (Ratna, 2009), yakni: addresser, addressee, context, message, contact dan code dan enam fungsi bahasa pula, yakni: emotive, connotative, referential, poetic, phatic dan metalingual.

Bagi saya, peran komunikasi karya sastra sangat penting meski sangat kompleks sebab karya sastra tak lagi menggunakan bahasa sederhana tapi bahasa konotatif, metafora dan tanda-tanda yang rumit dalam pemaknaannya. Menariknya, kerumitan dalam sastra itu justru menjadikan karya sastra itu lebih menjadi cari khas karya sastra dan kerumitan itu pula yang memprovokasi pembaca untuk lebih melakukan pembacaan secara mendalam terhadap karya sastra. Memahami karya sastra tak semudah memahami komunikasi sehari-hari. Terlalu banyak faktor yang akan mempengaruhi pemaknaan dalam proses komunikasi dunia sastra.

Meski komunikasi sastra sangat kompleks, pengarang sebagai penyampai pesan sebaiknya mengupayakan penyampaian pesan secara lebih mudah dengan tak terlalu banyak menggunakan metafora-metafora yang terlalu personal apalagi terlalu liar. Beri ruang secara lebih mudah pada pembaca untuk memahami karya secara lebih mudah. Permudah pesan yang disampaikan dengan tetap menggunakan perangkat-perangkat kesusastraan yang lazim. Selain itu, tinggalkanlah pesan yang lebih bernilai dan memberi sumbangan terhadap nilai-nilai kemanusian. Perasaan personal yang diunggapkan pengarang melalui karyanya tak lagi milik pengarang tapi sudah jadi milik pembaca. Karena pembaca ingin merasakan perasaan pengarang berdasar pengalaman pembaca, karya sastra perlu dirancang untuk bisa dinikmati orang lain.

Permainan kata yang elok dalam karya sastra sebaiknya diperkuat dengan aspek pemaknaan. Setiap kata dalam karya sastra memiliki kekuatan dan kekuatan kata itu perlu dirancang untuk menghasilkan keutuhan makna. Memang proses pemaknaan karya sastra dilakukan oleh pembaca tapi pembaca akan memahaminya sesuai struktur bahasa dan sastra yang disampaikan pengarang melalui karyanya. Di sinilah perlunya kesadaran komunikasi dalam aktivitas kepengarangan.

Kondisi lokal yang terdapat di lingkungan pengarang merupakan energi yang sangat menarik untuk dikomunikasikan oleh pengarang pada orang lain. Karya sastra itu dilahirkan tidak dalam ruang kosong. Karya sastra dikreasikan dalam masyarakat yang memiliki nilai, kebudayaan, semangat zaman, trend dan suasana-suasana khas. Karena itu, karya sastra bisa dijadikan media untuk berbagi pengalaman, gagasan, perasaan dan nilai-nilai antara manusia yang ada di dunia ini. Kita merindukan karya sastra yang mengangkat kearifan lokal yang bisa menginspirasi kehidupan manusia secara universal. Sastra tidak hanya untuk sastra. Sastra adalah untuk umat manusia.***

Dr Junaidi, Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning (Unilak) dan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Riau.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2012/03/menyadari-fungsi-komunikasi-karya.html