“Menyelamatkan” Taufiq Ismail Menjadi Sastrawan

Saripuddin Lubis
http://www.analisadaily.com/

cerita ini dari Taufiq Ismail, “Kalau saja Soe Hok Djin tidak ada, barangkali Anda semua tidak akan pernah mengenal saya dan kita tidak akan berjumpa di sini”.

Ucapan itu selalu saja disampaikan Taufiq setiap kali ada kesempatan dialog terbuka dengannya. Pertama ketika berlangsung pertemuan Apresiasi Sastra Daerah di Hotel Mars, Cipayung, Jawa Barat. Kemudian pada Diklat Membaca Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS) tahun Hotel Purnama, Cipayung, Jawa Barat beberapa waktu yang lalu.

Mengapa Soe Hok Djin sampai menyelamatkan Taufiq Ismail? Dimaskud Taufiq dengan menyelamatkannya bermula dari sebuah anekdot. Masa remaja Taufiq Ismail seperti diketahui pernah berprofesi lain sebagai penjual kain batik dari Pekalongan yang dilakukannya untuk sekedar menambah biaya hidupnya. Di sela kegiatannya berdagang batik, Taufiq tetap berkarya, terutama menulis puisi.

Ketika Indonesia sedang berada dalam peristiwa ?66, Taufik telah banyak menuliskan karyanya tentang aksi-aksi para mahasiswa pada waktu itu. Puisi-puisi yang ditulis Taufiq sebagian telah diketik rapi dan sebagiannya lagi masih masih ditulis tangan. Salah satu kebiasaan Taufiq, selalu menyandang sebuah tas yang berisi puisi-puisinya, kemana pun dia pergi, termasuk ketika sedang berdagang batik antara Pekalongan-Jakarta.

Suatu kali dalam sebuah pertemuan, Djin (Taufiq dan Soe Hok Djin adalah sahabat akrab), secara tidak sengaja membaca puisi-puisi Taufiq. Setelah membaca puisi-puisi itu, Djin sangat senang dan langsung berkata, “Taufiq, ini bagus sekali. Ini harus diterbitkan!” Pemuda Taufiq mengatakan kalau puisi-puisi itu belum rapi dan masih ditulis tangan (kebetulan yang dibaca Djin adalah map yang berisi puisi dengan tulisan tangan, sedang puisi yang sudah diketik ada pada map yang satu lagi. Djin tidak perduli, beliau beranjak pergi sambil membawa map yang berisi puisi.

Seperti biasa secara berkala, dari Pekalongan Taufiq berangkat ke Jakarta membawa bungkusan-bungkusan berisi kain batik. Suatu pagi Subuh, Taufiq tiba di Stasiun Kereta Api Gambir. Pagi itu, entah bagaimana secara tidak sengaja (karena harus mengurusi dagangannya) Taufik harus kehilangan semua barang dagangannya. Batik yang berjumlah banyak, raib entah kemana. Betapa gundah hati Taufiq. Taufik gundah bukan karena kehilangan kain-kain batiknya. Taufiq sedih karena harus kehilangan barangnya yang paling berharga, yaitu map yang berisi puisi yang sudah diketik. Bukan main sedihnya Taufiq Ismail. Beberapa hari kemudian, Taufiq ingat kalau masih ada satu lagi berkas puisi-puisinya pada Soe Hok Djin. Taufiq pun segera berangkat menemui Djin. Akhirnya selamatlah puisi-puisi Taufiq Ismail dan puisi-puisi yang diselematkan itu dapat kita baca dalam kumpulan Tirani dan Benteng.

Siapa Soe Hok Djin?

Soe Hok Djin sebenarnya adalah orang yang cukup terkenal di negeri ini. Soe Hok Djin dikenal dengan nama Arief Budiman. Dilahirkan di Jakarta, 3 Januari 1940. Semasa kecil Djin mempunyai cita-cita sebagai seorang pelaut atau pilot. Cita-cita hanya untuk menggapai angan-angan sangat sederhana; ingin melanglang ke luar negeri melalui laut atau angkasa.

Setelah beranjak dewasa Djin mengubah cita-citanya menjadi seorang penulis dan pelukis. Cita-cita sedikit banyak terpengaruh oleh ayahnya yang berprofesi sebagai penulis. Ayahnya Salam Sutrawan adalah seorang pengarang novel Cina Perantauan. Setiap saat Djin selalu dekat dengan sang ayah yang sedang mengetik novel.

Djin juga mulai menyenangi teater karena kebetulan Alm. Liem Tjua Hok (Teguh Karya) adalah teman kecil sebelah rumah. Seperti kita ketahui Alm. Teguh Karya adalah tokoh film dan teater di Indonesia. Setelah menginjak bangku kuliah, Djin sering menonton teater bersama Asrul Sani dan Teguh Karya.

Sekarang Arief Budiman berada di Australia sebagai guru besar di Universitas Melbourne. Arief pernah memperdalam pengetahuan di College d?Europe, Brugge, Belgia (1964), menyelesaikan studi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1968), memperdalam pengetahuan di Paris (1972) dan meraih gelar doktor dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard, AS (1980).

Dalam bersastra dan seni, Arif juga sudah harus diperhitungkan sepak terjangnya. Kegiatannya antara lain, termasuk salah satu Dewan Penasehat Majalah Sastra Horison pada priode 1966 sampai 1972. Aktivitasnya di Horison kemudian dilanjutkan lagi dari tahun 1972 hingga 1992. Dia juga sempat aktif sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta dari tahun 1968 sampai 1971 dan anggota Badan Sensor Film dari tahun 1968, hingga 1971. Dalam bidang akademik. Pernah sebagai dosen Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga (Jawa Tengah).

Suami dari Leila S. Chudouri (teman kuliahnya di UI yang sekarang psikolog kondang) ini termasuk yang menandatangani “Manifes Kebudayaan”. Kelompok ?Manifes Kebudayaan? ini, mereka yang ikut menentang kehadiran gerakan komunis di Indonesia. Arief juga pernah menghadiri Konferensi PEN Club Internasional di Seoul (1970).

Arief banyak menulis esai. Salah satu esainya “Manusia dan Seni” bahkan memperoleh Hadiah Ketiga majalah Sastra tahun 1963. Karya Arief yang lain Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan (1976), Pembagian Kerja Secara Seksual (1981), Transmigrasi di Indonesia: Ringkasan Tulisan dan Hasil-Hasil Penelitian (1985), dan Jalan Demokrasi ke Sosialisme: Pengalaman Chile di Bawah Allende (1986).

Dalam bidang kajian ilmiah sastra, Arief Budiman dianggap sebagai tokoh “Metode Ganzheit” sejak diadakannya Diskusi Sastra 31 Oktober 1968 di Jakarta dan terlibat serangkaian polemik dengan MS Hutagalung sebagai “Aliran Rawamangun”. Arief juga dikenal sebagai tokoh “Sastra Kontekstual sejak diadakannya Sarasehan Kesenian di Solo Oktober 1984.

Itulah Soe Hok Djin yang juga abang kandung dari Soe Hok Gie (Tokoh ?65 yang telah difilmkan) Bagaimanapun kehadiran Soe Hok Djin telah pula dicatat dalam percaturan sastra di negeri ini.

Penulis: dosen STKIP Budidaya Binjai. /29 Mei 2011