TELAGA RINDU *

Berperahu di tenang telaga, meniup suling dengan nada merdu
Langit biru yang indah, di pinggir telaga kebun buah-buahan subur
Adalah nyanyian kalbu diam-diam melukis wajah kekasih
Berbantal cincin hati kemala

Bekerja, terpisah jarak dengan keluarga
Di kota akhir-akhir ini pesona koin bak mandi madu kibasan bulu merak
Ketika sulit untuk menemukan bahwa masih ada segelas itikad baik.
Di matamu. Cahaya bintang kemerlab bersih

Duhai wahai yang menjadikan aku rindu, ketika kita kembali bersua nanti
Itulah saatnya hatiku berasa luahan kasih, dan ingin aku mengajakmu
Memetik ranum buah rindu, di kebun subur dekat tenang telaga

4 Maret 2012
Judul* : Erha Limanov

JIKA KITA SALING MENGUATKAN, ITULAH CINTA

Ketika aku merasa kian memahami tentang apa itu cinta
Pertanyaanmu padaku membuatku terkesiap
Iakah cinta itu diantara perasaan dan ruang sunyi?

Di pantai, aku tulis tebal huruf-huruf cinta
Angin menerbangkan pasir–pasir

Di ruang kamar kubuka lemari
Senyap. Pakaian juga perhiasan sebisunya batu

Kutatap jam di dinding kamar
Runcing jarum adalah kekosongan yang bunyi
Pikiran dan perasaan yang berjalan di lorong hening

Jika aku kini memilihmu, itu karena aku percaya perasaanku
Mencintaimu. Seperti lebah membuat sarang madu, dan
Tempat menetasnya anak-anak

12 March 2012

DI EMPER TOKO

Bersandar mak tua, tak peduli lalu lalang di jalan
Apalagi ngomongi Malinda Dee yang diganjar delapan tahun
Mungkin ianya juga lebih tak peduli
Jikalau pak Sby bilang, Indonesia bebas korupsi

“Mak, lima belas ribu kita dapat hari ini, tapi
BBM dan tarif listrik katanya akan naik, pasti
sembako tentunya naik juga, mak ” suara anak kecil di sebelahnya

—Sudahlah nak gak usah didenger, toh percuma saja

”Terus yang mesti kita denger apa,mak ?”

—Ya suara perut kita,nak
Jawab mak tua enteng

2008,2010, rev Maret 2012

Categories: Puisi