Puisi Untuk Sang Penyair

Apriliana Susanti *
http://www.solopos.com/

Dengan gayanya yang khas, Butet Kartaradjasa menghidupkan puisi bertajuk Hai Sapi. Guyonan-guyonannya membuat para penonton di pendopo Tembi Rumah Budaya tersenyum, tak terkecuali sang penyair, Darmanto Yatman yang karyanya dibacakan malam itu.

“Saya sering nguping Pak Dar dan bapak [alm. Bagong Kusudiardja]. Saya ingat puisi Hai Sapi ini dibacakan pertama kalinya di Ismail Marjuki,” kenang Butet.

Bersama beberapa seniman Jogja seperti Landung Simatupang, Genthong Hari Seloali, Whanny Darmawan, Naomi Srikandi, dan Gunawan Maryanto, Butet beraksi membacakan puisi-puisi karya Darmanto Yatman. Aksi yang digelar di pendopo Tembi Rumah Budaya tersebut merupakan wujud apresiasi para seniman untuk Darmanto Yatman.

“Ini spontanitas. Sebagai teman lama saya ngajakin teman-teman seniman untuk bikin malam sastra Darmanto Yatman karena dia nggak bisa baca puisi lagi,” jelas Genthong Hari Seloali, penggagas acara bertajuk Malam sastra Bulan Purnama Darmanto Yatman.

Kiprah Darmanto Yatman, 70, di jagad sastra Indonesia sudah tak diragukan lagi. Dia adalah pemikir, kritikus sastra, dan penulis yang baik. Karya-karyanya seringkali bernada kritikan, namun begitu tetap terasa sangat ritmis.

“Puisinya banyak mengkritik kiri kanan, tapi sangat ritmis. Kontemplasinya berbeda dengan penulis-penulis lain. Dinamikanya tinggi sekali. Dia adalah pemikir yang baik, kritikus sastra yang baik, penulis,” aku Genthong yang telah bersahabat dengan Dharmanto sejak 47 tahun yang lalu.

Dharmanto yang malam itu datang ditemani istrinya tampak terharu dengan acara yang digelar para sahabatnya. Meski kini harus duduk di kursi roda karena stroke yang dideritanya, semangatnya tak pernah padam.

“Acara ini menambah semangat Bapak untuk lebih cepet sembuh karena ketemu dan dukungan besar teman-teman lama. Pak Dar terharu dan ekspresinya senang sekali,” cetus Sri Muryati, sang istri.

Sri menuturkan, sejak diberitahu acara ini sebulan yang lalu, Dharmanto tampak sangat antusias dan selalu menyakannya pada istrinya.

Di samping banyak sahabatnya yang tinggal di Jogja, keterikatannya dengan kota ini sangatlah besar. Setiap dua minggu sekali, Dharmanto yang kini tinggal di Semarang selalu menyempatkan ke Jogja.

“Sejak dikasih tahu mau dibuatin acara, bapak tanya terus kapan ke Jogja? Kalau dua minggu nggak ke Jogja sudah rindu. Kebetulan kami punya rumah di Randujaya, Pakem,” pungkas perempuan berusia 69 tahun itu.

*) Wartawan Harian Jogja /25/1/2012