Romantisme Kolonial dalam Sastra

Bayu Agustari Adha
Riau Pos, 25 Mar 2012

PENGALAMAN menjajah dan terjajah meninggalkan kenangan tersendiri. Demikian juga yang dialami Belanda dan Indonesia. Sejarah kedua bangsa ini memiliki hubungan emosional tersendiri karena waktu 350 tahun tentunya menyisakan cerita yang tak sedikit. Bahkan sampai saat inipun romantisme keduanya belum juga hilang, sampai-sampai Belanda seperti tak rela atau belum mengakui Indonesia sebagai negara lain. Cerita-cerita ini tak hanya dibingkai oleh tuturan atau dokumen sejarah, namun juga banyak terukir di karya sastra.

Beberapa dekade terakhir memang muncul karya sastra post kolonial yang umumnya disuguhkan para penulis dari dunia ketiga. Ada yang coba kembali menghadirkan rekonstruksi dan bahkan dekonstruksi peristiwa untuk menghadirkan perspektif berbeda. Di Indonesia juga banyak cerita yang kembali memaparkan sejarah berkaitan dengan Belanda. Namun kebanyakan karya itu hadir dari perspektif Indonesia. Sedang dari perspektif seorang Belanda tercatat ada beberapa. Satu di antaranya adalah Hella S Haasse. Dalam karya pertamanya berbentuk roman tahun 1948, dia menyuguhkan suatu romantisme atau kerinduan akan kenangan indah masa lalu terhadap pengalaman Belanda di Indonesia dengan judul Oeroeg.

Dalam cerita roman ini sendiri terdapat beberapa representasi antara Belanda dan Indonesia atau pribumi. Itu meliputi hal-hal yang bersifat fisik, kepribadian, mindset atau pola pikir, nilai-nilai yang dianut dan cara pandang. Disini juga terlihat kegamangan dan kegagapan, serta perubahan dalam memaknai identitas masing-masing sehingga banyak melibatkan konflik batin. Terutama pada tokoh ‘’Aku’’ yang Belanda dan Oeroeg sebagai pribumi. Dalam hal fisik, dijelaskan bagaimana adanya perbedaan yang mendasar antara Belanda dan pribumi. Saat berumur enam tahun, si Aku yang Belanda memiliki tubuh yang lebih tinggi dari Oeroeg pribumi. Namun perspektif yang dihadirkan dalam roman ini malah mengungkapkan sebenarnya Belanda iri pada pribumi. Ini terlihat dari pernyataan ketika si Aku memaparkan kebenciannya pada tubuhnya yang memiliki bintik-bintik, tidak seperti pribumi yang walaupun hitam tapi mulus dan kulitnya memerah ketika terkena sinar matahari. Dalam ketangkasan tubuh pun dia memuji pribumi yang bergerak lincah saat bermain.

Dalam hal kepribadian, sang Belanda ini juga memberi pandangan lain, namun tetap saja ada pandangan tradisi Barat yang mengukuhkannya sebagai kaum civilized atau berperadaban dibanding Timur. Si Aku memuji sifat periang dan ramah yang ada pada pribumi seperti ibu si Oeroeg. Perempuan ini tak menyimpan rasa benci walau itu adalah orang asing dan selalu bisa menerima orang lain. Sedang Oeroeg sendiri, selain memiliki ketangkasan sebagai bocah, juga memiliki kepribadian tersendiri. Bila tertawa tak terlalu terbahak-bahak dan mulut terbuka seperti Belanda. Ekspresi Oeroeg juga lebih terlihat tenang. Itu terlihat saat menangkap ikan dimana Oeroeg hanya memperlihatkan senyum keberhasilan. Di lain sisi, ekspresi si Aku terlihat berlebihan dengan bersorak-sorak. Ini mengindikasikan bagaimana seorang Eropa yang ekspresif dan seorang pribumi yang pasif.

Satu lagi nilai sebagai Eropa yang diperlihatkan adalah semangat kemanusiaan sebagai kaum beradab. Ini terlihat dari keheranan si Belanda terhadap Oeroeg yang senang beradu binatang. Nilai ini dikukuhkan ketika dia berkata: ‘’Oeroeg tidak kejam.’’ Ia hanya tidak memiliki perasaan orang Barat yang sering ingin menolong dan menghargai binatang. Oeroeg juga tak suka membaca, dia baca buku kalau hanya ada gambar. Beda dengan si Aku yang gemar membaca, yang tentunya lambang intelektualitas. Dari sini terlihat ada niat untuk menguatkan bahwa derajat peradaban pribumi masih di bawah Eropa. Namun di sini si Aku sendiri masih bisa memaklumi karena memang dia rela melakukan adaptasi. Beda dengan Eropa lainnya yang egois memaksakan nilai-nilainya. Begitulah si Aku yang coba menghadirkan perspektifnya bahwa sesunguhnya Barat juga mengagumi hal-hal yang dimiliki Timur disamping juga mempertahankan beberapa nilai Barat yang ‘’berperadaban’’.

Ada seorang tokoh di roman ini bernama Gerrard Stokman. Dia salah seorang pegawai di perkebunan di Kebon Jati, Pariangan dimana ayah si Aku jadi petugas administrasi. Gerrard memiliki semangat frontier seperti halnya orang Eropa. Dia menyukai petualangan dan alam liar. Dia rela bergaul dengan pribumi tanpa merendahkan sedikitpun. Disini terlihat dia memiliki prinsip persamaan, tak ada perbedaan antara Barat dan Timur. Itu juga terlihat ketika dia bicara dengan si Aku mengenai hirarki Belanda dan pribumi. Berikut kutipan percakapan mereka: ‘’Apakah Oeroeg lebih rendah daripada kita?’’ Kukeluarkan unek-unekku.

‘’Apakah dia berbeda?’’

‘’Tidak! Gila itu,’’ kata Gerrard tenang tanpa melepaskan cangklong dari bibir. ‘’Siapa yang bilang begitu?’’

‘’Macan kumbang berbeda dari monyet,’’ kata Gerrard. ‘’Tapi apakah yang satu lebih rendah dari yang lain? Bagimu ini pertanyaan bodoh dan kau benar. Pertanyaan ini juga sama bodohnya bila menyangkut manusia. Perbedaan itu biasa. Setiap orang berbeda. Aku juga berbeda darimu. Tapi lebih tinggi atau lebih rendah karena kulit wajahmu atau karena siapa ayahmu, itu omong kosong. Oeroeg kawanmu kan? Kalau memang ia kawanmu, bagaimana bisa ia lebih rendah dibanding kau atau yang lain?’’

Beda dengan si Aku dan Gerrard, ayahnya sendiri adalah sosok konvensional yang masih mempertahankan superioritas Belanda atas pribumi. Pola pikirnya menyampaikan keunggulan Barat yang harus terus ditancapkan atas kerendahan pribumi. Ini terlihat bagaimana penekanannya pada si Aku untuk tak bermain dengan Oeroeg. ‘’Anak ini tidak pantas berada di kampung. Tidak bagus untuknya. Bahasa Belandanya tidak santun sama sekali. Kau dengar tidak? Dia akan jadi anak kampung. Mengapa kau tidak melarangnya?’’ Begitulah petikan perkataannya pada istrinya. Terlihat jelas bagaimana arogansi seorang Belanda yang tak ingin menyamakan diri dengan anak kampung pribumi. Terdapat kecemasan akan pudarnya identitas Belanda yang lebih tinggi daripada Indonesia. Apalagi dengan ucapannya seperti ini: ‘’Oeroeg kan anak inlander.’’ Label inlander seakan-akan seperti sesuatu yang rendah karena memang saat itu inlander merupakan golongan keempat setelah Belanda, Indo dan Cina. Tak hanya pada masa kanak-kanak, saat sekolah pun ayah si Aku tetap mengupayakan agar anaknya menjaga identitas Eropa. Beberapa ungkapan mengenai hal itu seperti: ‘’Kau tidak berkembang dengan cara begini, nanti kau mirip pribumi. Itu yang kucemaskan.’’ Dan ‘’Kau pasti mengerti nak. Kau orang Eropa.’’

Dalam hal nilai-nilai yang dianut pun, ayah si Aku sangat tak berkompromi. Ini terlihat pada perbedaan dimana dia tak mempercayai mistis dan pribumi yang meyakini kekuatan gaib. Di roman ini diceritakan suatu telaga gunung di Pariangan yang dihuni nenek gombel, vampir berwujud wanita tua yang mengintai anak-anak yang telah mati. Suatu hari beberapa orang Belanda datang dan minta untuk bermain di telaga gunung dan ditemani beberapa pribumi termasuk ayah Oeroeg, Deppoh. Karena hanya seorang mandor, Deppoh mengikuti saja kehendak para Belanda walau dalam pikirannya ini tindakan berbahaya. Dalam perjalanan, keacuhan Belanda mengenai hal mistis ini sangat nyata terlihat. Mereka tertawa terbahak-bahak tanpa menjaga sikap. Saat sampai di telaga pun, mereka tetap riang menjadi-jadi. Dengan menggunakan rakit ke tengah telaga, para Belanda terus bersuka ria, berenang dan berkejar-kejaran. Deppoh sempat mengingatkan, tapi tetap diacuhkan sampai akhirnya si Aku terjatuh ke telaga dan Deppoh coba mencari. Malangnya Deppoh tak muncul-muncul sedang si Aku selamat. Untuk menebus rasa bersalah, ayah si Aku memberi kesempatan untuk Oeroeg sekolah di HIS bersama si Aku di Sukabumi dengan seorang pengasuh bernama Lida. Dengan perasaan keberatan akhirnya sang ayah harus merelakan anaknya yang Belanda melanjutkan kebersamaan dengan Oeroeg yang pribumi.

Selama bersekolah, mereka makin akrab dan selalu melakukan sesuatu bersama-sama. Di sini memang terlihat bagaimana tak semua orang Belanda gengsi bergabung dengan pribumi. Bahkan si Aku dan Lida pun mengagumi Oeroeg yang memiliki catatan bagus di sekolah. Lida mampu bersifat toleran dengan menyarankan Oeroeg melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tokoh Lida mewakili karakter Eropa yang suka memberi apresiasi terhadap kehebatan seseorang walaupun sebenarnya itu dipengaruhi oleh latar belakangnya yang keibuan tapi belum menikah. Di satu sisi juga terlihat bahwa dia mengagumi sesuatu yang bersifat eksotis yang diidentikkan dengan Timur walaupun dia tak menyadari.

Selanjutnya si Aku melanjutkan sekolah ke HBS Batavia dan Oeroeg di MULO yang sama-sama berlokasi di Batavia. Walau beda sekolah mereka sering bersama. Si Aku tak tertarik untuk berteman sesama Belanda, ia lebih memilih berkunjung ke tempat Oeroeg. Selama bersekolah, dalam perspektif si Aku, ada perubahan pada diri Oeroeg. Kini Oeroeg telah memakai polo shirt dan sepatu linen, tak lagi memakai kopiah. Bahkan dengan mendecak Oeroeg berkata: ‘’Aku bukan muslim.’’ Gaya bicara pun sudah seperti Indo dan mulai merokok, hanya berbicara bahasa Belanda serta selalu bergaya dengan rambut tebal disisir rapi. Disini terlihat suatu metamorfosa identitas pada pribumi yang mengecap pendidikan. Seakan-akan Oeroeg ingin menghapus segala identitasnya sebagai pribumi. Si Aku merasakan suatu yang lain dan tak menyukai Oeroeg yang sekarang. Logikanya sebagai seorang Eropa, si Aku mungkin senang bila pribumi mulai meninggalkan identitasnya. Namun tidak demikian dengan si Aku. Dia menjadi merasa kehilangan Oeroeg yang dikenalnya. Inilah satu sudut pandang yang juga harus diperhatikan dimana ada juga Belanda yang menginginkan pribumi tetap seperti adanya karena menjadi pribumi bukanlah sesuatu yang buruk.

Perubahan Oeroeg menjadi Barat membuat si Aku kurang simpatik dengannya. Si Aku merasa kasihan kepada pribumi yang coba menjadi orang lain seakan-akan malu menjadi pribumi. Lama kelamaan apa yang dilakukan Oeroeg untuk menjadi salah satu dari bagian Barat tak berhasil. Bagaimanapun dia tetaplah pribumi dan tak bisa menyamakan diri dengan anak Belanda. Karena tak berhasil, dalam diri Oeroeg pun muncul suatu anggapan pada si Aku sebagai seorang Eropa. Perbedaan yang dulunya tak berarti apa-apa kini jadi kerikil yang menjarakkan mereka akibat kegagalan Oeroeg untuk menjadi Eropa. Si Aku yang tak mempermasalahkan status ini terimbas pada konflik yang tak diperbuatnya. Dalam hal ini terlihat bahwa si Aku tulus untuk membaur dengan Oeroeg, namun karena perilaku Oeroeg, hubungan itu harus terpisah. Romantisme yang dulu tercipta antara pribumi dan Belanda menuju jurang akhir.

Karena gagal menjadi Eropa, Oeroeg mengubah haluan dengan membenci segala hal yang berbau Belanda. Dia mulai mengkritik semua yang dilakukan pemerintah Belanda. Terlebih lagi hal ini lambat laun memunculkan kebenciannya pada si Aku sebagai orang Belanda. Si Aku semakin pusing dengan Oeroeg yang sekarang sok kritis padahal dalam mengatakan sesuatu dia banyak menggunakan kata-kata orang lain. Di sini si Aku merasa kasihan melihat Oeroeg sekarang yang terkesan hanya ikut-ikutan saat gelombang nasionalisme juga berkembang. Disinilah konflik batin yang dirasakan oleh si Aku sebagai Belanda membuncah. Seakan-akan karena dia Belanda, dia dicap sebagai musuh pribumi. Oeroeg baginya adalah segalanya, tak peduli kalau dia pribumi. Dalam keputusasaannya bahkan si Aku sampai menggugat mengapa dia dilahirkan sebagai Belanda. Si Aku makin terpojok ketika berbincang pelik dengan Oeroeg dan Lida yang juga memihak Oeroeg. Benar-benar tak terbayang oleh si Aku akan menerima pembedaan yang dilakukan Oeroeg. Terlihat jelas dalam penggalan ini: ‘’Aku tak ingin meminta pada pemerintah Belanda,’’ jawabnya dingin. ‘’Aku tidak butuh bantuan kalian,’’ kataku, sementara darah naik ke kepalaku, karena kini kata-katanya tertuju padaku.

‘’Cara berpikir Lida sama dengan kami,’’ kata Oeroeg bangga. Hal yang satu menyusul yang lainnya, lalu terjadilah debat di mana si Aku harus bersikap defensif karena masalah ini terasa aneh baginya. Si Aku tahu sedikit atau tak sama sekali tentang aliran-aliran nasionalisme, sekolah-sekolah liar, tentang proses munculnya keresahan yang terjadi di berbagai lapisan masyarakat pribumi. Yang ia tahu hanyalah Oeroeg sebagai bagian dari hidupnya. Tanpa sepatah katapun, si Aku mendengar hujan tuduhan dan celaan yang sekarang ditujukan Oeroeg dengan berapi-api, terhadap pemerintah, terhadap orang Belanda, terhadap orang kulit putih pada umumnya. Si Aku percaya bahwa banyak pernyataan mereka tidak berdasar, tidak adil, namun si Aku’ tak punya argumen untuk menerangkannya. Kekagetan makin bertambah ketika dia melihat Oeroeg menjadi orator dalam lingkungan baru yang terdiri atas para mahasiswa progresif dan agiator muda.

Si Aku akhirnya meninggalkan tanah kelahirannya, bersekolah di Eropa. Beberapa tahun kemudian setelah Jepang menyerah, si Aku membulatkan niatnya lagi untuk kembali ke Indonesia. Dia tak peduli akan suasana dan hubungan Belanda dengan pribumi setelah kemerdekaan. Dia melamar dan bekerja di Indonesia, tak peduli dengan istilah ‘’pikiran kolonial’’ yang melekat pada Belanda yang sama sekali asing baginya. Kerinduan si Aku kembali ke Indonesia karena perasaan mengakar dan menyatu pada tanah kelahirannya. Waktu yang dijalaninya di Belanda tak berarti baginya dibanding waktu-waktu di Indonesia bersama-sama Oeroeg. Si Aku datang bertepatan dengan agresi militer Belanda. Dengan mudah dia kembali ke Pariangan untuk mengurus perbaikan-perbaikan jembatan.

Nostalgia dengan Pariangan telah didapatnya. Hanya satu lagi yang dia inginkan yakni bertemu Oeroeg. Suatu saat si Aku pergi ke telaga gunung untuk mengenang sambil berharap bertemu Oeroeg. Benar, setelah itu seorang pemuda memegang revolver datang dan dengan mudah si Aku langsung mengenali Oeroeg. Tapi Oeroeg melayangkan senjata padanya sambil berkata ‘’pergi’’ beberapa kali tanpa mau mendengarkan si Aku. Sesaat setelah itu suara patrol pasukan Belanda berbunyi dan dengan sekejap Oeroeg pun menghilang. Si Aku takkan lagi menjumpai Oeroeg. Inilah petikan terakhir perasaannya: ‘’Apakah aku sudah terlambat? Apakah aku selamanya menjadi orang asing di tanah kelahiranku, di bumi yang tak pernah ingin kutinggalkan? Waktu yang akan menjawabnya.’’ Begitulah perspektif seorang Belanda mengenai Indonesia. Tak semuanya menganggap Indonesia sebagai sesuatu yang rendah, inferior dan pasif. Banyak yang memiliki kekaguman dan perasaan menyatu sehingga melahirkan romantisme tersendiri atau kerinduan akan kenangan yang indah masa kolonial.

Bayu Agustari Adha, Lahir pada 15 Augustus 1986. Bekerja sebagai tutor bahasa Inggris di Easy Speak.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2012/03/romantisme-kolonial-dalam-sastra.html