Sumpah Menulis! : Aku telah, tetap, dan akan terus menjadi pengarang! (Pramoedya Ananta Toer)

Arif Saifudin Yudistira *
http://www.lampungpost.com/

Sumpah adalah pernyataan dan hakikat pergumulan tekad, perwujudan hasrat hingga pada kebulatan niat untuk melakukan sesuatu. Sumpah adalah konsekuensi dan menuntut tanggung jawab para pengucap sumpah. Dalam kehidupan kita sumpah erat dan intim dengan persoalan religiositas manusia yang berhadapan dengan Tuhannya. Sumpah sebagai tanda perwujudan kepasrahan sekaligus tantangan manusia menjadi manusia tangguh. Dengan sumpah itu pula manusia menghilangkan dirinya dan meleburkan dirinya kepada tekad, usaha hingga keputusan Tuhan.

Mengapa penulis mesti mewujudkan dirinya atau meleburkan dirinya untuk mengucap sumpah menulis? Barangkali pertanyaan ini pun sulit dijawab bagi para penulis atau orang yang mau bertekad menjadi seorang penulis. Mengapa pula orang mesti menulis? Untuk apa menulis? Pertanyaan tersebut menemui para penjawabnya, menemui para penulis itu sendiri setelah mengalami permenungan, penghayatan, hingga refleksi yang mengental untuk mengucap sumpah menulis dan menjawab pertanyaan mengapa ia harus menulis. Penulis memiliki hak untuk menjawab dan menentukan untuk apa ia mesti menulis. Kehadiran dan keputusan seseorang untuk menulis menimbulkan risiko, tanggung jawab hingga pada gangguan atas pertanyaan tersebut. Bahkan kegelisahan yang tak henti yang menimbulkan kreativitas selanjutnya sehingga ia menghasilkan kreativitas dan tulisan berikutnya.

Luka dan Memoar

Poppy Donggo Hutagalung pernah menceritakan tentang kepenulisannya. “Kami akan mati kering bila menggantungkan hidup pada penghasilan mengarang atau menyair. Berpikir ke arah itu saja sepertinya tak berani. Untuk sebuah buku dongeng saya harus menunggu sekitar satu tahun. Jadi, bagi saya tak ada kemungkinan menggantungkan hidup pada mengarang, apalagi menyair. Walaupun demikian, dunia kepengarangan dan kepenyairan tetap menarik hati saya, sekalipun nantinya saya tidak mampu lagi mengarang” (1983). Menulis menyimpan derita, luka hingga memoar pahit bagi Poppy Donggo Hutagalung. Kisah ini adalah sepenggal kisah yang menuntut bahwa dunia kepenulisan adalah siksaan dan tragisme.

Seorang penulis novel best seller dari Solo pun mengisahkan cerita yang tidak jauh berbeda, ia harus berhadap-hadapan dengan kepentingan redaksi dan juga kepentingan penerbit. “Sangat menjengkelkan ketika tokoh, alur, hingga cerita dibabat habis oleh redaksi hanya demi satu kepentingan, yakni kepentingan pasar,” kata Sanie B. Kuncoro, penulis novel Ma Yan. Menulis mesti menanggung konsekuensi itu, meskipun terkadang banyak penulis mencoba menghindar, dan menolak dari derita dan siksaan itu.

Tak hanya menulis karya sastra, menulis esai pun membawa derita yang lebih menyakitkan. “Seorang penulis yang tak mau membaca akan mati di telan zaman.” Bandung Mawardi adalah salah satu esais yang menekuni, menggeluti, dan bersumpah dengan menulis. “Hidup saya mesti dihabiskan untuk membaca buku, menonton film, jadi bapak rumah tangga sambil menangisi hidup yang terkadang menyiksa, tetapi saya memiliki tekad akan terus menulis dan menulis, saya memutuskan untuk menulis.”

Hidup jadi taruhan dan bukti bahwa menulis mesti harus dilakoni. Sampai-sampai anaknya perlu diberi nama Abad Doa Abjad. Menulis adalah hidupnya. Ia bertaruh, bergelut untuk mewujudkan tulisan. Tulisan itulah yang menghidupi, kerja kata itu yang mengekalkan dan membawanya hidup dalam tulisan dan dihidupi dari tulisan.

Jalan Hidup

Adalah wartawan Andreas Harsono yang memiliki keyakinan kuat yang ia temukan dari gurunya, Bill Kovach, seorang jurnalis Amerika. Ia memiliki spirit yang ditularkan bagi dirinya. Menjadi wartawan tak lain adalah jalan hidup. “Dengan kualitas informasi yang jelas dan bermutu, maka kita secara tidak langsung masyarakat akan lebih berkualitas dalam hidupnya.” Tulisan dalam dunia jurnalistik pun memiliki pilihan dan jalan tersendiri. Tulisan menyimpan misi menyampaikan kebenaran. Kebenaran itulah yang sering diusung dan menjadi pertaruhan dalam dunia jurnalisme.

Eugene Meyer (1933) dalam Harian Washington Post menyatakan: “Dalam menyajikan kebenaran, surat kabar ini kalau perlu mengorbankan keuntungan materialnya, jika tindakan itu diperlukan demi kepentingan masyarakat.” Sebab itulah Andreas Harsono berani mengucap semacam sumpah: “Agama saya adalah jurnalisme” yang dituliskan dalam bukunya. Ia tak sekadar ingin menegaskan bahwa menulis yang benar, menyampaikan fakta yang benar tak jauh beda dengan menyampaikan dan menyatakan firman dan misi Tuhan. Sebab itulah ia menyatakan jurnalisme tak beda dengan persoalan religiositas atau agama.

Tulisan menjadi saksi, menjadi bukti, menjadi taruhan bahwa hidup mesti dilakoni dan dijalankan. Menulis adalah kerja tak selesai yang mengandung misi, menyimpan tekad dan membawa biografi. Sumpah menulis! Siapa berani? Dengan risiko, dengan pergulatan, dengan permenungan yang harus ditanggung. Untuk apa? Meminjam kata Pramoedya: “Menulis merupakan terjemahan dari keadaan bahwa kehadiranku masih ada gunanya bagi kehidupan.” Bagaimana dengan Anda?

Arif Saifudin Yudistira, penggiat Bilik Literasi dan Pengajian Malam Senin, Solo /11 March 2012