Ular Kuning, Meliuk Membentuk Suluk

Judul : Ular Kuning
Penulis : Dahta Gautama
Penerbit : Pijar Media, Bandar Lampung
Cetekan : I, Juli 2011
Tebal : xii + 91 halaman
Peresensi : Darojat Gustian Syafaat
http://lampungpost.com/

ADA yang mesti diabadikan dalam hidup ini karena setiap denyut nadi kehidupan kita telah mencipta beribu-ribu fragmen sejarah yang membuat kita terkenang atau terlupakan sama sekali. Mengenang hidup tak ubahnya membuka dan membaca lembar demi lembar buku, rangkaian kata per kata ibarat menyusuri peristiwa demi peristiwa dalam kehidupan, pun halaman demi halaman laksana hitungan hari, minggu, bulan hingga tahun.

Itulah hidup. Hidup bisa didokumentasikan dengan berbagai cara, salah satunya dengan puisi. Inilah yang dilakukan penyair yang telah malang melintang di dunia sastra, Dahta Gautama.

Dahta menulis puisi sejak 1993, tulisannya tersebar di berbagai media dan mengantologikan puisinya dengan titel Ular Kuning. Membaca kumpulan puisi Ular Kuningseakan mengajak kita memahami hidup dari dimensi yang berbeda dalam memaknai problematika kehidupan.

Sudut pandang saya tatkala membaca lembar demi lembar puisi-puisi yang ada dikumpulan puisi Ular Kuningmengingatkan kepada ular dari penjelmaan tongkat Nabi Musa as., yang mampu “menyihir” para penyihir di zamannya. Ketersihiran saya dalam membaca kumpulan puisi ini dengan gaya bahasanya yang lugas sedikit vulgar bak ular meliuk hingga membentuk suluk sebagai “nyanyian” kehidupan sang penulis.

Ular Kuningbagi Dahta Gautama merupakan replika hidup yang diejawantahkan ke dalam bentuk puisi. Di sini dia bebas mengekspresikan lakon kehidupan yang dialami, dirasakan, dan dicecapi dari segala kondisi. Itu sebabnya dari keseluruhan puisi yang berjumlah 80 judul ini, dia mengisahkan pengembaraan rasa yang terdedah dari nalar, sakit hati, cinta, benci, dendam dan air mata, semuanya terkemas dalam bait-bait puisi.

Membaca Ular Kuningsebenarnya dapat menguak perjalanan kepenyairan Dahta Gautama. Dia menghimpunnya selama satu dekade (2000—2010), tetapi sayang puisi-puisinya yang tercipta di tahun 1993—1999 tidak diikutsertakan dalam antologi ini. Menurut hemat saya, sebaiknya diikutsertakan meskipun hanya diwakili satu atau dua puisi saja, untuk mengetahui proses kreatif dan pengalaman pribadi yang dituangkan dalam puisi.

***

Ada yang menarik dari puisi-puisi Dahta Gautama dalam antologinya yang banyak didominasi kata lelaki, kurang lebih sembilan judul yang bertuliskan lelaki; seperti Tubuh Ranum yang Disenangi Lelaki, Lelaki yang Tengkurap di Curup Perempuan, Lelaki Sunyi, Lelaki yang Kalah, Lelaki yang Kalah (2), Sebab Aku Cuma Lelaki, Lelaki di Dalam Rumah, Lelaki yang Kehilangan Keluarga, dan Lelaki Menyeret Cinta.

Selain itu, judul-judul yang lain meskipun tidak menggunakan kata “lelaki” pada judulnya, selalu menggunakan diksi “lelaki” di dalamnya. Maka, sangat wajar mengingat Dahta Gautama adalah lelaki sejati dan barangkali Dahta Gautama dalam mengekspresikan logika bahasa dalam puisinya, berawal dari obsesi memotret dirinya dan realita yang dialaminya dalam menyuarakan ketidakberdayaan dalam mengatasi segudang problematika hidup.

Realitas-realitas itu disusun menjadi bait-bait puisi untuk menggambarkan keterwakilan bagi orang-orang pinggiran (dengan meminjam istilah Iwan Fals dalam lagunya yang berjudul Orang Pinggiran), Dahta Gautama sadar betul bahwa ekspresi kebebasan yang dimilikinya bukanlah bahasa samar. Apa yang dilihat, dirasakan, dan dialaminya adalah ekspresi bahasa itu sendiri, bukan bahasa rekayasa.

Salah satu obsesi Dahta Gautama yang perlu dicatat dalam kumpulan puisi ini adalah keingintahuannya tentang ular kuning yang merupakan binatang melata dan mengandung bisa, tapi dapat dipersonifikasikan sebagai wahana “meliukkan diri” dalam keingintahuan, tantangan, dan kegairahan dalam mengarungi kehidupan.

Seperti dalam penggalan bait dalam puisi yang berjudul Ular Kuning yang berbunyi “… untuk apa hidup tanpa tubuh? Sungguh tubuh harus diberi warna merah jika ingin ada cahaya….” Ya, manusia hidup selalu membawa tubuh, tanpa tubuh manusia tak mungkin mengalami hidup, sehingga tubuh harus selalu diberdayakan dengan nilai-nilai kemanusiaannya sesuai dengan warna yang dimiliki dari masing-masing manusia, jika itu sudah dilaksanakan tentu manusia itu akan mendapatkan sesuatu sebagai cahaya dari pantulan warna tersebut.

Membaca kumpulan puisi-puisi Ular Kuning, kita disuguhkan dengan filsafat-filsafat hidup yang gamblang, bahwa hidup selain mengatasi setiap problematikanya, baik dengan kemenangan dan kekalahannya, segi baik dan buruknya, hidup juga harus diabadikan menjadi catatan sejarah kehidupan dalam bait-bait puisi seperti dilakukan Dahta Gautama. Selagi kita masih diberi hidup bacalah Ular Kuning, sungguh suguhan yang sangat bergizi untuk kita renungkan.

Darojat Gustian Syafaat, Alumnus Pondok Pesantren Al’amin, Madura, kini tinggal di Lampung /13 August 2011