Bukan Perempuan Biasa

Dedy Hidayatulah
http://www.suarakarya-online.com/

Usai makam malam bersama Yos, Duma langsung ke kamar hotelnya. Tawaran Yos menghabiskan malam di sebuah kafe tak membuatnya tertarik. Setelah menang tender siang tadi, Duma letih. Ia ingin segera berada di kamarnya.

Sebagai pengusaha yang kerap ke luar negeri, Duma menganggap tiap kamar hotel adalah rumahnya. Setiap negeri yang disinggahi seolah jadi ngaranya. Namun, sebagai orang Indonesia hatnya pasti terenyuh jika melihat berita televisi tentang kemiskinan yang semakin banyak jumlahnya. Kenyataan itu membuatnya mual, ingin muntah, dan pusing.

Kalau sudah begitu, dia buru-buru memindahkan saluran televisinya. Progran siaran kehidupan satwa dan keindahan alam lebih menghiburnya. Kemiskinan Indonesia mengingatkan dirinya akan masa lalunya yang kelam.

Duma adalah produk kemiskinan Indonesia. Sejaklahir, dia telah dibuang ibunya di pintu rumah orang. Lantas, menurut cerita,dia dipelihara oleh janda pemabuk dan penjudi. Walau kehidupannya kacau, Ratmi, janda itu, tak tega melihat bayi tergeletak di depan matanya. Mungkin ketika itu ia sedang sehat lahir-batin, yang membuat hatinya tergerak memelihara Duma. Karena kulitnya putih dan alisnya tebal, dia dipanggil Duma sampai sekarang.

Ketika sudah berhasil menjadi pengusaha, Duma pernah berusaha menelusuri kisah hidupnya. Tetapi hasilnya nol besar. Tak ada yang bisa menjelaskan siapa dirinya. Orang di kampung itu tak ada yang tahu sama sekali. Janda yang pernah memeliharanya juga sudah meninggal. Sejak itu Duma tak berminat mencari silsilah keluarganya. Yang diingatnya, si Mbok Sarjem pernah mengatakan, “Jangan Kautiru Ibumu. Dia miskin. Dia pacaran dengan laki-laki yang bertanggungjawab. Ketika ibumu bunting, dia ditinggalkan begitu saja. Karena miskin, ibumu tak bisa merawatmu. Makanya kamu jangan pernah miskin.” Nasihat itu tersimpan di kepalanya.
“Lama Mbak mengenalnya?” tanya Duma lagi.

“Tidak. yang aku tahu dia tinggal di lingkungan ini sekitar 3 bulan. Kulitnya putih, mungil dan sakit-sakitan,” ujarnya.
“Apa kerjanya?”

“Entah.Kami jarang bicara. Hanya memang dia pernah bilang, kalau lahir anaknya, diaingin menyerahkannya kepadaku,” ujar Mbok Sarjem.
“Kenapa Mbok Sarjem mau ngambil aku?”
“Kasihan aja,” katanya tanpa ekspresi.

Karena Mbok Sarjem telah memberinya makan, kerapkali Duma mencuci pakaiannya, bahkan memasak untuknya. Pekerjaan sebagai tukang pijit dan dukun beranak cukup menyita waktunya. Ketika Mbok Sarjen meninggal, usia Duma 15 tahun. Sejak itulah, Duma bekerja apa saja untuk hidup. Karena dukungan yayasan peduli masyarakat miskin, Duma membereskan kuliahnya di ilmu kimia. Yayasan peduli masyarakat miskin itu juga yang membantu sehingga Duma bisa bekerja di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang penyulingan air dan sanitasi. Duma pun tinggal di mess.Duma bekerja di sana selama 8 tahun. Sampai tiba keinginannya jadi pengusaha. Sambil bekerja, dia mulai menjual produk sanitasi air milik kantornya dan ternyata berhasil.

Duma pun memutuskan keluar dari kantornya dan ingin mandiri. Dia yakin, dengan berbisnis, seseorang bisa kaya. Dengan segala resiko, dia memulai bisnisnya dibidang air bersih dan sanitasinya. Dan dia berhasil.

Kemiskinan membawanya menjadi orang sekaya ini. Itu sebabnya dia prihatin dengan kemiskian Indonesia. Empat puluh tahun lalu, dia lahir sebagai produk kemiskinan yang membuatnya menderita sepanjang hidup, bahkan membuatnya tak punya keluarga. Mata Duma pun basah. Seluruh tubuh Duma bergidik membayangkan masa lalunya. Getirnya menjadi masyarakat marginal. Dia tinggal di pinggir kali, di kampung kumuh yang selalu kebanjiran setiap musim hujan tiba. Dia mandi, mencuci dan minum air kotor disitu. Dia rindu pada air yang bersih.

Bosan melihat televisi, Duma mematikannya. Diteguknya segelas air mineral yang tersedia di meja kamarnya. ibukanya notebooknya. Telah beberapa hari dia tak menyentuh komputer tangan jinjing itu. Dia sangat sibuk dengan urusan tender bersama grup swasta Malaysia. Kesuksesannya sebagai pengusaha membuatnya tak punya banyak waktu istirahat. Perkembangan bisnisnya yang meluas ke beberapa negara menyebabkannya selalu ke Singapura, India, China dan Kuala Lumpur. Duma pun bercita-cita menjadi pemain global.

Dia bangkit dari sofanya, menyibak gorden putih. Lalu pandangannya jauh ke luar ruangan. Tak berapa lama dipejamkannya matanya. Hatinya terasa lega. Pergulatannya untuk memenangi proyek besar telah didapatkanya. Berbuan-bulan ia melobbi dan meyakinkan para pengambil keputusan. Keuletannya membuahkan hasil. Proyek sanitasi dan water treatment dari pemerintah India itu kini berada di tangannya. Sejumlah bank juga berlomba menjadi mitra kerjanya.

Keberhasilan dalam bekerja selalu membuat Duma puas. Bahkan dia seperti kecanduan rasa ecstasy. Baginya tak ada kenikmatan lagi selain pencapaian prestasi yang tak henti. Duma pun meraih popularitas sebagai pengusaha muda yang cantik dan mapan, kesehatan prima dan pergaulan yang menyenangkan. Setahun dua kali berlibur ke beberapa negara untuk menambah wawasannya, sekaligus menjajagi kemungkinan peluang bisnis.

“Apa kamu tidak pernah merasa cape atau bosan bergelut dengan bisnis terus?” tanya Yos, seorang mitra bisnisnya yang berkebangsaan Malaysia.

“Letih?Bosan? Tak ada dalam kamusku. Aku menikmati pekerjaanku. Bisnis membuat hidupku terus bergairah,” jawabnya singkat. Sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya. Dia adalah perempuan energetik yang tak pernah kehilangan semangat.

“Apa kamu tak pernah kesepian?” lontar Yos spontan. Namun segera dia menyesali kenapa harus mengeluarkan pernyataan bodoh itu. Bertahun-tahun mereka bergaul,baru kali inilah Yos masuk ke wilayah pribadi.

“Come on, Yos, ke mana arah pertanyaanmu ini? Sebagai manusia biasa, tentu aku punya rasa sepi dan rasa-rasa lainnya. Normal kan?” Duma balik bertanya. Kelihatan dia tak tersinggung dengan pertanyaan Yos.

“Maafkan aku Duma. Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Aku janji tak akan menyentuh masalah pribadi lagi. OK?” kata Yos salah tingkah.

“No problemlah,” jawab Duma santai. Yos sungguh tak percaya perempuan ini bisa begitu rileks. Padahal di usianya yang berkepala empat itu, tak ada suami yang mendampinginya. Juga tak ada gelak tawa anak-anak. Pacar pun tak punya.

Duma bukan perempuan biasa. Selama bergaul dengannya, Yos tak banyak tahu tentang dirinya. Bahkan tak pernah sepotong pun cerita tentang keluarganya. Duma adalah sosok yang terbuka sekaligus tertutup. Sepintas Yos pernah membaca sejarah hidupnya di majalah keluarga terbitan Kuala Lumpur. Hati Yos ikut sakit membaca kisah Duma yang menyedihkan.

Yos mengenalnya 5 tahun lalu, saat Duma meluaskan usahanya ke Singapura. Negeri Singa itu menjadi batu loncatan Duma mengembangkan bisnisnya ke negara tetangga. Banyak daerah kumuh di negara lain airnya perlu dimurnikan.Sanitasi air bersih dibutuhkan sekali.

Perusahaan water treatment dan sanitasi milik Duma berbasis di Sukabumi berpartner dengan Yos, sebagai sole distributor produk-produknya di Singapura. Setelah berhasil, Yos meluaskan ekspansinya ke daerah sekitar.

Keakraban mereka semakin terjalin karena sering bertemu.Hanya bisnis dan bisnis yang jadi topik bincangan mereka. Mereka pun menikmatinya. Duma menjadi pengusaha sukses. Namun ia tetap menjadi perempuan yang misterius. Padahal Yos ingin sekali dekat. Dia ingin Duma lebih dari sekadar mitra bisnis. Yos jatuh cinta kepadanya. Yos mengaguminya, tapi Duma tak peduli.

“Bolehkah sekali-sekali aku berkunjung ke tempatmu?” tana Yos dengan penuh harap. Yos sendiri kendati usianya sudah 45 tetapi masih perjaka.

“Ada gunanyakah?” Bukankah kita sudah sering jumpa di cafe hotel atau restoran?” jawab Duma, kembali menepisnya. Berkali-kali Yos mengajaknya bertemu dalam suasana yang lebih pribadi, tetapi taj pernah berhasil.

“Please, kali ini jangan tolak aku,” bujuk Yos. “Tidak, aku tidak menolak. Namun bukankah urusan bisnis kita sudah selesai? Maaf aku tak biasa akrab dengan siapapun,” jawab Duma, lirih. Itulah isi hatinya yang paling jujur. Kehidupannya yang datar, kering dan tanpa kasih sayang membuatnya menjadi orang yang tertutup dan menjaga jarak.

“Beri aku kesempatan. Trust me. Aku tak akan menyakitimu. Please, bolehkah aku minum kopi di tempatmu?” bujuk Yos kembali.

Lama Duma terdiam di tempatnya.Bingung harus menjawab apa. Dia menyadari bahwa selalu ada penolakan dalam dirinya untu sebuah “kedekatan”. Sampai saat ini, ia masih tidak bisa membuka diri untuk kehadiran laki-laki dalam hatinya. Setelah bergaul dengan Yos selama bertahun-tahun, memang dia mulai merasakan kenyamanan itu. Kalau lama tak bertemu dengan Yos, dia merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.
“Duma, answer me, please,” kata Yos lagi melihat perempuan di depannya hanya melamun.

“Aku tak yakin dengan perasaanku,” jawab Duma. Dengan kecantikan yang dimilikinya, tak ada yang menyangka bahwa dia berasal dari daerah kumuh di Jakarta.

“Apakah harus selalu pasti, Duma? Sekali-sekali percayalah dirimu pada nuranimu. Pada hatimu. Hidup ini tidak hanya kalkulasi bisnis, Duma. Banyak hal lain yang lebih indah,” Yos mengingatkannya. Perempuan ini hanya menunduk. Mungkin dia meresapi kata-kata Yos?

Yos seorang pebisnis, tapi dia juga seniman. Dia seorang pelukis kaligrafi China yang andal. Perasaan-perasaannya yang halus bisa terlihat dari goresan penanya, yang berisi syair China yang puitis. Kekayaan batinnya bisa jadi menyentuh Duma yang kering.

Duma belum berani jujur. Padahal dia gelisah kalau lama tak bertemu dengan Yos. Tak aneh, selalu ada keinginannya ke Singapura. Tentu bisnis menjadi motif yang tepat. Berada di Singapura berarti dia akan bertemu dengan Yos.
“Please, Duma, mana suaramu?” bujuk Yos lagi.

“OK, OK, OK, fine. Apa yang harus aku lakukan? Aku tak tahu,” akhirnya Duma menyerah pada hatinya. Dia telah berani menjadi orang jujur.

“Kamu tak perlu apa-apa. Percayakan dirimu padaku. Aku hanya ingin mengajakmu melihat pertunjukan musik klasik, dan kemudian kita kita bisa minum secangir kopi di tempatmu. And no business talk. Apakah itu sangat memberatkanmu?” tanya Yos terharu melihat keluguan Duma.

“OK, OK, terserah kamulah. Aku ikut, kamu tuan rumah di sini,” akhirnya Duma setuju diajak pergi mitra bisnisnya.

Dengan sebongkah kebahagiaan, malam itu Yos berhasil mengajak gadis itu keluar dari kamarnya. Setelah menikmati konser, kemudian keduanya berjalan kaki sambil menikmati indahnya malam. Kalau letih menyapa, mereka duduk duduk di taman kota. “bahagiakah kamu Duma malam ini? tanya Yos sambil memandangnya mesra.
“Iya, ya fine. Terima kasih telah memperkenalkanku akan keindahan ini,” katanya bergtar.
“Maukah kamu kalau aku mengajakmu di hari-hari yang lain?” Yos melakukan penawaran lagi.

Duma menganggukkan kepalanya. Tanpa sadar, Yos memegang erat jemarinya.Dia berjanji, secara perlahan akan membawa Duma ke dalam keluarga besarnya supaya perempuan ini tahu betapa indahnya mimiliki keluarga. ***

* Singapura, Juni 2011