Hasif Amini
Kompas, 03 Sep 2006

Haiku adalah meditasi sekilas tentang kesementaraan. Haiku adalah momen leburnya batas antara diri dan alam. Haiku adalah kesahajaan bahasa di hadapan keajaiban bernama dunia. Haiku adalah perhatian spontan terhadap sejumlah detail tak terduga dari alam semesta. Haiku adalah … semua itu dan mungkin bukan itu semua.

Rumusan tentang haiku, dan rumus penulisannya (tiga larik, 5-7-5 atau 17 suku kata, dan seterusnya), barangkali sekadar langkah pertama memasuki khazanah itu. Atau, jika bukan pertama, setidaknya sekadar salah satu langkah di antara langkah-langkah lain. Langkah berikutnya (atau lainnya) adalah menghayati citraan dan suasana yang terbit dari saranan kata-kata yang tertera. Langkah berikutnya (atau lainnya) lagi adalah mengalami dunia, setiap momen yang mengalir bersama detak hidup, secara langsung dan begitu saja. Seakan-akan kita berdiri di luar bahasa, di luar segenap konsep atau pemahaman yang dibentuk oleh bahasa, dan mengalami dunia tanpa perantaraan apa pun.

Bagi sebagian orang (yang percaya akan keserbahadiran bahasa dalam kesadaran maupun ketaksadaran manusia) itu adalah hal mustahil. Sedangkan bagi mereka yang menganggap keluasan jiwa manusia tak seluruhnya terduduki oleh bahasa, tentu itu menjadi mungkin. Bagi mereka yang mengamalkan haikai no michi (jalan hidup haiku), itu adalah keniscayaan biasa.

Chiyo-ni (1703-1775) adalah seorang perempuan penyair yang menempuh jalan demikian. Ia menjadi salah satu ahli waris terbesar model perpuisian Matsuo Basho (1644-1694) di masa hidupnya. Di pertengahan Zaman Edo itu pengaruh Basho, sang haijin (penyair haiku) kelana terkemuka, memang telah membekas di sejumlah wilayah yang dilaluinya. Termasuk di kota kecil Matto, tempat kelahiran Chiyo-ni, yang terletak di antara Pegunungan Putih (Shirayama/Hakusan) dan Laut Jepang. Basho menekankan pentingnya tentang puisi (dan hidup) berdasarkan kesederhanaan, kehalusan, keanggunan, kesahajaan jiwa, kejernihan, penjarakan, penyatuan dengan alam.

Ia mulai menulis sejak belia. Konon puisi pertamanya lahir ketika ia berusia 6 tahun. Sehabis musim panen, ketika ia bermain melempar-lemparkan gabah ke arus sungai kecil di kebun rumahnya, ia tiba-tiba takjub: di tamanku/ bunga bintang berkembang/ cepat saksikan… Di masa remaja, ketika bakatnya yang istimewa mulai menjadi buah bibir para haijin, salah satu di antara mereka, seorang murid Basho, Shiko Kagami, bertandang ke rumah Chiyo dan memintanya menulis sebuah haiku tentang bunga bakung. Chiyo, mungkin tak lagi takjub tapi kian hening dan bening, menulis: musim semi/ tertinggal/ dalam bunga bakung.

Chiyo, artinya “seribu tahun”, adalah nama yang disematkan kepadanya saat lahir. Setelah dewasa ia biasa disapa Chiyo-jo; dan belakangan hari ketika ia mencukur habis rambutnya dan memutuskan menjadi seorang biarawati Buddhis sekte Jodo-Shinshu (Tanah Murni), di usia 52, barulah namanya menjadi Chiyo-ni. Menjelang akhir hayatnya, dengan tubuh yang ringkih oleh sakit, di antara beberapa teman perempuan sesama haijin, ia meninggalkan larik-larik ini: air bening dingin/ kunang-kunang terbang hilang/ senyap.

Dijumput dari: http://hasifamini.blogspot.com/2008/09/chiyo-ni.html

Categories: Esai