Gie: Menguji Keterbukaan

Seno Gumira Ajidarma
Tempo, 11 Juli 2005

Ini bukan sebuah kritik film. Ini catatan tentang sebuah film yang sudah tidak relevan diperbincangkan hanya sebagai film saja: sangatlah penting untuk mendengar, mempertimbangkan, dan menanggapi apa yang disampaikan film ini secara produktif sebagai wacana kontemporer. Tepatnya: jangan menyensornya, jangan melihatnya sepotong-sepotong, dan jangan keburu menghakimi sebelum berdebat. Memang, Gie, yang disutradarai Riri Riza berdasarkan buku harian Soe Hok Gie (1947-1969), aktivis Angkatan ’66, bermain dalam latar masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru, suatu titik kritis dalam sejarah Indonesia. Tetapi, alih-alih memeriksanya sebagai “rekonstruksi sejarah”, bagi saya lebih menarik untuk melihatnya sebagai artikulasi generasi masa kini atas peralihan tersebut, justru dalam konteks sosial historis peralihan dari masa Orde Baru ke masa reformasi, sejak Mei 1998 sampai sekarang ini. Benarkah kita ingin belajar dari sejarah? Kalau ya, bisakah kita berdebat habis tentang bagaimana “suara Soe Hok Gie” tersampaikan kepada kita sebagai “suara Riri”, misalnya, tapi tidak melakukan “politik kekanak-kanakan” seperti yang tertampilkan dalam film itu?

Kalau saya sebut politik kekanak-kanakan, maka hal itu sungguh jauh dari citra kemurnian kanak-kanak, karena dalam politik kekanak-kanakan yang tidak sependapat sebaiknya dibunuh saja. Teror sporadis yang kita kenal sekarang saja sudah memuakkan, tetapi dalam Gie kita saksikan lebih memuakkan lagi yang disebut teror-massa. Tadinya istilah ini dikenal sebagai senjata taktis Lenin demi tujuan-tujuan partai. Tetapi, setelah PKI tak lagi eksis, apakah teror-massa tidak lantas dimanfaatkan oleh (yang mengaku) musuh-musuh komunis itu? Kekanak-kanakan artinya belum dewasa, dan itulah cara-cara berpolitik yang diprihatinkan Soe Hok Gie: bagaimana mungkin senat mahasiswa menjadi ajang organisasi masyarakat yang terhubungkan dengan partai-partai politik di luar kampus? Jelas, Soe Hok Gie, dalam buku Catatan Harian Seorang Demonstran yang terbit tahun 1983 maupun dalam film Gie produksi 2005, adalah seorang idealis, nyaris naif, dan meski dalam pergaulan dengan lawan jenis lumayan kaku, secara ideologis dia seorang romantik: baginya, bermimpi tentang indahnya dunia yang ideal adalah sahih. Tak ada cerita baginya untuk bersikap “realistis” jika hanya berarti membiarkan kebobrokan berlangsung.

Dengan makna ideologis seperti itu, meski kita berada dalam era yang disebut “reformasi”, film ini sebagai wacana politik masih tetap melawan arus karena, selain kebobrokan ternyata masih berulang, perjuangan melawan kekerdilan dan kesempitan wawasan memang belum perlu dihentikan. Bagi saya, kehadiran Gie adalah ujian bagi keterbukaan: Bisakah kita melihat seorang keturunan etnik Tionghoa sebagai hero? Bisakah kita akui dengan “tahu malu” bahwa pembantaian massal tahun 1965-1966 tidak dapat dibenarkan? Bisakah kita terima bahwa, bagi aktivis seperti Gie, organisasi masyarakat berlatar agama sama sekali tidak menarik? Bisakah kita maklumi bahwa pandangan Gie terhadap peranan militer dalam politik sangatlah kritis? Menurut saya, juga “sudah bukan zamannya” lagi kita mempersoalkan lambang palu arit maupun adegan tentara menembak, yang jelas tidak ke atas, di dalam film tersebut. Itulah sebabnya Gie menguji keterbukaan kita. Apakah kita mau menjadi dewasa sebagai bangsa, atau tenggelam dalam kesempitan pandangan penuh kepentingan?

Siapa pun yang pernah membaca tulisan Soe Hok Gie akan menangkap nuansa kegelisahan dalam nada perbincangannya, kegelisahan seorang muda yang berpikir dan menggugat menghadapi situasi politik dalam zamannya yang carut-marut. Bisakah “kita orang-orang tua” manggut-manggut dan mafhum, menginsafi bahwa “kita dulu juga begitu”, ketika nuansa gugatan itu masih akan terbaca dalam film ini?

Bahkan juga bagi saya, Gie adalah “film anak muda”. Tentang anak muda, oleh anak muda, dan untuk anak muda. Perhatikan pula bahwa pemeran Soe Hok Gie adalah Nicholas Saputra, yang nyaris merupakan ikon “anak muda” itu sendiri. Bahwa “anak muda” tersebut dalam film ini tidak pergi ke mal (karena belum ada J), lebih suka mendaki gunung daripada berpesta, dan hampir terus-menerus berpikir, membaca buku, berdiskusi, serta akhirnya menggalang pergerakan, bukankah membuat film ini (dengan sudut pandang “Pancasila” sekalipun) boleh disebut “positif”?

Sudah jelas bahwa apa yang disaksikan dan dialami Riri Riza maupun seluruh pembuat film ini tidak sama dengan yang disaksikan dan dialami Soe Hok Gie—tetapi, ketimbang berdebat tentang “akurasi”, lebih baik menyadari bahwa penonton adalah sama sahihnya sebagai pemberi makna. Artikulasi dan aksentuasi atas “kejadian sebenarnya” bukanlah monopoli penulis (sejarah) dan sutradara, kita semua terlibat dalam konstruksi wacana. Saya kira kita harus menghargai mereka yang telah memberikan film lain tentang masa 1965-1966 selain Pengkhianatan G30S.

Dijumput dari: http://www.facebook.com/notes/catatan-fesbuk/seno-gumira-ajidarma-gie-menguji-keterbukaan/396167433745461