’’Gila Buku’’ dan Buku yang Digilai

Riza Multazam Luthfy *
Riau Pos, 22 April 2012

‘’Gila’’

Dalam kehidupan ini, tak selamanya gila identik dengan keburukan atau penyakit yang layak dimusnahkan. Gila —dalam kadar tertentu— terkadang sangat dihajatkan dan perlu dirawat-tularkan pada sesama. Kepada mereka yang menyebut dirinya manusia. Murid asuhan Ibn al-Aynzarbi dalam ilmu kimia, Abu al-Muzhaffar (Bulmuzaffar) Nashr ibn Mahmud ibn al-Mu’arrif adalah ‘gila buku’. Seorang dokter-filsuf, ahli kaligrafi, dan penggubah syair, yang lantas menjelma penulis produktif dalam bidangnya. Selaku kolektor yang menanam antusias pada buku, ia memiliki sebiji perpustakaan yang menampung ribuan jilid buku dan dipercaya semuanya berhasil dilahap habis. Pada segenap buku itu, ia menyumbang catatan ringan mengenai materi yang diurai.

Selingkar usia 16 tahun, Prabhakaran telah menjadi remaja yang berani membagul senjata. Fondasi Macan Tamil ia tancapkan pada tahun 1972. Awalnya, organisasi ini adalah kelompok penekan dan pengorganisir aksi-aksi protes terhadap marjinalisasi warga Tamil di Srilanka, usai merdeka dari Inggris. Akan tetapi, perlahan, Macan Tamil Baru memanfaatkan senjata dalam melancarkan perlawanan. Prabhakaran kecil digambarkan sebagai murid pemalu yang mengantongi perlakuan diskriminatif, sehingga jiwanya terus memberontak. Kemarahannya menangkap basah diskriminasi terhadap warga Tamil oleh warga mayoritas Srilanka, Sinhala, semakin menggunung. Lari dari sekolah, ia berteman dekat dengan buku. Dari ke-gilaannya pada buku, ia memungut sekarung nilai kehidupan Aleksander Agung dan Napoleon. (Rakaryan Sukarjaputra, 2010: 61).

‘Membaca’ merupakan hobi utama Gus Dur. Guna mengamalkan hobi itu, ia memanfaatkan perpustakaan pribadi sang ayah. Ia aktif bertandang ke perpustakaan umum di Jakarta. Buku-buku serius –dari filsafat, cerita silat, sejarah, hingga sastra– ia akrabi pada usia 10 tahun. Di antara buku yang pernah diserap yaitu Das Kapital susunan Karl Marx, buku filsafat Plato, Romantisme Revolusioner karangan Lenin Vladimir Ilych dan karangan Will Durrant bertitel The Story of Civillization. Juga karya Ernest Hemingway, John Steinbeck, William Bochner, William Faulkner, Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y Gasset, serta penulis-penulis Rusia, semisal Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Saat berstatus mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir, Gus Dur menguras waktu di salah satu perpustakaan terlengkap di Kairo, termasuk American University Library. Begitu juga pada tahun 1966 ketika pindah ke Irak. Saking gila-nya pada buku, ia mengunyah hampir semua karya sarjana orientalis Barat yang teronggok di universitas. (Hamid, 2010: 27-28).

Pereka cipta Facebook, Mark Zuckerberg (26), adalah sosok yang susah bergaul dalam dunia nyata. Buku, merupakan tempat pelarian paling asyik baginya. Dari pengalaman pribadi yang dipungut dari ‘dunia’-nya itu, lahirlah sebuah situs jejaring sosial yang memungkinkan seorang ‘gila buku’ sepertinya mudah berbaur dengan teman yang disukai. Ternyata keinginan itu turut meracuni sekalian mahasiswa di Harvard. Situs ini berkembang kilat, menjangkau hampir seluruh kampus di AS hanya dalam hitungan hari. Zuckerberg merupakan mahasiswa penyuka buku yang menjelma miliuner dan bersarang di Silicon Valley, kantor perusahaan-perusahaan sekelas Microsoft, Google, serta Oracle.

‘’Yang Digilai’’

Buku serial Rich Dad, Poor Dad, menawarkan pendekatan berbeda dalam rangka mengelola keuangan dan membangun kekayaan. Penulisnya, Robert Kiyosaki, menerbitkan sendiri seri pertama dan tak mampu menjajakannya, sehingga menumpuk di garasi. Seorang teman menawarkan agar memajangnya di tempat pencucian mobinya. Sang teman berpikir, para pelanggan mungkin akan melihat dan membelinya sambil melunasi ongkos cuci mobil. Akhirnya, Kiyosaki menadah usulan trial and error itu dan hanya beberapa saja yang laku. Suatu hari, petinggi di perusahaan pemasaran jaringan secara kebetulan mengusir debu mobilnya di tempat itu. Ia memetik satu buku Kiyosaki dan langsung jatuh hati. Semua orang di perusahaan ia sarankan membelinya. Ia juga memborongnya dalam jumlah besar. Buku Kiyosaki benar-benar diidolakan dan mengantarkannya tampil di acara Oprah Winfrey. Rich Dad, Poor Dad diterjemahkan ke dalam 46 bahasa dan tersedia di 97 negara. Terjual lebih dari 26.000.000 kopi; mendominasi daftar buku terlaku di Asia, Australia, Amerika Selatan, Meksiko, dan Eropa. (Scheinfeld, The 11th Element: The Key to Unlocking Your Master, terj. Heryadi, 2005: 166-167).

Think and Grow Rich, karya fundamental penulis buku sukses legendaris Napoleon Hill (1883-1970) termasuk buku yang disanjung-sanjung. Buku yang pertama kali ditebarkan tahun 1937 itu terlego lebih dari 15.000.000 eksemplar di serata dunia dan jadi tolok ukur gagasan motivasional selama tiga dasawarsa terakhir. Dalam edisi revisinya, Arthur R Pell, PhD –pakar penerapan filosofi Hill– menyelipkan berbagai anekdot mengenai jutawan dan miliarder kontemporer, semisal Bill Gates, Mary Kay Ash, Dave Thomas, dan Sir John Templeton. Novel Vladimir Nabokov, Lolita, adalah novel indah tiada duanya. Berwarta tentang pengakuan Humbert, profesor setengah baya yang tertarik pada Dolores Haze – Lolita. Demi menjalin hubungan dengan kekasih, Humbert rela menikahi ibu gadis itu. Setelah sang ibu tewas dalam kecelakaan, Humbert mengajak anak tirinya berkelana, mengecap nikmatnya cinta ilegal. Meski sempat dilarang beredar, Lolita didaulat sebagai salah satu novel terbaik sepanjang masa. Sedemikian populernya, hingga beberapa kali difilmkan dan terus diperbincangkan oleh kritikus serta penikmat sastra.

Serial Harry Potter I-VII berulang kali memecahkan rekor sebagai buku terlaris sepanjang masa. Tercatat menjadi best seller, bahkan sebelum bukunya selesai ditulis, saking rimbunnya pembaca yang memesan lebih dulu. Kehadirannya sanggup menolong industri perbukuan yang sedang kurang bergairah serta menyelamatkan krisis penerbit Scholastic dan kios buku maya Amazon.com. Berkat karyanya itu, JK Rowling (46) jadi wanita Inggris dengan kekayaan melampaui Ratu Elizabeth II. Harry Potter and the Deathly Hallows adalah buku ketujuh dan terakhir dari seri novel Harry Potter, diluncurkan secara serentak di 93 negara, pada 21 Juli 2007. Di Indonesia, Laskar Pelangi meraup animo luar biasa dari masyarakat. Buah pena peraih beasiswa di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom ini dialihbahasakan ke dalam 26 bahasa. Di Korea Selatan, novel Andrea Hirata ini disambut hangat penggemar novel dan dijadikan para dosen sastra sebagai referensi pelajaran sastra. Dalam upaya mengirim manusia ke peradaban lebih mulia, si gila buku dan buku yang digilai memerankan peran yang sama-sama kentara. Sebab itu, seyogianya mereka –manusia yang beradab– senantiasa menaruh hormat bagi yang pertama serta menaruh minat pada yang kedua.

*) Riza Multazam Luthfy, Menulis puisi, cerpen dan esai. Karya-karyanya bertebaran di berbagai media. Kini sedang melanjutkan studi di magister hukum UII Jogjakarta.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2012/04/gila-buku-dan-buku-yang-digilai.html