Gus Mus: Mari Melawan Orientasi Keduniawian (Personality Interview)

Khoirul Anam *
http://www.kompasiana.com/www.chairilanam.blogspot.com

Di luar kegiatan rutin sebagai seorang ulama, Anda juga seorang budayawan, penulis, novelis, pelukis, puitis, dan masih banyak lagi. Apa pertimbangan Kiai saat pertama kali memasuki kawasan budayawan?

Ya, nggak pertimbangan apa-apa, pertimbangan mengamalkan ilmu. Banyak pesantren sekarang itu yang merancaukan antara mengamalkan ilmu, memanfaatkan ilmu, dengan nasrul ilmi. Kalau Anda belajar nahwu di pondok kemudian pulang mengajar nahwu, itu namanya nasrul ilmi. Dan kebanyakan mereka menganggap bahwa itu mengamalkan ilmu. Itu bukan mengamalkan ilmu, paling-paling memanfaatkan ilmu untuk nasrul ilmi. Kalau mengamalkan ilmu, nahwu itu untuk membaca, nahwu itu untuk berbicara.

Di pesantren itu diajarkan ilmu balaghah (sastra-red), tapi sangat minim memanfaatkan ilmu itu. Santri-santri mungkin memanfaatkan ilmu balaghah hanya untuk mengapresiasi dan mengetahui isi keindahan Alquran. Seharusnya tidak berhenti sebatas itu, tapi juga untuk memproduksi. Padahal, tradisinya ulama-ulama kita dahulu memakai balaghah untuk membuat syair, dibuat mengarang. Maka, hampir semua ulama-ulama dahulu punya karangan. Karena mereka punya alat, ilmu itu kan alat. Mereka bisa balaghah, Arudh, mereka mempelajari itu sehingga mereka bisa memproduksi sendiri karya-karya sastra. KH Hasyim Asy’ari itu bahkan bisa bersyair sampai irtijalan, belum ada penyair Indonesia yang bersyair sampai irtijalan. Jadi, beliau itu berbicara langsung diperkuat dengan syair bikinannya sendiri.

Sejak di Lirboyo, sebetulnya saya sudah suka dengan sastra. Saya sudah suka baca cerpen dan puisi, saya juga sudah kenal Pramoedya Ananta Toer. Nah, pada waktu Gus Dur jadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1983-1985), mau mengadakan malam solidaritas Palestina. Syair-syair, puisi-puisi Timur Tengah tentang Palestina punya Ahmad Sauqi, Nizar Rabbani, Darwis, dan lain sebagainya, diterjemahkan oleh penyair-penyair Indonesia untuk ditampilkan pada malam itu.

Sebelum acara terselenggara, pada waktu rapat ada yang usul kalau puisi tersebut akan lebih baik kalau ada yang membacakan teks aslinya. Dicarilah orang yang bisa membaca puisi. Syaratnya, orang ini tidak hanya bisa bahasa Arab, namun juga minimal mengerti tentang puisi. Gus Dur yang jadi ketuanya bilang, “Sudah itu serahkan pada saya, nanti saya yang mencari orangnya.”

Gus Dur menyurati saya, kalau kamu nganggur, hari tanggal sekian ke Jakarta, ada job. Saya berangkat ke Jakarta, karena memang ada kesepakatan sejak pulang dari Mesir harus ada perjumpaan-perjumpaan rutin. Saya kira juga begitu. Ternyata begitu datang, saya dibawa ke tempat itu. Di sana ikut rapat. Saya diperkenalkan Gus Dur, “Ini kiai pesantren, Insya Allah bisa membaca dan mengerti tentang sastra.” Sejak saat itu, setiap ada acara selalu diundang. Jadi mubaligh baca puisi.

Banyak yang bertanya, sebenarnya Gus Mus itu belajar dari mana sehingga dapat menguasai tentang sastra dan sebagainya?

Wah, itu kawan-kawan seniman juga banyak bertanya. Apa di pondok itu juga diajarkan sastra? Oh, iya dong! Gimana sampean itu? Bukan hanya diajarkan, setiap malam Jumat itu ada pembacaan puisi, apa al- Barzanji, al-Busiri, dan sebagainya. Mereka akrab sekali dengan sastra. Sastranya melebihi di Indonesia. Di sana ada badi’, ada bayan, dan segala macam. Cuma, ya itu. Kebanyakan yang sekarang ini hanya digunakan untuk mengapresiasi itu (Alquran-red). Ya, saya mencoba untuk mengoptimalkan saja.

Kalau ilmu yang saya dapat dari ayah saya, ya ketika saya jadi mustami’ itu. Ketika ayah saya bilang pada santri-santrinya, “Saya tidak ingin santri saya hanya jadi orang alim, tapi saya ingin santri saya jadi orang yang alim dan aqil.” Saya maknai aqil itu kreatif. Jadi, ilmu pesantren itu sangat dahsyat sekali kalau kita bawa ke kota. Pesantren itu kan tempatnya di desa. Pada saat itu kan non kooperatif dengan Belanda, menjauh dari tempat pusat Belanda. Ada pesantren di kota itu kan belakangan ini saja. Nah, ketika ilmu-ilmu pesantren dibawa ke kota, orang kota langsung terkagum-kagum. Karena apa? Karena mereka tahu ilmu-ilmu baru dari pesantren, istilahnya ilmu baru.

Masalahnya, bisa nggak santri membahasakan ilmunya ke bahasa kota? Hamka itu begitu terkenal, itu bukan karena alimnya, kiai-kiai yang lebih alim daripada Hamka banyak. Cuma, Hamka bisa menerjemahkan ilmu dia dari pesantren ke kota. Dia baca Ihya’ulumuddin, lalu bikin tasawuf modern. Orang takjub semua. Sama, makanya banyak orang yang menjuluki saya penerus Hamka. Ketika kitab Usfuriyyah diterjemahkan, banyak peresensi yang menyatakan kekagumannya. Padahal, kitab itu sudah biasa dibuat ngaji waktu Ramadhan.

Sebetulnya santri itu apa sih, cuma membahasakan. Yang penting itu adalah bahasa dalam pergaulan modern. Yang sering membikin salah paham orang juga bahasa. “Bahasa itu ada bahasa santri, bahasa kiai, bahasa intelektual, bahasa seniman. Ini kalau orang itu terbatas pengetahuan bahasanya, bahasanya cuma bahasa santri, maka dia tidak bisa berkomunikasi dengan orang-orang kampus, karena dia tidak memahami bahasa kampus. Sebaliknya, orang kampus “mati kutu” di pesantren karena dia tidak bisa bahasa pesantren.

Dulu pada zaman pak Harto, hampir semua departemen itu masuk ke pesantren, mau mengkooptasi pesantren. Namun, banyak yang gagal daripada yang berhasil. Kenapa? karena yang masuk ini tidak tahu bahasa kiai. Paling jauh dia tahu bahasa lurah pondok, bahasa santri. Bahasa Kiai lain lagi. Maka, mereka yang menguasai banyak bahasa, merekalah yang banyak bisa berkarya.

Dulu sempat geger waktu ada diskusi tentang “Ta’limul Muta’alim” di PBNU. Dalam diskusi itu, orang-orang menggunakan bahasanya sendiri-sendiri. Ada yang biasa, seperti bahasa santri-santri itu, Ta’lim itu masih relevan pada masa sekarang. Ada yang menggunakan cara-cara ekstrim dalam menyampaikan, menurut saya Ta’lim itu bukan hanya tidak relevan, tapi perlu dibakar. Karena lebih memenangkan guru daripada muridnya. Tapi, karena menggunakan bahasa-bahasa yang ekstrim, wah geger tidak karuan.

Di kalangan seniman lebih seru lagi menggunakan bahasa-bahasa itu. Misalnya, “Tuhan telah mati”, pasti geger itu. Saya punya puisi judulnya, “Tuhan Ada di Mana-Mana”. Ada seniman pernah datang ke sini, “Kalau santri sampean baca begini gimana kira-kira?” Ya, tanya sendiri, saya panggilkan santri. Tanya saja. Dia baca puisi di depan santri itu, “Tuhan Ada di Mana-Mana”. Setelah selesai, ditanyalah santri itu. “Mas, menurut sampean gimana tulisan ini?” Santri itu kontan mengatakan, “Siapa yang nulis itu?! Ngawur saja, Tuhan itu cuma satu.” Tertawa kawan saya. “Sampean, santrinya sendiri saja nggak mudeng.” Ya, karena dia tidak belajar bahasa sastra.

Jadi, itu yang menjelaskan kenapa banyak terjadi salah paham. Ada wacana-wacana yang menggunakan bahasa tertentu. Anak muda punya bahasa sendiri, orang tua punya bahasa sendiri. Kalau orang tua tidak memahami bahasa anak muda, ya sering marah-marah dengan anak muda. Sebaliknya, kalau anak muda tidak paham bahasa orang tua, itu bisa jadi masalah dengan orang tua. Kiai-kiai bisa marah dengan intelektual, intelektual bisa sinis dengan kiai, dan seterusnya. Ini soal bahasa.

Penting pesantren itu untuk bisa mengikuti perkembangan yang sekarang ini. Pesantren juga harus berkembang, tidak bisa pesantren zaman saya di Lirboyo dulu. Lirboyonya sendiri sudah berubah, dulu nggak ada listrik sekarang kayak gitu kencar-kencarnya. Itu, dari fisik saja sudah sangat berbeda. Dulu Gus Idris itu rambutnya panjang, sekarang rapi sekali. Dan menurut saya, pesantren itu penting bagaimana memanfaatkan ilmu pesantren, khususnya luar pesantren. Caranya, bahasa.

Anda kalau lihat toko buku, dulu di Indonesia ini ada yang namanya toko buku, ada yang namanya toko kitab. Toko buku itu untuk persediaan orang-orang yang sekolah, toko kitab untuk persediaan orang-orang yang di madrasah. Ini kelucuan tapi dibiarkan berlangsung terus.

Sekarang Anda perhatikan, kalau toko buku itu seperti Gramedia, toko kitab itu seperti Haromain, Menara Kudus, Toha Putra. Anda kalau lihat gramedia, sekarang ini banyak sekali kitab-kitab agama. Bahkan ada khusus, dari yang kuning sampai yang coklat, di antaranya terjemahan kasyful mahjub. Dan Anda kalau perhatikan, siapa yang menerjemahkan, apa anak pesantren Krapyak, Lirboyo, Tebuireng? Kenapa jarang sekali anak pesantren yang menerjemahkan? Sehingga, terjemahan-terjemahan itu kebanyakan setelah melalui bahasa Barat. Misalnya, Al-Hikam, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Orang kota yang tidak bisa bahasa Arab, bisa menerjemahkan dari bahasa Inggrisnya. Ini artinya apa? Artinya, pesantren tidak ikut menseleksi buku. Kitab-kitab itu, yang menyeleksi orang-orang kota. Maka, banyak sekali buku-buku agama yang tidak seselera pesantren, karena bikinan orang-orang kota yang tidak tahu bahasa Arab. Sedangkan para santri-santri tidak pernah menerjemahkan. Bukan karena tidak bisa bahasa Arab santri-santri itu, tapi karena bahasa Indonesianya yang kurang.

Jadi, ilmu bahasa, ilmu sosiologi, itu penting sekali di pesantren, kalau tidak mau bergaul. Kalau saya menganggap dunia luar seperti pesantren. Pengalaman saya dulu itu di pesantren Lirboyo. Lirboyo itu banyak sekali orangnya, ada orang Malaysia, Tegal, Pekalongan, Banyuwangi, dan sebagainya, plus karakternya yang macam-macam. Kemudian saya gunakan untuk bergaul di luar pesantren, yang orangnya juga terdiri dari berbagai model. Saya tidak pernah berkeberatan untuk bergaul dengan siapa saja, selama itu bermanfaat untuk saya.

Dulu sebelum NU lahir, kiai-kiai itu punya sirkatu al-inayah, dalam deklarasinya itu ditulis oleh almaghfurllah Kiai Wahab Hasbullah. Antara lain dalam deklarasi itu, ada kritik yang bagus sekali untuk kalangan pesantren. Agar kita tidak menutup diri, tidak hanya fanatik terhadap diri kita sendiri. Kita perlu terbuka agar bisa menyerap ilmu-ilmunya orang lain. Kalau kita membatasi pergaulan hanya dengan yang sepaham dengan kita, penguasaan bahasa kita juga akan terbatas.

Jadi, mungkin dalam pesantren itu perlu ada pelajaran bahasa dan pengenalan budaya, begitu kiai?

Ya. Modalnya kiai-kiai dulu itu kan babat alas, Kiai Hasyim Asy’ari di Tebuireng dulu itu babat alas. Sekarang tinggal enaknya. Kiai Manab dulu juga babat alas. Lirboyo dulu itu masya Allah, basisnya komunisme, PKI. Kalau nggak dukdeng di situ, nggak bisa bertahan. Mereka perlu belajar tentang bahasa mereka untuk mendakwahi mereka.

Kemudian ada ungkapan bahwa pesantren itu NU dalam skala kecil, dan NU itu Pesantren dalam skala besar. Kalau demikian, apa yang perlu dilakukan NU untuk pesantren?

Ya, ini mumpung ketua NU yang baru slogannya kembali ke pesantren, diharapkan NU itu memerhatikan pesantren. Selama ini hanya mengklaim NU punya pesantren sekian, tapi kadang-kadang pengurusnya datang ke pesantren saja nggak pernah. Mereka mencukupkan dengan Rabithah. Rabithah Al-Ma’had itu hanya mengikat pesantren-pesantren, itu ikatan silaturahim. Jadi, NU itu harus ada program khusus untuk pesantren-pesantren. Tidak hanya diikat tok, diundang kalau perlu, dilaporkan kalau konferensi, tapi harus ada konsep yang terarah. Kenapa? Sebab, pesantren itu yang memproduksi kader-kader syuriah. Kalau tanfidziyah bisa dikader dari mana-mana, sekolah tinggi, ormas, dan sebagainya. Tapi, kalau syuriah harus dari pesantren. Kalau pesantren tidak diurusi kemudian terus pisah sendiri-sendiri, bisa bahaya. NU harus memperhatikan pesantren, biar pesantren juga memperhatikan NU.

Diantara program yang perlu dilakukan NU untuk pesantren?

Sama. Pertama, menguri-nguri tradisi dan budaya pesantren. Kedua, bagaimana ikut memikirkan pesantren ini bisa diminati oleh minimal warga NU sendiri. Masak ada warga NU, kiai bahkan, anaknya nggak di pesantrenkan. Itu sebetulnya kenapa? Itu yang harus dilakukan, membikin pesantren itu berwibawa, membikin pesantren itu diminati.

Kalau Anda lihat, yang ada pendidikan betul-betul itu kan di pesantren. Lembaga-lembaga yang disebut lembaga itu, apa sih pendidikannya, tarbiyahnya apa? Yang ada hanya ta’lim. Kalau di pesantren kan ta’lim wa tarbiyyah. Cuma, sekarang tergantung kiainya. Masih konsisten memegang tradisi kiai-kiainya atau tidak? Kalau anaknya kiai sudah tidak di pesantren, terus mengharapkan santri-santri dari mana? Kita hanya berharap dari mereka yang tidak diterima di sekolah formal atau wong tuane ora iso didik, dibuang ke pesantren. Nah, ini harus dipikirkan jalan keluarnya. Jangan sampai pesantren itu hanya jadi tempat pembuangan.

Mungkin, NU perlu membentuk semacam universitas, begitu Kiai?

Lho, pesantren itu sudah lebih daripada universitas. Anda kalau lihat universitas yang hebat di luar negeri, seperti Havard dan sebagainya, itu pesantren dulunya. Sekarang, pingin jadi apa bikin perguruan tinggi, tujuannya apa?

Sekarang kan sedang marak biar bisa jadi pegawai negeri dan sebagainya.

Lha, itu! Dulu orang mondok ke pesantren itu niatnya sederhana sekali, “untuk menghilangkan kebodohan”, titik. Tidak ada niat kepingin jadi presiden, anggota DPR, pegawai negeri sipil. Wong yang sudah sekolah dengan tujuan pegawai negeri saja kesulitan untuk masuk. Kenapa harus jadi pegawai negeri sipil? Kan sudah ketahuan sekali secara matematis pemerintah ini membutuhkan pegawai negeri itu sekian.

Orang itu kacau semua mulai dari pemerintah sampai masyarakat, kacau dalam menghitung. Sekolah formal itu adalah sekolahnya pemerintah. Karena sekolahnya pemerintah, maka dia didesain sedemikian rupa untuk kepentingan pemerintah. Pemerintah butuh dokter sekian, dibuka fakultas kedokteran. Dibutuhkan insinyur sekian, dibuka fakultas teknik. Ini harusnya terukur. Jangan sampai ada sarjana yang nganggur, pegawai negeri yang dibutuhkan 200 orang, yang melamar 2000 orang. Lalu, terjadilah sogok-menyogok.

Tujuan menjadi pegawai negeri kan supaya tidak usah memikirkan bulanannya, karena gajinya pasti, kan gitu tok. Jadi, pesantren bongso gitu itu tidak masuk dalam pikiran mereka, mestinya dulu-dulu itu nggak ada. Kenapa? Mereka itu tujuannya mondok untuk menghilangkan bodoh. Padahal, bodoh itu nggak hilang-hilang, tambah pinter tambah merasa bodoh. Almaghfurllah Kiai Mahrus Ali, meski sudah punya anak kiai itu masih mondok, posonan. Karena tujuannya itu, bukan tujuan mencari duwit.

Maka dari itu, yang harus diperangi NU dan pesantren adalah ilmu yang ‘diajarkan’ pak Harto dan Orde Baru, “mencintai dunia yang berlebihan”. Tiga puluh dua tahun Pak Harto berkuasa itu lama sekali. Bayangkan saja jika Anda sekolah sampai 32 tahun, itu sudah luar biasa. Nglontok semua ilmunya pak Harto, bagaimana cara mencari uang dan sebagainya. Sehingga orang masih sekolah saja bayangannya bagaimana nanti itu bisa jadi pegawai negeri, gaji tetap setiap bulan. Nggak ada sekarang orang menyekolahkan anak kok demi ilmu pengetahuan, hampir tidak ada.

Mengapa masyarakat Indonesia umumnya memuja dunia? Itu kekalahaan NU juga kekalahan pesantren. Mencintai dunia yang berlebihan itu harus diperangi. balik ke pesantren dalam pengertian balik kepada pemikiran pesantren, balik dengan aqliyah pesantren yang sederhana, yang mandiri, yang tidak memuja dunia.

Jadi orientasi semacam itu perlu dirubah kiai?

Orientasi itu harus dilawan. Kalau tidak, pesantren semakin berkurang peminatnya. Kenapa? Lha, kenapa di pesantren, apa bisa ijazah pesantren untuk melamar pekerjaan? Kalau orientasinya ke sana, ya ini tinggal pilih; pesantren itu apa membuat sekolah-sekolah formal di pesantren, membiarkan santri-santrinya sekolah formal di luar, atau memang yang lebih sulit berjuang, yaitu merubah orientasi masyarakat di dalam memandang kehidupan. Pandangan hidup pesantren harus dikembalikan ke semula. Jangan hanya ikut-ikutan. Sekarang ini orang semua memuja dunia, pesantrennya juga ikut. Wah, payah! Orientasi keduniawian itu harus hilang sama sekali. Baru pesantren nanti mendapat momentum menerima orang dengan berdasarkan tujuan hidup, bukan sekadar untuk buangan karena tidak diterima di mana-mana.

Terakhir, mungkin pesan kiai kepada santri dan masyarakat?

Mari kita beramai-ramai melawan orientasi keduniawian. Kembali kepada tradisi dan ajaran kita bahwa memandang dunia ini sebagai wasilah. Dunia ini hanya sarana, hanya mampir ngombe. Itu kan ada dalil yang selalu didengungkan-dengungkan pada zaman orde baru, tapi maknanya diplesetkan. “I’mal lidunyaka kaannaka tangisu abada”, orang disuruh kerja sehebat-hebatnya, karena kamu akan hidup selama-lamanya. Jadi, harus menumpuk harta yang banyak. Itu plesetan! Padahal, maksudnya kamu itu hidup masih lama, jadi nggak usah ngotot bekerja untuk dunia. Wong kamu hidup selamanya saja kok, besok kan masih ada hari. Kenapa seolah-olah hidup tinggal satu hari besok kamu akan mati, sirah dinggo sikel, sikel dinggo sirah, untuk mencari dunia itu kenapa? Dibalik, maknanya dibalik. Mengumpulkan harta yang banyak untuk bekal hidup selamanya, itu kan sudah parah. Jadi, orang itu kemudian menjadi sangat materialistis, naiknya jadi hedonis, dan pragmatis. Tamat!

Sesuai dengan pepatah gawean guru saya itu, “Lebih baik telur hari ini daripada ayam besok pagi. Lebih baik rugi-rugi sedikit kalau hari ini telur, toh itu ayam seutuhnya. Lebih baik telur sekarang daripada ayam besok pagi. Kalau besok pagi saja nggak sronto, nunggu besok itu lho nggak mau, apalagi nunggu sampai hari kiamat?

Artinya, PR sekarang bagi para tokoh-tokoh masyarakat harus merubah orientasi semacam itu, Kiai?

Ya. Harus mendakwahi masyarakat untuk tidak terlalu mencintai dunia. Yang punya dalil itu kan kiai-kiai, “Hub al-dunya ro’su kuli khatiatin”, mencintai dunia itu menjadi muara lahirnya kesalahan. Yang punya dalil itu, ya harus pertama kali mengkampanyekan itu, baik bil maqol maupun bil hal.

*) Seorang pemuda otodidak yang berupaya menjadikan hidup bernilai lebih. / 11 December 2011
Dijumput dari: http://sosok.kompasiana.com/2011/12/11/gus-mus-mari-melawan-orientasi-keduniawian-personality-interview/