Keren! Saya Mejeng di Majalah Sastra Hong Kong

Bayu Insani *
http://www.kompasiana.com/insani

Sore itu, Rabu, tanggal 19 Januari, ketika saya sedang memasak di dapur, saya mendapat telpon dari seorang sahabat yang cukup akrab. Dia adalah seorang lelaki berketurunan China, yang tinggal di Hong Kong. Alhamdulillah, walaupun kami berbeda suku, namun keakraban kami terjalin karena persamaan hobby, dalam dunia tulis menulis dan seni. Saya pun bukan orang seni, hanya penikmat seni. Pas kebetulan, dia adalah seorang seniman China, dari Hong Kong, tempat di mana saya tinggal saat ini, jadinya kami bisa sering bertemu dan sharing dalam dunia sastra.

Dia mengabarkan, (baca: memberikan bocoran ) pada saya, bahwa dia menemukan foto saya, berada di sebuah majalah. Saya pun sedikit terperanjat. “Saya? Gak salah” tanya saya. Dada saya benar-benar bersimphoni saat itu. Pikiran langsung melalangbuana. Berbagai pertanyaan, segera memenuhi alam pikiran saya.

“Kira-kira foto apa sih yang di pajang di sana? Tulisan apa, majalah apa dan siapa yang nulis?” Pikiran saya benar-benar didera rasa penasaran. Akhirnya, saking senengnya, saya membuat status di akun facebook, kalau saya mendapat bocoran tentang profil saya yang dimuat di majalah sastra Hong Kong. Banyak yang komentar, untuk memberikan ucapan selamat. Namun di antara banyaknya pengomentar, ada salah satu teman, memberikan komentar yang membuat saya sedikit merenung. Komentarnya kurang lebih mengatakan, bahwa apakah yakin, saya akan bisa menumui hari minggu untuk bisa menatap majalah itu.

Ya, setelah saya membaca komentarnya, terus terang, saya merenung setiap malam. Saya memohon pada Allah, pemilik Nyawa yang kini berada di kandung badan saya ini, agar meridhai usia hingga minggu. Karena saya tak mau mati dalam rasa penasaran. Tiap saat, saya merasa, nyawa itu terancam. Lalu segera beristighfar, dan berdoa, Ya, Rabb, kumohon, berkahi dan panjangkan usia saya untuk mengobati rasa penasaran ini.

Entahlah, saya merasa, ada benarnya tulisan komentar itu. “Apakah kamu yakin, bisa melihat hari minggu?” Terus terang, saya tak yakin, sebab usia itu bukan di tangan saya. Apalagi, waktu itu saya sedang sakit. Andai saya mati saat itu juga pun saya tak tahu.

Namun dengan menggantungkan kepercayaan pada Allah, Azza Waajalla, saya jadi yakin. Alhamdulillah, Allah masih memberiku usia hingga detik ini, yang mana hari minggu pun telah terlampaui. Subbahanallah. Bersyukur saya atas ridhaNya.

Dan tiba hari Minggu, teman saya ini, menepati janjinya. Dia membawa majalah yang dimaksud. Alhamdulillah, itulah yang pertama terucap dari bibir saya. Ini adalah momen indah bagi saya, selain karena usia di panjangkan Allah, saya sangat bahagia bisa melihat foto saya, juga bersama teman-teman mejeng di majalah itu.

Tak habis-habisnya saya bersyukur. Sebenarnya, tulisan di dalam majalah itu, saya sendiri tak bisa membacanya. Bagaimana mau membacanya, wong tulisannya itu seperti huruf pagar. Berbahasa China. Namun, merasa senang, karena inilah buah yang saya petik dari persahabatan kami. Antara kami dengan penulis tersebut. Seorang wanita yang lembut dan manis. Beliau bernama Loiuse Law.

Kumunikasi kami agak susah, namun bukan berarti jaka sembung naik ojek. Saya faham bahasa kantonis, dan sedikit inggris. Sewaktu beliau wawancara kami, pun bahasanya gado-gado. Isi tulisan di dalamnya, juga tak jauh-jauh tentang profil kami di Hk, sebagai BMI, yang kreatif. Yang mengisi aktifitas liburnya, untuk hal-hal yang positif. Seperti berorganisasi, menulis, ataupun belajar.

Beliau senang dengan kegiatan kami. Baik kegiatan berorganisasi, maupun dalam dunia seni. Makanya, kami sejalan. Beliau juga sering berkunjung ke organisasi kami, yaitu FLP, mungkin juga ke Organisasi Teater Angin, sebab di dalam liputan itu pun beliau menuliskan tentang organisasi itu. Tentang Kontributor-kontributor majalah berbahasa Indonesia di Hong Kong, dan banyak hal.

Pernah juga, saya secara pribadi, mengundang beliau ke Perpustakaan saya, yaitu perpustakaan Insani. Kami ngobrol banyak hal, makan siang dengan kari ayam yang di masak oleh teman kami. He he, rupanya beliau sangat suka masakan Indonesia. Begitu juga dengan Jus Pusa, teman lelaki yang sedari awal saya ceritakan, dia sangat tertarik dengan berbagai kesenian Indonesia. Lagu yang di suka, adalah Lagu Bengawan Solo, ciptaan Gesang.

Mereka orang-orang Hong Kong yang peduli dengan kami, orang-orang Hong Kong yang selalu mengormati kreatifitas dan kepercayaan kami. Kami terharu dan merasa bangga menjadi sahabat Anda. Kami merasa, bersemangat, dengan perjuangan dan hangat persahabatan Anda untuk kami.

Alhamdulilah, walaupun kami hanya sekedar seorang BMI, alias pembantu, namun beliau juga tak pernah memandang sebelah mata pada derajat kami. Beliau justru senang, karena di balik sibuknya rutinitas harian kami bersama majikan, kami masih menyempatkan diri untuk tetap berkarya. Menunjukan diri pada dunia, bahwa, julukan rendahnya derajat kami, sempitnya waktu kami, tak menghalangi niat dan kekreatifitasan kami.

Dan pesan saya, bersahabatlah dengan dunia luar, maka engkau akan temukan sesuatu yang baru. Karena sesuatu yang baru, akan kita dapatkan dari sahabat baru. Persahabatan itu hangat dan mendamaikan.

Harapan saya, harapan beliau, juga sama, agar kami tetap meneruskan perjuangan kami, untuk terus berkarya. Insya Allah. Amin.

___24 January 2012
*) Seorang BMI yang memiliki impian untuk sukses menjadi seorang penulis.
Dijumput dari: http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/01/24/keren-saya-mejeng-di-majalah-sastra-hong-kong/