Judul : Shangri-La (The Hidden City): Rahasia Sihir dan Angka 13
Pengarang : Ken Budha
Penerbit : Dolphin
Harga : Rp 75.000,-
Peresensi : Abdul Halim *
http://www.malang-post.com/

“Amicus Plato, amicus Aristoteles, magis amica veritas (Plato adalah temanku, juga Aristoteles, tetapi sihir adalah teman yang lebih baik dari keduanya).” (Isaac Newton, Quaestiones Quaedam Philosophicae, 1661).

Dunia Sihir telah menua dan terus dirundung krisis. Melalui sebuah ramalan, Dewan Sihir Tertinggi di Shangri-La, sebuah kota rahasia di negeri Tibet yang menjadi ibu kota Dunia Sihir, mengetahui bahwa krisis itu bakal dituntaskan oleh anak-anak usia 13 tahun dalam waktu 13 minggu. Francine Masissou adalah anak paling berbakat dari tujuh anak multietnis yang terpilih melalui ramalan itu. Malangnya, menjelang dia dijemput menuju Shangri-La, orangtuanya menjadi korban pembunuhan politik di negerinya. Bersama enam teman barunya, dia kemudian memasuki sebuah dunia baru, mempelajari ilmu sihir, geometri, dan angka-angka, guna mempersiapkan diri menghadapi para penyihir jahat yang berniat menghancurkan Shangri-La. Dan dia hanya punya waktu 13 minggu!

Dalam pada itu, kaum Penghisap Darah, yang dipimpin seorang keturunan Vlad Dracul, telah berhasil menaklukkan kawanan Manusia Serigala. Pertikaian dunia sihir dengan Manusia Serigala tengah memuncak. Pertikaian yang nyaris setua dunia sihir ini mengancam menenggelamkan Shangri-La dalam kubangan darah. Mereka semua menanti kesempatan dalam kegelapan.

Francine memanggul harapan banyak orang atas keselamatan Shangri-La. Sementara dia masih menghadapi trauma atas kematian orangtuanya, kecemburuan teman-temannya yang menganggap dirinya diistimewakan, serta intrik-intrik politik di Dunia Sihir. Para musuh pun berusaha menyingkirkannya sejak ramalan besar itu tersiar. Rencana demi rencana digulirkan. Dan huru-hara pun tak terhindarkan!

Shangri-La (The Hidden City) adalah novel yang dianggit oleh Ken Budha, seorang pengarang yang pernah dipenjara pada masa rezim Orde Baru era Soeharto. Novel ini dinazarkan bakal menjadi tiga seri (trilogi). Dalam seri pertama yang bertajuk Rahasia Sihir dan Angka 13 ini, pengarang memulai kisahnya dengan sebuah tragedi memilukan yang dialami oleh sang tokoh utama, Francine Masissou. Dia dijemput oleh calon gurunya, John Stanton, pada saat ketika ayah dan ibunya telah meninggal dibantai oleh kawanan tentara di negerinya; ayah Francine adalah tokoh politik yang dibenci oleh pemerintahan Chad, negeri tempat Francine berasal. Dari sanalah kehidupan baru Francine bermula: memasuki Shangri-La dan memulai pengembaraannya.

Yang menjadi kelebihan dari novel ini adalah data-data yang diungkapkan oleh sang pengarang begitu kaya terkait sejarah sihir beserta tokoh-tokohnya, ilmu geometri dan angka-angka, hingga penggambaran tempat-tempat yang menjadi seting kisahnya. Kemampuan tersebut jarang dipunyai oleh para pengarang dalam negeri ketika menulis sebuah novel fantasi. Sang pengarang tampak memiliki pengetahuan yang luas tentang sejarah dan kebudayaan ketika ia menjelaskan tentang tujuh anak multietnis yang terpilih melalui ramalan dan menjelaskan latar belakang budaya mereka satu per satu.

Dalam novel ini, satu demi satu pengarang menjelaskan karakter-karakter yang terlibat di dalam kisah ini secara runut, sebelum akhirnya memuncak dan mendaki ke konflik yang sebenarnya. Alur ceritanya terbaca koheren dan tidak terjadi inkonsistensi penuturan di dalam bangunan kisahnya. Akhiran dari cerita ini pun menyisakan sebuah rasa penasaran di benak para pembaca, yang saya yakin akan menanti-nantikan seri berikutnya.

Ini adalah sebuah novel fantasi yang patut diberi apresiasi lebih, mengingat sampai saat ini para pembaca di Indonesia—bisa dikatakan—hanya disuguhi novel-novel fantasi berkualitas karya pengarang luar negeri. Jika Ken Budha bisa menjaga konsistensinya dan terus mengasah kemampuannya, tidaklah berlebihan jika suatu saat ia bisa disejajarkan dengan penulis kenamaan semacam J.K. Rowling, Stephenie Meyer, atau bahkan J.R.R. Tolkien, yang menjadi “guru imajinernya” dalam menulis.

* Wartawan Malang Post /12 November 2011

Categories: Resensi