Lampung-Bali Terjalin Peradaban Pesisir

Iwan Nurdaya-Djafar
http://www.lampungpost.com/

MASIH segar dalam memori kolektif kita, pada 24 Januari 2012 lalu telah terjadi kasus Sidomulyo yang berona SARA antara etnik Lampung dan Bali. Perseteruan antarsuku di wilayah Lampung Selatan ini konon bak api dalam sekam yang bukan hanya sekali terjadi.

Setiap kali ada pemicu, entah soal parkir atau bersenggolan saat nonton organ tunggal, maka api itu pun kembali berkobar. Dendam kesumat ini, jika boleh disebut demikian, menegaskan bahwa seolah-olah antara etnik Lampung dan Bali adalah dua entitas yang sama sekali berbeda, bermusuhan dan siap berbenturan kapan saja dan di mana saja.

Sikap permusuhan antaretnik ini sejatinya adalah buah getir dari cara pandang kolonial pada masa silam tatkala Indonesia belum eksis sebagai negara modern, yang memang sohor dengan politik devide et impera-nya, yang hendak memisah-misahkan antara satu etnik dan yang lain, antara satu budaya dan budaya lain, misalnya Melayu, Jawa, Bali.

Menurut Andrian Vickers, pemisahan itu merupakan salah satu bentuk kesengajaan atau rekayasa yang sangat canggih dari sebuah rezim politik tempat budaya itu beroperasi untuk menghasilkan tradisi dan pengetahuan baru yang tercerabut dari kenyataan sejarah di kawasan Asia Tenggara. Namun, bagi Vickers hal itu tetap harus dilihat dalam perspektif yang lebih luas karena apa sebenarnya yang terjadi bukan semata-mata persoalan tradisi rekaan kolonial melainkan menyangkut juga konstruksi lokal yang ditumpangi oleh bentuk-bentuk hegemoni kolonial.

Pandangan kolonial mengatakan bahwa berbagai kelompok etnik dan kedaerahan yang terdefinisikan dengan tegas di Asia Tenggara hanya saling berkaitan secara longgar melalui perdagangan. Padahal, di balik gambaran rapi tentang aneka budaya yang terpisah-pisah itu, bersemayam suatu prinsip interaksi dinamis, atau pergerakan dan kreasi aktif heterogenitas yang dimotori oleh sebuah proses budaya yang digambarkan sebagai “Peradaban Pesisir”. Hal itu misalnya dapat dilihat dengan jelas di dalam Malat, sebuah syair kidung Bali yang amat penting pada abad ke-18 dan ke-19. Paparan tentang Melayu, Jawa, dan Bali di dalam Malat menunjukkan adanya interaksi antarbudaya yang intensif untuk membuktikan bahwa sekian banyak budaya itu adalah manifestasi dari sebuah peradaban bersama.

Karya sastra Bali juga masuk ke Lampung melalui cerita Panji yang berasal dari Jawa pada abad ke13 dan ke-14. Terdapat banyak bukti bahwa cerita Panji eksis di Lampung, belum lagi kehadirannya dalam cerita rakyat yang terhimpun di sana, misalnya cerita Radin Bangsu.

Dalam bukunya Peradaban Pesisir: Menuju Sejarah Budaya Asia Tenggara, secara khusus Vickers menulis satu bab, yaitu Bab III yang bersubjudul “Dari Bali ke Lampung: Perihal Pesisir”. Simbolisme kapal telah mempertautkan keduanya. Membuka bab itu, Vickers melontarkan pertanyaan dengan kata-kunci kapal, yaitu: pelayaran apa yang membawa kita dari Bali ke Lampung dengan kapal? Di pantai mana kita berlabuh untuk menautkan dua budaya Indonesia ini?

Contoh yang dipakai Vickers adalah lukisan Bali yang menampilkan sebuah versi adegan cerita Panji Malat Rasmi, Malat, dan kain Lampung yang dikenal sebagai tampan pasisir. Keduanya menarik karena sama-sama menggambarkan kapal, meski secara stilistika jelas tidak memiliki kesamaan apa pun. Kedua contoh tadi adalah representasi tentang kapal, dan dapat dijelaskan dengan merujuk kepada khazanah sastra perihal simbolisme kapal di Indonesia. Sastra semacam ini berpusat pada simbolisme kapal sebagai manifestasi dari masyarakat Indonesia kuno. Pelbagai simbol terjalin melalui asal-usul bersama dan difusi.

Kapal, lazimnya dalam bentuk peti mati atau sarkofagus, digunakan di berbagai daerah Indonesia untuk merepresentasikan perjalanan jiwa. Dengan membandingkan kain tampan dan ritual Lampung, ada pendapat yang menyatakan bahwa kapal juga menyimbolkan gerak menempuh babak-babak kehidupan. Kedua argumen ini terikat pada sebuah pandangan bahwa distribusi simbol-simbol semacam itu bersumber dari asal-usulnya pada zaman kuno. Melalui sebaran simbol kapal, rumah, tanduk kerbau, ular dan burung, kita bisa menguraikan suatu budaya-Asali Indonesia megalitik.

Tampan Pasisir

Tampan pasisir Lampung berkenaan dengan masyarakat Lampung yang memperlihatkan “kelestarian” (survival) watak kultural primordial. Bentuk tampan pasisir hanyalah satu jenis kain Lampung bermotif kapal yang terbatas di wilayah selatan Lampung. Jenis lainnya adalah berbagai kain “darat” yang membentuk khazanah tekstil yang dikoleksi di Barat, dan pelbagai corak selatan setempat dari Kalianda dan Teluk Semaka. Corak Kalianda dan Teluk Semaka dapat dipandang sebagai variasi corak tampan pasisir.

Ada korelasi antara corak kain dan pengelompokan kultural di Lampung (atau “ranah Lampung”, sebutan Belanda untuk kawasan ini). Corak “darat” terutama bertalian dengan wilayah-wilayah yang digolongkan sebagai adat pepadun, yaitu wilayah yang menonjolkan semacam identitas “suku pribumi” (tribal). Dalam penyebarannya, corak Kalianda tampak bertalian dengan Kerajaan Darah Putih (yang mencakup wilayah Ratu, Daratan, dan Rajabasa), sedangkan corak Teluk Semaka dapat dihubungkan dengan wilayah Kerajaan Samangka atau Semaka (di seputar kawasan Wonosobo dan Kotaagung).

Tampan pasisir terutama berasal dari kawasan atau bekas Kerajaan Teluk Betung, dan mungkin dari sejumlah wilayah Darah Putih. Ciri paling mencolok dari ragam-ragam tampan yang lebih mutakhir ini adalah penggambaran nonabstrak berbagai figur wayang dan (terutama) kapal. Kecenderungan abstraksi dan corak Kalianda dan Teluk Samaka mungkin hasil dari upaya sengaja mengembangkan corak unik untuk menandai identitas khas dua wilayah ini.

Corak tampan pasisir dibahas secara mendalam oleh Holmgren dan Spertus, yang memaparkan bahwa tekstil-tekstil tersebut sangat kuat mengusung narasi. Mereka menguraikan sebagian dari banyak ragam adegan pada tampan pasisir: penggambaran kelahiran seorang putra agung di kapal; prosesi armada raja, lengkap dengan gajah-gajah di kapal; transfer peti harta dengan kapal; dan penggambaran seorang bangsawan kerajaan bersama tiga wanita di sampan pelesir. Setidaknya sebagian dari adegan-adegan ini paralel dengan proses ritual di kalangan bangsawan Lampung Selatan yang memiliki kain-kain itu.

Sejatinya masih banyak lagi mitos-mitos Lampung lainnya perihal kapal, tapi tak cukup ruang buat diturunkan di sini. Begitu pula motif kapal bukan hanya muncul pada kain Lampung, melainkan juga pada ilustrasi teks sastra Lampung semisal Tetimbai Si Dayang Rindu, dan pada masa mutakhir tampil sebagai motif kain batik sebagi, dan bahkan lambang daerah Kota Bandar Lampung. Pun pula dalam bentuk tiga dimensi yang muncul pada arsitektur gapura atau rumah.

Simbolisme Kapal Bali

Dalam contoh dari Bali yang ditampilkan di sini, citra kapal merepresentasikan sebuah perjalanan simbolik, yaitu perjalanan menempuh babak-babak kehidupan, atau perjalanan dari kehidupan menuju kematian. Untuk memperkuat argumen ini, tidak tertutup kemungkinan ditemukan simbolisme kapal yang lain di Bali. Dalam ritual kematian, pandita yang menjadi imam, biasanya seorang padanda (pendeta tinggi Brahmana), harus “melayarkan” (ngentas) jiwa dari dunia ini ke alam baka.

Demikianlah, di sebuah desa di Bali Timur, simbolisme kapal menjadi bagian dari upacara pemurnian. Sebuah kapal dibikin dari pelepah daun kelapa dan diberi muatan simbolik. Pada saat yang bersamaan, dibuatlah falus setinggi kira-kira satu meter, disebut “lingga desa” (kleng desa). Pada gilirannya kemudian, kapal tersebut dibawa ke gundukan batu yang merepresentasikan laut, dan serta-merta dibakar ketika tetua desa meloncati falus itu.

Dari riset Vickers mengenai penggunaan episode yang digambarkan tersebut dalam beragam bentuk artistik di Bali, dia mendapati bahwa setumpuk asosiasi lain yang muncul dari narasi ini sulit diabaikan. Untuk mempertahankan penjelasan tentang “kapal mendiang” dan “ritus transisi”, ada aspek-aspek dari plot episode itu yang relevan dengan tema-tema tersebut. Akan tetapi, ada pula berbagai kemungkinan makna lain yang akan terabaikan ketika berfokus pada dua makna simbolik itu.

Dengan mengedepankan adanya kesamaan Lampung dan Bali dalam ikatan peradaban pesisir di atas, kita berharap, pertikaian antaretnik Lampung dan Bali tak lagi terjadi di masa depan. Caranya adalah dengan menyegarkan kembali ingatan kolektif kita akan hal itu dan mengembangkannya.

Upaya ini kiranya sudah ada meskipun sporadik sifatnya. Misalnya, I Wayan Sumerta Dana (Wayan Moco) yang memberi nama notasi alat musik Lampung berupa cetik (gamolan pering) dan beroleh hak atas kekayaan intelektual atasnya, I Gusti Ketut Okta Bayuna yang memenangi lomba desain lambang daerah Kota Bandar Lampung yang desainnya sarat dengan simbol adat Lampung, serta komposisi tari yang merupakan kolaborasi tari Lampung dan Bali.

Usaha-usaha sedemikian mesti terus dikembangkan agar kita bisa kembali merayakan peradaban pesisir di bumi Lampung. Jika kita tak ambil peduli atas hal ini, tidaklah keliru manakala Vickers mengatakan bahwa kita belum men-Asia Tenggara secara kultural.

Iwan Nurdaya-Djafar, budayawan /15 April 2012