Daniel H.t.
http://www.kompasiana.com/danielht

Lembaran Klasika Kompas selalu menggunakan orang kulit putih sebagai ilustrasinya.

Pada 10 Maret 2011 lalu saya pernah menulis di Kompasiana yang mengkritisi cara penyajian artikel di Harian Kompas, yang menulis tentang ironisme dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat Indonesia. Banyak rakyat miskin yang semiskin-miskinnya sampai-sampai untuk makan sehari-hari saja mengalami kesulitan, berdampingan dengan kehidupan sebagian masyarakat lain yang hidup serba berkelebihan, bahkan bermewah-mewah. Tetapi di halaman yang sama Kompas sendiri justru membuat sendiri ironis itu.

Di halaman yang sama, dengan ilustrasi gambar tentang seorang nenek yang sangat miskin memungut butiran-butiran beras di jalanan, Kompas justru memuat iklan-iklan perumahan dan apartemen mewah!

Di Harian Kompas, Kamis, 30 Juni 2011 (hari ini), ada artikel di halaman 7, dengan judul “Martabat Bangsa,” oleh Budi Darma, Sastrawan. Tulisan ini membahas tentang sikap mental bangsa-bangsa bekas jajahan yang cenderung menghargai/menghormati bangsa asing (bule, kulit putih) daripada bangsa sendiri. Meskipun dalam kenyataan banyak juga yang berkualitasnya sama, bahkan lebih rendah daripada bangsa sendiri.

Budi Darma menulis, Homi Bhabha, seorang pakar koloniaslime pernah membahas sikap mental bangsa-bangsa bekas jajahan. Ada tiga butir pemikirannya: mimikri, ambivalensi, dan hibriditas.

Salah satu ciri pemikiran mimikri adalah kegemaran masyarakat kita menonton sinetron Indonesia dengan bintang-bintang kulit putih tak lain adalah pencerminan rasa rendah diri masyarakat karena lebih suka mengidolakan orang kulit putih daripada masyarakat sendiri, demikian tulis Budi Darma.

Opini Budi Darma ini bisa diperluas dengan apa yang terjadi di dunia iklan kita. Cukup banyak produk lokal yang justru lebih suka menggunakan bintang iklan bule ketimbang bintang iklan lokal. Bahkan ada juga lebih suka menggunakan jasa perusahaan iklan asing ketimbang lokal. Padahal kualitasnya sebanding.

Di banyak tempat publik, seperti mal, juga kita lihat banyak pemberitahuan tertulis yang lebih suka menggunakan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia, padahal pengunjungnya (nyaris) 100% orang Indonesia sendiri, yang nota bene justru mayoritas kurang atau tidak bisa berbahasa Inggris.

Ironisnya, Harian Kompas, termasuk dalam mereka yang mempunyai pemikiran mimikri.

Sudah sejak awal muncul format terakhir Harian Kompas, pada Lembaran Klasika, Kompas selalu menggunakan gambar ilustrasi orang-orang (para profesional) berkulit putih. Seperti yang dimuat pada Lembaran Klasika di Kompas hari ini, yang saya gunakan sebagai ilustrasi artikel ini.

Saya pernah beberapakali mengirim e-mail dan tulisan di mailing-list “Kompas Community” menanyakan, kenapa Kompas selalu menggunakan ilustasi orang-orang bule itu? Kenapa tidak pernah pernah menggunakan ilustrasi dari bangsa sendiri saja, yang tidak sedikit yang lebih dari layak untuk itu. Tetapi tidak pernah mendapat jawabannya.

Tulisan di Kompas hari ini, Kamis, 30 Juni 2011, dengan judul “Martabat Bangsa” oleh Budi Darma tersebut, hendaknya jangan hanya sebatas berupa otokritik bagi kita, tetapi hendak juga dijadikan awal dari perubahan pola pikir dari bangsa bekas jajahan itu.

Sudah waktunya kita semua, termasuk Kompas untuk tidak lagi menggunakan pemikiran mimikri, seperti yang sudah lama dipakai Kompas dalam mengelola Lembaran Klasika-nya. Tentu saja juga hal yang sama untuk pola pikir lainnya; ambivalensi dan hibriditas. ***

___30 June 2011
*) Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat.
Dijumput dari: http://sosbud.kompasiana.com/2011/06/30/martabat-bangsa-dan-kompas/

Categories: Esai