Mahwi Air Tawar
lampungpost.com
TIGA helai daun kering melayang-layang di atas gundukan tanah kuburan. Patek!, umpatnya. Gemetar. Segurat wajah legam suaminya membayang. Burung memintas dari sela dahan pohon kamboja. Ia berpaling ke belakang, lengang.
“Pasti ulahnya,” gumamnya. Terbetik pikiran aneh perihal suaminya, Suhmiyati calon istri kedua. Ah. Berseraklah titik fokus tujuannya mendatangi kuburan lewat sepertiga malam dengan tubuh hanya dibaluti sarung setengah badan. Continue reading “Senin, Guguran Daun-Daun”
