Seni, Riwayatmu Kini

Silvester Petara Hurit*
Pikiran Rakyat, 12 Jan 2008

PERHATIAN Pemerintah Daerah terhadap kesenian Sunda, seperti yang dikeluhkan kurator Taman Budaya Jawa Barat, Mas Nanu Muda dalam “Potret Buram Seni Sunda Kini” (“Khazanah”, 5/01/08), patut disayangkan. Anggaran kesenian yang sudah minim dipangkas dalam dua tahun terakhir. Hal ini, berdampak pada semakin turunnya jumlah pertunjukan di Taman Budaya. Belum lagi mekanisme perolehan bantuan dana yang berbelit-belit, seleksi, serta sistem kurasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan transparansi dan profesionalitasnya. Continue reading “Seni, Riwayatmu Kini”

Juri-Menjuri Seni, ‘Subyektif’ atau Bisa Obyektif?

Mudji Sutrisno *
Seputar Indonesia, 13 Jan 2008

MENGAPA juri menjuri seni sukar menarik garis tegas antara subjektif dengan objektif? Ada tiga ranah yang meletakkan ujung jawaban persoalan di atas.

Yang pertama, ranah perbedaan fungsi antara ilmu-ilmu empiris alam dengan ilmu-ilmu humaniora kebudayaan ketika ”membedah” kenyataan bernama kehidupan. Ilmu alam empiris berfungsi memberi penjelasan mengenai gejala-gejala realitas dalam hidup. Sementara ilmu humaniora budaya berfungsi memberi pemahaman. Continue reading “Juri-Menjuri Seni, ‘Subyektif’ atau Bisa Obyektif?”

Kebudayaan Nasional Versus Kebudayaan Komunitas

Agus Hernawan *
Kompas, 13 Jan 2008

KATA “Indonesia” awalnya hanya mengandung pengertian ethnological. Ia pertama kali diperkenalkan oleh GW Earl dan JR Logan, pada 1850, dalam dua artikel panjang yang dimuat di Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia.

Motif dan intensi politik pada kata ini agaknya dimulai sejak Soewardi Soerjaningrat mendirikan Indonesische Persbureau di Den Haag pada tahun 1913, disusul perubahan Indische Vereniging menjadi Indonesische Verbond van Studeerenden antara tahun 1917 dan 1919. Continue reading “Kebudayaan Nasional Versus Kebudayaan Komunitas”

Pendekatan Budaya dalam Penulisan Sejarah

Mu’arif *
Seputar Indonesia, 20 Jan 2008

MENULIS sejarah dengan pendekatan politik (kekuasaan) sudah lazim dipakai di kalangan sejarawan. Rangkaian peristiwa sejarah di masa lampau selalu dilihat berdasarkan perspektif kekuasaan (sejarah kekuasaan).

Padahal,sejarah merupakan hasil dialog jiwa dan pikiran manusia dengan realitas kehidupannya secara dinamis dan kreatif. Penulisan sejarah berdasarkan perspektif kekuasaan hanya mempersempit sudut pandang dalam mengungkap fakta-fakta historis dan kerap mengaburkan fakta historis yang cenderung dimaknai secara politis. Continue reading “Pendekatan Budaya dalam Penulisan Sejarah”

Budi Darma dan Pisau Bermata Dua

Lan Fang *
Kompas, 20 Jan 2008

MENANDAI 70 tahun kiprah Budi Darma di belantika bahasa dan sastra—juga seni dan budaya—Universitas Negeri Surabaya bekerja sama dengan JP Books menerbitkan Bahasa, Sastra dan Budi Darma.

Bila selama ini Budi Darma dikenal piawai menjungkirbalikkan tokoh-tokohnya dalam Olenka, Orang- Orang Bloomington, dan prosa-prosanya yang lain. Tetapi di dalam buku ini, ia tampil sedikit berbeda. Continue reading “Budi Darma dan Pisau Bermata Dua”

Bahasa »