Parade Budaya dalam Sastra

Hasan Al Banna
http://www.analisadaily.com/

Hampir tak dapat dianulir, sastra hadir sebagai wujud pendokumentasian sejarah perjalanan panjang manusia – dengan segala unsur yang melingkupinya. Bukankah sejak dahulu, sastra menunaikan tugas dalam memotret perjalanan manusia dan segenap budaya yang meliputinya? Agus R. Sarjono (2003:1) mengungkapkan, sastra dilahirkan -dan tak jarang melahirkan- lingkungannya. Hal ini makin menegaskan, jika sastra tidak lekang dari pengaruh lingkungan. Karena itu, sejauh-jauh sastra berkelena, tetap bertolak dari dan akan kembali ke lingkungannya berada. Lingkungan beserta langit dan bumi yang menengahkan nya menjadi inti inspirasi bagi sastra.

Karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya! Dengan demikian, hampir dapat dipastikan, jika karya sastra menyajikan segenap hal yang berkaitan dengan kebudayaan. Tak dapat dibantah, manusia adalah makhluk berbudaya. Budaya lahir dan dikembangkan oleh manusia (secara invidual maupun berkelompok) melalui akal dan pikiran, kebiasaan dan tradisi.

Kebudayan merupakan hasil urun rembug manusia yang sangat bergantung pada pengembangan kemampuan yang unik dalam memanfatkan segenap simbol, tanda-tanda atau isyarat alam. Dengan demikian, manusia dapat mengembangkan kebudayaan sesuai dengan cipta, rasa dan karsa masing-masing.

Indonesia dikenal sebagai bangsa dengan harta karun budaya melimpah. Dapat dibayangkan, betapa karya sastra Indonesia tersusun dari sulur-sulur kebudayaan Indonesia yang perkembangan waktu, tentu, berlangsung dinamis.

Apa saja yang terkandung dalam kebudayaan? Secara garis besar, Koentjaraningrat (1974:83) membedakan tiga wujud kebudayaan, yaitu: a) kebudayaan sebagai kompleks ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan, b) kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola manusia dalam masyarakat, dan c) kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Dua poin pertama mencuat sebagai bahan dasar yang paling banyak mewarnai karya sastra Indonesia.

Mengapa karya sastra ditengarai sarat dengan hasil daur ulang tentang kebudayaan? Karena sastra secara wujud terdiri dari deretan kata-kata, dalam konteks ini adalah bahasa. Kekayaan bahasa dengan segala kekhasannya dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan peristiwa budaya. Terlebih-lebih dalam bentuk karya sastra, yang semacam ruangan besar untuk menginformasikan segala sesuatu yang bersinggungan dengan budaya. Dengan bahasa yang unik, pengarang sastra sebagai manusia yang pada dasarnya tergabung dalam aktivitas kebudayaan menciptakan karya berdasarkan pengalamannya dalam masyarakat. Bentuk penyajian yang berbeda dari narasi nonsastra bertujuan agar peristiwa budaya yang beragam dapat dimaknai lebih mendalam.

Nyoman Kutha Ratna (2007:15) membeberkan, karya sastra membangun dunia melalui kata-kata, sebab kata-kata memiliki energi. Melalui energi, terbentuk citra tentang dunia tertentu, sebagai dunia baru. Melalui kualitas hubungan pragmatisme, sistem tanda dan sistem simbol, kata-kata menunjuk sesuatu yang lain di luar dirinya, sehingga peristiwa baru hadir secara terus-menerus.

Kata itupun memiliki aspek dokumenter yang dapat menembus ruang dan waktu, melebihi kemampuan aspek-aspek kebudayan lain. Pengetahuan mengenai masa lampau dapat diketahui melalui kata-kata. Informasi kekayaan alam, dengan keanekaragaman kebudayaannya, dapat disebarluaskan dari individu ke individu lain, dari satu masyarakat ke yang lain, dan sebagainya.

Seterusnya, Ratna berpendapat, karya sastra melalui medium bahasa metamorfosis konotatifnya, berfungsi untuk menampilkan kembali berbagai peristiwa kehidupan manusia. Tujuannya, agar manusia dapat mengidentifikasikan dirinya dalam rangka menciptakan suatu kehidupan yang lebih bermakna.

Dari uraian Ratna di atas, masyarakat Indonesia berkesempatan luas melakukan wisata budaya melalui sastra Indonesia. Kepentingan apa yang dikejar, sehingga masyarakat Indonesia seolah diharuskan mengenal keanekaan budaya di Indonesia? Jawaban sederhana dapat dilontarkan: agar khalayak mencapai pemahaman masif tentang masing-masing budaya yang terhampar dari Aceh sampai Papua. Ada hal yang jauh lebih berharga ketimbang sekadar mengenal deretan budaya.

Begini, bukankah keragaman budaya kerap dielu-elukan sebagai anugerah tiada tanding? Faktanya, terlebih akhir-akhir ini, aneka budaya tak jarang muncul sebagai alasan primer perpecahan. Jika ditilik, kelemahan (atau ketidakpedulian) memahami sesama menjadi indikasi kuat mengapa Bangsa Indonesia lengah memaknai persatuan. Identitas budaya masing-masing diusung sebagai keegoan. Padahal, teramat naif menempatkan budaya dalam konteks menang kalah. Bukankah harus dipahami secara masif, tidak arif menyeret budaya ke ranah tarung hidup mati? Karenanya, perlu memanfaatkan segala kemungkinan, kecil maupun besar, agar masyarakat Indonesia sudi bertukar pengetahuan tentang budaya yang tersebar di nusantara.

Salah satu kemungkinan itu adalah melalui sastra. Mengapa? Seperti yang telang disinggung sebelumya, sastra merupakan bagian hasil kebudayaan. Dalam kedudukannya sebagai wahana ekspresi budaya, sastra mempunyai fungsi untuk merekam perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia yang selanjutnya akan menumbuhkan rasa kenasionalan dan menumbuhkan solidaritas kemanusiaan. Sastra melalui media bahasa dan dengan segenap perilaku estetiknya dinilai mampu memberikan informasi terkait adat istiadat, pola-pola kehidupan, sejarah, bahkan konflik sosial masing-masing dari keanekaan budaya lokal yang terdapat di Indonesia.

Karena itu, sastra dengan konsep kearifan lokal (local genius) sudah sejak lama kerap didengung-dengungkan pengarang karya sastra. Kearifan lokal yang terkandung dalam sastra diharapkan mampu menetralkan perbedaan, sehingga bermuara pada terbentuknya pemahaman terhadap sesama. Wujud warisan budaya lokal yang bermacam-rupa membuka peluang untuk mempelajari kearifan lokal dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi di masa lalu.

Akhirnya, keberhasilan sastra mengungkapkan kekayaan budaya lokal yang tumbuh di sebuah tempat merupakan puncak pencapaian multikulturalisme – penghargaan dan pengakuan terhadap kemajemukan.

Jika disinggungkan dengan pembangunan nilai persatuan berbangsa dan bernegara, nilai-nilai yang termaktub dalam multikuluturalisme harus tetap dielus-dipelihara.

__________ 18 Mar 2012
Penulis; pandai fiksi-nonfiksi.