Pelajaran Kreatif dari Joni Ariadinata

Hary B. Kori’un
Riau Pos, 5 Agu 2007

BAGI kalangan sastrawan atau penulis, tetap mempertahankan nyala api kreatif, bukanlah persoalan mudah. Banyak sastrawan yang pada suatu masa menjadi sangat produktif, tiba-tiba mengalami stagnasi dan karya-karyanya tak lagi bisa dinikmati masyarakat. Banyak hal yang mempengaruhinya. Ada yang sibuk dengan pekerjaannya di luar dunia kepenulisan, ada yang karena sudah makmur sehingga kehilangan ide-ide kreatif, atau masalah lainnya yang lebih beragam.

Menurut Joni Ariadinata, ada beberapa cara atau tips untuk tetap menyalakan api kreativitas tersebut. Dia mencontohkan dirinya sendiri. Di tahun 1990-an ketika dia baru masuk di dunia menulis (sastra) yang dianggapnya sudah sangat terlambat, dia harus bersaing keras dengan Agus Noor, salah seorang cerpenis asal Jogjakarta yang juga sangat produktif ketika itu. Semua orang tahu, Joni dan Agus adalah dua sahabat kental, namun persaingan mereka di dunia menulis juga diketahui publik sangat keras. “Pernah suatu saat Agus Noor datang ke rumah saya membawa sebuah majalah terkenal, Matra, yang di dalamnya memuat cerpennya. Agus tidak mengatakan kalau cerpennya dimuat, tapi hanya bilang ke saya, ‘Jon, Matra… Matra…’ Hati saya jengkel betul ketika itu. Yang ada dalam pikiran saya adalah bagaimana supaya Agus juga merasakan sakit hati saya itu. Untuk itu saya harus berjuang keras agar menulis yang lebih baik dari Agus,” kata Joni.

Lelaki yang terkenal dengan cerpennya, “Lampor” (menjadi cerpen terbaik Kompas tahun 1994) ini juga mengisahkan, setiap dia membaca koran Ahad dan di sana ada karya Agus Noor, dia langsung merobek koran itu dan meremas-remas karya Agus. “Tetapi itu hanya persaingan kreatif. Di kehidupan sebenarnya, kami tetap berteman. Saya tak punya rokok, minta Agus. Dia tak punya kopi, datang ke rumah saya dan kami ngopi dan saling berbagi cerita dan ide. Hal-hal seperti ini perlu untuk menyalakan api kreatif. Yang tidak bagus kalau persaingan itu masuk ke hati dan membuat kedua orang teman saling bertolak belakang pandangan dan malah berseberangan secara pribadi,” kata redaktur Majalah Sastra Horison ini.

Kamis malam, 26 Juli 2007 lalu, Joni yang sedang berkunjung ke Pekanbaru karena menjadi pembicara dalam sebuah pelatihan menulis sastra bagi guru-guru bahasa dan sastra di LPMP, secara mendadak didaulat oleh Komunitas Paragraf Pekanbaru untuk berbicara dalam sebuah diskusi tentang proses kreatif. Sekitar 40-an penulis Pekanbaru datang dalam acara itu. Di antaranya sastrawan senior Fakhrunnas MA Jabbar, Olyrinson, Budy Utamy, Griven H Putra, M Badri, Jefry Malay, Hang Kafrawi, Murparsaulian, Gde Agung Lontar, Faris Iksan, Syafrini Nofitri bersama rekan-rekannya dari UIR, dan beberapa penulis dari berbagai komunitas di Pekanbaru.

Menurut Joni, persaingan antar-penulis di daerahnya, Jogjakarta, sangat ketat. Persaingan kreatif ini tak jarang melibatkan sesama teman baik. Dia mencontohkan, Marhalim Zaini, sastrawan Riau, pernah bersaing kreatif sangat tajam dengan Raudal Tanjung Banua, rekannya sesama mahasisa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta dan sama-sama teman satu komunitas penulis. Setiap cerpen atau puisi Raudal dimuat di koran, Marhalim akan bekerja keras untuk melakukan hal yang sama, juga sebaliknya. Hal yang sama juga terjadi antara Putut EA dengan Satmoko Budi Santoso dan beberapa sastrawan lainnya. “Yang terjadi, persaingan ketat antar-teman itu membuahkan hasil. Semuanya jadi. Sekarang, redaktur budaya media mana yang berani menolak karya Raudal, Marhalim, Satmoko atau Putut?” kata Joni lagi.

Dalam bagian lain, Joni juga menjelaskan bagaimana “permusuhannya” dengan kritikus sastra UGM, Faruk HT. Pernah suatu kali, kata Joni, ketika peluncuran kumpulan cerpennya, Kali Mati, Faruk diundang oleh Penerbit Bentang Pustaka. Dan ketika maju ke depan, Faruk mengatakan bahwa cerpen-cerpen Joni adalah karya yang buruk dan tidak menawarkan apa-apa. Faruk mengambil buku Kali Mati dan kemudian membuangnya. Joni sangat sedih sekali ketika itu. “Tetapi, sekali lagi, secara pribadi dengan Faruk, saya tetap akrab sebagai teman,” jelasnya lagi.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Marhalim Zaini dan cukup menarik tersebut, Fakhrunnas juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Joni. Fakhrunnas memaparkan bagaimana persaingan kreatifnya dengan koleganya, Taufik Ikram Jamil. “Tahun 1987 saya ke Pusat Dokumentasi HB Jassin bersama Taufik. Saya meminta kepada petugas untuk mencarikan file kliping tulisan saya. Ternyata karya saya banyak di sana. Taufik juga meminta kepada petugas untuk dicarikan file kliping karyanya. Dan ternyata tidak ada. Taufik kesal sekali ketika itu,” jelas Fakhrunnas.

Dan ternyata, kata Fakhrunnas, kejadian itu telah memacu Taufik untuk menghasilkan karya yang lebih baik. “Terbukti, setelah itu Taufik menjadi sastrawan asal Riau yang sangat produktif, jauh meninggalkan yang lainnya, termasuk saya,” jelas lelaki yang salah satu bukunya, Sebatang Ceri di Serambi, menjadi salah satu nominator Khatulistiwa Award tersebut.

Menanggapi banyak hal yang ber­kembang dalam diskusi, Joni menjelaskan, hal yang dilakukan oleh para penulis pemula untuk tetap eksis adalah selalu berkarya dan berkarya, tak peduli hasilnya seperti apa. “Tahun 1990-an, setiap hari Kompas menerima 80 lebih naskah setiap harinya atau lebih 500 cerpen setiap pekannya, dan yang dimuat hanya satu. Ketika “Lampor” menjadi cerpen terbaik Kompas, saya senang karena saya akan dengan mudah bisa menembus Kompas, minimal setiap bulannya. Tapi ternyata salah. Hampir setahun setelah itu cerpen saya ditolak Kompas. Tetapi saya terus menulis dan menulis,” kata sastrawan yang mengaku terpengaruh karya-karya Yanusa Nugroho ini.

Artinya, para penulis muda harus terus bekerja keras mengasah karyanya. Sebab, jika sudah terbiasa menulis, feelling akan muncul dan suatu saat pasti akan lahir karya-karya terbaik. “Yang menjadi persoalan, kalau baru dua sampai sepuluh karyanya ditolak media dan kemudian patah hati, ya sudah, tak akan pernah maju. Tetapi, saya kira, kalau kita tak berbakat menjadi penulis, untuk apa kita memaksakan diri? Toh masih banyak pekerjaan yang lainnya,” kata lelaki yang juga menerbitkan kumpulan cerpen Kastil Angin Menderu dan Malaikat Tak Datang di Malam Hari tersebut.

Tentang tanggung jawab sosial sastrawan terhadap masyarakatnya, Joni membuat ilustrasi. “Saya membaca karya legendaris dari Riau, yakni Panggil Aku Sakai karya Ediruslan Pe Amanriza. Itu novel yang luar biasa, penuh kritik sosial. Tentang penebangan hutan di Riau, masyarakat adat yang dipinggirkan, persoalan kapitalisme dan sebagainya. Tapi, apakah karya itu bisa mengubah semuanya? Toh semuanya yang diceritakan di novel itu masih terjadi di Riau saat ini?”

Joni mengatakan bahwa sastrawan tidak harus terbebani oleh persoalan sosial-kultural masyarakatnya dalam berkarya. Tetapi sastrawan tentu tidak bisa menutup mata atas persoalan sosial yang ada di ma­syarakatnya. Joni kemudian juga menanggapi pertanyaan salah seorang peserta diskusi, tentang maraknya sastra berbau seksual yang kini sedang hangat dibicarakan, yakni polemik antara Taufik Ismail dan kelompok Hudan Hidayat.

“Saya tidak membela Taufik dan menghujat kelompok Hudan. Tetapi saya tanya kepada teman-teman sekalian, etiskah dalam kondisi bangsa sekarang ini yang hancur secara ekonomi, sosial maupun kultural, sementara para sastrawan asyik bermain-main dengan kelaminnya? Menurut saya, itu tak etis, dan itu yang dikatakan oleh Taufik Ismail dalam pidato kebudayaannya yang kemudian ditanggapi beragam oleh kelompok pengarang yang suka mengutak-atik kelaminnya sendiri dalam karyanya. Kalau hanya menulis tentang kelamin dan seksual, tak perlu seorang pengarang membaca teori budaya dan sosial, cukup bayangkan tubuh gadis cantik dengan segala lekuk tubuhnya, maka jadilah karya. Tapi tak mudah menulis karya yang menjadi potret sosial-budaya masyarakatnya,” ungkap Joni panjang-lebar.

Dijumput dari: http://apresiasipuisi.multiply.com/reviews/item/5