Pembaca

Hasif Amini
Kompas, 05 Nov 2003

“BAGAIMANA sebenarnya puisi bekerja atau diolah di benak pembacanya?” tanya secarik surat tanpa tanda tangan. Tergantung masing-masing pembaca, tentu, dan tergantung puisinya juga, pasti. Atau entahlah. Namun, saya teringat Abbas Kiarostami, sutradara terkemuka asal Iran itu.

Selesai menonton film Kiarostami The Wind Will Carry Us, kira-kira setahun setelah film itu diluncurkan pada tahun 1999, saya sempat tertegun saat keluar dari gedung bioskop. Mungkin gambar pemandangan dusun yang indah di sebuah kawasan pegunungan di Iran, yang berulang-ulang diambil dari jarak jauh maupun disusur dari dekat oleh kamera yang bergerak, namun sunyi nyaris tanpa ilustrasi musik, dalam film itu masih menyihir ingatan saya. Mungkin juga plotnya yang sederhana, setengah tersembunyi hingga akhir, tentang beberapa orang yang berniat membikin film dokumenter tentang upacara perkabungan yang unik di wilayah pedalaman tersebut, dan untuk itu harus menunggu kematian seorang nenek jompo, tetapi kemudian menemui pelbagai peristiwa di luar rencana mereka, yang menjadikan saya terpesona. Atau mungkin dialog-dialog ringan namun cerdas antara Behzad, si tokoh utama pembuat film dokumenter, dan anak kecil bernama Farzad yang menjadi semacam pemandunya di kampung itu, yang membuat saya tercengang. Atau tokoh-tokoh kunci yang justru tak pernah kelihatan, yang membikin penasaran.

Akan tetapi, rasanya benak saya terus terusik oleh sekian puluh detik kegelapan, ketika layar sepenuhnya hitam, ketika Behzad, yang disapa “insinyur” oleh penduduk setempat-sambil menunggui seorang gadis berkerudung memerahkan susu sapi untuknya di sepetak kandang bawah tanah-melafalkan sebait sajak dalam bahasa Parsi, yang menjadi ilham dan judul film itu. Dalam malamku, betapa singkat, sayang/ Angin segera akan bertemu dedaunan./ Malamku betapa singkat betapa sarat kepedihan/ Wahai! Kau dengarkah bisikan bayang-bayang?/ Di sana, di tengah malam, sesuatu terjadi/ Bulan cemas dan merah/ Dan, bergayut pada langit-langit ini/ Yang mungkin runtuh sewaktu-waktu,/ Mendung, seakan sekerumun perempuan berkabung,/ Menunggu kelahiran hujan./ Sedetik, lalu hening bergeming./ Di balik jendela ini,/ Malam gemetar/ Dan bumi berhenti./ Di balik jendela ini, seorang asing tengah cemas akan kau dan aku./ Engkau di kehijauanmu,/ Lekapkan tanganmu, kenangan membara itu,/ Ke tanganku yang mencinta./ Dan pasrahkan bibirmu, penuh hangat kehidupan/ Ke bibirku yang mencinta./ Angin akan membawa kita!/ Angin akan membawa kita!

Itulah sepotong sajak Forough Farrokhzad, perempuan penyair kelahiran Teheran yang meninggal dunia di usia 33 dalam sebuah kecelakaan mobil di tahun 1967. Dengan padat dan kuat sajak itu menghadirkan sejumlah kontras yang bagai bersahut-sahutan, tetapi juga misteri yang tak ternamai, seakan hidup dan maut itu sendiri berpapasan di sana dan bertukar kata dalam bahasa yang sudah punah. Yang “singkat” ternyata juga adalah yang “sarat”. Mendung yang bagaikan “sekerumun perempuan berkabung” tengah menunggu “kelahiran hujan”. “Hening bergeming”, tetapi “malam gemetar”, tetapi “bumi berhenti”. Dan siapakah gerangan orang asing di balik jendela yang “cemas akan kau dan aku”? Kiarostami, seorang pembaca puisi yang brilian, dengan tangkas mengembangkan pelbagai tegangan, ironi, paradoks, repetisi, kesederhanaan, juga gelora dalam puisi pendek itu ke dalam sebuah gambar hidup yang menawan, minimalis, menukik dalam: sebentuk konstruksi prismatis yang bisa menampilkan cahaya dan warna-warni baru di setiap perjumpaan.

Memang, dari kursi di ruangan gelap itu, barangkali kita tak segera menyerap seluruh saranan makna yang bergerak di antara arus citraan yang mengalir tenang, namun berkelok-kelok tak terduga dalam perkisahan. Kadang kala Kiarostami seperti asyik saja bermain-main, mungkin dengan kiasan: sebutir apel yang menggelinding berliuk-liuk mengikuti permukaan lantai yang tak rata, seekor keong yang berjuang menelungkupkan badan, seorang pemuda yang menggali lubang (sumur?) di puncak bukit, seorang lelaki yang setiap kali ponselnya berbunyi selalu menyetir mobilnya ke ketinggian agar mendapat sinyal, … Betapapun, segenap “keisengan” itu berjalan paralel dengan penantian tak menentu si pembuat film dokumenter sehingga tak terasa dipaksakan, tetapi malah merangsang untuk dipikirkan.

Film Kiarostami pada dasarnya adalah sebentuk puisi. Sebuah puisi, dalam medium apa pun, menempatkan pembaca (penonton, pendengar) sebagai penulis (pencipta) juga, yang bisa (mungkin harus) mengolah dan merangkai makna sendiri dari komposisi tanda yang ada di hadapannya. Sambil menikmati, tentu saja.

Dijumput dari: http://hasifamini.blogspot.com/2008/09/pembaca.html