Propinsi Para Penyair

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Di antara warna-warna kesedihan wajah, ada tersisa gurat ceria. Di sebaliknya, gelimang absurd gelak tawa senantiasa diintip rasa cemas, dan siap meluas. Ajaran Tao menekankan kepercayaan pada perimbangan kalkulasi kenyataan. Begitu pula yang terjadi di Surabaya kini. Di antara ruap gelibat kasus (sampah, penggusuran PKL, sakitnya walikota, dll), kabar gembira mesti diyakini. Surabaya, ibukota propinsi Jawa Timur, kota pahlawan yang kini lebih dikenali sebagai kota banjir, merasang bakal para penyair nasional. Penyair dengan tawaran estetika tertanggung-jawab, alias bukan penyair sekadar.

Berita gembira ini datang dari jurnal kebudayaan Kalam. Usia belum begitu tua, Kalam mampu “melanjutkan tradisi sastra/ seni yang pernah ada di tanah air”. Para penyair Jawa Timur ada di dalamnya. Mereka turut mengangkat, mencecapi, serta memberi peran lebih terhadap Kalam.

Kalam, dari edisi pertama (1994) sampai edisi terkini (2001), mencatatkan 8 (delapan) penyair dari Jawa Timur. Surabaya tampil sebagai ibukotanya, pusat propinsi Jawa Timur. Akhudiat, D. Zawawi Imron, HU. Mardi Luhung, W. Haryanto, Beni Setia, Arief B. Prasetyo, Mashuri, dan Deni Try Aryanti. Delapan penyair yang tidak saja terpublikasikan di jurnal Kalam, media massa lokal dan nasional kerap disinggah-tempati. Mereka saling membesar, sekaligus saling membedakan secara puitik.

Pertanyaan patut disorongkan terhadap fenomena. Mengapa Jawa Timur, pusatnya ada di Surabaya, terkondisikan sebagai tempat lahir para penyair handal. Sedikit sosiologis, memang. Tetapi, kekhawatiran estetik tidak perlu terlalu meluap. Cynthia Ozick, sastrawan Amerika, menandaskan dalam sebuah interviu di The New York Times, “penulis (baca: penyair) mau tidak mau merepresentasikan sifat-sifat kebudayaan dan peradaban tempat ia lahir dan dibesarkan”. Jerman memberi dan diberi karakter oleh Goethe melalui Doktor Faust. Yasunari Kawabata tidak terlepas dari mencerap dan mengondisikan tradisi Jepang lewat Penari-penari Itzu.

Agar berimbang letak posisinya, penyair dengan tempat tinggal dan penyair dengan karya puisi, estetika puisi patut dibedah. Organ-organ pembentuk puisi dicatat. Simpul-simpul kode puisi ditafsirkan. Pun juga, diketengahkan pertautan antar penyair dari Jawa Timur. Estetika puisi ada pada cara membentuk kenyataan, ini penting dicermati, bahasa puitik.

Gambaran Prulalitas Estetik

D. Zawawi Imron, penyair Madura yang tidak pernah tahu tanggal kelahirannya, menuliskan puisi bermetaforik susul menyusul. Puisi berjudul “Utang”: Kalau utang itu telah menjadi bulu tubuh kami, menjadi rambut dan bulu ketiak kami, utang itu akan mendesir dalam aliran darah kami, dan mendetak dengan sejumlah detak jantung kami, serta tak sempat kami lunasi, sebelum kami mati, utang itu akan menjadi nanah tempat berkubang anak-anak kami, utang itu akan menjadi samudera tempat berlayar cucu-cucu kami.

Paralelistik kata dipergunakan Zawawi untuk menegaskan arus pemikiran. Kata “utang” digulirkan berurutan dengan identitas berlainan. Masing-masing bermain di lingkungan tersendiri, sekaligus masing-masing kait berkait sebagai jalur peristiwa. Seperti kelak kelok sungai, kata “utang” merebak dari mata air dan menempuh tempat-tempat asing. Ketika bertemu sawah, ia berbau tunas padi dan racun tikus. Ketika melewati hutan, ia terjatuhi guguran daun jati, dan menjadi lembab karenanya. Ketika singgah di kota, ia menjadi asin. Masing-masing lingkungan membentuk sifat dan sikap pada kata “utang”.

Keberadaan wilayah-wilayah kata “utang” tidak saling memisahkan diri. Atau sebagai kematian. Masing-masing menjadi rangkaian utuh genetik. Sifat-sifat khas metamorfosa muncul dalam kata, sekaligus kata tidak bisa dikategorikan pada aspek historis di luar dirinya. Sebuah pola kronologi metamorfosa kata dari arti tunggal ke wujud jamak. Konsepsi utang terbentuk lalu bergerak melebar hingga menyentuhi persoalan yang lebih universal.

Arief B. prasetyo, penyair yang hingga kini masih disibukkan “perjuangan mencipta personalitas teks”, menuliskan puisi yang serasa chaos. Struktur puitik mecah memecah, pendar memendar, saling menyingkir, dan saling berpusaran. Di pinggulmu selusin sayap ingin mengerjap, kunang-kunang terbang, menikung, mengiang, membandang, terus, terus, cepat, ringkus, remas, hempas, keras-keras, jadi jerit bianglala yang terkulai di telaga, yang terberai, terkapar menggapai-gapai akar darah…

Akrobatik diksi puisi “Mahasukka” tersebut amat lincah. Kalau pada puisi Zawawi, diksi “utang” menjadi pusat dan digulirkan secara berkelanjutan, Arief tidak membutuhkan pusat diksi. Kata “pinggulmu”, kata tempat pijak kenyataan teks, dimunculkan hanya sekali, selebihnya pusaran ataupun belitan-belitan adegan. Sebuah struktur puisi yang panik.

Pembacaan Nirwan Dewanto terhadap puisi Arief B. Prasetyo perlu diketengahkan. Nirwan mendapatkan kesulitan dalam mengikuti gerak gelibat puisi Arief. Dan atas kesulitan itu, klaim disorongkan. “Jika pembaca tersesat terlalu pagi, ia akan habis sebelum sampai pada neraka semut api atau mahasukka”, tulis Nirwan dalam semacam kata penutup dari antologi Mahasukka. Nirwan lebih suka berdasar pada tradisi puisi yang telah ada, menghakimi karya puisi baru. Perbedaan-perbedaan bentuk atau variasi-variasi puitik yang membingungkan dianggapkan sebagai “menyalahi tradisi”. Pandangan yang mirip dengan Sutan Takdir Alisyahbana ketika mengomentari puisi, “karya Chairil Anwar” buruk. Ukuran puisi tradisi Pujangga Baru dipakai, sementara Chairil membuka bagi tradisi pasca-Pujangga Baru. Nirwan tidak terbuka terhadap tawaran. Akan lebih bermanfaat bagi publik puisi, Nirwan memahami (atau memaknai) tawaran puisi Arief lalu memberi gambaran struktur teks sebagai variasi dari tradisi puisi yang telah pernah ada.

Puitika akrobatik juga terbit pada puisi W. Haryanto. Lewat puisi, pembaca bisa menyaksikan kata-kata berlompatan membentuk realitas-realitas tanpa terduga, tetapi dapat diterima nalar. Kata-kata dirakit tanpa kepercayaan pada landasan kuat membentuk lompatan. Kata-kata seakan bersijingkat dalam medan makna. Latar belakang dihadirkan sebatas pemenuhan alur teks.

Di sebelah matamu, segala rasa bersalahku hilang di daratan jauh, dan kegelisahanku mencipta gairah-beku karang-karang di langit, dengar penggalan tanyaku ini, Ida; ketika kuntum arus ombak memberi sebuah akhir dari radang-radang pelapukan musim; dan lihat lukaku ini, Ida. Penggalan dari puisi “Surat yang Terpotong, Buat Aida”.

Penggambaran puisi tampak jauh dari suatu ekspresi. Rasa bersalah yang semestinya abstrak, masuk dalam wilayah moral, pada puisi mendapat citra visual konkret. Segala rasa bersalahku hilang di daratan jauh. Rasa bersalah dihilangkan, tetapi dimunculkan rasa gelisah. Dua ciri rasa puas terhadap interaksi manusia. Tidak ada paradigma lebih lanjut dari dua oposisi material teks yang dalam kehidupan sosial empirik bersatu karakter. Yang terjelaskan, sebuah penggal tanya. Juga luka. Segalanya dengan visualisasi mengejutkan.

Bila pada Arief, akrobatik puisi muncul dalam wilayah antar kata. W. Haryanto memunculkannya dalam wilayah antar kalimat. Arief sering mempercayakan kenyataan dalam banyak tanda baca koma dengan isian satu kata, sehingga teks menjadi sugestif. Sebuah percepatan sintaksis, percepatan pikiran, dan tercipta suasana mistis. Puisi W. Haryanto mengisyratkan penolakan terhadap sugesti. Kalimat-kalimat yang panjang dari puisi W. Haryanto menyebabkan pembaca sepenuhnya berada di kesadaran. Karenanya, kerumitan pada puisi menggambarkan kerumitan dalam logika berpikir. Puisi membentuk sebuah dunia dan dunia tersebut dipenuhi pikiran-pikiran spontan.

Satu-satunya penyair perempuan dari delapan penyair Jawa Timur, Deny Tri Aryanti. Belajar menulis puisi baru 4 tahun, puitika sajiannya memperlihatkan kecenderungan luar biasa matang. Penguasaan terhadap tubuh sebagai acuan struktur puitik sangat bagus. Lihat puisi berikut, wajahmu mewarnai batu karang yang kering, sedangkan aku masih terus berjalan di atas rambutmu yang memutih, menggulung pori-pori, untuk kujadikan aliran darah dari mulutku.

Tubuh mengalami tiga tataran kenyataan dalam puisi “Malaikat Putih” tersebut. Pertama, tubuh sebagai daging yang bisa diraba, dan merasakan sakit bila dicubit. Kedua, tubuh sebagai simbol untuk membahasakan pikiran. Ketiga, tubuh sebagai persepsi atas kenyataan. Tiga eksplorasi tubuh serentak hadir membentuk identitas teks. Pada puisi W. Haryanto atau beberapa penyair lain, tubuh lebih banyak diperankan dalam dataran persepsi. Pengaruhnya, pembaca tidak dapat mengenali tubuh dalam puisi sebagaimana tubuh dalam kenyataan.

Kelengkapan puisi Deny dalam mengolah tubuh membuat pembaca seakan dibawa berkeliling dalam aneka macam pariwisata tubuh. Berbagai konteks diciptakan hingga penafsiran atau pengalaman tentang tubuh mudah diikuti. Pengetahuan terbuka dari tubuh. Lompatan-lompatan pikiran pun dapat dipahami secara ketubuhan. Hasilnya, teks puisi dengan struktur ketubuhan.

Dari puisi Mashuri, penyair jebolan dua pondok pesantren, pembaca mendapatkan karakter “pengetahuan yang diimajinasikan”. Pemikiran-pemikiran tokoh diimpor. Pengetahuan tersebut ditafsirkan, diimajinasikan, dan difantasikan sehingga mencapai makna baru, mungkin bisa dikenali, mungkin pula terbebas dari pengetahuan lama. Pola puitik ini mirip dengan kinerja puisi Goenawan Mohamad. Hanya saja, pengalaman individual dan latar geografis yang berbeda menghasilkan situasi teks dan sikap teks yang berbeda pula. Pastinya, puisi ciptaan Mashuri menuntut pembaca memasuki lingkungan pengetahuan khusus. Pembaca yang tidak sampai pada lingkungan pengetahuan yang dijadikan materi puisi akan sulit untuk meraih pemaknaan yang sesuai keinginan penyair.

Ada sebuah contoh puisi Mashuri yang bersandar dari puisi penyair lain. Jika aku membangun surga, ia bukan rumah, ia hanya lukisan di cakrawala, bukan kata benda, bukan pula dermaga segala muara. Kutipan diambil dari puisi “Biografi Hujan: malna, sejarah tak pernah ada”

Penyebutan “malna” pada sub judul puisi, tidak bisa tidak, mengarahkan pembaca pada satu nama penyair setengah botak: Afrizal Malna. Ini merupakan puisi tanggapan atas puisi Afrizal; kita pernah membuat rumah, sebuah dunia, tapi dengan merasa heran, kita bertanya, kemana mesti pulang (puisi berjudul “Hujan di Pagi Hari”). Puisi Mashuri menolak konsepsi “rumah” dari puisi Afrizal. Lebih jauh lagi, puisi Mashuri memberi kritik terhadap puisi-puisi Afrizal yang bertumpahan kata benda.

Pilihan puitik pengetahuan dari Mashuri sungguh penuh tantangan. Ada jebakan besar, bisakah puisi mengikatkan diri pada lokalitas pengetahuan sekaligus merebak ke universalitas hidup. Artinya, puisi tidak hanya berkutat pada pengetahuan. Puisi memberi tanggapan juga atas pengetahuan, dan kompleksitas kehidupan. Maksimalitas perangkat-perangkat perpuisian mutlak diperdayakan. Perangkat tersebut akan membentuk adonan rupa, bau, bunyi, ataupun penyataan mitologi yang hampir semua manusia sanggup memahami.

Selanjutnya, puisi HU. Mardi Luhung berjudul “Ziarah ke Reruntuhan Makammu” patut dicermati khasanah tata kramanya. Tapi lewat kangkangan-kangkangan kakinya, yang persis di tengahnya, aku lihat lubang-lubang syahwat merayu segala gerak yang lewat, segala gerak yang menyusun bangkai-bangkai laki dan perempuan, menjadi sedotan-sedotan dengan nganga yang cuma dua saluran “menyedot sampai tuntas, atau disedot sampai habis!”

Puisi Mardi dengan “kangkangan-kangkangan” serta “sedotan-sedotan” puitiknya (meminjam istilah puisi Mardi sendiri) seolah menguji standar ketertiban estetik. Sopan santun dari kanon estetik dipertanyakan, disodok-sodok dengan kenyataan ragam bahasa pinggiran. Ucapan atau bahkan umpatan-umpatan dalam khasanah publik diambil lalu dijadikan bahasa puisi. Mardi Luhung telah melakukan reproduksi bahasa publik, terutama bahasa masyarakat pinggiran kota besar. Reproduksi ini membuat bahasa puisi menampakkan seabrek kegaduhan dan kekalutan dari persinggungan-persinggungan personal dan kepentingan. Mardi mengulang kinerja Chairil Anwar yang berhasil mengangkat ragam bahasa Melayu Rendah dalam keindahan. Puisi bertindak sebagai penyuci kericuhan bahasa publik marjinal.

Lain Mashuri, lain Mardi, lain pula Beni Setia. Penyair, yang katanya tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali menulis ini, memproduksi kenyataan dari beberapa nama tokoh sejarah dan merengkuhnya dalam peristiwa yang banal. Dan Ronggowarsito+Hasan Mustopa menjelajahi New York dan New Delhi dengan bis bertingkat –di Cililitan mereka ketemu J.P. Coen (puisi “Catatan Turistik tentang Jakarta”).

Pertemuan tiga tokoh dari jaman berbeda, dan tempat berbeda, serta sarana pertemuan yang aneh pada puisi Beni Setia menciptakan kenyataan banal namun parodis. Masing-masing tokoh dalam puisi masih dilekati identitas kesejarahan. Representasi terhadap biografi tokoh tidak begitu kuat, mungkin sengaja. Sehingga teks puisi tampak bermain di wilayah permukaan. Justru kebanalan biografi tersebut, ketika masing-masing tokoh dipertemukan, kenyataan parodi yang melawan sejarah terciptakan. Ruang dan waktu dalam sejarah dihapuskan. Lahir kemudian, kenyataan teks dari persilangan biografis.

Tentang Akhudiat, Akhudiat lebih menarik dibicarakan masa lalunya daripada kekiniannya. Puisi-puisi Akhudiat terkini, lebih mengarah pada penciptaan geografis dengan kesan realisme sosial. Aspek komunikatif pun tidak disublimkan secara mendalam. Puisi Akhudiat terkini seakan mengulang gaya puisi-puisi mahasiswa yang membentuk angkatan 66, “patriotisme pembelaan terhadap kaum miskin”. Sebuah puisi cenderung ke pernyataan idealistik daripada riuh sengkarut kenyataan.

Tahun 1970-an, Akhudiat justru mampu menciptakan puisi penuh tawaran. Ram tam tam tam: Naik kereta roda kaki. (Alfin Toffler & Co, salut dari gubug). Si penumpang tidur molor, bangun menjelang lohor, ketika geludug bukan halilintar, di ranjang bawah tanah. RAM RAM TAM TAM TAAM RAM RAM RAM. Puisi Akhudiat ini bila dikerjakan secara serius, sangat mungkin akan mampu mencapai standar puitika Afrizal Malna. Setidak-tidaknya, Akhudiat mampu menyamai puitika Beni Setia.

Propinsi tanpa Dunia Simbolik

Tetapi, mengapa yang justru berkembang di Jawa Timur adalah kepenyairan, dan bukannya drama atau prosa. Ada beberapa prasyarat kedramaan dan keprosaan yang patut dipertimbangkan dalam kaitannya dengan masyarakat Jawa Timur: komunalitas.

Drama sebagai salah satu bentuk estetika membutuhkan sekelompok manusia dalam penciptaan. Satu produksi drama terdiri dari perangkat sutradara, tim artistik, anggota properti, anggota pencahayaan, tim make up, tim aktor, dan administrator. Ketika teater Garasi Yogyakarta datang ke Surabaya dalam pentas “Caligula” naskah Albert Camus tahun 1995, kru yang dibawa berjumlah 70 orang. Berbagai peralatan dan perlengkapan dibawa, saat itu dibutuhkan satu truk besar untuk pengangkutan.

Jawa Timur, sangat mungkin, kekurangan modalitas dalam pembentukan karya secara kelompok. Bagi masyarakat Yogyakarta membentuk sebuah teater adalah perkara mudah. Ikatan komunal terdapat di Yogyakarta. Posisi Yogyakarta sebagai “daerah istimewa” di bawah kekuasaan HB X membuat mereka mempunyai kemudahan membangun persepsi yang sama. Kerja kelompok berteater disatukan oleh ikatan tersebut. Perbedaan-perbedaan utopia dan gagasan dapat dengan gampang terselesaikan karena Yogyakarta mempunyai acuan yang jelas terhadap satu tatanan hidup. Kehidupan keraton dengan segala keseharian dan keagungan.

Jawa Timur sebagai “propinsi biasa” menghadapi pluralitas hidup kemasyarakatan. Surabaya terlalu rentan untuk penciptaan ikatan utopia ataupun tradisi. Keadaan akan, dan senantiasa, ubah berubah. Pada kondisi perubahan, pembentukan teater dengan jumlah anggota puluhan orang (bahkan ratusan) dan intensitas proses berkualitas sulit terjalani. Kerja berteater membutuhkan kesamaan dalam mentalitas dan bentuk penerapan gagasan bersifat komunal. Persamaan kesejarahan dan persamaan utopia tradisi.

Bila beberapa orang Jawa Timur dikumpulkan dan saling membangkitkan keidentitasannya, kejiwaan yang tertangkap adalah keterbelahan. Tradisional kesilamannya berasal dari tradisi Jawa. Utopia kedepanannya beranjak lurus ke tradisi anti Jawa. Persoalan yang bukannya sukar ditebak.

Tata hidup dan kehidupan dibentuk oleh kejawaan. Hanya saja, Jawa sebagai pusaran tradisi, pusatnya ada di Yogyakarta. Mataram. Jawa Timur, dulu memang, wilayah Mataram, kini, pusat Jawa Timur adalah Surabaya. Ada penolakan yang bersumber dari identitas kejawaan yang telah mapan. Diskontinuitas muncul dalam benak. Keterputusan antara masa silam dan kekinian. Lebih terputus lagi, kesilaman dengan kedepanan. Padahal untuk menciptakan teater sangat membutuhkan keakaran dan keidentitasan yang sama. Satu acuan yang dapat dipakai untuk menciptakan format masa depan.

Mungkin, Jawa Timur akan mendapatkan keidentitasannya jauh sebelum Mataram. Dua kerajaan besar pernah hadir di propinsi ini: Singasari (1222-1292) yang menguasai hampir seluruh pulau Jawa, Majapahit (1293-1528) yang justru menguasai hampir seluruh Nusantara. Singasari, kini hanya menyisakan ceceran candi-candi kecil, sulit menjadi simbol Jawa Timur. Candi Jago yang telah kehilangan separuh badannya, patung Ken Dedes yang kini ada di Leiden, candi Kidal yang hanya berupa bangunan kecil, candi Singasari yang telah rompeng, dan candi-candi lain lebih parah nasibnya. Majapahit pun tidak meninggalkan bangunan megah yang layak menjadi simbol keidentitasan Jawa Timur.

Kecuali dua kerajaan besar tersebut, Jawa Timur pernah dihuni beberapa kerajaan kecil. Darmawangsa, Panjalu, Jenggala, Sumenep, Blambangan, Kahuripan, Dhaha, dan lain-lain. Tragisnya, tradisionalitas (hal-hal yang menjadikannya tradisi) hanya berhenti pada jamannya an sich. Aziz Manna, sejarawan dari Unair Surabaya, dalam sebuah diskusi sempat menyatakan, “masyarakat Jawa termasuk masyarakat yang gemar perang”. Resiko ada pada kini, warisan yang dapat dijadikan sandar kesatuan simbolik tidak ada. Masing-masing kerajaan telah saling menghancurkan dan menghapus tradisi. Terakhir yang terjadi, kebesaran Majapahit terhapuskan oleh Mataram. Tradisi Majapahit hanya tersisa di masyarakat Tengger, sebuah masyarakat terasing yang primitif bagi ukuran modern, atau di masyarakat Bali. Keidentitasan Jawa telah direbut Mataram. Tanda-tanda ke arah perebutan itu bukannya tidak kentara, sampai sekarang. Mitologi acuan yang hidup dan mengikat kejawa-timuran tidak terbaca dari masa silam, justru masa mendatang.

Kesejarahan yang tidak mendukung bagi teater diperparah oleh perubahan-perubahan terkini. Masyarakat Jawa Timur tengah bergerak menuju masyarakat ekonomik. Sebuah masyarakat rasional yang mengutamakan perkembangan ekonomi dan teknologi. I Ketut Nehen dan Glan Iswara, dua dosen Udayana Bali, melihat pertautan yang saling berlawanan antara nilai ekonomi dan nilai seni. Kedua ilmuwan tersebut menuliskan dalam majalah Prisma no 3 tahun XIX 1990, “peningkatan nilai ekonomi berpengaruh terhadap penurunan nilai seni”. Jawa Timur dengan perkembangan bidang ekonominya semakin bersifat individual. Keperluan dan prosesi seni yang berskala masyarakat semakin kekurangan alasan untuk dikerjakan, atau mungkin tidak dibutuhkan. Penciptaan seni teater yang besar akan mengerem pijakan ekonomi yang telah dibangun.

Dua fakta, kesejarahan dan perkembangan ekonomi, membuat Jawa Timur kehilangan dunia simbolik, sebuah simbol yang universal. Simbol yang bisa diterima atau sedang melandasi aksi dan kreasi menyeluruh bagi masyarakatnya. Dunia simbolik (symbolik universe) menurut pengertian Peter Berger dan Thomas Luckman dalam buku The Social Contruction of Reality “badan-badan atau bagian tradisi secara teoretis yang membakukan berbagai makna propinsi dan meliputi tatanan institusional dalam suatu totalitas simbolik” tidak terpenuhi di Jawa Timur. Secara spekulatif dapat ditegaskan, apakah mungkin, “orang-orang Jawa Timur bukan suatu masyarakat melainkan mengacu kepada kerumunan atau organisasi bentukan”.

Dunia simbolik juga sangat diperlukan dalam penciptaan prosa. Genre prosa mensyaratkan pemenuhan plot dan interaksi antar tokoh cerita. Prosa merupakan representasi dari masyarakat. Struktur prosa merupakan analogi dan refleksi struktur masyarakat. Pada sebuah propinsi, seperti propinsi Jawa Timur, yang tidak memiliki dunia simbolik, penciptaan prosa dengan struktur utuh dan mendalam amat kekurangan modal referensial kreatif. Hal ini berbeda dengan sastrawan yang hidup di propinsi Jawa Barat yang memiliki tradisi Sunda, atau propinsi di Sumatera yang masih memiliki tradisi Melayu.

Kesulitan, tetapi semoga bukan ketidakmungkinan, penciptaan prosa dan drama, berbalikan dengan kerja kepenyairan. Jawa Timur sangat kondisional untuk kepenyairan. Rasionalisasi yang paling niscaya: tidak mungkin sebuah masyarakat berlari jauh dari dunia estetika atau dunia keindahan. Sebuah masyarakat senantiasa menciptakan karya yang menunjukkan apresiasi atau representaasi keindahan. Persoalannya hanyalah bentuk keindahan yang dimungkinkan. Pilihan tertampung ke karya sastra bergenre puisi.

Propinsi Masa Remaja

Berada di antara masyarakat Jawa Timur, seseorang akan merasa berada di rumah sendiri. Setiap orang boleh menjadi dirinya sendiri, diperlegalkan menjalani tradisi independen. Kondisi yang tercipta oleh sebab di Jawa Timur tiada dunia simbolik. Berada di Yogyakarta, seseorang dari luar daerah akan terkondisikan untuk beradaptasi dengan tradisi Jawa, pengaruh keraton Yogyakarta terlalu sulit diabaikan.

Jawa Timur merupakan propinsi terbuka. Inilah sebuah kondisi yang bisa disebut puitik. Wilayah yang representaatif untuk datangnya tradisi luar dan gagasan baru. Tradisi dari luar tersebut, dalam skala minimal, dipakai dan dikembangkan oleh lingkup kecil masyarakat pembawanya.

Pluralitas bahasa dan tematik puisi para penyair Jawa Timur tidak terlepas dari kondisi kerentanan tradisi. Dunia simbolik Jawa Timur adalah sesuuatu yang ada di masa depan. Dunia simbolik yang menunggu untuk dibentuk. Mardi Luhung, penyair dari kota pantai Gresik, dalam puisi seringkali melakukan adopsi kultur pesisiran dengan percampuran kultur asing, bahkan kultur benua berbeda.

Keterbukaan struktur puisi Mardi tercipta oleh pluralitas materialitas puisi. Kenyataan kultural. Ketika Mardi mencoba menggali pesisiran, di Gresik tradisi itu pernah dibentuk oleh Sunan Giri, tradisi Islam, kenyataan yang muncul justru simpang siur tradisi. Gresik bukan lagi kota pesantren. Gresik telah menjadi tempat tinggal “pabrik” dan banyak orang-orang datang untuk berprofesi sebagai buruh. Mau tidak mau, ingin tidak ingin, tradisi pesisiran puisi Mardi Luhung bergeser jauh dari tradisi pesisiran Sunan Giri. Pada puisi berjudul “Ziarah ke Reruntuhan Makammu”, Mardi membuka puisi dengan larik, apa yang bisa aku baca dari reruntuhan makammu, yang kini tinggal lubang kakusnya itu.

Analogi paling tepat dari propinsi Jawa Timur adalah kehidupan seorang remaja. Usia yang belum matang dan psikologi yang tidak utuh. Orang muda cenderung berani melakukan percobaan-percobaan dan berspekulasi untuk menerima tantangan gagasan baru. Tanggung jawab yang ketat, semisal rumah tangga, belum kuat mengikat. Para penyair terkondisikan untuk bereksperimen terhadap puitika-puitika baru. Ikatan tradisi dengan sastra lama, pola rima dan irama tembang, yang sempat menjadi identitas sastra Jawa, menjadi mudah diabaikan. Pemicu tindakan ini, Jawa bukan ada di Jawa Timur, saat ini, Jawa ada di Yogyakarta.

Pergeseran pusat tradisi masyarakat Jawa Timur sangat penting untuk dicatat. Jawa Timur, dahulu, merupakan bagian kerajaan Mataram, pusatnya ada di Yogyakarta. Kini, Jawa Timur merupakan sebuah propinsi baru, pusatnya ada di Surabaya. Yogyakarta = kejawaan. Surabaya = perekonomian. Golongan bermartabat dalam pandangan Jawa adalah pamong praja (baca: pegawai) dan agamawan (baca: kyai). Pedagang bukan orang terpandang. Surabaya, sebagai kota yang sedang bergerak dengan motivasi perekonomian, pedagang sukses mendapat kehormatan besar dari masyarakat.

Orang-orang Jawa Timur sedang berada dalam keakutan pergeseran pusat budaya. Satu sisi menyandang keagungan mitologi kejawaan, di sisi lain menghadapi godaan ekonomi yang glamour. Dua sisi saling bertentangan ini bukannya tidak tampak dalam puisi para penyair Jawa Timur. Dilema kultural justru mendukung nilai estetik. A. Teeuw dalam buku Sastra dan Ilmu Sastra menengarai, “puisi dibentuk oleh serangkaian pertentangan gaya dan tema”. Para penyair Jawa Timur, dengan ketegangan kulturalnya, tidak sulit untuk membangkitkan dan membentuk pertentangan-pertentangan struktur teks. Hanya dengan sedikit sublimasi, para penyair Jawa Timur akan menyadari “saya ada dalam dua kultur saling bergesekan”.

Surabaya sebagai kota perekonomian juga membuat kehidupan menjadi banal. Komunalitas masyarakat Jawa Timur dibentuk oleh sistem yang bersifat non-spiritual. Desakralitas lembaga agama. Spiritualitas tersisa terdapat dalam seorang perseorang. Individu bebas memilih dan menjalani keagamaan tertentu, wujud transendensi, hubungan personal dengan Tuhan.

Berbagai gambaran ketuhanan atau kehidupan religi tersurat dalam puisi penyair Jawa Timur. Kesemuanya memiliki kesamaan menggairahkan, religi diartikulasikan secara material dan personal. Tuhan bukanlah sosok yang patut diperagungkan. Tuhan merupakan sosok yang layak dipertanyakan sekaligus dicari bentuk kelembagaannya, di antara bentuk lembaga-lembaga yang telah ada.

Beni Setia dalam puisi “Pelampung” menuliskan, kalau duka itu bertali dan tuhan boleh diseru sambil bergulingan di pinggir jalan, tentu rasul akan sabar menungguiku mengurai di dipan. Tampak sekali, Beni cari mencari hubungan ketuhanannya di dalam materialitas yang banal. Tuhan digambarkan boleh diseru sambil bergulingan di jalan. Adegan dalam puisi Beni sangat bertolak belakang dengan adegan orang bersembahyang di tempat-tempat ibadah.

Kembali kepada Jawa Timur sebagai kelincahan kaum remaja, di propinsi ini segala ilmu pengetahuan dapat begitu saja masuk sekaligus dapat sedemikian cepat untuk lenyap. Seorang remaja, dengan sedikit sentuhan, bisa tiba-tiba menggemari satu tokoh pengetahuan. Berhari-hari dihantui oleh fokus pengetahuan tersebut. Setiba-tiba pula, sang remaja berpindah ke pengetahuan lain sembari anti pati terhadap ilmu pengetahuan yang lebih dulu digemari. Demikian pula gambaran puisi dari Arief B. Prasetyo dan Mashuri, pada sejumlah puisi kedua penyair tersebut, tokoh ilmu pengetahuan keluar masuk dengan melimpah. Berganti-ganti. Cepat tumbuh. Dan, terlupakan.

Kondisi pengetahuan yang beganti-ganti sangat buruk bagi pertumbuhan sosial kemasyarakatan dalam kenyataan. Kematangan dan perkembangan yang terarah tidak terealisasi, tetapi tidak bagi puisi, masuk dan keluarnya beragam pengetahuan mampu memberi keragaman puitik pada teks. Masing-masing pengetahuan memberi corak yang berbeda. Penyair pun tidak terkungkung oleh satu bentuk puitik. Lebih bagus lagi, penyair tidak terkuasai oleh ideologi. Kondisional ini juga membuka kemungkinan terbalik, penyair memilih berkonsentrasi terhadap satu pengetahuan atau ideologi yang selalu diperjuangkan. Di propinsi masa remaja ini, para penyair berhak dan dapat dimaklumi untuk menghidupi pilihannya; tidak ada patron di Jawa Timur.

Jawa Timur, Surabaya sekalipun, memang bukan pusat pengetahuan. Mobilitas pengetahuan di kota-kota propinsi Jawa Timur masih kalah jauh dibanding kota Bandung, Yogyakarta, apalagi Jakarta. Impor pengetahuan di kota-kota tersebut sedemikian cepat, penelitian atau penerapan pengetahuan baru pun banyak terwujud. Sangat sedikit ilmuwan dari Jawa Timur yang berskala nasional. Penerbit pun sangat sedikit jumlahnya. Ilmu pengetahuan datang ke Jawa Timur dalam jumlah terpotong-potong dan dalam tahapan yang tidak stabil. Jawa Timur menjadi imajinatif karenanya.

Pengetahuan datang ke Jawa Timur tidak tumbuh berkembang sebagai ilmu pengetahuan. Teraplikasikan bukan dalam bentuk karya ilmiah atau pengetahuan tertulis. Pengetahuan masuk dan berkutat-kutat lalu keluar dalam bentuk puisi. Pengetahuan menemukan kelengkapannya melalui keretakan kultural, fantasi, dan imajinasi. Penerima paling menghormati adonan kultur adalah kesenian, utamanya puisi.

Ada hal penting lain yang patut dicatat, pemahaman masyarakat Jawa Timur terhadap alam. Sebagian besar wilayah Jawa Timur dialiri sungai. Dua sungai yang besar adalah Brantas, sepanjang 317 km, dan Bengawan Solo, sepanjang 540 km. Keberadaan sungai-sungai tersebut, selain untuk pengairan dan transportasi antara daerah, didayagunakan untuk bendungan, pembangkit tenaga energi, perikanan, dan wisata. Selain sungai, ada juga rawa-rawa, telaga, waduk, mata air, dan sumur bor. Berbeda dengan masyarakat Bali, alam di Jawa Timur bersifat profan. Alam kurang dikaitkan dengan ritual-ritual mistis.

Perendaman di dalam alam tidak terjadi pada masyarakat Jawa Timur. Alam tidak dipuja-puja atau diagung-agungkan. Keaslian alam bisa sewaktu-watu diubah, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Potensi alam didayagunakan untuk kepentingan manusia. Alam sah untuk digali dan diperjual-belikan. Manusia ada di depan alam. Ini mirip dengan gejala antroposentrisme dalam pengertian Nicholas Alexandrovicth Berdyaev, seorang filsuf peletak dasar filsafat eksistensialisme, “manusia adalah pusat alam semesta”. Manusia menentukan bertahan atau terkurasnya nasib alam. Puisi-puisi penyair Jawa Timur tidak terbebas dari konsepsi antroposentrisme ini.

Alam dalam puisi ditempatkan pada posisi pemyampai gagasan. Identitas alam dicampur baur dengan keseharian aku lirik untuk membentuk bahasa puitik. Deny Tri Aryanti melalui puisi “Wicarang Denta Saisa” menyebutkan, dalam tidurku, kuulur jalan beraspal dari gulungan tikar yang ngilu, tembok-tembok mengkuti jalanku, dari kerikil ke kerikil hingga debu yang menempel pada ranum wajahmu. Aku lirik dalam puisi Deny tampak berkuasa terhadap alam. Tidak saja dalam kesadaran, dalam mimpi, aku lirik masih menjadi tuan bagi alam. Jalan aspal diulur, gulungan tikar diberi sifat ngilu, tembok-tembok diperjalankan, sampai debu yang ditempelkan ke ranum wajah orang lain.

Puisi W. Haryanto pun memiliki posisi dilematis terhadap alam. Puisi tidak hanya meniru, mempercayakan, atau merepresentasikan identitas alam. Puisi memproduksi alam hingga melampaui identitas alam dalam kenyataan. Berikut kutipan dari puisi “Djati Bening, 1270”, kutangkap selarik musik dari burung camar, musik yang menyeberangkan matahari, luka memar telah membelah, jadi bayangan dengan bentuk paruhnya pada bening gelas. Fungsionalitas dan wujud alam dicampur adukkan oleh W. Haryanto. Rakitan-rakitan “diksi alam” yang saling berhubungan secara sintag-paradigmatik membuat “alam” tidak lebih sekadar penanda (konsep) dan bukannya petanda (wujud). Perhatikan rakitan kata; selarik musik, musik dari burung camar, musik yang menyeberangkan matahari, luka memar yang membentuk pada bening gelas. Kesemuanya tidak mungkin dijumpai dalam kenyataan, dan karenanya membentuk kenyataan baru. Sebuah kenyataan yang berpusat pada kondisi keterpecahan identitas manusia. Lebih umum, keterpecahan kultural propinsi Jawa Timur. Propinsi para penyair.

________Studio Teater Gapus Surabaya
Dijumput dari: http://terpelanting.wordpress.com/page/8/