Sastra Cyber Eksklusivitas Apa?

TS Pinang
http://www.facebook.com/ca.fes1

Membaca tulisan penyair Binhad Nurrohmat (BN), Sastra Cyber: Menulis Puisi di Udara (Republika Minggu, 22 Juli 2001), mengingatkan saya pada beberapa tulisan interogatif dan asertif, kadang iritatif, yang muncul menanggapi kehadiran sastra cyber di kehidupan sastra Indonesia kontemporer. Meskipun dalam tulisannya BN juga mengakui potensi medium cyber, kelihatannya BN memposisikan dirinya dalam kelompok yang sinis terhadap sastra cyber dan cuma mengulang asersi-asersi yang telah ditulis orang sebelumnya. Tulisan kecil ini akan mencoba menanggapi tulisan BN tersebut dengan melihat sastra cyber secara lebih positif dan, kalau bisa, tanpa paranoia.

Baiklah kita mulai saja dengan “terminologi mewah” (istilah BN) itu: sastra cyber (menurut kaidah pembentukan istilah Bahasa Indonesia mestinya ditulis “cyber”, bukan “saiber”). Penggunaan istilah sastra cyber sendiri sudahlah jelas dan gamblang menyatakan jenis medium yang dipakai: medium cyber, persis sama halnya dengan istilah sastra koran, sastra majalah, sastra buku, sastra fotokopian/stensilan, sastra radio, sastra dinding, dan sebagainya tinggal anda sebut saja. Jadi semua tulisan sastra yang dipublikasikan melalui medium cyber bolehlah disebut sastra cyber, termasuk ketika misalnya puisi BN dimuat di harian Republika kemudian bisa saya baca di koran tersebut dalam versi online (www.republika.co.id). Pertanyaan berikutnya yang sering mengekori penggunaan istilah sastra cyber adalah masalah estetika atau “nuansa estetika” yang menurut BN tidak seperti sastra koran dan sastra majalah yang “memiliki nuansa estetika yang esensial dan bisa diukur”. Tidak jelas juga nuansa estetika yang bagaimana yang dimaksud BN itu. Adakah sebenarnya sastra koran dan majalah memang mengusung gagasan sebuah nuansa estetika yang esensial dan bisa diukur, yang orisinal?

Berikutnya, saya cukup terganggu dengan istilah “eksklusif” yang dipakaikan kepada sastra cyber. Medium cyber dengan segala kelebihan dan kekurangannya dibandingkan media cetak memang inkonvensional, tetapi jelas tidak eksklusif. Mungkin yang dimaksud eksklusif oleh BN ialah “kendala” prasyarat teknis yang harus dipenuhi seseorang untuk bisa memasuki dunia cyber, yang sebenarnya tak sesulit atau semahal yang dibayangkan. Seseorang toh tak harus memiliki seperangkat komputer sendiri untuk mengakses internet. Namun, benarkah dunia cyber itu eksklusif dalam artian menutup pintu rapat-rapat bagi “orang luar” untuk masuk? Masuklah ke dunia cyber, jangan hanya mengintip, maka anda akan tahu betapa inklusifnya dunia cyber itu. Bandingkan saja dengan komunitas-komunitas sastra di “darat” atau “eksklusivitas” prestise sebuah halaman budaya di suatu koran misalnya. Egalitarian, kebebasan individu, demokrasi yang ditawarkan medium cyber serta kelapangannya dalam mengakomodasi segala jenis manusia dan ragam karya di dalamnya tanpa adanya pintu-pintu terkunci jelas tak bisa dikatakan eksklusif, justru sebaliknya.

Sebagai medium alternatif teknologi jejaring (internet) memang menawarkan banyak keunggulan dibandingkan media cetak. Namun juga perlu disadari bahwa ia juga mengandung kelemahannya sendiri. Karena kelemahannya yang inheren maka medium cyber pun suatu ketika pasti membutuhkan media alternatif, sebagaimana koran cetak merasa perlu hadir juga di dunia cyber. Jika di dunia cyber suatu teks puisi misalnya bisa direvisi setiap saat (bandingkan dengan typho(s) atau salah cetak yang permanen di media cetak koran atau buku) dan juga bisa ditanggapi langsung maupun setengah-langsung oleh pembacanya di seluruh dunia, maka untuk membaca puisi atau cerpen sambil duduk di kakus orang akan memerlukan buku, koran atau majalah, atau sebuah komputer mini seukuran telapak tangan.

Alternatif itu berarti pilihan, dan pilihan atas media suatu karya sastra sangat tergantung faktor yang melatarbelakanginya. Selama suatu karya sastra masih berupa teks biasa, maka media alternatif yang bisa dipakai selain internet tentulah media cetak. Ketika suatu karya berupa hiperteks, audio-visual, animasi teks dan semacamnya, maka medium alternatif yang bisa dipakai mungkin berupa disket atau CD-ROM. Bukankah ini juga terjadi di dunia cetak? Pertanyaan yang sama atas publikasi lintasmedia yang dilakukan oleh pegiat sastra cyber pun bisa diajukan kepada sastrawan koran/cetak yang menerbitkan karya-karya mereka di internet (Hamid Jabbar, Taufiq Ismail, Afrizal Malna, Ngarto Februana, untuk menyebut beberapa nama) atau justru kepada koran itu sendiri ketika mereka juga terbit secara online. Karena itu asersi BN atas penerbitan karya-karya puisi di internet ke dalam bentuk buku seolah sebagai ekspresi dari ketidakpercayaan diri para penggagas sastra cyber dengan mediumnya sendiri, atau seperti lebih seram lagi diungkapkan oleh Bersihar Lubis dalam artikelnya Rezim Sastra pun Cemas (GAMMA, 16-22 Mei 2001) sebagai “pengkhianatan”, hanya dapat mengundang senyum maklum saya sambil membayangkan ruang-ruang terisolasi yang dingin, eksklusif.

Semua sastrawan secara individual harusnya terus bergulat menggali potensi dirinya sendiri dengan media apapun yang dikuasainya. Isolasi ruang gerak sastrawan berdasarkan media yang digunakan tak akan membawa manfaat apa pun, justru kontraproduktif. Justru semestinya sastrawan bisa bergerak di segala media, baik cetak maupun elektronik. Apakah seorang penyair yang biasa menulis puisi di atas kertas wangi lantas akan turun mutu puisinya ketika ia menuliskannya di atas dinding toilet? Kalau seorang penyair hanya bisa mengungkapkan kegelisahan remaja mencari jati dirinya atau kecengengan romantis-emosional tentu bukan karena medianya melainkan karena baru sejauh itulah perjalanan puitik penyair tersebut. Sayang sekali BN tidak menunjuk karya-karya mana yang dimaksud sebagai “ekspresi dangkal tentang pemberontakan remaja dalam mencari jati diri” atau “hasrat cinta yang tak sampai” itu. Kalau BN lebih cermat melihat seluruh karya di Cybersastra.net, saya rasa ia tak akan gegabah menyamaratakan penilaian atas “kualitas” karya-karya tersebut. Berikutnya, penilaian-penilaian seperti ini hanya akan membawa kita ke perdebatan tentang apa sebenarnya puisi itu, atau siapa yang boleh atau tidak boleh disebut sebagai penyair, dan seterusnya.

Menggeneralisasikan kualitas karya di sastra cyber hanya dari satu-dua karya ditambah dengan presumsi apriori terhadap nama-nama penulisnya yang belum dikenal di dunia sastra sungguh tidak objektif dan semena-mena. Puisi tetaplah puisi, baik ia ditulis oleh seorang penyair “sufi” maupun seorang ateis pemabuk, seorang sarjana sastra maupun seorang juru masak. Di dunia cyber yang bukan penyair pun boleh ambil bagian. Sejauh ini belum ada satupun studi kritis atas karya-karya sastra di internet yang tak terhitung jumlahnya itu. Di situs Cybersastra sendiri sampai saat tulisan ini dibuat sudah ada 2.230 judul puisi (selalu bertambah setiap hari) yang telah dimuat. Apakah semua karya tersebut rendah kualitasnya? Pertanyaan tersebut bisa juga berbunyi: apakah semua karya yang dimuat di koran dengan seleksi ketat redaktur itu (dijamin) tinggi kualitasnya?

Tuduhan terhadap sastrawan cyber sebagai sastrawan “pelarian” yang gagal mempertaruhkan nasibnya di media cetak rasanya terlalu menghakimi dan sangat discouraging. Paling tidak, sastrawan cyber menulis secara mandiri dengan konsep “estetika” masing-masing tanpa harus takut pada gunting tajam sosok redaktur. Apakah seorang Hamid Jabbar atau Afrizal Malna juga “melarikan diri” ketika mereka membangun situs pribadi mereka di internet jauh sebelum adanya situs Cybersastra.net? Dunia cyber memiliki psikologinya sendiri, demikian juga dengan sastrawan cyber.

Sungguh kasihan sastrawan yang menyerahkan nasibnya kepada (redaktur) media cetak, seolah-olah hidup-matinya tergantung kepadanya dan karenanya harus “melayani” selera redaktur agar karyanya bisa dimuat. Mungkin sosok almarhum Romo Mangun perlu dilihat kembali. Sastrawan besar ini menolak disebut pengarang “profesional” dan lebih suka disebut pengarang “amatir” karena beliau menulis karena memang mencintai pekerjaan itu, bukan demi uang sebagaimana seorang profesional bekerja. Sastrawan cyber adalah sastrawan “amatir” dalam pengertian “pecinta” itu. Seseorang yang memuat karyanya di internet jelas melakukan hal itu bukan untuk mengharapkan honorarium sebagaimana ketika seorang sastrawan “profesional” mengirimkan karyanya untuk dimuat di koran atau majalah.

Dunia cyber memang bebas. Sebagai konsekuensinya, terhadapnya tak bisa dipakaikan satu acuan nilai saja. Sebagai dunia dengan ragam nilai, ragam kriteria, ragam standar, ia tak bisa semata dilihat dengan satu kacamata saja. Pembaca cyber yang sudah merasakan dan memahami psikologi dunia maya umumnya terbiasa dengan cara pandang multifaset seperti itu dan karenanya mereka cukup kritis memilih apa yang ingin mereka baca atau mereka lewati. Mungkin kini saatnya sastrawan dan, terutama, kritikus sastra kita membiasakan diri untuk menyediakan lebih dari satu kacamata, agar tidak mudah silap dalam membaca hal-hal.

Dijumput dari: http://www.facebook.com/notes/catatan-fesbuk/ts-pinang-sastra-cyber-eksklusivitas-apa/396169523745252