Senin, Guguran Daun-Daun

Mahwi Air Tawar
http://www.lampungpost.com/

TIGA helai daun kering melayang-layang di atas gundukan tanah kuburan. Patek!, umpatnya. Gemetar. Segurat wajah legam suaminya membayang. Burung memintas dari sela dahan pohon kamboja. Ia berpaling ke belakang, lengang.

“Pasti ulahnya,” gumamnya. Terbetik pikiran aneh perihal suaminya, Suhmiyati calon istri kedua. Ah. Berseraklah titik fokus tujuannya mendatangi kuburan lewat sepertiga malam dengan tubuh hanya dibaluti sarung setengah badan. “Aku tak bisa. Tak bisa.” Ragu. Tiga helai daun kering itu melayang-layang mengitari kepalanya, tiga kali. Ia diam, berdiri. Ia ingat pesan Nyai Makelar, dukun yang dimintai tolong, bahwa, bila ada sesuatu yang mendadak membuyarkan konsentrasi, hentakkan kakimu, tiga kali, dan ucapkan: nyingla ba’na, ondhur….

Tak jauh dari area kuburan ada bangunan rumah panggung dengan pancang tiang dari bilah-bilah bambu, langgar, begitu orang kampung menyebutnya. Angin mendesirkan semerbak melati, kembang kuburan, seakan menjelma tangan-tangan gaib, menjentikkan serajut ingatan-ingatan akan dirinya, sebagai istri, ibu dari anak-anak yang belajar mengaji:

Ia sadar bahwa, kehendak suaminya untuk menikah lagi adalah sesuatu yang wajar, apalagi suaminya tak hanya dikenal guru mengaji—pengganti almarhum mertuanya—tapi suaminya juga dikenal sebagai mantan dan guru para bajing karena ilmu kanoragan dan ketangkasan, baik ketika mencuri maupun melakukan tarung.

Bukan, bukan. Bukannya ia tak mau diduakan, sebagai keluarga seorang Kiaji, lebih-lebih suaminya mantan bajing tak pantas menolak, bagi bajing, Kiaji beristri dari satu akan menaikkan martabat, gengsi, lebih-lebih di mata masyarakat. Tak mengapa. Ya, sebenarnya ia tak apa, Kiaji Subang menikah lagi, tetapi jangan Sumiyati, pesinden itu. Ia tak sanggup membayangkan omelan orang-orang perihal suaminya lantaran menikahi seorang pesinden. Ia juga takut kewibawaan suaminya dimata masyarakat lebih-lebih di mata santrinya akan dipandang miring.

“Ada yang lebih pantas dari Sumiyati, Kiaji,” pintanya.

“Lebih tua banyak,” ketus Kiaji Subang.

“Lha, tujuan panjenengan menikahi Sumiyati?”

“Ibadah.”

“Kalau begitu biar Nyai yang carikan istri kedua Kiaji.”

“Lebih tua? Apa kata anggota remoh nanti. Kiaji tak teruji kesaktiannya,” Kiaji Subang beranjak. “Nyai rela harga diri Kiaji hancur di mata anggota remoh?”

“Demi surga atau harga diri?” timpalnya, kesal.

“Nyai pintar bersilat kata sekarang.”

“Semua ini demi harga diri Kiaji, demi martabat Kiaji di mata orang tua santri, masyarakat.”

“Karena saya mengawini seorang pesinden?” ketus.

“Dia tak pantas untuk Kiaji.”

Plak. Pyar. Plak….

Naluri kebajingan Kiaji Subang seketika tak tertahankan. Istrinya jatuh tersungkur ke kolong ranjang. Tak puas guru mengaji itu menampar, diraihnya rotan, rotan yang biasa ia gunakan memecut santri yang tak bisa mengaji dan melanggar peraturan. “Dasar tak tahu ilmu tata krama, beraninya melawan suami,” bentak Kiaji Subang.

***

HARI pertama dari ritual yang mesti ia jalani gagal sudah. Konsentrasinya pecah, dan pasti, keberadaannya akan diketahui lebih-lebih oleh lelaki yag tengah telungkup di tepi kuburan. Lalu. Lalu. Lalu apa yang mesti dilakukan? Sial, umpatnya. Ingin rasanya ia menangis. Ia benci. Tidak. Tidak, saat ini ia tidak benci terhadap suaminya yang ingin beristri lagi dengan seorang pesinden, tetapi ia benci dengan keputusannya sendiri yang ingin menggagalkan rencana suaminya. Ia ingat ketika dukun letrek, Nyai Makelar, mendukung penuh ikhtiarnya.

“Hm. Tenang, Mar. Serahkan saja sama saya,” bujuk Nyai Makeler, tenang. “Kamu tinggal milih. Mau dibuat benci, atau…,” dukun itu berbisik, “atau Kiaji Subang dibuat mandul? Hehehe. Bagaimana?”

Ia tersentak. Mengeluh.

Sebenarnya ia sendiri tak benar-benar mengerti atas keputusannya. Ia hanya ingin menjaga karisma suaminya yang selama ini dikenal Kiaji, meski mantan bajing. “Kamu bingung, Mar?”

Ia tergeragap. Ada titik-titik bening menggenang di kelopak matanya. Ah, keluhnya.

“Hehehe. Kamu guru dari anak-anak, tak boleh bimbang,” kata Nyai Makelar. “Saya sendiri benci dengan pesinden itu. Tak tahu diri, kenapa ia mau dipinang suamimu dan jadi istri kedua. Mestinya ia tahu diri. Suamimu Kiaji, ia pesinden. Uhuh… atau bagaimana kalau pesinden itu saya buat gila? Dengan begitu orang-orang hanya mengira persaingan antara pesinden agar ia tak mendapat tanggapan dari orang yang akan menghelat hajat?” sambil mengunyah pinang dukun itu mengulum senyum.

“Lagi, semua orang tau bahwa suamimu memang bukan laki-laki sembarangan. Tapi laki-laki pilihan, yang diamanati oleh Gusti Allah untuk mengajari anak-anak mengaji,” puji dukun itu.

“Ya,” lanjutnya. “Ya, meskipun semua orang tahu kalau suamimu mantan pencuri, bajing. Nah, nah?” batuk, “Ya, siapa tahu ia memang mendapat mukjizat? Bukankah kamu ingin menjaga kewibawaan suamimu?”

Ia hanya mengangguk.

“Baiklah. Sekarang begini saja. Kamu pulang dulu, pertimbangkan ulang,” perintah Nyai Makelar. “Datang Jumat depan. Atau kalau tak bisa Minggu siang. Kalau sudah srek Minggu malam menjelang pagi, atau lebih tepatnya Senin dini hari, ritual motos paniser sudah harus kau jalankan. Beres. Bagaimana?”

Ia hanya mengangguk. Dukun itu beranjak, masuk meninggalkannya seorang diri. “Kiaji Subang, calon bininya Sumiyati, kan?” teriaknya dari balik kelambu.

Ia bergetar, merinding seakan kedatangannya dibuntuti seseorang dari belakang. Namun, ketika ketika ia menoleh ke belakang, tak ada orang hanya bayangan pohon memanjang di samping pintu. Ditatapnya tiga helai daun itu. Kali ini ia sangat lama menatap, lekat: sesuatu menggeliat di antara urat-urat helai daun itu. Pastilah ada sesuatu, ia mendesis bengis. Ia lupa dan seketika mengumpat benci terhadap dirinya yang tiba-tiba saja menoleh. Oh, tidak. Tidak. Bukan lantaran daun itu dihempas angin hingga tangkainya patah, tapi ia merasa suaminya sengaja mengirimkan sesuatu untuk memecah konstrasi dan akhirnya mengurungkan niat melakukan ritual khusus untuk memutuskan tresna suaminya kepada Sumiyati.

Kini yang harus ia lakukan adalah menghindar dari penjaga kuburan agar keberadaannya tak diketahui orang.

***

ANGIN berhembus pelan. Bulan menerpa punggung penjaga makam yang masih telungkup di tepi kuburan. Sejenak ia beranjak, berjalan diam-diam menuju langgar. Ia pun sudah tak yakin dapat menjalankan apa yang disarankan oleh Nyai Makelar. Padahal untuk melakukan ritual motos paniser kehadirannya tak boleh diketahuai oleh siapa-siapa, harus benar-benar sepi, sendirian.

Ketika ia sudah di atas langgar segera diraihnya mukena yang tergantung di bilik. Ia bernapas lega. Baginya, sekarang tak mengapa niatnya tak berjalan lancar sebagaimana diharapkan asal keberadaannya dengan tubuh setengah telanjang tak diketahui penjaga kuburan yang tak lain adalah santrinya sendiri.

Ia tak mau malu, hancur di mata santrinya. Tak mengapa hatinya remuk-redam atas perlakuan kasar suaminya, keinginan suaminya untuk menikahi seorang pesinden. Kini ia sudah benar-benar pasrah, bahkan tak ambil peduli kelak pernikahan suaminya menjadi buah bibir kecut di mata orang tua santri, masyarakat.

***

“TIGA helai daun itu pasti kirimannya,” ketus Nyai Makelar saat dilapori perihal tiga helai daun.

“Kok bisa, Nyai?” tanyanya penasaran.

“Suamimu mantan bajing. Untuk menjadi bajing tak cukup hanya mengandalkan ketangkasan dan kekebalan tubuh. Lebih dari itu, seorang bajing sejati harus menguasai ilmu kebatinan,” tutur Nyai Makelar dengan mata menyala-nyala. “Tapi tenang. Nyai tak akan mencecap air liurku sendiri yang sudah jatuh ke tanah.”

“Maksud Nyai?” memotong. “Janji Nyai untuk membantumu, memutus hubungan suamimu dengan calon bininya.”

“Bagaimana, Nyai?” tanyanya.

“Asal kamu siap.”

“Siap Nyai,” Nyai Makelar tersenyum bangga kemudian langsung masuk ke dalam ruangan.

Ia menunggu gelisah. Sesekali ia melirik ke dalam ruangan. Dari dalam ruangan yang hanya ditutupi tirai putih transparan, lampu sumbu berkedip-kedip melatari sesosok tubuh Nyai Makelar, yang sedang duduk, kadang meringkuk, bersila. Bau kemenyan menyeruak dari dalam.

Tak lama berselang, Nyai Makelar keluar membawa tiga helai daun kering, jarum, tiga iris daun pandan dan kembang melati yang sudah layu. “Mendekatlah,” perintahnya.

Ia masih tak percaya ketika melihat tiga helai daun itu, ia ingat dan belum menceritakannya perihal tiga helai daun yang berputar-putat mengitari kepalanya sebelum memasuki area kuburan. “Persis, Nyai,” bisiknya, lirih.

“Maksudmu?” tanya Nyai Makelar.

“Tiga helai daun, mengitari kepala saya sebelum masuk kuburan.”

“Itulah, tak lain, suamimu mengirim sesuatu lewat daun.”

“Saya tak mengerti, Nyai.”

Nyai Makelar malas menjelaskan perihal daun, ia tahu istri Kiaji Subang itu tak akan pernah mengerti. “Kamu percaya saja. Lakukan apa yang saya perintahkan, itu kalau kamu mau berhasil menghalangi keinginan suamimu untuk menikah lagi,” tegasnya. “Di sini tertulis nama dan hari dan tanggal kelahiran suamimu, hari Senin kan?” tanya Nyai Makelar, meyakinkan. “Namamu sendiri, dan yang ini nama Sumiyati,” kata Nyai Makelar sambil menyerahkan tiga helai daun.

“Pada malam akan dihelatnya pernikahan, kamu harus keluar, pergi ke kuburan, dua helai daun yang ada tulisan namamu dan suamimu kubur. Ingat, dua-duanya jangan dipisah kecuali satu helai daun yang ada tulisan nama Sumiyati. Mengerti?”

“Oh iya, jarum ini, lihat,” kata Nyai Makelar, “lihat, jarum ini ditusukkan ke dalam cawat milik suamimu dan milikmu hingga kedua-dua lengket, kemudian kubur jadikan satu dengan dua helai daun. Ingat? Nah ini, ini, tigi iris daun, kembang melati busuk ini, lihat-lihat.”

Ia mengangguk.

“Ingat-ingat, kamu harus mencari cawat milik Sumiyati, lalu kubur jadikan satu dengan kembang melati dan satu helai daun ini. Ingat! Dan aku dari sini akan menghalau mantra Kiaji Subang, dan akan membuat penjaga makam itu tertidur.”

Ia pulang dengan perasaan puas sekaligus cemas. Tidak, kali ini ia tidak takut lagi akan diketahui sesiapa, tapi yang membuatnya berat adalah mencuri cawat milik Sumiyati.

***

KINI ia tinggal menunggu waktu perhelatan pernikahan yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi. Ia tak lagi takut suaminya akan mengetahui apa yang akan dilakukannya, Nyai Makelar telah menjamin dan memastikan Kiaji Subang akan dibuat tidur.

Tepat pada hari kelahiran Kiaji Subang: hari Senin, ia bersiap-siap. Sebagaimana disarankan oleh Nyai Makelar, ia keluar tanpa merasa takut. Ia tahu suaminya tengah bercakap dengan beberapa tamu laki-laki di atas langgar.

Kuburan itu sunyi sekali, di atas langgar penjaga makam sedang menunaikan salat tengah malam. Tapi ia sendiri tak perlu khawatir, ia percaya kali ini tidak akan gagal. Tiba di tepi kubur, ia segera melepaskan bajunya, kemudian berputar-putar tiga kali dengan tubuh telanjang. Yang pertama, dua helai daun, cawat miliknya dan milik Kiaji Subang sudah dikubur, dan terakhir, ketika ia mulai menggali tanah untuk mengubur cawat milik Sumiyati mendadak ia dikagetkan oleh suara penjaga makam.

“Hei,” sontak ia menoleh, lama keduanya saling bersitatap, “Nyai?” penjaga makam itu kaget dan segera berpaling saat melihat istri Kiaji Subang dalam keadaan telanjang.

01 April 2012