Surat yang Ditulis dengan Tinta Merah

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Iwan seorang sastrawan, walau pun belum terkenal, dia menghayati sastra dengan jiwanya. Sejak kecil. Bahkan karena ketertarikannya pada karya sastra yang disiarkan oleh radio, dia juga ingin menjadi penyiar radio. Dia bahkan bersurat pada pengasuh ruang Arena Pelajar yang disiarkan oleh radio setiap jam enam tiga puluh pagi mengenai keinginannya menjadi penyiar radio. Apa syarat-syaratnya dan sebagainya. Tersebab radio satu-satunya media elektronik yang ditangkap teman-temannya, maka pagi itu di sekolah dia menjadi terkenal, karena pertanyaannnya dibacakan di radio. Alangkah senang bilamana dia sendiri bisa bicara di depan corong radio.

Bukan seperti Bung Tomo yang mengobarkan semangat perjuangan, namun seperti kolomnis di RRI Yogyakarta yang obrolannya selalu didengarkannya, juga didengar ribuan pendengar lain. Pak Besut “ngudar gagasan” demikian memukau, bertahun-tahun dia membayangkan dirinya sebagai Pak Besut yang piawai mengurai gagasannya. Memukau. Mungkin kelak di kemudian hari perananannya digantikan oleh Umar Khayam yang menulis kolom setiap hari Rabu di koran.

Tetapi Pak Besut baginya jauh lebih berkilau, sebab untuk obrolan Umar Khayam ( yang kemudian dikenalnya secara pribadi) dia harus menghidupkannya di dalam imajinasinya. Mister Regen tentu sangat berbeda dengan Pak Besut yang membumi, begitu istilah yang populer sekarang untuk maksud lebih mengena.

Ketika menjadi mahasiswa ternyata Iwan mendapat kesempatan menjadi penyiar radio. Radio resmi pemerintah. RRI bukan radio amatir yang kemudian tumbuh menjamur. Disitu mula-mula dia hanya diberi kesempatan membaca cerita pendek, cerita pendek karyanya sendiri, lama-kelamaan menjadi penyiar acara pilihan pendengar yang dijalaninya sebentar sebab segera diambil alih oleh mahasiswi ayu yang suaranya bagus pula. Tentu pendengar lebih tertarik pada suara perempuan, suara yang lembut dan sering berbisik seolah berbisk langsung kepada pendengar.

Dia lalu diserahi menjadi penyiar acara Panggung Pelajar yang disiarkan secara langsung. Untuk acara ini dia harus lintang-pukang bukan saja sebagai pembawa acara semata, tetapi juga menjadi pengatur acara supaya suara di radio tidak kosong. Itu sulitnya jadi penyiar tidak resmi, tidak dihonor, namun melakukannya dengan semangat.

Itulah sosok Iwan. Apakah Iwan tertarik pada perempuan? Tentu. Semenjak duduk di bangku SMA dia mengincar temannya yang tubuhnya kecil, kurus namun bagi Iwan perempuan itu luar biasa. Dia tidak banyak berhias. Setiap malam Minggu dia ke rumahnya, disambut hangat oleh ibunya, oleh kakak lelaki si sulung, dan dua kakak perempuannya.

Dan teman Iwan adalah anak bungsu. Puji namanya. Dinamai Puji sebab orang tuanya mendoakan agar anak itu sehat kuat sampai tua. Ada perasaan khusus pada Puji. Iwan di dalam sajak-sajak yang ditulisnya untuk Puji ingin memeluk gadis itu untuk melindunginya dari mara bahaya. Tubuhnya yang lebih sering terbungkus kain hangat seolah memerlukan perlindungan seorang lelaki yang kuat. Sebagai pelindung itu dia mengantar Puji dan kakak perempuannya ke pemandian alam yang terletak di luar kota. Dia memboncengnya sedangkan kakaknya mengayuh sendiri sepedanya.

Sebagai remaja Iwan memimpikan pada suatu hari dia bisa membonceng Puji berdua, membawanya ke tempat wisata, atau menonton film. Tetapi bukankah lebih mesra bila nonton film dan pulangnya numpang becak sehingga Iwan bisa menyentuh tangan atau meremasnya. Menciumnya? Ah, terlalu jauh dari jangkauan bagi Iwan. Aneh juga, belum pernah terpikir olehnya untuk mencium Puji, sebab rasanya gadis itu harus dilindungi, bukan dijadikan obyek nafsunya.

Tetapi ternyata Puji tidak tinggal sekota dengannya sampai setamat SMA. Ketika naik ke kelas dua, dia pindah ke Jakarta ikut kakak sulungnya.

Komunikasi antara Iwan dan Puji dilakukan lewat surat. Setiap ada surat datang dari Jakarta, Iwan membacanya di kamarnya dan menikmati tulisan tangan Puji yang indah. Kata orang, tulisan tangan adalah cerminan jiwa dan sifat penulisnya. Tulisan yang indah cerminan dari jiwa indah pula. Alangkah bahagianya bilamana menikah dengan perempuan yang jiwanya indah, bukan hanya wajahnya. Apakah Puji cantik?
Seorang teman berbisik: “Sayang dia pesek.”

Puji memang pesek, tetapi tidak sangat pesek. Tidak mancung seperti Indriati Iskak yang bintang film dan ibunya orang Eropa. Bukankah kebanyakan orang Indonesia tidak berhidung mancung? Tetapi juga bukan sangat pesek. Jadi, keanggunan masih terlihat saat dia mengenakan kain dan kebaya dan berpose dengan kaki disilangkan . Itu yang memukau Iwan saat Puji memberinya foto itu. Foto yang diambil di studio foto terkenal di kotanya. Itulah kenang-kenangan yang ditinggalkan Puji saat pindah ke Jakarta.

Andaikata orang tuanya kaya raya, atau dia mendapat honorarium tulisannya dalam jumlah banyak, mungkin dia akan sering menengok Puji di Jakarta. Tetapi dia hanya bisa menunggu bilamana Puji pulang menengoknya. Kalau Puji datang, maka dia mengundang pula teman karibnya untuk ikut menyambut. Mereka bertiga adalah teman akrab, dan Iwan juga tahu bahwa Herman, temannya itu diam-diam juga menyukai Puji. Tetapi Iwan tidak merasa mendapat pesaing.

Walau demikian sebetulnya Iwan tidak terlalu berharap pada Puji. Dia tak tahu akan bekerja sebagai apa dia nantinya, dan apakah dia mampu menjadi suami Puji. Apalagi, pada suatu saat datang surat dari Puji bahwa tunangannya akan datang di kota mereka, seorang letnan Angkatan Laut. Puji berpesan agar menemui tunangannya itu yang menginap di Ksatrian Angkatan Laut. Saat itu Iwan sedang sibuk mengurus malam perpisahan di sekolahnya. Toh dia sempatkan untuk datang menemui tuangan Puji, berkenalan dengannya yang tentu saja tidak merasa mendapat pesaing sebab hanyalah anak SMA yang baru lulus dan tentu saja posisi lelaki itu lebih kuat.

Iwan bersyukur Puji sudah dipertunangkan dengan perwira Angkatan Laut. Bilamana para kadet AL datang berkunjung ke kotanya mendemonstrasikan keterampilannya bermain drumb-band, dia sudah menengarai para siswi cantik memasang jaring untuk menangkap salah seorang dari kadet yang tegap-tegap dan tampan itu. Iwan hanya bisa tersenyum kecut.

Tetapi ternyata hal itu tidak berlangsung lama. Di dalam kunjungan Puji berikutnya saat Iwan sudah menjadi mahasiswa, Iwan mendengar langsung dari Puji mengenai tunangannya itu. Pada suatu hari, tunangannya itu membawa Puji di dalam mobil dinasnya. Di mobil dia mengajak Puji segera menikah padahal Puji masih menempuh kuliah di IKIP Jakarta. Karena itu dia menolak untuk segera menikah. Puji ingin lulus dari kuliahnya, lalu mendapat pekerjaan serta menikmati gaji sendiri.

Tunangannya itu, kata Puji, mengeluarkan pistolnya dan mengancam mau bunuh diri bilamana Puji menolak permintaannya. Ternyata, kata Puji, dia tidak gentar dan mempersilahkan tunangannya itu menembak dirinya sendiri asalkan dia segera diturunkan dari mobil. Tentunya Puji takut ( barangkali) ada peluru nyasar.Kasihan Puji, pikir Iwan, namun kisahnya tak berhenti di situ. Waktu itu sebagai sastrawan muda dia ikut delegasi menghadiri Konperensi Karyawan Pengarang se-Indonesia. Pihak penentang menyingkat peristiwa sastra itu menjadi KK-PSI dan mengkaitkan dengan Partai Sosialis Indonesia yang statusnya terlarang.

Di Jakarta Iwan tidak menginap di Wisma Haji tetapi di rumah Puji di Kebon Sirih Barat. Ke tempat konperensi Iwan naik becak. Puji tinggal bersama kakak perempuannya yang sudah menikah dengan seorang perwira CPM.
Sebelum berangkat sidang Iwan tahu Puji dijemput seorang lelaki dengan sepedanya menuju tempat kuliah.
“Dia temanku,” Katanya saat selesai memperkenalkan Iwan pada lekai itu. “Namanya Nurhanafi.”

Tiba tiba Iwan teringat tokoh novel Salah Asuhan: Hanafi. Tetapi itu sekedar ingatan tiba-tiba saja. Nurhanafi dan Hanafi sama-sama kaya, sama-sama putera daerah yang dalam kisahnya bersekolah di Betawi atau Jakarta. Tetapi Puji tentu bukan Nonik Belanda kekasih Hanafi. Dengan mesra, Puji lengket dalam boncengan Nurhanafi. Syukurlah, begitu desah Iwan, selalu kalau mensyukuri keberuntungan Puji, Semoga hubungan mereka berlanjut. Namun, saat kunjungan Puji kekotanya saat dia sedang menjalani kerja praktek di Perpustakaan Universitas Airlangga dia membawa berita buruk.
“Nur sudah menikah dengan perempuan lain.”
Iwan tidak terkejut. “Datanglah ke Surabaya dan tengoklah aku.”

Tetapi justru Puji yang datang dan menginap di rumahnya, Ayah ibu Iwan sudah mengenal Puji dari awal namun mereka tidak pernah berkomentar mengenai hubungan Iwan dengan Puji. Saat itu Puji minta diantar ke Pasar Besar membeli sayuran untuk diberikan pada ibu. Dan saat itu secara mengejutkan Puji mengajaknya Iwan menikah. Iwan tidak segera menjawab. Dia belum bekerja, tak punya penghasilan. Honor dari menulis ceritan pendek tak mungkin dapat menghidupi mereka berdua.

“Saya tak bisa menjawab sekarang,” kata Iwan ketika Puji berangkat ke Surabaya. Iwan berjanji menengoknya. Benar, dia segera menengok dan menginap di rumah Puji yang hanya terdiri dari dua kamar. Ibunya sedang ke Kalimantan sehingga mereka berdua saja. Puji memasak makan siang mereka, dan sore harinya setelah mandi, ternyata keduanya saling tertarik. Untuk pertama kalinya Iwan mencium Puji setelah mereka berkenalan hampir enam tahun, setelah Puji mendapat tunangan, dan berpisah dengan semua pacarnya. Akhirnya Puji kembali pada Iwan yang mencintainya dengan diam. Sore itu setelah berciuman Iwan menegok temannya, Munir yang sudah mengantongi gelar BA dan sudah duduk di tingkat lima jurusan Ekonomi. Kepada Munir dia menitipkan Puji sebab Munir juga sudah diperkenalkan pada Puji setahun sebelumnya, hanya sebagai teman Iwan.

Munir menawari Iwan tidur di rumahnya namun Iwan berkilah: “Saya sudah janji, mau jaga Puji apalagi besok pagi saya harus balik sebab ada kuliah pagi.” Tiga pekan lamanya dia tidak menengok Puji tetapi Pujilah yang datang menengoknya bersama Munir. Puji juga mengundang Iwan datang tempat kakak perempuan nomor dua yang baru saja menikah. Di rumah itu, Iwan dijamu dengan sepiring rujak cingur pedas, pedas sekali terasa di mulut Iwan. Dia melihat Puji dan Munir bagaikan sepasang merpati yang sangat bahagia. Padahal baru sebulan sebelumnya dia minta menikah dengan Iwan.
Iwan yang tegar tetap tegar dan senyum,
“Lingkaran-lingkaran ini harus dipecahkan.”

Dan Iwan sudah memikirkan caranya. Sesampai di rumah dia menulis surat pedas dengan tinta merah. Dia minta Puji meninggalkannya sebab dia bilang sangat benci pada Puji. Nampaknya umpan Iwan mengena. Beberapa hari kemudian dia menerima sampul yang sama dengan tulisan “retour,pengirim tidak dikenal”. Namun Iwan membuka sampul itu dan membaca jawaban Puji dalam makian. Hasil utamanya tercapai, Puji dan Munir menikah enam bulan sesudahnya.

Syukurlah, desah Iwan. Memang itu yang dikehendaki Iwan apalagi Iwan tahu Munir kaya raya, pewaris tunggal harta ayahnya. Jadi Puji tak akan hidup telantar, tak peduli walaupun Puji membecinya. Yang penting sekarang Iwan merasa bebas hidupnya tak dibayang-bayangi Puji.***

* Singaraja 24 Mei 2011