Tentang Seniman Miskin

Mathori A Elwa
http://www.teraspolitik.com/

Menjadi seniman itu miskin? Benar bahwa miskin atau kaya itu relatif. Tetapi tak usah dipungkiri karena sebenarnya klaim miskin tersebut merujuk pada kenyataan fenomenal yang general dan kemudian membentuk citra terhadap profesi seniman. Karena sudah terlanjur menjadi citra yang menahun bahkan turun-temurun, maka citra tersebut menjadi realitas; dan itu tak perlu dirisaukan.

Lain dari hal itu, citra miskin pada seniman kebanyakan bukan merujuk pada standarisasi angka kemiskinan statistik berpenghasilan 2 US Dollar Amerika Serikat per hari, melainkan disebabkan karena sebuah perbandingan. Ungkapan “seniman itu miskin” selalu berkaitan dengan perbandingan profesi lain semisal, dokter, politisi, pengacara, pedagang atawa broker.

Nah, ketahuan di sini bagaimana sebuah profesi seniman yang sebenarnya bukan profesi ekonomi dihitung melalui cara pandang ekonomisme modern yang bercorak kapitistik. Jika cara melihatnya seperti itu, tentu penganut ekonomi Marxian pun akan tertawa mengingat kegiatan seni sebenarnya berdiri pada wilayah spiritualitas (supra-stuktur), dan tidak setiap yang spiritual bisa dikapitalisasikan. Dengan kata lain, marxisme mengajak kita bijak menilai bahwa elemen spiritualitas itu seyogianya tidak dipandang dengan kacamata kuda ekonomisme. Bahkan dari sudut pandang kapitalisme pun, kata seniman tentu sulit dipandang melalui paradigma ekonomisme sebagaimana kapitalis memandang substansi profesi modern lain.

Belum lagi jika merujuk pada kacamata agama, kearifan lokal maupun paham-paham kebijaksanaan lain –yang lebih mendalam dalam menilai status sosial– tertentu sosok seniman sangat tidak fair diklaim sebagai profesi yang naga-naganya berkaitan dengan materi (baca: penghasilan).

Lain dari itu, –sebenarnya dalam urusan seni, kekayaan dan kemiskinan ini– masyarakat sudah dewasa. Sebagai seniman (–apalagi jika memiliki iman–) pastilah klaim “seniman-miskin” itu bukan suatu perkara. Anak-anak remaja yang baru mengenal praktik kesenian pun sudah tahu bahwa di sana ada wilayah idealisme yang harus diperjuangkan, ada pula wilayah praktis material yang perlu dipenuhi untuk urusan makanan, sandang dan papan.

Toh terbukti pada kenyataan di dunia ini, sejak zaman baheula hingga neo-liberal sekarang ini, seni tetap memiliki nilai tinggi tanpa harus terikat dengan materi. Maha bijak masyarakat yang ternyata juga jernih menilai demikian. Maha objektif masyarakat yang menilai bahwa seniman dengan karyanya tetap dihormati, bahkan dimuliakan tanpa perlu menukik menilai sang seniman masuk dapur ekonomi para seniman.

Yang justru sekarang menjadi masalah ialah dari pihak seniman itu sendiri. Banyak pelaku seni yang –sungguh mohon maaf lahir batin– sering menyesali hidup menjadi seniman (terutama itu berlaku di kalangan penyair) karena alasan ekonomi. Ada banyak cerita seniman yang hobi gerundelan karena hidupnya miskin. Saking kurang baiknya sampai-sampai setiap waktu ingin dihargai oleh masyarakat dengan (berharap) mengundangnya mengisi acara dan dengan itu pulangnya diberikan uang. Ironis lagi, ada banyak cerita dari seniman yang sering menyalahkan pihak lain, semisal menyalahkan pejabat, politisi, pengusaha yang tidak memperhatikan dunia kesenian, maksudnya tidak memperhatikan mereka. Sebenarnya perihal ini tergolong lucu karena untuk menjadi kaya harta mestinya membutuhkan pola hidup berproduksi yang menghasilkan harta. Sementara kita tahu, karya seni, terutama karya literatur, hanya sedikit menghasilkan harta. Kalaupun ada yang kaya-raya dengan produk literaturnya, itu pun hanya sedikit.

Hidup yang baik sebenarnya butuh keseimbangan. Terlalu ekstrem berpikir seniman pasti miskin atau sebaliknya –berpikir menjadi seniman bisa kaya-raya– sebenarnya hanya menjebak batin sang seniman ke dalam lingkaran situasi yang buruk; terus bermimpi lupa kenyataan realitas, bahkan menjadikan kita tidak mensyukuri nikmat sebagai kreator dengan segala kemuliaannya.

Miskin atau kaya itu tidak masalah. Yang menjadi masalah ialah manakala kita mempermasalahkan keprofesian seniman itu sebagai biang kerok kehidupan dengan ungkapan batiniah; ternyata menjadi seniman itu miskin.

Di atas segenap situasi tersebut, ada baiknya kita bertawaduk; berendah hati untuk senantiasa tidak bermental cengeng. Jika amal kesenian yang kita lakukan itu tidak membuat harta kita bertambah, maka itu suatu keniscayaan. Jika kita ingin menjadi seniman yang berduit, maka masuklah pasar sebagaimana Nabi Saw sering juga berdagang. Nabi Saw tetap menjadi nabi dan tidak disebut pedagang sekalipun berdagang di pasar, tak juga mendapat stempel politisi karena kekuasaannya, dan tak pula disebut broker sekalipun para Nabi Saw sering menjadi “perantara”.

Maka, slogan seniman kok cengeng, patut dijadikan kredo baru untuk membangun mentalitas hidup yang kokoh agar seniman tidak lemah mental lagi. Jika masih cengeng, sebaiknya enggak usah jadi seniman, atau nggak usah hidup sama sekali. Karena kecengengan itu nyebelin.

Waspadalah !!!

Mathori A Elwa adalah seorang Penyair. /08/03/2012