Budaya Peranakan di Pusat Perbelanjaan

Iwan Santosa
http://nasional.kompas.com/

Kebaya encim, gambang kromong dengan joget (ngibing), hingga busana pengantin Tionghoa Tangerang menjadi pemandangan baru di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta dan Tangerang dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah serbuan barang buatan Tiongkok, menjelang Imlek di pusat perbelanjaan, sejumlah pengelola pusat perbelanjaan berusaha menampilkan kebudayaan Tionghoa yang ”asli” Indonesia atau budaya Peranakan.

”Kami mempromosikan kebudayaan Indonesia, termasuk Peranakan Tionghoa, dimulai tahun 2007 dengan menghadirkan batik pesisir, musik gambang kromong, wayang potehi dengan dalang Jawa, hingga diskusi budaya bersama almarhum Abdurrahman Wahid yang sangat mendorong pengembangan budaya Peranakan,” kata Rida Kusrida dari Humas Mal Ciputra, pekan lalu.

Batik Peranakan asal Lasem yang mendapatkan pengaruh Tionghoa menjadi salah satu magnet pameran ketika itu. Demikian pula pertunjukan gambang kromong yang sering dianggap sebagai budaya Betawi, padahal sebetulnya 70 persen instrumen yang digunakan adalah alat musik Tionghoa.

”Ini adalah percampuran budaya yang indah. Musisi Peranakan Tionghoa dan Betawi juga bermain bersama,” kata pengamat budaya China Benteng, David Kwa.

Hendra Lim alias Acong, Ketua Pemuda Theravada Indonesia (Patria) Banten, yang berasal dari komunitas China Benteng, juga memperjuangkan kebudayaan Peranakan di pusat perbelanjaan di Tangerang.

”Tahun ini kami membuat acara di Tang City, Metropolis, dan sejumlah pusat pertokoan lain. Kami tak tahu budaya Tiongkok. Kami tahunya kebudayaan Benteng, seperti ngibing, cokek, gambang kromong, dan kebaya encim. Kurang tepat jika merayakan Imlek dengan membesarkan kebudayaan asli Tiongkok. Tiongkok sudah besar dan maju, tidak perlu dipromosikan. Lebih penting mempromosikan kebudayaan Peranakan Tionghoa yang darahnya bercampur di Indonesia,” ujarnya.

Pusat perbelanjaan Grand Indonesia beberapa tahun silam juga menampilkan Barong Landung dari Bali, yang menggambarkan perkawinan seorang Raja Bali Jaya Pangus dengan perempuan Tionghoa, Kang Jin Wei. Ketika itu, media heran melihat sosok kebudayaan Bali ditampilkan dalam pembukaan acara Imlek. Cerita tentang pertemuan budaya tersebut membuat pengunjung heran dan kagum.

Strategi mengangkat budaya Peranakan Tionghoa dan percampuran budaya itu jitu, setidaknya dalam memperoleh perhatian media massa dan memberikan pelajaran bagi pengunjung sebuah pusat perbelanjaan. Rida pernah menanggap barongsai Barong Ket Bali yang juga masih memiliki kaitan sejarah dengan Peranakan Tionghoa di Bali dan reog ponorogo. Ketika itu budayawan Jaya Suprana yang hadir dalam acara Imlek Tribute to Gus Dur pada tahun 2010, sambil menyeka air mata, menuturkan, kebudayaan dan kebersamaan seperti ini yang selalu ingin dilihat Gus Dur.

Pengusaha Hartati Moerdaya dalam peringatan Cap Go Meh nasional tahun 2010 pun tak ketinggalan menegaskan, pihaknya berkomitmen mempromosikan budaya Peranakan Tionghoa. ”Kita kedepankan budaya Tionghoa yang mengakar di Indonesia. Kita utamakan budaya Peranakan Tionghoa,” ujarnya kala itu.

Idealisme memboyong budaya Peranakan dalam peringatan Imlek tak akan habis digali. Semisal tahun ini, Rida berencana menyelenggarakan upacara Chiau Thau (perkawinan tradisional) Tionghoa khas Tangerang yang di Tiongkok sudah punah.

Beberapa kali stasiun televisi dan wartawan dari Tiongkok dan Taiwan memburu pelaksanaan upacara yang di Tangerang pun mulai langka diselenggarakan. Upacara Chiau Thau itu sudah memadukan unsur lokal, seperti budaya Sunda, Betawi, dan Islam, sebagai bentuk harmoni yang tidak ada duanya.

21 Januari 2012