Catatan Kecil untuk Teater Flamboyant

Muhammad Ridwan
http://ridwanmandar.com/

Entah umur berapa saya mengenal Flamboyant. Pastinya sewaktu saya masih SD. Tak jauh dari rumah saya, tepatnya di loteng perumahan Imam Masjid Raya Al Hurriyyah Tinambung, saya sering lihat beberapa pemuda latihan seni. Kebetulan beberapa kerabat dan tetangga saya juga ikut beberapa kegiatan Flamboyant. Seperti almarhum Suharto, akrab dipanggil Atto’. Masih muda tapi lihai memainkan gitar dan piano. Dia salah satu asset Flamboyant dizamannya, tapi mati muda. Mungkin seperti almarhum Darmawi “Cecep” Mukhtar di era Flamboyant 2009 ini.

Saya masih kecil saat Cahaya Maha Cahaya dipentaskan di gedung bioskop Tinambung. Apakah saya nonton waktu itu? Saya lupa. Juga, saat orang-orang Flamboyant mengadakan seminar nasional tentang HAM di Gedung MITA. Untuk pertama dan terakhir kalinya saya jabat tangan dengan Husni Djamaluddin dan Baharuddin Lopa. Ya, hanya di momen itu saya menyentuh dua tokoh besar Mandar.

Tahun 1997, saya merantau ke Yogyakarta untuk kuliah. Lebih 1000km dari Mandar, tapi di kota inilah saya mengenal Flamboyant lebih dalam dan secara tidak langsung menjadi bagian di dalamnya. Mungkin berbeda dengan teman-teman lain, sebab saya tidak pernah ikut latihan-latihan seni yang diadakan Flamboyant. Atau lebih tepatnya, mungkin saya simpatisan saja kalau memang batasan untuk menjadi anggota TF (singkatan Teater Flamboyant) adalah pernah pentas bersamanya.

Awal-awal saya di Yogya, saya tinggal di rumah Alisjahbana (almarhum). Ternyata beliau pendiri TF. Nah, darinya saya mendapat cerita banyak tentang proses pembentukan TF ini dan dilibatkan langsung dalam kegiatan TF, bila TF datang ke Yogya. Bila rombongan TF datang keYogya, hampir selalu tinggal di asrama yang saya tempati, Wisma Merapi Empat (salah satu asrama milik Provinsi Sulawesi Selatan). Termasuk bila kelompok rebana yang dipimpin Cammana, juga tinggal di asrama tersebut.

Selain bantu urusan akomodasi, sesekali saya bantu dokumentasi kegiatan-kegiatan TF, baik sewaktu pentas maupun aktivitas mereka sewaktu di asrama atau jalan-jalan. Kayaknya saya cocoknya didokumentasi saja, sebab saya tak punya keterampilan seni apa-apa, seperti bisa memainkan gitar, gendang, dan lain-lain. Ya, saya tak tahu. Apalagi akting. Belakangan, kalau kebetulan saya tahu ada aktivitas TF, diajak-tidak diajak saya bantu dokumentasinya.

***

Beberapa hari lalu, 3 Oktober 2009, TF mengadakan halal bi halal. Juga semacam reuni. Kalau tidak salah dengar, menurut ketua panitia, itu merupakan acara halal bi halal pertama. Disebut reuni, sebab acara itu menghadirkan hampir semua anggota dan simpatisan TF yang berada di Polman dan Majene.

Menarik juga, yang selama ini oleh masyarakat umum mungkin dikira tak pernah berkesenian, ternyata mereka adalah seniman. Meski tidak profesional di situ. Ada pedagang, guru, dan aktivis LSM. Kegiatan yang sangat penting sebab bisa menjadi ajang estafet antar generasi. Setidaknya sebagai bentuk komunikasi antar generasi TF.

Acaranya memperlihatkan TF sebagai organisasi kesenian (kontemporer) tertua yang ada di Mandar. Beda dengan sanggar atau teater-teater lain, yang masih tergolong muda.

***

Berikut adalah kilas balik sejarah TF yang saya kutip di dalam Ensiklopedi Sejarah dan Kebudayaan Mandar, karya Suradi Yasil.

Teater Flamboyant. Sebuah komunitas seni yang bergerak di bidang seni dan kebudayaan, khususnya teater. Sebagai komunitas, mulai muncul pada tahun 70-an di Tinambung atas gagasan Alisjahbana, aktivis kebudayaan Mandar. Berubah menjadi organisasi pada 5 September 1983 untuk kemudian diresmikan pada 15 September 1984.

Mempunyai visi mewujudkan komunitas berbasis masyarakat melalui kerja budaya dan kesenian seraya menebar prinsip dasar kemanusiaan sebagai teater rakyat. Kegiatan yang pernah diikuti: pentas Musik Puisi di Polmas (1984), pentas tradisional “Pencari Rezeki” di Polmas (1985), pentas teater “Perahu Nuh” di Polmas (1985), pentas drama “Terjebak” di Polmas (1987), pentas teater “Cahaya Maha Cahaya” di Polmas (1987), tur pentas teater “Lautan Jilbab” di Sulawesi Selatan (1988),

Pertunjukan rakyat “Kerikil Tajam” di Makassar (1990), pertunjukan rakyat “Dibalik Batu” di Pinrang (1992), pertunjukan rakyat “Kacamata” di Polmas (1993), pertunjukan teater rakyat “Kauseng” di Makassar (1995), pentas teater “Koa Koayang” di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1997), pentas Musik Puisi di pengajian Padhang Bulan, Jombang dan Yogyakarta (1999)

Pentas teater “Kauseng” di Palu Dance Forum (2000), pentas Musik Puisi Indonesia di Yogyakarta (2003, 2005), pentas “Bom” di Festival Teater Sulawesi Selatan di Soppeng (2003), Pameran Foto dan Lukisan “Katakan Cinta dengan Karya” di Tinambung (2003), pentas teater “KEAK” Kirab Seni Keliling Sulbar dengan tema “Belajar Mengeja Hening” di Polman, Majene, Mamuju (2004), pentas Musik Puisi Malam Renungan dan Tahlil buat Pejuang Kebudayaan Mandar in Memoriam Bung Alisjahbana di Tinambung (2005), pentas Musik Puisi Kolaborasi Emha Ainun Nadjib di Forum Fula Dongga Dua, Palu Sulawesi Tengah (2005), pentas Musik Puisi dan Olah Gerak Teater Kontemporer di Temu Teater Kawasan Timur Indonesia “KATIMURI IV”, Taman Budaya Samarinda, Kalimantan Timur, pentas seni di Pertunjukan Wartawan Muslim Indonesia berkolaborasi dengan Emha Ainun Nadjib, Mamuju (2006), pentas Musik Puisi dan Shalawatan Peresmian Perpustakaan Daerah Kabupaten Majene, Majene (2006); pentas Musik Puisi dan Shalawatan Malam reuni SMA 1 Majene di Gedung Assamalewuang, Majene (2006), pentas Musik Puisi Malam Renungan HIV/AIDS kerjasama UNICEF dan Mandar Sehat di Lemcadika, Polewali (2006), pentas Shalawatan dan Musik Puisi pada acara Konferensi Wilayah NU Provinsi Sulawesi Barat, Desa Betetangnga (2007), pentas Eksplorasi Musik Tradisi pada Haul dan Dzikir Akbar Annangguru Prof. Dr. Sahabuddin di Pelataran Kampus Unasman, Polewali (2007), pentas Musik Puisi pada acara Peluncuran Buku Siwaliparri dalam Perspektif Pemberdayaan Perempuan di pendopo terbuka Kantor Kecamatan Wonomulyo (2007), pentas Musik Puisi pada Deklarasi Dewan Kebudayaan Mandar Sulawesi Barat di Gentungan, Mamuju (2007).

Adapun ketua TF sejak tahun 1983 sampai 2009 ini adalah Amru Sa’dong (PNS), Hamzah Ismail (PNS), Abdul Rahman Karim (wiraswasta), Muhammad Syariat Tadjuddin (PNS), dan, yang baru-baru terpilih 3 Oktober 2009 lalu, Abdul Rahman Baaz.

***

Mengamati sekilas perjalanan TF, sepertinya ada perbedaan “output” antara era 80-an dengan tahun-tahun belakangan ini. Bila dulunya lebih banyak menggarap/memproduksi pementasan teater, belakangan bergerak dalam bidang musik dan puisi.

Dan perlu dicatat, kegiatan-kegiatan setelah tahun 80-an, hampir semuanya adalah untuk memenuhi undangan. Tidak ada pentas tunggal yang bertujuan memperlihatkan karya yang diinisiatif oleh TF sendiri. Sadar tidak sadar, menurut saya itu berdampak pada proses pembinaan sumber daya manusia. Dulunya, TF lebih banyak melibatkan pemuda, termasuk yang awalnya preman-preman, ke dalam dinamik TF. Saat ini tidak seberapa, apalagi bila mengkerucutkan pada individu yang konsisten berkesnian bersama TF.

Pun, sebagaimana kebanyakan kegiatan TF belakangan ini, lebih banyak individu yang mempunyai keahlian dalam hal bermusik, beberapa bisa menulis puisi dan membacanya. Yang bisa disebut aktor tidak seberapa.

Juga, “aura” TF sebagai organisasi seniman yang matang dan diperhitungkan mulai redup. Sebagai “think tank” yang memikirkan budaya Mandar atau sebagai lembaga yang bisa mengadvokasi masyarakat sudah jarang terjadi. Bila pun ada, itu dilakukan oleh anggota TF yang tua-tua, dari generasi sebelumnya. Oleh generasi sekarang tidak. Yang dikenal oleh masyarakat, khususnya kalangan budayawan dan pejabat, sepertinya hanya Syariat Tadjuddin (yang juga kebetulan Ketua TF sampai 3 Oktober 2009). Dia bisa menulis, menulis puisi, cerpen, dan membacanya. Tanpa mengurangi apresiasi ke teman-teman yang lain, untuk tahap “bisa menjadi corong TF yang diperhitungkan” belum ada.

Kembali ke “khittah 1983”

Menurut saya, tanpa bermaksud sebagai romantisme saja, TF perlu mengembalikan semangat berkarya sebagaimana awal-awal berdirinya. Meminjam istilah NU, kembali ke khittah. Itu penting.

Memang diakui, peran Bang Ali (Alisjahbana) sangat penting dan hampir dominan dalam sejarah TF, sejak berdirinya sampai saat ini. Tapi, meninggalnya beliau tak berarti TF dalam menghasilkan karya hanya menghasilkan karya-karya yang “cepat diproduksi”, misalnya bermusik dan berpuisi saja. Ya, memang pementasan kedua hal itu juga berbasis pada konsep teater. Tapi bagi saya, itu tak maksimal dan hanya bisa diikuti oleh individu yang punya kemampuan bermain musik.

Peran Halim HD

Sebagai pionir organisasi berkesenian yang memiliki jejaring dengan seniman nasional, TF tak bisa dilepaskan dari peran Halim HD, yang setiap tulisannya “titel” pada dirinya tertulis “networker kebudayaan”. Ya, memang begitu peran Halim HD, sejak saya mengenalnya satu dekade lalu di Yogya.

Sejauh yang saya tahu, Halim HD merekomendasikan, mengundang dan menfasilitasi TF pada beberapa even nasional, antara lain PID-Forum (Palu-Indonesia Dance Forum) pada April 2001; Temu Teater Indonesia pada 1998 di Yogyakarta dan untuk mengunjungi Surabaya, Jombang, dan Solo guna menjalin jaringan di sana; workshop bersama Studi Klub Teater Bandung (STB) pada waktu pementasan Jules Caesar dengan sutradara Suyatna Harun pada tahun 1996; dan undangan TF pada Jarot Budidarsono (aktor-koreografer dari Solo) dan Heri Lentho (koreografer dari Surabaya) pada tahun 1998.

Perhatian Halim HD pada dunia per-teateran, kesenian dan pelestarian tradisi di Mandar sangat intens. Pada 1999, dia mengorganisasi Makassar Arts Forum pada September 1999 yang mana Cammana turut dihadirkan untuk membukanya bersama penari dari Makassar, Mak Coppong. Lalu pada Temu Menteri Pariwisata se-Asean di Jakarta pada November 1999, kembali Cammana direkomendasikan Halim HD untuk turut hadir.

Jadi pada dasarnya, kontribisi Halim HD (sebagai orang luar Mandar) terhadap Cammana dalam even-even luar Mandar lebih dulu dibanding Cak Nun (Emha). Sebab, Halim HD lebih dulu mengenal Cammana lewat Amru Sa’dong (Ketua TF) pada tahun 1988. Saat itu Halim HD dibawa ke Limboro untuk pertama kalinya. Halim HD terpukau sebab Cammana memiliki sentuhan musikal dengan vokal yang unik dan otentik.

Sejak itu, Halim meminta teman-teman berkesenian di Mandar untuk mempelajari tradisi rebana Cammana dan sekaligus meminta untuk mendatangkan Cammana ke Makassar dalam rangka Makassar Arts Forum. Ini jugalah latar belakang sehingga Cammana diundang pada acara pertemuan Menteri Pariwisata Asean.

Kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata kala itu, Halim HD selaku Direktur Pelaksana MAF-99 bersama Andi Ilhamsyah Mattalatta mengenalkan Cammana. Menteri tertarik dan menyampaikan ide Cammana diundang ke Jakarta. Saat Cammana ke Jakarta, dia diantar oleh Epo’ (anggota TF).

***

Tulisan ini saya buat sebagai masukan ke teman-teman TF, khususnya pengurus baru TF. Saya pribadi sangat mengharapkan TF kembali seperti dulu tapi tetap ada ciri sesuai zamannya. TF sudah ada sejarah, pernah menghasilkan karya dalam bidang teater, musik, dan berpuisi. Bila itu digabung untuk menghasilkan banyak karya untuk dipentaskan sendiri (tanpa berdasar pada undangan dari pihak lain), maka efeknya akan lebih besar dalam melahirkan generasi muda Mandar yang diperhitungkan. Setidaknya memperlihatkan TF yang “segar” ke generasi muda Mandar sekarang, di Tinambung.

Saya yakin, teman-teman yang mempunyai “bendera” sendiri akan bangga bisa bekerjasama dengan TF. Bagaimana pun, dan ini tak bisa dipungkiri, TF adalah cikal-bakal berkesenian modern di Mandar, setidaknya di Tinambung dan sekitarnya. TF pun mempunyai kedewasaan untuk bekerjasama dengan komunitas lain, tanpa merasa diri sebagai paling tua.

Dijumput dari: http://ridwanmandar.com/2011/12/03/catatan-kecil-untuk-teater-flamboyant/