Cerpen(is) Pilihan KOMPAS, Siapa Takut!

Saut Situmorang
http://boemipoetra.wordpress.com/

Relasi intertekstual antara sastra dan media massa cetak koran sebenarnya merupakan sebuah isu kritik sastra yang menarik. Adakah terdapat hubungan dialektis saling pengaruh-mempengaruhi antara dua produk budaya ini yang menghasilkan sebuah sintesa yang menguntungkan keduanya, ataukah relasi intertekstual itu hanya merupakan sebuah hubungan monolateral belaka di mana salah satu produk budaya mendominasi secara hegemonik arah lalulintas pengaruh-mempengaruhi tadi? Kalau memang hal terakhir ini yang terjadi, apa pengaruhnya bagi produk budaya yang didominasi itu?

Isu di atas merupakan sebuah isu yang relevan untuk dibicarakan dalam konteks sastra kontemporer Indonesia yang dipublikasikan di media massa cetak koran. Puisi dan cerpen adalah dua genre sastra yang selalu dikaitkan identitasnya dengan apa yang disebut sebagai “sastra koran”, yaitu produk sastra yang muncul di media massa cetak koran, di Indonesia. Relevansi pembicaraan isu ini terutama disebabkan oleh pendapat populer di kalangan para sastrawan Indonesia sendiri yang menganggap bahwa media massa cetak terutama koran adalah media publikasi paling hot untuk produk sastra mereka sebelum akhirnya dipublikasi ulang dalam bentuk buku. Koran bukan lagi sebuah media publikasi alternatif karya sastra seperti di masa-masa jayanya “majalah kecil” sastra di zaman tempo doeloe tapi merupakan sebuah keharusan kalau tidak mau ketinggalan zaman dan dilupakan. Inilah realitas kontemporer sastra Indonesia.

Kondisi relasi intertekstual antara sastra dan media massa cetak koran di Indonesia bisa dilihat dari produk-produk sastra kontemporer yang muncul di koran-koran di Indonesia. Seperti yang sudah saya katakan di atas, di samping puisi, cerpen merupakan produk sastra yang selalu dikaitkan dengan apa yang disebut sebagai “sastra koran” di Indonesia karena frekuensi pemuatannya yang tinggi setiap hari Minggu di seluruh Indonesia. Bahkan ada sebuah koran terbitan Jakarta yang hanya memuat cerpen di halaman “sastra koran”-nya.

Buku kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS yang diterbitkan oleh koran Kompas setiap tahun mulai dari tahun 1992 sampai dengan tahun 2002 lalu adalah sebuah penerbitan “sastra koran” yang bisa dipakai untuk membahas kondisi relasi intertekstual antara sastra dan media massa cetak koran di Indonesia. Alasan kenapa saya memilih antologi tahunan ini sebagai objek pembicaraan merupakan isi dari esei saya ini.

Dalam Kata Penutup bunga rampai Cerpen Pilihan KOMPAS 1994 Budiarto Danujaya menulis bahwa ada satu hal tentang “sastra koran” yang sulit untuk dipungkiri yaitu “bahwa sejak era R.M. Tirto Adhi Soerjo sampai pada kumpulan (Lampor) ini, sastra koran kalau boleh sedikit membuat generalisasi setidaknya terbukti juga mampu menghasilkan sejumlah karya yang lebih peka menangkap semangat zaman”. Dikatakannya “lebih peka menangkap semangat zaman” kalau dibandingkan, secara “generalisasi” mungkin, dengan karya sastra yang muncul di majalah sastra seperti Horison, seperti yang dicoba dibuktikannya pada tulisannya yang sama:

“Menilik keragaman tema yang tampil, sekurangnya kita mungkin boleh menyimpulkan bahwa sentuhan aktualitas terbukti jauh dari menghambat, setidaknya dalam kumpulan cerpen (Lampor) ini. Tentu saja pernyataan semacam ini selalu tak pernah luput dari bayang-bayang bahaya generalisasi. Akan tetapi, kenyataannya, bahkan dalam pengertian tertentu, sentuhan ini justru merangsang penjelajahan pada wilayah-wilayah tema baru. Bukan saja tema-tema aktual, khususnya semacam Timor Timur itu, tak kunjung nampak dalam majalah berkaliber sastra seperti Horison [sic]; tapi lebih lanjut lagi, sensor yang jauh lebih ketat di lingkungan media umum, terbukti justru berhasil menelurkan penyiasatan dalam pengungkapan yang demikian subtil seperti pada Misteri Kota Ningi (cerpen Seno Gumira Ajidarma).”  (“Tentang Sastra Koran Itu”)

Apa yang dapat saya tangkap dari pernyataan generalisasi Budiarto di atas adalah bahwa terlepas dari “realitas koran” yang memiliki beberapa “pembatasan” teknis, atau “sensor yang jauh lebih ketat” dibanding dengan yang akan dilakukan sebuah majalah sastra – seperti pembatasan jumlah halaman, tidak pentingnya penggalian masalah tema cerita, kecenderungan berselera pop dan bertutur secara cepat dan lugas karena harus meladeni keragaman selera dan tingkat apresiasi pembaca koran, serta pemberian prioritas pada tema-tema cerita yang sedang aktual sebagai bagian dari citarasa pekerja pers – “pembatasan-pembatasan teknis” tersebut ternyata tidak mempengaruhi jenis-jenis cerpen yang diterbitkan koran, “setidaknya Kompas, (yang) bahkan juga terbukti sempat menerbitkan cerpen-cerpen dengan gaya lebih rumit lagi, entah itu bergaya tutur stream of consciousness ataupun bercorak realisme magis seperti milik Danarto [sic]. Belum lagi “kesediaan” Kompas menerbitkan cerpen-cerpen terjemahan “pengarang terkemuka dunia”, mulai dari Petronius dari Abad I sampai Gabriel Garcia Marquez.

Tapi mungkin karena terlalu serius ingin melakukan sebuah pembelaan atas “jasa-jasa” koran (Kompas) dalam perkembangan cerpen kontemporer Indonesia, Budiarto Danujaya telah membuat pernyataan-pernyataan generalisasi yang dangkal tentang “kontribusi” media massa cetak ini walaupun dia juga berulang kali “mengingatkan” kita bahwa dia memang terpaksa mesti melakukan generalisasi dalam pernyataan-pernyataannya di Kata Penutup-nya tersebut.

Bagi saya justru generalisasi dalam pernyataan-pernyataannya itu yang menarik dan mengundang tanda tanya! Kenapa dia mesti sampai tergantung pada generalisasi belaka dalam usahanya untuk mengungkapkan apa “tentang sastra koran itu”? Apa yang terdapat di balik proses pembuatan pernyataan-pernyataan generalisasi tersebut?

Karena merupakan sebuah penerbitan tahunan selama lebih sepuluh tahun lamanya, dengan kemasan yang apik dan market-oriented lagi, bunga rampai Cerpen Pilihan KOMPAS, diakui atau tidak, telah membuat sebuah mitos atas dirinya sendiri. Mitos ini, bagi saya, memang sengaja dibuat dan lalu sengaja dipaksakan resepsinya kepada publik pembaca sastra di Indonesia dan luar Indonesia.

Penciptaan mitos atau mythomania “Cerpen Pilihan KOMPAS” itu dilakukan dengan cara yang cukup piawai: pertama, pemilihan anak-judul “Cerpen Pilihan KOMPAS” itu sendiri; kedua, pemilihan “cerpen terbaik” dari cerpen-cerpen pilihan tiap tahun; ketiga, pemuatan apa yang saya sebut sebagai “Kritik Kata Pengantar/Kata Penutup” oleh nama-nama yang dikenal oleh publik sastra Indonesia sebagai “otoritas” sastra Indonesia, apa dia seorang cerpenis senior terkenal atau seorang “kritikus” sastra Indonesia; dan terakhir adalah kemasan tiap buku yang memang apik dan market-oriented.

Sebagai sebuah koran nasional besar yang berusia lanjut Kompas sudah berhasil membuat sebuah reputasi jurnalistis yang mengagumkan di kalangan pembaca koran di Indonesia dan juga luar Indonesia. Mirip dengan pengaruh majalah mingguan Tempo, “berita” yang dikabarkan oleh Kompas dianggap merupakan news yang dipercayai kualitas profesionalisme jurnalismenya secara nasional. Latar belakang “nama besar” jurnalisme seperti ini tentu saja mempengaruhi bagaimana pembaca meresepsi sebuah buku kumpulan cerpen terbitan Kompas sendiri yang dengan sengaja diberi judul cool: “Cerpen Pilihan KOMPAS”! Walau sebenarnya tidak bisa dikatakan bahwa reputasi Kompas di dunia jurnalisme Indonesia akan otomatis juga mempengaruhi mutu cerpen yang diterbitkannya setiap minggu, tapi ternyata “realitas koran”nya itu malah telah menimbulkan anggapan yang semacam itu! Kesadaran akan mitos demikianlah yang, saya yakin, merupakan alasan utama untuk memanfaatkannya dan sekaligus juga menguatkannya dengan penerbitan “tahunan” buku kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS!

Keyakinan saya ini timbul karena keempat hal tentang buku Cerpen Pilihan KOMPAS yang saya sebutkan di atas tadi.

Apakah “kriteria” pemilihan Cerpen Pilihan KOMPAS? Kita diberitahu secara gamblang bahwa kriterianya adalah “tanpa kriteria”! Terjemahannya: Kompas “memilih/menentukan” sendiri, dari para wartawannya sendiri, siapa yang akan “memilih” sejumlah cerpen dari keseluruhan cerpen yang terbit dalam satu tahun untuk diterbitkan sebagai buku Cerpen Pilihan KOMPAS dan mereka yang terpilih ini akan melakukan pilihan mereka “tergantung pada kata hati” mereka saja! Atau dalam kata-kata Kompas sendiri: “Kami percaya bahwa tiap manusia memiliki sejenis estetika yang entah diperolehnya dari mana [sic], karena itu kami tidak menganut satu jenis estetika tertentu, tapi membenturkan estetika-estetika yang ada pada masing-masing penyeleksi”! Sementara kriteria “tanpa kriteria” dalam pemilihan “cerpen pilihan” dari keseluruhan jumlah cerpen yang muncul tiap minggu selama setahun itu sendiri – untuk memenuhi “jumlah” cerpen pilihan yang akan dibukukan, termasuk penentuan “cerpen terbaik” – dilakukan dengan “demokratis”, yaitu pengambilan suara terbanyak! Cerpen-cerpen yang “paling banyak” memperoleh suara voting para pemilih akan menjadi “Cerpen Pilihan KOMPAS” dan satu cerpen yang menggasak mayoritas suara menjadi “cerpen terbaik” Kompas tahun itu! (lih. Prakata dalam Cerpen Pilihan KOMPAS 1993.)

Saya jadi berpikir, kalau memang begini idiosinkrasi pemilihan Cerpen Pilihan KOMPAS tiap tahun dan Kompas sendiri merasa “oke-oke saja” dengan kriteria “tanpa kriteria” – asal terdapat “aktualitas apa yang menjadi problem masyarakat hari itu atau hari-hari itu” dalam cerpen – dalam prosedur pemilihan Cerpen Pilihan KOMPAS tersebut, kenapa Kompas masih merasa “perlu” untuk juga memuat Kata Pengantar dan Kata Penutup oleh para “otoritas” sastra Indonesia seperti yang saya singgung di atas!

Skizofrenia Kompas ini juga terlihat dalam isi kebanyakan Kata Pengantar dan Kata Penutup yang, bagi saya, kehadirannya jelas memiliki “maksud terselubung” dalam mempengaruhi resepsi publik pembaca sastra Indonesia atas penerbitan tahunan “proyek sastra” bernama Cerpen Pilihan KOMPAS tersebut.