Dilema Kritik Sastra

Aminullah HA Noor
http://www.suarakarya-online.com/

Suatu waktu ketika kritikus sastra HB Jassin masih hidup ia pernah menyinggung mengenai perlunya seorang penulis fiksi menghadapi kritikus yang mengkritik karyanya.

Hal ini sudah penulis lakukan beberapa tahun yang lalu ketika Salim Said mengkritik Gerson Poyk di majalah Tempo (maaf, tanggal dan tahunnya penulis lupa). Satu halaman Tempo menghajar penulis dengan mengatakan (kurang lebih) bahwa imajinasi penulis hanya terbatas di wilayah fisik semata.

Kalau tidak salah ingat yang dikritik adalah beberapa karya awal penulis yang memang imajinasinya adalah bagian dari rasionalitas keseharian. Memang ketika itu banyak cerpen penulis yang berputar di sekitar kenyataan everyday tetapi sejak semula penulis menyediakan kesempatan kepada pembaca yang peka untuk menghayati ironi yang terbersit dari kenyataan nyata di pojok jalanan atau di pintu restoran. Ini istilah Albert Camus, sastrawan Perancis yang mengatakan bahwa peristiwa besar, bisa saja timbul dari hal yang sepele di pojok jalanan atau di pintu restoran. Camus selanjutnya mengatakan bahwa kepekaan itu adalah perasaan yang timbul dari pikiran dan perbuatan. Penulis memakai istilah kepekaan untuk definisi Camus mengenai sensasi absurd. Jadi diperlukan kepekaan untuk menerima sensasi absurd. Artinya, dalam setiap cerita yang dibaca, realitas keseharian sekali pun mengandung sensasi absurd. Di saat itu batin kita menemukan hal yang absurd, hal yang penuh kontroversi dan mustahil dianalisa oleh akal, hal yang penuh ironi. Di saat seseorang melihat ironi dalam sebuah cerpen yang bahasanya sederhana tidak berputar-putar, tidak bergaya loncat bajing, tidak lenggang patah-patah, di saat itu ia bisa disebut orang yang peka, orang yang batinnya bisa terlibat dengan sensasi absurd. Dalam cerpen awal penulis berjudul si Keong (diterjemahkan dalam bahasa Jerman dengan judul Das Keong der Kleine Snecht, dimuat dalam antalogi berjudul Perlen Im Reisfeld), gelandangan rel kereta menggaruk-garuk koreng di kulupnya di depan dokter tetapi sang dokter meninggalkan dia karena buru-buru ke rumah sakit. Ironi tampak di sini. Bagi yang peka akan timbul sensasi absurd dalam batinnya melihat duka nestapa di pintu restoran. Ada yang mengatakan peristiwa yang tampak dari realitas fisik itu epifani (penampakan). Sang dokter berada dalam rutinitas keseharian (everyday), bukan terpental ke suasana keharuan menghadapi situasi tragik dalam keseharian fisik.

Nah, inilah yang penulis tuntut dari Salim Said ketika ia mengatakan bahwa karya yang dikritiknya hanya dunia fisik semata. Salim Said yang kini Ph.D itu dulunya mirip dokter dalam cerpen si Keong. Akan tetapi ketika penulis menulis kritik atas kritik Salim, penulis tidak membawa-bawa pengertian sensasi absurd. Tidak juga pengertian epifani dan negative capability yang merupakan privilese buat seorang kritikus. Penulis hanya meminta bukti-bukti kedangkalan atau kekulitan fisik dalam sebuah tulisan selebar tikar di harian Kompas (maaf, tanggal dan tahunnya penulis lupa).

Baru baru ini di Taman Ismail Marzuki, Budi Darma Ph.D berceramah tentang karya-karya penulis. Dia menyikap kelebihan dan kelemahan dalam karya-karya penulis. Karena karya-karya penulis yang cukup banyak belum semuanya dibukukan, maka tentulah ia berhadapan dengan beberapa karya awal. Hal ini membuat ia berkesimpulan bahwa tokoh-tokoh dalam cerpen penulis adalah orang gelandangan, rakyat kecil yang hanya membutuhkan makanan (dan minuman) sehingga tidak tampak ada cetusan pikiran yang keluar dari tokoh-tokoh tersebut. Memang benar. Cerita dari jenis realisme makhluk gelandangan, otak dan mulutnya tidak akan berkata dan berpikir. Mereka hanya bisa main judi dengan memasang puntung rokok lalu tidur di pelataran stasiun, di bawah langit malam. Jika pena penulis berayun ke arah naturalisme maka ada bau-bau sains, psikologi dan sosiologi tetapi diatas segalanya hidup lebih dari ilmu. Itulah yang diminta dari seorang kritikus. Budi Darma, karena membaca sedikit dari karya penulis mengatakan dalam ceramahnya bahwa tidak ada simbol dalam karya-karya penulis. Akan tetapi Bakdi Sumanto sebagai penyanggah, dalam makalahnya membantah bahwa novel Seutas Benang Cinta misalnya mengandung simbol.

Celakanya wartawan seni dan budaya Suara Pembaruan hanya menulis mengenai makalah Budi Darma dan barang kali lupa atau sengaja tidak menulis mengenai bantahan Bakdi Sumanto lewat makalahnya. Wartawan Suara Pembaruan malah menulis judul ‘Makan, Makan Saja!’ Tampak di sini ketololan yang sadis. Hanya wartawan Antara yang bisa disebut wartawan seni budaya yang baik dengan beritanya tentang keberpihakan pada orang miskin.

Pada akhir ceramahnya Budi Darma mengatakan bahwa karya-karya penulis walaupun tidak pernah meledak tetapi tidak pernah surut.

Penulis terkekeh dan berbicara dalam hati, “Saya bukan teroris. Karya-karya saya menurut kritikus lain bukan meledak tetapi menghembus”.

Romo Hila Veransa misalnya, menulis di Harian Kompas berjudul “Bukit-Bukit Sumbawa”-nya Gerson Poyk, Suatu Hembusan Kemanusiaan.

Dalam sebuah tulisan Goenawan Muhamad mengenai Sastra dan Agama, nama penulis dibawa-bawa. Dia mengatakan bahwa begitu novela penulis berjudul Hari-Hari Pertama diterbitkan oleh Badan Penerbit Kristen, penulis mengirim karya tersebut ke Prof Teeuw, beserta sepucuk surat yang menurut Goenawan, berisi niat minta diakui sebagai sastrawan (Kristen). Goenawan salah tangkap ketika penulis mengatakan kepadanya bahwa redaktur BPK, Nainggolan mengirim karya tersebut kepada Prof Teeuw bersama sepucuk surat yang menyatakan bahwa he is going to be a Christian writer. Sesungguhnya penulis tidak pernah mengirim surat kepada guru sastra Belanda itu, apalagi meminta pengakuan.

Dalam tulisan Goenawan tentang sastrawan dan agama itu, dia mengeritik semua sastrawan Indonesia yang berlabel agama hanya karena kuatir bahwa akan timbul fanatisme agama dikalangan sastrawan Indonesia. Kekuatiran demikian ada baiknya tetapi Goenawan pada waktu itu masih anak bawang, belum mampu mengulas panjang lebar mengenai fundamentalisme, teologi pembunuhan, God is Symbol for God, bahasa agama berupa myth, ritual dan Sacrament. Dia tidak mengatakan bahwa myth, bahasa agama itu, adalah gambaran tentang kenyataan secara simbolis. Dia tidak menulis mengenai demitologisasi atau broken myth, yaitu kesadaran bahwa myth hanyalah simbol. Di luar itu disebut literalisme Fanatisme dan idolatri baru timbul kalau literalisme masuk ke benak manusia agama lalu mampuslah bangsa ini kalau literalisme dilindungi oleh otoritas politik.

Demikianlah sedikit corat coret mengenai kritik sastra. Barangkali ada gunanya untuk pendidikan sastra pada umumnya, khusus untuk para mahasiswa yang ingin menulis skripsi, menyusul belasan skripsi untuk S1, tesis S2, dan S3 dalam dan luar negeri tentang penulis.***

1 Januari 2006