DILEMA TOKOH DAMAR WULAN DALAM SANDHYAKALA NING MAJAPAHIT

Zuriati
http://zuriati.wordpress.com/

Sandhyakala ning Majapahit (selanjutnya disebut SNM) merupakan sebuah drama yang ditulis berdasarkan cerita karya sejarah (tentang Kerajaan Majapahit) oleh Sanoesi Pane. Hal itu diungkapkan dengan jelas pada bagian awal, yaitu bagian ‘Kata Bermula’ dalam naskah tersebut. Di situ diungkapkan bahwa cerita tersebut ditulis berdasarkan berita dalam Serat Kanda, Damar Wulan, Pararaton, dan Nagarakrtagama. Naskah ini pertama kali dimuat dalam majalah Timboel tahun VII, nomor 1/4, 3/4 dan 5/6, tahun 1932. Kemudian, naskah itu diterbitkan untuk pertama kalinya oleh Pustaka Jaya, Yayasan Jaya Raya, tahun 1971. Pada Januari 1975, naskah itu dicetak untuk kedua kalinya, dan naskah yang dipakai ini merupakan cetakan ketiga, Agustus 1975.

Cerita drama SNM ini terdiri atas pengantar cerita (Kata Bermula) dan lima bagian (babak). Kata bermula berisi tentang doa kepada Syiwabudha, agar lakon yang dipersembahkan itu berjalan dengan selamat. Selain itu, diceritakan pula asal (sumber) cerita, siapa tokoh Damar Wulan itu, dan harapan pujangga kepada generasi berikutnya untuk membuat naskah drama yang lebih baik.

Drama ini berkisah tentang tokoh Damar Wulan yang bergelar Raden Gajah, seorang pahlawan di Kerajaan Majapahit, yang kemudian dihukum mati karena dituduh ingin menguasai kerajaan. Ia adalah putra dari Patih Udara dan Nawangsasi, dan keponakan dari Patih Majapahit. Di dalam diri Damar Wulan mengalir dua bakat, yaitu bakat seorang pendita dan bakat seorang kesatria. Kedua bakat itulah yang membuat tokoh utama dalam SNM ini menjadi seakan berputus asa, seakan menjadi seorang yang bimbang. Kedua bakat itu pula, akhirnya, membawa Damar Wulan pada situasi yang sulit dan membingungkan, ketika Majapahit membutuhkan tenaganya untuk menghadapi Adipati Wirabumi, Menak Jingga, yang berkhianat kepada kerajaan. Dia berada dalam dilema antara kewajiban menjadi seorang kesatria dan keinginan untuk menjadi seorang pendita. Kedua pilihan tersebut sama-sama sulit atau tidak menguntungkan untuk saat itu di Majapahit. Namun kemudian, dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran yang sulit serta berkat dorongan kekasihnya, Anjasmara, dia memutuskan untuk berangkat ke Wirabumi sebagai kesatria, guna menjatuhkan Menak Jingga.

Mengapa tokoh Damar Wulan menghadapi dilema semacam itu? Pertanyaan itu sengaja diajukan untuk menghindari salah interpretasi terhadap pribadi tokoh utama ini. Jawaban dari pertanyaan itu akan sangat membantu pemahaman terhadap tokoh Damar Wulan, sebagai bagian yang penting dalam pemaknaan keseluruhan cerita SNM.

Sebagai seorang keturunan kesatria, sejak kecil Damar Wulan telah dipersiapkan untuk menjadi seorang kesatria. Ke-kesatria-an ini telah dibuktikannya dengan ikut membantu Adipati Tuban berperang melawan Menak Jingga, di Wirabumi. Dalam perang itu, Damar Wulan memperlihatkan kehandalannya sebagai prajurit perang. Oleh karena itu pula, dia direkomendasi oleh Adipati Tuban untuk mengantikannya sebagai pemimpin pasukan perang ke Wirabumi. Hanya saja, setelah kembali ke Paluh Amba, setelah ikut berperang membantu Adipati Amba, dia menjadi bimbang. Dia menyadari, bahwa “ketika perang masih berlaku hanya kuingat maju ke muka, memusnahkan segala yang menghambat daku” (hal. 24). Akan tetapi, setelah itu, dia senantiasa teringat orang yang telah dibunuhnya. Dia tidak sampai hati melihat anak dan ibunya menunggu bapak dan suaminya di pintu gerbang. Tangisan anak dan ibu tadi sangat memilukan hatinya dan membuat jiwanya menderita, dan perasaan berdosa selalu membebaninya.

Sementara itu, Damar Wulan juga melihat dan berpikir bahwa Majapahit tidak perlu ditolong lagi. Sebenarnya, tanpa serangan Menak Jingga pun, Majapahit telah runtuh. Hal itu disebabkan oleh ‘bobrok’nya moral para pendita dan para bangsawan. Agama tidak lagi diperlukan untuk meninggikan budi, tetapi diperlukan untuk memperkukuh kekuasaan. Pendita hanya berguna untuk menambah kebodohan, karena agama dijadikan takhyul dan arca disembah seperti dewa. Para kesatria sudah berlaku sebagai perampok, sementara rakyat semakin kurus dan sengsara.

Kedua kondisi di atas mendorong Damar Wulan untuk berpikir memilih menjadi seorang pendita. Oleh karena itu pula, dia cukup lama berdiam diri dan tidak menghiraukan Majapahit yang ‘nyaris’ dikuasai oleh Menak Jingga. Barangkali, hal itu dilakukan oleh Damar Wulan adalah untuk menebus perasaan berdosanya tadi. Dengan demikian, dia juga berharap akan dapat menyadarkan para pendita dan para bangsawan dan mengembalikan agama kepada fungsi dan posisinya yang semula. Akan tetapi, jauh dilubuk hatinya, Damar Wulan merasakan panggilan yang sangat kuat untuk menjadi seorang kesatria. Di samping itu, dia sadar betul bahwa Majapahit berada dalam kondisi yang sangat menjemaskan. Tentu saja, keinginannya itu menjadi tidak tepat untuk kondisi negara yang seperti itu. Dalam keadaan negara yang kacau, dia tidak akan dapat melakukan perbaikan di bidang agama dan moral tadi. Itulah dilema yang dihadapi oleh Damar Wulan. Namun, akhirnya, dia memutuskan untuk pergi berperang melawan Menak Jingga ke Wirabumi.

Pilihan akhir dari Damar Wulan membuat keinginannya menjadi kenyataan. Dia menang melawan Menak Jingga dan diangkat menjadi Ratu Angabaya. Dia berhasil mengembalikan moral dan agama pada posisinya semula di kalangan rakyat, tetapi dia dimusuhi oleh para pendita dan para bangsawan, yang takut kekuasaannya akan menjadi hilang. Akhirnya, Damar Wulan dihukum mati, karena dituduh akan merebut kekuasaan Majapahit oleh kedua kaum tadi. Meskipun, Damar Wulan mati, namun dia telah berhasil menyadarkan rakyatnya. Hal itu dibuktikan oleh kemarahan rakyat mendengar Damar Wulan dihukum mati. Mereka menyerang Majapahit dan untuk kemudian Majapahit runtuh dan digantikan oleh Kerajaan Islam. ***

Dijumput dari: http://zuriati.wordpress.com/2008/06/27/dilema-tokoh-damar-wulan-dalam-sandhyakala-ning-majapahit/