ELAN VITAL CHANDRA JOHAN

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Chandra Johan: pelukis yang saya kenal ketika kami bersama di Dewan Kesenian Jakarta (2003—2005). Suatu saat, dalam sebuah obrolan santai, ia memperkenalkan sejumlah koleksi lukisannya. Amboi! Lukisan apakah gerangan? Bagaimana mungkin, sesuatu—lukisan-lukisan itu— yang belum saya pahami maknanya, tiba-tiba menciptakan serangkaian keterpanaan. Saya benci lukisan-lukisan itu. Sebab, tanpa kompromi seketika ia membelit saya pada ketakberdayaan: saya tak berdaya menghindar aura pesonanya.

Chandra Johan, lukisan-lukisanmu itu selalu saja menggagalkan saya menyembunyikan decak kagum! Sungguh. Lukisannya memukau, menyihir, dan menghamparkan lautan tafsir. Boleh jadi lantaran itulah saya tak pernah jera menempatkan diri sebagai mualaf seni lukis. Cukuplah saya merasakan sesuatu yang aneh menyelusup-menyirami inspirasi saat saya memeloti setiap goresan halus, bergerinjul, akas, kencang, berlari-berderap, dan kadang kala tampak sempoyongan memainkan jurus-jurus dewa mabuknya. Entahlah. Saya membayangkan sosok pelukis yang hanyut-tenggelam, blep! Ia dibelit-bekap ekspresi kreatifnya sendiri; mengalami ekstase, memasuki wilayah manunggal ing kawula gusti!

Ketika saya coba lagi dan coba lagi menikmati lukisan-lukisan Chandra Johan, selalu saja situasi itu yang tiba-tiba menyerobot usaha saya untuk memahami maknanya. Kesimpulan sederhana saya begini: lukisan-lukisan sejenis Tryptych, S-Before the Storm, atau Ironic, dan beberapa karya Chandra Johan lainnya, kerap memancarkan sihirnya dan menyedot saya memasuki warna-warna imajinatif, ketika saya tak peduli pada makna! Itu lukisan, dan bukan karya sastra! Jadi, nikmati saja, lantaran kau akan sia-sia ketika memaksakan diri mengejar makna. Maka, ketika kau masuk ke dalam warna-warna imajinatif itu, di situlah seketika terbentang lautan tafsir.

Begitulah manakala sentuh estetik (aesthetic contact) datang menawarkan lanskap imajinasi, saya membiarkan logika formal berhenti untuk sementara. Ketika saya coba berenang di tengah lautan tafsir itu menuju pantai yang entah di mana, ombak besar makin dahsyat mengombang-ambing hukum kausalitas. Di sana, logika berantakan. Begitu saya melepaskan diri dari segala beban makna, membayangkan diri bercengkerama dengan segala gerak yang menghempas, yang melambungkan saklar imajinasi, situasinya menjadi lain. Saya mulai merasakan keasyikan yang mempesona dan pesona yang mengasyikkan Mungkin tafsir saya salah. Tetapi, saya tak bakal menyesal dengan kesalahan itu.

Bagi saya, seni lukis adalah dunia asing yang menghanyut-asyikkan. Meski saya tak cukup pandai untuk menjelaskan argumennya, saya dapat merasakan perbedaan antara gambar dan lukisan. Pada gambar-gambar pemandangan yang dipajang berjejer di pinggir jalan, tak ada aura yang berhasil menyedot saklar imajinasi. Pada gambar-gambar itu, mata hanya berfungsi melihat, dan selalu gagal membayangkan, menciptakan asosiasi, membangun dunia metaforis. Tidak ada peristiwa kemanusiaan di sana. Ia seperti berwarna yang mungkin hanya dapat memukaukan mata, tetapi tak menggelisahkan rasa kemanusiaan dan pemikiran tentang problem manusia dan kemanusiaan.

Pada lukisan para maestro macam karya Affandi, termasuk juga lukisan-lukisan Chandra Johan itu, entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja, saya seperti disergap aura yang memancar dari sana. Itulah –barangkali—yang disebut misteri karya-karya agung. Ia serempak—seketika, tanpa sadar, seperti menyedot ruh saya memasuki sebuah wilayah yang penuh misteri. Beberapa penyair macam Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM atau Agus R Sarjono, menyebutnya: Itulah karya “wahyu”.

Saya meyakini pernyataan: karya “wahyu”. Pernyataan itu bagai memperoleh pembenaran manakala saya coba beberapa kali menikmati komposisi musik Beethoven atau Mozart. Berulang kali saya terjebak pada berbagai jenis bunyi yang melengking, mengalun, menyedot gendang telinga yang seketika membawa pikiran saya ke dunia asyik—masyuk. Bagaimana sebuah bunyi yang keluar dari alat musik tertentu, tiba-tiba disalip bunyi lain, ditimpali suara lain yang berbeda, disambut denyit gesekan, lengkingan, denyar resiprokal, dan gemuruh yang datang entah dari alat musik mana. Komposisi musik itu memperlihatkan kekayaan warna-warna bunyi, keberbedaannya yang saling bersahutan, melengkapi, komplementer. Komposisi musik itu bagai sengaja hendak membangun sebuah narasi agung tentang panorama bunyi!

Segalanya melenakan gendang telinga dan sekaligus menggelisahkan imajinasi. Ada serangkaian keindahan estetik dalam simpang-siur, timbul tenggelam, segala bunyi komposisi musik itu. Tiba-tiba, ada semacam pleasure yang terpuaskan. Nikmat yang ajaib! Itulah seni adiluhung! Itulah karya “wahyu”. Perkaranya menjadi makin jelas manakala saya mendengar musik pop. Kaki memang tanpa terasa ikut menghentak, jemari mengetuk sesuatu, dan kepala bergoyang ke kiri-kanan atau depan. Asyik sungguh. Tetapi, hanya sebatas itu. Tak inspiring, tak imajinatif! Kembali, saya tak cukup pandai menjelaskan sebab-musababnya. Syaraf estetik saya cukup membuat garis tegas memposisikan karya-karya agung yang memancarkan aura, yang memberi pencerahan batin, dan menceburkan penikmatnya pada denyar asosiasi yang tak berbatas. Berbeda dengan karya populer yang sekadar enak bergoyang, tetapi tak memberi pencerahan pada penikmatnya!
***

Sebagai orang yang mengagumi kegelisahan, sesungguhnya ada rasa cemas di balik keterpukauan saya pada lukisan-lukisan Chandra Johan ketika itu. Selesaikah capaian estetiknya? Melihat posisinya dalam peta seni lukis Indonesia, boleh jadi, gerak langkahnya belum selesai. Jalan panjang masih terbentang. Saya ingin melihatnya menancapkan sebuah monumen.

Dalam dunia sastra, bahkan juga dalam perjalanan panjang kehidupan seni, hampir setiap monumen dipuja pada zamannya, tetapi sekaligus juga digugat, coba ditumbangkan, dan dibangun kembali monumen lain sambil sekalian memahatkan nama-nama. Semodel dengan gagasan Thomas Kuhn perihal paradigma ilmu pengetahuan. Sekadar contoh, Gustave Flaubert adalah salah satu nama yang merobohkan kemapanan romantisisme. Ia membangun monumen lain yang bernama realisme. Gustave Flaubert, Sang Bapak Realisme itu pun coba digugat lagi oleh Emile Zola yang belakangan kemudian dianggap sebagai Bapak Naturalisme. Begitulah seterusnya, selalu muncul nama-nama baru sampai pada Albert Camus dan Jean Paul Sartre. Tentu saja sebelumnya, dari belahan lain, Friedrich Nietzsche tidak dapat diabaikan begitu saja ketika orang berbicara tentang eksistensialisme dan absurdisme.

Nama-nama itu adalah representasi riwayat kecamuk kegelisahan pemikiran—filsafat yang membangun sebuah monumen yang bernama paradigma. Dalam dunia sastra, bahkan juga dalam kesenian (modern), itulah yang dimaksud batas tipis ketegangan konvensi—inovasi. Secara kasat mata, tidak jelas di mana titik bentangan garis demarkasi berada. Tetapi, secara konseptual, ia berpadu, luluh-menyatu, berkelindan, menjadi bagian integral dan tumplek dalam karya yang di belakangnya mendekam capaian estetik. Semangat meraih capaian estetik itu, tak banyak disadari para seniman kebanyakan. Hanya Seniman (dengan S-Besar) Sejati (juga dengan S-Besar) yang mempunyai kesadaran itu. Ia menjauh dan menistakan dunia epigonisme, bebekisme dan kubangan para pengekor. Ia berada jauh lebih tinggi di atas kepala para penjiplak nista. Bahkan, ia mempersetankan dan mengharamkan berada dalam bayang-bayang, meski dalam sekejap waktu.

Tak pelak lagi, Seniman Sejati adalah Manusia (juga dengan M-Besar) dengan kesadaran cogito ergo sum—Descartes, atau uebermensch—Nietzsche. Manusia yang tak pernah berhenti mencari, yang gemar memelihara kegelisahan, dan terus-menerus berburu capaian estetik. Jangan lupa, yang dilakukannya tidaklah sekadar berbuat—bertindak an sich, melainkan lahir dari sebuah kesadaran sejarah. Ia coba memahami masa lalu, mempelajarinya, mencatat cermat kelebihan—kekurangannya, mencantelkan dengan konteks sekarang, dan segera menghancurkannya untuk menawarkan paradigma baru, membangun monumen lain untuk menancapkan capaian estetik yang diyakininya.

Chairil Anwar adalah penyair yang memahami betul Amir Hamzah, para penyair Pujangga Baru, bahkan juga sejumlah penyair dunia. Ia mengetahui dengan sangat baik segala ceruk lorong estetika karya para penyair sebelumnya. Itulah senjata Chairil Anwar untuk menumbang-hancurkan mereka dan mengusung estetika baru. Hal itu pula yang dilakukan Sutardji Calzoum Bachri pada Chairil Anwar dan penyair seangkatannya dan terus kebelakang pada Amir Hamzah, Hamzah Fansuri, bahkan juga pada khazanah puisi tradisional (Melayu), seperti pantun, gurindam, dan mantera.

Apa maknanya kedua penyair itu –Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri—menyampaikan sikap kepenyairannya sambil mengibarkan panji konsep estetik yang menjadi landasan proses kreatif penciptaan. Inilah yang dimaksudkan Chairil Anwar sebagai kebebasan dan kebertanggungjawaban seniman pada kebudayaan, pada kemanusiaan: “Kemerdekaan dan Pertanggungan Jawab adalah harga manusia, harga Penghidupan ini….”
***

Membaca konsep estetik Chandra Johan dan sikap berkeseniannya, saya menangkap adanya semangat menggelegak yang lahir atas kegelisahan yang tak dapat dibendungnya. Ia tidak sekadar menempatkan profesinya sebagai pelukis dalam dimensi kerja kuantitatif dengan segala konsistensi menanamkan kualitas estetik, melainkan sebuah totalitas kesadaran cogito ergo sum—uebermensch! Chandra Johan berbuat—bertindak dengan segala kesadaran itu. Ia telah menunjukkan elan vitalitasnya dalam berkesenian, dan secara luas, dalam berkebudayaan. Maka, apa pun realitas yang dipahaminya dan coba diterjemahkan lewat serangkaian eksplorasi tentang hakikat realitas, di dalamnya ada pemikiran atas kesadaran sejarah panjang seni lukis, ada kesadaran menancapkan sikap berkeseniannya sebagai totalitas ekspresi kreatif, dan semangat membuncah membangun monumen, merayakan capaian estetik.

Lihat saja, dari mana datangnya gagasan hendak menempatkan tokoh rekaan –fiksional Rafilus, tokoh utama novel Rafilus karya Budi Darma sebagai objek realitas, jika bukan dari sebuah kegilaan Manusia dengan kesadaran cogito ergo sum—uebermensch itu. Rafilus adalah tokoh fiksi yang berada dalam lingkaran absurditas. Rafilus lahir dari sebuah gagasan gila Budi Darma. Gagasan gila itu ditafsirkan Chandra Johan dengan segala kegilaannya lagi, sebab ia mereka-ulang dan menerjemahkannya dalam bentangan kanvas, sapuan warna-warna lalu wujud menjadi lukisan. Jadi, gagasan gila itu patutlah ditempat-kan dalam konteks pandangan Pascal: “Manusia pastilah demikian gilanya, sehingga –kalaupun ia tidak gila—tetap dianggap gila dari sudut pandang kegilaan yang lain.”

Begitulah Seniman Sejati adalah Manusia dengan segala gagasan gilanya yang tidak hadir begitu saja, asal beda. Kesadaran pada sejarah dan usaha untuk mempelajari—memahami deretan monumen, kesadaran pada totalitas atas sikap berkesenian, dan kesadaran pada semangat merayakan capaian estetik, telah menghanyutkannya pada tindak eksploratif yang tak pernah berhenti untuk mencari, menemukan, dan menawarkan berbagai-bagai alternatif. Dengan cara itu, seni akan terus menggelinding, dan seniman makin kokoh membangun fondasi legitimasi jati dirinya, eksistensinya, di atas pegunungan manusia dan kemanusiaan.

Melukis bagi Chandra Johan adalah harga kebudayaan, harga kemanusiaan, dan harga kehidupan ini. Maka, hidup berkesenian adalah pertanggungjawabannya pada harga kehidupan ini. Itulah Semangat Seniman Sejati: kiprah berkeseniannya adalah tanggung jawab untuk memberi ruh pada kehidupan. Dan Chandra Johan –bagi saya—telah menunjukkan kualitas kesadaran itu: Semangat Seniman Sejati!

Bojonggede, 9 Juli 2008

Maman S Mahayana, Kritikus Sastra, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia