Imlek, Valentine, dan Gus Dur

Ainur Rasyid
Kompas, 2010/02/18

Selamat hari raya Imlek bagi yang merayakan. Begitu istimewa perayaan Imlek kali ini, yang tepat pada 14 Februari 2010, bersamaan dengan Hari Kasih Sayang, Valentine’s Day. Berkat kasih sayang dan perjuangan (alm) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) semasih menjabat presiden ke-4 Republik Indonesia, warga etnik Tionghoa di Indonesia bisa merayakan Imlek dengan terbuka tanpa ancaman.

Setiap perayaan Imlek, secara tidak langsung, telah membuka kembali sejarah kelam etnik Tionghoa di negeri ini yang mempunyai akar historis sejak masa sebelum kedatangan bangsa Eropa, terutama pada masa kolonial. Jejak kelam ini sangat kuat mengakar, bahkan dalam masa pemerintahan Presiden Soekarno dengan menandatangani perjanjian dengan Republik Rakyat China (RRC) pada 22 April 1955. Perjanjian menghasilkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1958 tentang Dwikewarganegaraan. Semua etnik Tionghoa di Indonesia secara tidak langsung sudah menjadi atau harus memilih menjadi warga negara Indonesia.

Maka perayaan Imlek kali ini dituntun peka terhadap realitas sosial kebangsaan yang sedang tergonjang-ganjing dengan ketidakadilan yang terjadi dewasa ini. Diharapkan etnik Tionghoa semakin cinta terhadap bangsa ini. Ketidakadilan yang pernah dialami etnik Tionghoa pada rezim Orde Baru dengan memakai hukum sebagai media untuk mendiskriminasikan etnik Tionghoa di Indonesia dilakukan secara sistemik. Di antaranya, Tap MPRS RI No XXVII/ MPRS/1966 yang memberangus hak budaya.

Namun, pada titik klimaksnya, (alm) Abdurrahman Wahid ternyata mampu menembus “tembok besi” diskriminasi itu. Kebijakan-kebijakan yang sifatnya menjerat kebebasan etnik Tionghoa di Indonesia berhasil dicabut untuk keadilan bersama jangka panjang. Di antaranya, (i) Keppres No 56/1996 tentang Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI); (ii) Keppres No 6/2000 tentang Pencabutan Inpres No 14/1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina; (iii) Inpres 26/1998 tentang Penghapusan Penggunakan Istilah Pri dan Non Pri; (iv) Kepres No 19/2002 tentang Ditetapkannya Hari Tahun Baru Imlek sebagai Hari Nasional.

Imlek adalah salah satu unsur eksotisme tradisi yang dilahirkan dari kebudayaan etnis Tionghoa sebagai penganut mayoritas agama Konghucu, yang telah lama mengakar di Nusantara. Kemeriahan Imlek meniscayakan bahwa bangsa Indonesia memang bangsa yang pluralisme-multikultur dan sekaligus mengingatkan kita bahwa sejarah etnik Tionghoa pernah terombang-ambing hampir separuh perjalanan bangsa ini.

Dari cinta

Kemeriahan Imlek dan Valentine kali ini tidak lepas dari perujungan St Valentino dan Gus Dur yang sama-sama berjuang melalui hak-hak dalam kesetaraan. Namun, bedanya, kalau St Valentino memperjuangkan sifat-sifat dan hak manusiawi untuk memperoleh pasangan agar saling mencintai antara laki-laki dan perempuan bisa berjalan dengan sangat harmonis dan romantis di tengah bayang-bayang ambisi militer yang dipimpin langsung oleh Kaisar Cladius.

KH Abdurrahman Wahid adalah pejuang hak-hak yang sifatnya asasi dalam diri masing-masing individu yang dikebiri kebebasannya, seperti halnya hak untuk berbudaya, hak memilih keyakinan, dan beragama.

Dalam kepercayaan yang bergulir selama ini, di hari Imlek dan Valentine, semua dewa-dewi ikut andil di dalamnya. Kalau dalam Imlek dipercaya dan dihormati dewa-dewi yang lebih dekat dengan keluarga, seperti dewa pintu, dewa dapur, dewa tanah, dewa kamar, dan dewa-dewi pelindung anak-anak. Di Valentine’s Day dewa-dewi asmara dan dewa-dewi cinta ikut menyaksikan orang-orang yang merayakannya. Dalam Valentine’s Day, kepercayaan itu berawal dari jasa St Valentino yang menikahkan laki-laki dan perempuan yang saling mencintai sebagai bentuk penentangan terhadap rezim Kaisar Cladius. Dengan keberaniannya itu, St Valentino akhirnya dijebloskan dalam penjara karena dianggap membangkang kepada Kaisar Cladius. Dari penjara bersinarlah dewa-dewi asmara cinta dan menyebar ke seluruh umat manusia yang ingin bercinta. Sebagai tanda terima kasih, mereka mengirimkan bunga dan ucapan keprihatin kepada pahlawan cinta yang berkontemplasi di dalam pernjara.

Begitu juga dengan Gus Dur dalam memperjuangkan hak-hak minoritas dan masyarakat yang tertindas. Gus Dur dihantam dan diruntuhkan habis-habisan oleh rival-rival politiknya dengan berbagai alasan karena Gus Dur dianggap lebih dekat kepada rakyat yang tertindas daripada mereka yang ingin berkuasa dan menindas. Bukti konkretnya, ketika mengeluarkan kebijakan perayaan Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional, banyak yang berpendapat bahwa Gus Dur telah mengeluarkan keputusan ngawur.

Maka saya kira perayaan Imlek dan Valentine’s Day kali ini, bukan hanya dewa-dewi yang ikut menyaksikannya, arwah Gus Dur pun akan ikut dan bangga melihat etnik Tionghoa bisa dengan tenang merayakan Imlek.

Jatuhnya perayaan Imlek dan Valentine’s Day yang bersamaan ini harus didasarkan kepada keharmonisan sosial, bukan hanya didasarkan kepada ritual keagamaan atau kenikmatan cinta dari masing pemeluk keyakinan. Agar dialektika antarsesama bisa berjalan sesuai dengan prinsip kita masing-masing keyakinan. Juga harus ada saling terbuka terhadap apa sebenarnya yang mereka rayakan agar kecurigaan dari yang tidak suka tidak menimbulkan konflik yang diskriminatif.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita mempu menerjemahkan pesan dan nilai pluralis-humanistik di balik perayaan Imlek dan Valentine kali ini. Baik yang merayakan ataupun tidak. Ketika kita tidak mampu memaknai substansi dari perayaan yang berlangsung, akan menghambat kepada indahnya kebersamaan dan hakikat dari perbedaan. Karena bagaimanapun secara makna universal bangsa Indonesia heterogenitas kesukuan dan kebudayaan pengaruhnya sangat kuat menjalar terhadap ekstremisme agama dan keyakinan.

Maka dari itu, perayaan Imlek dan Valentine’s Day harus menjadi aspirasi dan inspirasi kebangsaan agar falsafah hidup bersama yang tertanam dalam Bhinneka Tunggal Ika akan tetap terjaga, sebagaimana yang dicita-citakan Gus Dur. Bukan sebatas hura-hura tanpa makna.

AINUR RASYID Peneliti pada Center for Social Economic and Humanity Studies (CSEHS) Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Dijumput dari: http://www.gusdur.net/Opini/Detail/?id=204/hl=id/Imlek_Valentine_Dan_Gus_Dur