Kehidupan Jalanan Pekerja Seni

Vini Mariyane Rosya
http://www.mediaindonesia.com/

SEDERET karikatur orang terkenal, mulai proklamator Ir Soekarno hingga mantan Presiden Abdurrahman Wahid, ada di sana. Lukisan para tokoh pembuat sejarah itu dipajang rapi di depan taman Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Karikatur berisi kritik sosial dengan tulisan-tulisan indah yang merangkum gairah para seniman Pasar Baru dalam berekpresi juga terpampang. Para pengunjung dari lokal maupun mancanegara menikmati buah-buah karya seniman Pasar Baru.

Untuk menjadi seperti sekarang, seniman Pasar Baru mengeluarkan keringat basah. Awalnya tiga orang menjajakan karya kartu ucapan di pinggir kali Pasar Baru pada 1980-an. Kini mereka telah memiliki tempat tetap di trotoar jalan yang disebut dapur seni.

Para pekerja seni yang mengekspresikan diri di ruang publik butuh hambatan untuk membuat mereka eksis. Kupu-kupu yang kuat terbang berasal dari ulat pejuang. Jika tidak, ulat itu tidak bakal lolos menembus bibir kepompong yang demikian sempit.

Sempitnya lubang yang harus dilewati membuat sayap ulat menjadi kuat dan mampu melawan angin saat terbang. Bukan tidak banyak ulat yang mati sebelum menjadi kupu-kupu.

Kisah ulat menjadi kupu-kupu itu tak jauh dari kehidupan seniman Pasar Baru. Perkembangan teknologi membuat kartu ucapan kehilangan pamor pada era 1990-an. Masyarakat beralih menyampaikan pesan atau ucapan lewat radio panggil. Dapur seniman terancam tak berasap.

Para seniman banting setir ke karikatur. “Ketika era telepon seluler menguasai bumi, seniman Pasar Baru tak goyah lagi,” tutur S Wito, perintis sekaligus koordinator seniman Karikatur dan Penulis Indah Pasar Baru, pekan lalu.

Nama Wito sempat menjadi buah bibir ketika membuat karikatur Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bersama Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri pada 1999. Pasangan ‘kakak-adik’ itu berlayar menggunakan perahu diselingi percakapan.

“Gus, kita mau ke mana?” tanya Megawati. Gus Dur menjawab, “Mau sampai 2014.” Garin Nugroho menyoroti karikatur itu di media massa sehingga banyak pejabat, staf menteri, dan anggota partai kemudian tertarik untuk memesannya. Sayang, Gus Dur hanya bertahan dua tahun dalam pelayaran memimpin Indonesia.

Sebuah payung

Jumlah anggota komunitas seniman Pasar Baru predikat A saat ini pas 30 orang. Predikat A sebutan bagi anggota yang terdaftar berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta. Pelukis baru atau asisten lukis dalam daftar anggota B.

Kesenian selalu punya jalan untuk mengalir. Jalanan yang jauh dari kelemahlembutan terkadang mendorong para seniman menghasilkan karya seni lebih baik.

Dapur seni Pasar Baru juga dimulai dari sebuah payung pantai dan meja kecil. Ketika itu, kerusuhan etnik 1998 membuat pariwisata Jakarta lumpuh. Kepala Dinas Pariwisata DKI Fauzi Bowo ketika itu mencanangkan kebangkitan wisata.

Komunitas pelukis mendapatkan imbas positif. Pemerintah Provinsi DKI memberikan bantuan berupa payung pantai dan meja sebagai modal membuka usaha lukis. “Para pelukis ditata dan lukisan didorong menjadi sebuah tujuan wisata setelah Pasar Baru dan Gedung Kesenian Jakarta,” ungkap Wito.

Kini, lengkap sudah kawasan Pasar Baru menjadi salah satu lokasi wisata. Selain bisa menikmati wisata belanja, turis bisa mengunjungi hasil karya para seniman dan wisata panggung.

Menurut Rahmat Jabaril, seniman, karakter masyarakat Jakarta yang sibuk memengaruhi apresiasi masyarakat terhadap karya seni. Masyarakat Jakarta membutuhkan imajinasi untuk melepas penat. “Itulah sebabnya karya seni di Jakarta mendapatkan apresiasi tinggi karena seni telah menjadi sesuatu yang dicari,” cetusnya. (*/*/J-1)

/10 Februari 2012