Lesbumi Tak Mati Suri

Judul : Lesbumi: Strategi Politik Kebudayaan
Penulis : Choirotun Chisaan
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : xvi+247 halaman
Peresensi : Ahmad Khotim Muzakka
http://www.ruangbaca.com/

Digawangi tiga orang berpengaruh pada masa itu–Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani–, Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) didirikan. Tahun 1962 tepatnya. Lembaga kesenian ini lahir guna merespon perkembangan zaman.

Di bawah naungan “partai politik” Nahdlatul Ulama (NU), Lesbumi mencoba menandingi gaung Lekra dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mendominasi warna berkesenian masyarakat pada masa itu. Namun, kita juga tak dapat menafikan bahwa kelahiran Lesbumi merupakan hasil dari gumpalan kegelisahan penghuninya, yang dicap sebagai pemegang tahta tradisonalisme.

Supaya gamblang, marilah kita mengingat-ingat kembali sejarah yang telah tumpah. NU sebagai “bapak-ibu” Lesbumi sendiri berdiri pada 1926. Seiring berjalannya waktu organisasi keagamaan ini mulai memperlihatkan kepeduliannya terhadap seni dan budaya. NU sendiri secara kultural merupakan tangan panjang pesantren yang notabene pada saat itu masih ndesa, ketinggalan zaman.

Pesantren yang identik dengan kultur Timur dan pedesaan dihadapkan dengan Hollands-Indische School (HIS) dan Europeesche Lagere School (ELS) yang berporos pada kultur Barat dan berkarakteristik kekotaan. NU dipandang tradisonalis, sedangkan HIS dan ELS diagungkan sebagai pemilik kemodernan dan kemajuan.

Maka, segala upaya pun ditunaikan guna menghilangkan prasangka tersebut. Salah satu langkah jitu yang diambil adalah memodernkan terlebih dulu benihnya: pesantren. Pengotaan pesantren ini dimulai ketika organisasi NU dirintis di Surabaya pada 31 Januari 1926. Upaya lain yang dilakukan adalah mendirikan lembaga pendidikan bernama madrasah di kota-kota besar, utamanya di Pulau Jawa.

Singkat kata, setelah Lesbumi dilahirkan, NU terlihat lebih berwarna. Corak yang disuguhkan tak melulu urusan doktrin keagamaan, tapi merambah ke aspek yang lebih luas dan membumi. Kepedulian NU terhadap seniman dan budayawan memperlihatkan tanda-tanda positif. Ini wajar saja karena suatu organisasi akan ditanggalkan penghuninya tatkala ia tak mampu menyediakan ladang berkreasi dan berekspresi.

Secara terang-terangan penulis buku ini menegaskan bahwa penempatan pesantren di kota-kota besar tak dimaksudkan untuk menentang kehadiran Barat. Namun, kehadiran pesantren sendiri secara nyata didengung-dengungkan guna membendung arus Barat yang mewabah di segala lini kehidupan. Ia muncul untuk menguatkan pondasi Timur supaya tak tergerus habis oleh arus budaya baru tersebut.

Selain itu, gencarnya PKI dalam mengibarkan paham komunis yang “menggerahkan” pun ikut andil dalam memberi batasan cita rasa seni-budaya yang sama sekali melepaskan agama. Hal ini ditanggapi dengan seni-budaya yang agamis oleh Lesbumi. Ini bukan berarti mengaburkan batas antara dunia seni-budaya dan agama, tapi justru memberikan cita rasa baru kepada masyarakat.

Berkaitan dengan PKI ada baiknya kita menyimak apa yang dikatakan Saifudin Zuhri bahwa, “Pada tahun 1960-an PKI sedang meningkat kejayaannya, terutama di kota Surabaya. Hari-hari diwarnai oleh bendera-bendera palu arit dalam warna merah membara. Suasana dipanaskan oleh berbagai gejolak dan sesumbar seolah-olah PKI unggul di mana-mana. Tetapi PKI terbentur oleh perlawanan orang-orang Islam, khususnya NU di Jawa Timur.”

Ini bisa dilihat dari pelbagai fenomena yang terjadi pada masa itu. Sejarah mencatat tak ada kiprah PKI yang tidak ditandingi oleh NU. Saat PKI membanggakan massanya, NU mengerahkan jamaahnya. Ketika Gerwani dipropagandakan, Muslimat menjadi tandingan. Pun ketika muncul Pemuda Rakyat selaku pasukan pelopor mereka, Gerakan Pemuda Ansor mulai bergerak.

PKI menggerakkan Barisan Tani Indonesia (BTI), NU mengaktifkan Pertanu. Di tubuh PKI ada Sobsi, Sarbumusi menghiasi NU dengan corak tersendiri. Terakhir, PKI memilki Lekra, NU mempunyai Lesbumi sebagai punggawa kebudayaan warga Islam.

Pokoknya, tiap terobosan yang diciptakan NU merupakan niatan perlawanan. Gerak langkah PKI wajib dicegah, kalau tidak bisa mewabah. Jika ini tak dilakukan, maka tamatlah riwayat umat Islam.

Melihat kondisi yang demikian, ke mana gaung Lesbumi sekarang ini? Kenapa tak terdengar lagi pergulatannya? Bahkan, di buku-buku sejarah pun kiprah Lesbumi tak mendapatkan perhatian. Benarkah pernyataan penulis bahwa Lesbumi “mati suri”?

Amien Rais dalam buku Agenda-Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia! menyebutkan siklus sejarah akhirnya patah dan sejarah akhirnya berakhir. Sejarah akan mati. Tak salah jika Amien berujar demikian. Toh, sejarah memang tak akan lagi berulang. Ia akan menjadi sebentuk nostalgia yang kadang harus menerima koksekuensi terpahit: dilupakan.

Kehadiran Lesbumi merupakan respon terhadap Lekra, meskipun tak seutuhnya, mengingat terdapat dua momen historis, yakni momen politik dan momen budaya. Maka, mati surinya Lesbumi beriringan dengan melemahnya gaung organisasi kebudayaan PKI ini. Kematian Lekra seolah-olah mengakhiri tugasnya.

Terlepas dari itu semua, testimoni Misbach Yusa Biran yang menjadi landasan buku ini patut kita perhatikan. Ketika Misbach mengajukan pertanyaan kepada Abdurrahman Wahid, apakah NU tidak akan menghidupkan lagi Lesbumi, beliau diam saja. Pada masa hangat-hangatnya Lesbumi berjuang, para kia juga bersikap “pura-pura tidak tahu”. Kalau ditanya bagaimana hukumnya di bidang kesenian, jawabnya: “Lebih baik ente jangan tanya.” Lho, kok?

Pada suatu kesempatan, karena tertarik dengan sejarah Lesbumi, saya bertanya kepada sesepuh desa perihal keberadaan Lesbumi di tanah pertiwi. Kegelisahan akan mati surinya Lesbumi terobati karena orang tua berusia 60-an tahun itu dengan semangat bercerita demikian:

“Tiap tahun, bertepatan dengan perayaan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus di Lengkong, sebuah desa di Pati, digelar pertunjukkan hebat. Di sana beberapa lembaga kebudayaan beradu ambil posisi: Lekra, Lesbumi, dan LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional). Mereka menarik perhatian masyarakat. Tapi, yang paling semarak itu Lesbumi. Pengunjungnya banyak. Sebelum Lesbumi lahir, Lekralah yang paling terkenal. Lambat-laun posisinya digeser oleh Lesbumi. Tapi, sayang, sekarang zaman telah berubah. Saat perayaan kemerdekaan tiba, yang ada hanyalah hura-hura. Semangat perjuangan sudah luntur. Pemudanya tak lagi punya semangat seperti pemuda pada zaman bapak dulu.”

Mendengar pernyataan tersebut kekhawatiran yang diajukan penulis buku ini tertepis, karena Lesbumi masih lekat di hati para sesepuh ini. Permasalahan yang muncul, bukankah mereka juga mempunyai batasan umur. Lalu, siapakah yang akan terus mengabadikan sekaligus mengenang Lesbumi nantinya? Buku ini setidaknya akan mengingatkan orang akan perjuangan Lesbumi itu.

*) Ahmad Khotim Muzakka, Pegiat pustaka Pesanggerahan Kalamende, Replika.com, Semarang /31 Agustus 2008